Win Usuluddin
STAIN Jember

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

SENI SENI SPIRITUAL: Menyelam ke Dasar Pemikiran Seni Iqbal dan Schuan (The Spintualist of Arts, deep in thought of art of lqbal and Schuan) Usuluddin, Win
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i1.703

Abstract

Kecenderungan relijiusitas dalam seni seyogyanyalah dipandang sebagai sebuah  realitas yang harus dilihat secara utuh. Sebab sesungguhnyalah antara seni dan  agama bertaut kuatpada kedalaman jiwa dan perasaan yang sangat indah, suatu  zona khusus di balik realitas alam ini. Sejujurnya memang harus diakui bahwa seni­seni keislaman belum banyak disentuh oleh para sen/man kita untuk diberi wama  seni secara tersendiri. Secara murni mereka masih dalam taraf pencarian atau  andaipun rona­rona itu telah mereka taburkan, barulah sekedar mengimbangi pihaklain yang tidak diwarnai oleh nilai­nilai yang khas itu. Ataukah memang senyatanyaseni itu sesungguhnya merupakan wilayah tenarangyang mana bolen dimasuki dan  dinikmati oleh sekelompok tertentu saja, sebab nyatanya hanyalah kaum sufi saja  yang telah secara berhasil menemukan keindahan ketuhanan „     melalui olah batin  mereka. Sastra sufi merupakan titik temu yang mempertautkan dunia seni dan  wilayah ketuhanan sehingga mampu memberikan sebingkai kepuasan puncak  keindahan dan kenikmatan keimanan. Mereka kaum sufilah yang secara menggema  telah mampu menggaungkan innallaha jamyi wa tuhibbu aljamaal sehingga  merekapun memiliki peran yang cukup penting dalam sejarah Islam, terutama dalampenyebaran agama Islam di berbagai belahan di bumi.Kata kunci: Seni, Filsafat, Filsafat Perenial, Spiritual.
SENI SENI SPIRITUAL: Menyelam ke Dasar Pemikiran Seni Iqbal dan Schuan (The Spintualist of Arts, deep in thought of art of lqbal and Schuan) Usuluddin, Win
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i1.703

Abstract

Kecenderungan relijiusitas dalam seni seyogyanyalah dipandang sebagai sebuah  realitas yang harus dilihat secara utuh. Sebab sesungguhnyalah antara seni dan  agama bertaut kuatpada kedalaman jiwa dan perasaan yang sangat indah, suatu  zona khusus di balik realitas alam ini. Sejujurnya memang harus diakui bahwa seni­seni keislaman belum banyak disentuh oleh para sen/man kita untuk diberi wama  seni secara tersendiri. Secara murni mereka masih dalam taraf pencarian atau  andaipun rona­rona itu telah mereka taburkan, barulah sekedar mengimbangi 'pihaklain' yang tidak diwarnai oleh nilai­nilai yang khas itu. Ataukah memang senyatanyaseni itu sesungguhnya merupakan 'wilayah tenarang'yang mana bolen dimasuki dan  dinikmati oleh sekelompok tertentu saja, sebab nyatanya hanyalah kaum sufi saja  yang telah secara berhasil menemukan keindahan ketuhanan „     melalui olah batin  mereka. Sastra sufi merupakan titik temu yang mempertautkan dunia seni dan  wilayah ketuhanan sehingga mampu memberikan sebingkai kepuasan puncak  keindahan dan kenikmatan keimanan. Mereka kaum sufilah yang secara menggema  telah mampu menggaungkan innallaha jamyi wa tuhibbu aljamaal sehingga  merekapun memiliki peran yang cukup penting dalam sejarah Islam, terutama dalampenyebaran agama Islam di berbagai belahan di bumi.Kata kunci: Seni, Filsafat, Filsafat Perenial, Spiritual.
Potret Kontestasi Filsafat Islam dalam Era Sains Modern Usuluddin, Win
AL-TAHRIR Vol 12, No 2 (2012): Filsafat dan Teologi Islam
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/al-tahrir.v12i2.57

Abstract

The modern scientists have been considering philosophy as meaningless field for long time because it questions non exact field, not real and not actual. Therefore, it is believed that they do not need phi­losophy anymore. Islamic philosophy discussing a lot about mystic and metaphysic also get significant challenge in the era of modern science. This paper will try to discuss the construction built by Islamic philoso­phy particularly in its contestation in the era of modern science. Some of that constructive efforts are by demonstrating and introducing Islam­ic philosophy in more actual sense, for example by remapping Islamic philosophy followed by rearranging Islamic epistemology in order to reveal that Islamic philosophy does not only limit the object of knowl­edge on physical object but also non­physic. Hence, we need to discuss the reality of mystical experience intensively in order to explain ratio­nally that the reality of mystical experience is real. Another problem we are going to discuss here is the objectivity and integrity of knowledge in Islamic Philosophy’s view and to make historical reflection in order to build scientific tradition to develop Islamic philosophy in the future.
Komunikasi Interpersonal Keluarga Beda Agama dalam Penanaman Nilai Toleransi di Desa Sukoreno Chaliq Putra, Ari Asisaka; Raudhatul Jannah, Siti; Usuluddin, Win
Anida (Aktualisasi Nuansa Ilmu Dakwah) Vol. 25 No. 2 (2025): ANIDA (Aktualisasi Nuansa Ilmu Dakwah)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine how interpersonal communication in families consisting of members of different religions, especially the relationship between children and parents in Sukoreno Village, Umbulsari District. This study uses a qualitative approach with in-depth interview methods and observations of the families of Resource Person A and Resource Person B as the main informants. The results of the study indicate that interpersonal communication carried out through dyadic and triadic communication plays an important role in instilling an attitude of tolerance and maintaining family harmony despite religious differences. There are obstacles in the communication process related to differences in beliefs, which can be overcome through habit, patience, and mutual respect. Parents not only convey messages verbally but also provide positive examples in maintaining tolerance. This study confirms that effective interpersonal communication is the main key to creating a harmonious and harmonious family atmosphere in the context of religious diversity. These findings provide an important contribution to understanding the dynamics of interfaith family communication and strategies for building tolerance in family life.