Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Deteksi Kejadian Speech Delayed pada Anak dengan Algoritma ID3 Nita Hestiyana; Dewi Pusparani Sinambela; Nurul Hidayah
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 12, No 2 (2021): Dinamika Kesehatan Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/dksm.v12i2.752

Abstract

Latar belakang: Gangguan bicara (Speech Delayed) merupakan salah satu penyebab gangguan perkembangan yang sering ditemukan pada anak. Seorang anak memiliki keterlambatan bicara jika perkembangan bicara dan bahasanya berada dibawah anak seusianya. Speech Delayed memiliki dampak pada perkembangan anak. Risiko perkembangan terlambat bicara yaitu kemampuan konseptual dan prestasi pendidikan, faktor sosial, dan risiko negatif pada konsep diri anak. Ketidakpahaman orang lain ketika berkomunikasi dapat menyebabkan rasa rendah diri pada anak. Deteksi dini keterlambatan bicara merupakan hal yang sangat penting karna semakin cepat diketahui penyebab terlambat bicara maka semakin cepat stimulasi dan intervensi yang dapat dilakukan. Faktor risiko terjadinya speech delayed adalah riwayat keluarga dengan keterlambatan bicara, jenis kelamin laki-laki, prematuritas, dan pendidikan orang tua.Tujuan: Menganalisis factor penyebab terjadiya speech delayed pada anak dengan menggunakan algoritma ID3.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan algoritma ID3 (algoritma pembelajaran pohon keputusan) dengan jenis desain retrospektif. Lokasi penelitian di RSUD Ulin Banjarmasin. Dimana kasus dalam penelitian ini adalah balita yang mengalami speech delayed dan tidak speech delayed. Sampel penelitian ini berjumlah  100 anak. Pengambilan sampel dengan menggunakan systematic random sampling.Hasil: Pada penelitian ini berdasarkan hasil algoritma ID3, prematuritas merupakan variable tertinggi diantara variable lain yang menjadi penyebab terjadinya speech delayed. Variabel prematuritas dipengaruhi juga oleh varibel jenis kelamin, pendidikan orang tua dan riwayat keluarga terlambat bicara.Simpulan: Prematuritas merupakan variable tertinggi penyebab terjadinya speech delayed. Hendaknya orangtua dapat memberikan stimulus adekuat sejak dini, mengingat pentingnya peranan stimulus untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak. Kata kunci : Speech Delayed, Anak, Algoritma ID3  Background: Speech delayed is one of the most common causes of developmental disorders in children. A child has a speech delayed if his speech and language development is below his age. The risk of speech development delay is conceptual ability and educational achievement, social factors and negative risk on the child's self-concept. Lack of understanding of others when communicating can lead to low self-esteem in children. Early detection of speech delayed is very important because the sooner the cause of speech delayed is known, the faster stimulation and intervention can be done. Risk factors for speech delayed in children are family history of speech delayed, male gender, prematurity, and parental education.Objective: To analyze the factors causing speech delay in children using the ID3 algorithm.Methods: The method in this study uses the ID3 algorithm with a retrospective design type. The research location is at Ulin Hospital Banjarmasin. Where the cases in this study are toddlers who experience speech delayed and not speech delayed. The sample of this study amounted to 100 children. Sampling used systematic random sampling.Results: Based on the results of the ID3 algorithm, prematurity is the highest variable that causes speech delayed. The variable of prematurity is also influenced by the variables of gender, parental education, family history of speech delayed.Conclusion: Prematurity is the highest variable that causes speech delayed. Parents should be able to provide adequate stimulus from an early age to improve children's language skills. Keywords: Children, ID3 Algorithm, Speech Delayed
Analisis Pola Komunikasi Keluarga terhadap Keberhasilan Toilet Training pada Anak Usia Toddler Nita Hestiyana
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 12, No 1 (2021): Dinamika Kesehatan: Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.297 KB) | DOI: 10.33859/dksm.v12i1.687

Abstract

Latar belakang: Toilet training merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar. Salah satu aspek perkembangan yang umum dalam periode toddler adalah pengajaran ke toilet, usia 18 bulan anak sudah mampu menahan kandung kemih. Perilaku toilet taining dipengaruhi beberapa faktor salah satunya adalah pola komunikasi keluarga.Pola komunikasi terdiri dari pola komunikasi fungsional dan pola komunikasi disfungsional.Tujuan: mengetahui Hubungan Pola Komunikasi Keluarga terhadap Keberhasilan Toilet Training Anak Usia Toddler di Posyandu Rindang Kenari 2Metode: metode penelitian yang digunakan yaitu survei analitik melalui pendekatan Cross Sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 82 anak dengan menggunakan teknik pengambilan sampel adalah total sampling yaitu teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi.. Penelitian ini menggunakan uji chi square.Hasil: uji chi square menunjukkan Nilai p = 0,000 α = 0,05 maka p α, sehingga Ha di terima dan Ho di tolak, artinya ada hubungan pola komunikasi keluarga terhadap keberhasilan toilet training pada anak usia toddler. Pola komunikasi keluarga yang fungsional akan meningkatan keberhasilan anak dalam melakukan toilet training.Simpulan: berdasarkan hasil yang diperoleh bahwa pola komunikasi keluarga mempengaruhi keberhasilan toilet training pada anak usia toddlerKata kunci : Komunikasi, Toddler, Toilet TrainingBackground: Toilet training is a way to train children to be able to control their urination and defecation. One aspect of development that is common in the toddler period is teaching to the toilet, at 18 months of age the child can hold the bladder. The toilet training behavior is influenced by several factors, one of which is the family communication pattern. Communication patterns consist of functional communication patterns and dysfunctional communication patterns.Objective: To know the effect of family communication patterns on the success of toilet training for toddlers at Posyandu Rindang Kenari 2Methods: The research method used is an analytic survey through a cross-sectional approach. The sample used in this study is 82 children. The sampling technique is total sampling, namely a sampling technique where the number of samples was the same as the population. This study uses the chi-square test.Results: the chi-square test shows the value of p = 0.000 α = 0.05, then p α, so that Ha is accepted and Ho is rejected, meaning that there is a relationship between family communication patterns on the success of toilet training in toddlers. Functional family communication patterns will increase children's success in doing toilet training.Conclusion: Based on the results obtained, family communication patterns affect the success of toilet training for toddlers.Keyword: Communication, Toddlers, Toilet Training.
Identifikasi Pengetahuan Ibu yang Memiliki Bayi tentang Ruam Popok Nita Hestiyana; Zuliiati Zulliati; Paul Joae Brett Nito
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 10, No 1 (2019): Dinamika Kesehatan Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/dksm.v10i1.434

Abstract

Latar belakang:Ruam popok merupakan salah satu masalah kulit pada bayi dan anak. Menurut laporan Journal of Pediatrics terdapat 54% bayi berumur 1 bulan yang mengalami ruam popok. Gangguan kulit ini menyerang bagian tubuh bayi atau anak batita yang tertutup popok. Masih banyak ibu yang mempunyai bayi belum mengetahui tentang ruam popok, khususnya tentang cara mencegah dan mengatasi ruam popok. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan ibu bayi tentang ruam popok masih kurang.Tujuan: Mengidentifikasi pengetahuan ibu bayi tentang ruam popok di Posyandu Rindang Kenari 2.Metode:Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Accidental Sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi sejumlah 45 orang. Instrument penelitian menggunakan kuesioner.Hasil: Hasil penelitian didapatkan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan baik tentang ruam popok sebanyak 17 orang (37,8%), cukup 19 orang (42,2%), dan kurang 9 orang (20%). Pengetahuan ibu yang memiliki bayi tentang ruam popok berdasarkan karakteristik umur yaitu ibu berpengetahuan baik paling banyak pada umur 20-35 tahun (76,5%) dan ibu berpengetahuan kurang paling banyak pada umur 20 tahun (66,7%). Berdasarkan karakteristik pendidikan yaitu ibu berpengetahuan baik paling banyak pada pendidikan tinggi (70,6%) dan ibu berpengetahuan kurang paling banyak pada pendidikan rendah  (88,9%).Simpulan: berdasarkan hasil, didapatkan bahwa pengetahuan ibu bayi cukup tentang ruam popok Ibu diharapkan agar terus meningkatkan pengetahuan tentang ruam popok dan cara mengatasinya. Ibu bisa mendapatkan informasi tentang ruam popok dari tenaga kesehatan dan berbagai sumber informasi lainnya seperti media cetak dan media elektronik  Kata kunci : Pengetahuan, Ibu bayi, Ruam popok, umur, pendidikan Background: Diaper rash is one of the skin problems in infants and children. According to a report from the Journal of Pediatrics, there were 54% of 1-month-old babies who had diaper rash. This skin disorder attacks the body parts of babies or toddlers who are covered in diapers. There are still many mothers who have babies who don't know about diaper rash, especially about how to prevent and treat diaper rash. This shows that the mother's knowledge about diaper rash is still lacked. Objective: To know The Knowledge Identification of Infant’s Mother about Diaper Rash at Posyandu Rindang Kenari 2.Method: This study uses descriptive methods with sampling techniques using accidental sampling. The sample in this study was 45 mothers of babies. Instrument research uses a questionnaire. Results: The results showed that mothers who had good knowledge about diaper rash were 17 people (37.8%), enough 19 people (42.2%), and less 9 people (20%). Knowledge of mothers who have babies about diaper rash based on age characteristics, obtained by mothers who have the most good knowledge at the age of 20-35 years (76.5%) and mothers who have the least knowledge at the age of 20 years (66.7%). Based on the characteristics of education, most mothers had the most knowledge in higher education (70.6%) and mothers who had the least knowledge at the lowest level (88.9%).Conclusion: Based on the results, mothers have enough knowledge about diaper rash. Mothers are expected to be able to increase knowledge about diaper rash and how to overcome it. Mothers can get information about diaper rash from health workers and various other sources of information such as print media and electronic mediaKeywords: Knowledge, Infant’s Mother, Diaper rash, Age, Education
Analisis Pola Komunikasi Keluarga terhadap Keberhasilan Toilet Training pada Anak Usia Toddler Nita Hestiyana
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 12, No 1 (2021): Dinamika Kesehatan: Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/dksm.v12i1.687

Abstract

Latar belakang: Toilet training merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar. Salah satu aspek perkembangan yang umum dalam periode toddler adalah pengajaran ke toilet, usia 18 bulan anak sudah mampu menahan kandung kemih. Perilaku toilet taining dipengaruhi beberapa faktor salah satunya adalah pola komunikasi keluarga.Pola komunikasi terdiri dari pola komunikasi fungsional dan pola komunikasi disfungsional.Tujuan: mengetahui Hubungan Pola Komunikasi Keluarga terhadap Keberhasilan Toilet Training Anak Usia Toddler di Posyandu Rindang Kenari 2Metode: metode penelitian yang digunakan yaitu survei analitik melalui pendekatan Cross Sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 82 anak dengan menggunakan teknik pengambilan sampel adalah total sampling yaitu teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi.. Penelitian ini menggunakan uji chi square.Hasil: uji chi square menunjukkan Nilai p = 0,000 α = 0,05 maka p α, sehingga Ha di terima dan Ho di tolak, artinya ada hubungan pola komunikasi keluarga terhadap keberhasilan toilet training pada anak usia toddler. Pola komunikasi keluarga yang fungsional akan meningkatan keberhasilan anak dalam melakukan toilet training.Simpulan: berdasarkan hasil yang diperoleh bahwa pola komunikasi keluarga mempengaruhi keberhasilan toilet training pada anak usia toddlerKata kunci : Komunikasi, Toddler, Toilet TrainingBackground: Toilet training is a way to train children to be able to control their urination and defecation. One aspect of development that is common in the toddler period is teaching to the toilet, at 18 months of age the child can hold the bladder. The toilet training behavior is influenced by several factors, one of which is the family communication pattern. Communication patterns consist of functional communication patterns and dysfunctional communication patterns.Objective: To know the effect of family communication patterns on the success of toilet training for toddlers at Posyandu Rindang Kenari 2Methods: The research method used is an analytic survey through a cross-sectional approach. The sample used in this study is 82 children. The sampling technique is total sampling, namely a sampling technique where the number of samples was the same as the population. This study uses the chi-square test.Results: the chi-square test shows the value of p = 0.000 α = 0.05, then p α, so that Ha is accepted and Ho is rejected, meaning that there is a relationship between family communication patterns on the success of toilet training in toddlers. Functional family communication patterns will increase children's success in doing toilet training.Conclusion: Based on the results obtained, family communication patterns affect the success of toilet training for toddlers.Keyword: Communication, Toddlers, Toilet Training.
Literatur Review: Pengaruh Terapi Rendaman Air Jahe Hangat terhadap Penurunan Derajat Edema Kaki Ibu Hamil: Literature Review: Effect of Warm Ginger Immersion Therapy on Decreasing Degree of Foot Edema in Pregnant Women Mardiyah Mardiyah; Nita Hestiyana; Bagus Rahmat Santoso
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 8 No. 2 (2022): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v8i2.3887

Abstract

Introduction: Physiological leg edema can cause discomfort, a feeling of heaviness, and cramps at night. Pathological edema can show signs of danger in pregnancy if edema in the face or in the fingers, severe headaches, and blurred vision resulting from pre-eclampsia. The degree of edema can be reduced by improving blood circulation by soaking the feet in combination with ginger. Aims: To conduct a journal review by identifying the effect of warm ginger water immersion therapy on reducing the degree of leg edema of pregnant women from various literature studies. Methods: The research method was a literature review using several selected sources based on the criteria set by the researcher. Results: From 21 types of literature, it was found that soaking feet using warm ginger water can reduce leg edema in third-trimester pregnant women. Reducing the degree of leg edema by utilizing the content of essential oils and oleoresin (gingerol) compounds which provide a warm feeling and a spicy aroma. Conclusions: Based on the analysis that has been done, it was concluded that the application of warm ginger water immersion therapy to reduce the degree of leg edema in pregnant women has an effect on reducing leg edema in pregnant women, and it was recommended to apply foot soaking therapy as a cheaper and easier non-pharmacological alternative, can also avoid complications from pharmacological therapy (diuretic).