I Nyoman Warta
Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten Jawa Tengah

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

YADNYA MENYEIMBANGKAN KESEMESTAAN DAN MENGHARMONISKAN KEHIDUPAN I Nyoman Warta
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 28 No 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v28i1.209

Abstract

Pustaka suci Atharwa weda.III.I.I menyatakan dengan tegas dan lugas: Satyam brhd rtam ugram, daksa tapa brahma yajnah prthivim dharyanti, sa no bhutasya bhany asya patnyuramlokam. Artinya : Kebenaran yang agung, hukum-hukum alam yang tidak bisa diubah, pengabdian diri. Tapa atau pengekangan diri, pengetauan dan persembahan Yadnya yang menopang bumi, Bumi senantiasa melindungi kita. Semoga dibumi menyediakan ruangan yang luas untuk semua. Yadnya merupakan persembahan suci dari ajaran Weda yang secara nyata (sekala) dapat disaksikan oleh mata, merupakan manifestasi dari perbuatan kebajikan (subhakarma). Di Dalam Lontar “ Tutur Tapeni” menyebutkan bahwa, yadnya sesungguhnya merupakan simbol-simbol yang mengandung kekuatan magis dan memiliki bagian-bagian seperti adanya” Tri Angga Sarira” dan dalam petikan Lontar disebutkan sebbagai berikut: Iki paribasa widhining yadnya luir ipun, yadnya adruwe prabu, tangan , dada muah suku manut manista, madya motama, daksina pinaka hulunia, jerimpen karopinaka asta karo sehananing banten ring areping Widhine pinaka angga sahananing palelabanan pinaka suku” Melihat dari isi lontar tersebut, maka dapat diambil maknanya bahwa yadnya yang dilaksanakan sangat-sangat penting, karena sudah memberikan kehidupan sehari-hari manusia, keluarga, masyarakat dan negara yang berbudaya memberikan kehidupan harmoni, keseimbangan antara Sang diri dengan Ida Hyang Widhi Wasa, disamping sebagai wahana pendidikan dalam hal membangkitkan nilai bhudi pekereti, etika dan budaya agama untuk mendorong spiritualitas, menyeimbangkan, mengharmoniskan alam beserta isinya, sehingga kesemestaan harmoni dalam peredaran dharmanya. Simbul keagamaan yang sarat dengan makna kehidupan, dari jaman kejaman telah membuktikan eksistensi kebenarannya, serta selalu memberikan inspirasi bhatin sebagai media penghubung pikiran dan hati setiap manusia. Misalnya yang tidak pernah lepas dalam kehidupan beragama : Huruf Suci Om Kara, Swastika, Senjata Nawa Sanga, simbul-simbul ritual keagamaan menggambarkan ke-Tuhan-an, sastra-sastra agama, budaya agama dan sebagainya. Semua ini merupakan realisasi dari ajaran agama dalam rangka menghubungkan diri dengan Sang Pencipta. Karena terbatasnya pikiran manusia, serta tidak bisa menjangkau yang maha gaib dan tidak terbatasnya Kemaha Kuasaan Tuhan.
EFEK IKLIM EKSTREM DALAM KEHIDUPAN I Nyoman Warta
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 28 No 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v28i2.234

Abstract

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa cuaca ekstrim merupakan suatu fenomena alam yang tidak normal dan tidak lazim yang ditandai oleh kondisi curah hujan, arah dan kecepatan angin, suhu udara, kelembaban udara, dan jarak pandang yang dapat mengakibatkan kerugian terutama keselamatan. Peningkatan fenomena cuaca ekstrim merupkan dampak dari perubahan ilkim yang sedang terjadi di seluruh Dunia. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologin dan Geofisika, wikorita Karbawati, menyebutkan bahwa peningkatan suhu udara menjasi lebih panas, siklus hidrologi (daur air) yang terganggu dan tingginya angka bencana hidrometorologi seperti : Banjir, Tanah Longsor, dan kebakaran hutan, menjadi beberapa bukti peristiwa alam akibat perubahan iklim. Seperti Bulan juni-Juli Pendudduk India meninggal 1000 Jiwa karena suhu panas dan Pulau Dewata Bali mengali hujan lebat pada tanggal: 7 Juli 2023 dan menimbulkan bencana tanah longsor, banjir dan sebagainya. Sejak Revolusi Industri sekitar tahun 1800-an terjadi percepatan perubahan iklim dan suhu bumi meningkat dengan sangat cepat, terutama diakibatkan oleh factor manusia. Beberapa jenis gas didalam atmosfer Bumi menghalangi keluarnya panas matahari yang dipantulkan dan menjaganya di dalam atmosfir. Didalam menjaga kesucian dan keseimbangan alam semesta beserta isinya dalam ajaran Hindu ada enam landasan dasar yang mutlak dilaksanakan sebagai berikut: Jana Kerti upaya menegagkan kesucian atau keseimbangan diri sendiri, Jagat Kerti upaya menjaga kesucian dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam dan semua mahluk hidup. Samudra Kerti upaya menjaga kesucian dan kelestarian pantai dan laut. Wana Kerti upaya untuk menjaga kesucian dan keharmonisan hutan dan pegunungan. Danu Kerti upaya untuk menjaga kesucian dan kelestarian sumber-sumber air tawar seperti Danau, berbagai sumber mata air dan sungai dan Atma Kerti upaya untuk menegagkan kesucian jiwa-jiwa yang telah meninggal dunia. Seperti yang telah dipelajari sebelunya, bahwa sejatinya agama Hindu banyak memiliki nilai-nilai atau ajaran untuk menjaga kelestarian alam dan mencegah terjadinya berbagai kerusakan dan perubahan iklmin ekstrim yang segnifikan. Salah satunya ajaran pokok agama Hindu yang paling esensial dan linier dengan isu perubahan kondisi lingkungan dalam ajaran Tri Hita Karana atau tiga penyebab kebahagiaa atau harmonisasi antara Sang Pencipta dengan manusia, (Parahyangan), Manusia dengan Manusia (Pawongan) dan Manusia dengan alam lingkungannya (Pelemahan). Konsep Tri Hita Karana apabila sebagai umat manusia tidak mampu merealisasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka akan menjadi penyebab utama iklim ekstrem dalam berbagai penderitaan.