Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Deteksi Kejadian Speech Delayed pada Anak dengan Algoritma ID3 Nita Hestiyana; Dewi Pusparani Sinambela; Nurul Hidayah
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 12, No 2 (2021): Dinamika Kesehatan Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/dksm.v12i2.752

Abstract

Latar belakang: Gangguan bicara (Speech Delayed) merupakan salah satu penyebab gangguan perkembangan yang sering ditemukan pada anak. Seorang anak memiliki keterlambatan bicara jika perkembangan bicara dan bahasanya berada dibawah anak seusianya. Speech Delayed memiliki dampak pada perkembangan anak. Risiko perkembangan terlambat bicara yaitu kemampuan konseptual dan prestasi pendidikan, faktor sosial, dan risiko negatif pada konsep diri anak. Ketidakpahaman orang lain ketika berkomunikasi dapat menyebabkan rasa rendah diri pada anak. Deteksi dini keterlambatan bicara merupakan hal yang sangat penting karna semakin cepat diketahui penyebab terlambat bicara maka semakin cepat stimulasi dan intervensi yang dapat dilakukan. Faktor risiko terjadinya speech delayed adalah riwayat keluarga dengan keterlambatan bicara, jenis kelamin laki-laki, prematuritas, dan pendidikan orang tua.Tujuan: Menganalisis factor penyebab terjadiya speech delayed pada anak dengan menggunakan algoritma ID3.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan algoritma ID3 (algoritma pembelajaran pohon keputusan) dengan jenis desain retrospektif. Lokasi penelitian di RSUD Ulin Banjarmasin. Dimana kasus dalam penelitian ini adalah balita yang mengalami speech delayed dan tidak speech delayed. Sampel penelitian ini berjumlah  100 anak. Pengambilan sampel dengan menggunakan systematic random sampling.Hasil: Pada penelitian ini berdasarkan hasil algoritma ID3, prematuritas merupakan variable tertinggi diantara variable lain yang menjadi penyebab terjadinya speech delayed. Variabel prematuritas dipengaruhi juga oleh varibel jenis kelamin, pendidikan orang tua dan riwayat keluarga terlambat bicara.Simpulan: Prematuritas merupakan variable tertinggi penyebab terjadinya speech delayed. Hendaknya orangtua dapat memberikan stimulus adekuat sejak dini, mengingat pentingnya peranan stimulus untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak. Kata kunci : Speech Delayed, Anak, Algoritma ID3  Background: Speech delayed is one of the most common causes of developmental disorders in children. A child has a speech delayed if his speech and language development is below his age. The risk of speech development delay is conceptual ability and educational achievement, social factors and negative risk on the child's self-concept. Lack of understanding of others when communicating can lead to low self-esteem in children. Early detection of speech delayed is very important because the sooner the cause of speech delayed is known, the faster stimulation and intervention can be done. Risk factors for speech delayed in children are family history of speech delayed, male gender, prematurity, and parental education.Objective: To analyze the factors causing speech delay in children using the ID3 algorithm.Methods: The method in this study uses the ID3 algorithm with a retrospective design type. The research location is at Ulin Hospital Banjarmasin. Where the cases in this study are toddlers who experience speech delayed and not speech delayed. The sample of this study amounted to 100 children. Sampling used systematic random sampling.Results: Based on the results of the ID3 algorithm, prematurity is the highest variable that causes speech delayed. The variable of prematurity is also influenced by the variables of gender, parental education, family history of speech delayed.Conclusion: Prematurity is the highest variable that causes speech delayed. Parents should be able to provide adequate stimulus from an early age to improve children's language skills. Keywords: Children, ID3 Algorithm, Speech Delayed
Analisis Pola Komunikasi Keluarga terhadap Keberhasilan Toilet Training pada Anak Usia Toddler Nita Hestiyana
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 12, No 1 (2021): Dinamika Kesehatan: Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.297 KB) | DOI: 10.33859/dksm.v12i1.687

Abstract

Latar belakang: Toilet training merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar. Salah satu aspek perkembangan yang umum dalam periode toddler adalah pengajaran ke toilet, usia 18 bulan anak sudah mampu menahan kandung kemih. Perilaku toilet taining dipengaruhi beberapa faktor salah satunya adalah pola komunikasi keluarga.Pola komunikasi terdiri dari pola komunikasi fungsional dan pola komunikasi disfungsional.Tujuan: mengetahui Hubungan Pola Komunikasi Keluarga terhadap Keberhasilan Toilet Training Anak Usia Toddler di Posyandu Rindang Kenari 2Metode: metode penelitian yang digunakan yaitu survei analitik melalui pendekatan Cross Sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 82 anak dengan menggunakan teknik pengambilan sampel adalah total sampling yaitu teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi.. Penelitian ini menggunakan uji chi square.Hasil: uji chi square menunjukkan Nilai p = 0,000 α = 0,05 maka p α, sehingga Ha di terima dan Ho di tolak, artinya ada hubungan pola komunikasi keluarga terhadap keberhasilan toilet training pada anak usia toddler. Pola komunikasi keluarga yang fungsional akan meningkatan keberhasilan anak dalam melakukan toilet training.Simpulan: berdasarkan hasil yang diperoleh bahwa pola komunikasi keluarga mempengaruhi keberhasilan toilet training pada anak usia toddlerKata kunci : Komunikasi, Toddler, Toilet TrainingBackground: Toilet training is a way to train children to be able to control their urination and defecation. One aspect of development that is common in the toddler period is teaching to the toilet, at 18 months of age the child can hold the bladder. The toilet training behavior is influenced by several factors, one of which is the family communication pattern. Communication patterns consist of functional communication patterns and dysfunctional communication patterns.Objective: To know the effect of family communication patterns on the success of toilet training for toddlers at Posyandu Rindang Kenari 2Methods: The research method used is an analytic survey through a cross-sectional approach. The sample used in this study is 82 children. The sampling technique is total sampling, namely a sampling technique where the number of samples was the same as the population. This study uses the chi-square test.Results: the chi-square test shows the value of p = 0.000 α = 0.05, then p α, so that Ha is accepted and Ho is rejected, meaning that there is a relationship between family communication patterns on the success of toilet training in toddlers. Functional family communication patterns will increase children's success in doing toilet training.Conclusion: Based on the results obtained, family communication patterns affect the success of toilet training for toddlers.Keyword: Communication, Toddlers, Toilet Training.
Identifikasi Pengetahuan Ibu yang Memiliki Bayi tentang Ruam Popok Nita Hestiyana; Zuliiati Zulliati; Paul Joae Brett Nito
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 10, No 1 (2019): Dinamika Kesehatan Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/dksm.v10i1.434

Abstract

Latar belakang:Ruam popok merupakan salah satu masalah kulit pada bayi dan anak. Menurut laporan Journal of Pediatrics terdapat 54% bayi berumur 1 bulan yang mengalami ruam popok. Gangguan kulit ini menyerang bagian tubuh bayi atau anak batita yang tertutup popok. Masih banyak ibu yang mempunyai bayi belum mengetahui tentang ruam popok, khususnya tentang cara mencegah dan mengatasi ruam popok. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan ibu bayi tentang ruam popok masih kurang.Tujuan: Mengidentifikasi pengetahuan ibu bayi tentang ruam popok di Posyandu Rindang Kenari 2.Metode:Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Accidental Sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi sejumlah 45 orang. Instrument penelitian menggunakan kuesioner.Hasil: Hasil penelitian didapatkan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan baik tentang ruam popok sebanyak 17 orang (37,8%), cukup 19 orang (42,2%), dan kurang 9 orang (20%). Pengetahuan ibu yang memiliki bayi tentang ruam popok berdasarkan karakteristik umur yaitu ibu berpengetahuan baik paling banyak pada umur 20-35 tahun (76,5%) dan ibu berpengetahuan kurang paling banyak pada umur 20 tahun (66,7%). Berdasarkan karakteristik pendidikan yaitu ibu berpengetahuan baik paling banyak pada pendidikan tinggi (70,6%) dan ibu berpengetahuan kurang paling banyak pada pendidikan rendah  (88,9%).Simpulan: berdasarkan hasil, didapatkan bahwa pengetahuan ibu bayi cukup tentang ruam popok Ibu diharapkan agar terus meningkatkan pengetahuan tentang ruam popok dan cara mengatasinya. Ibu bisa mendapatkan informasi tentang ruam popok dari tenaga kesehatan dan berbagai sumber informasi lainnya seperti media cetak dan media elektronik  Kata kunci : Pengetahuan, Ibu bayi, Ruam popok, umur, pendidikan Background: Diaper rash is one of the skin problems in infants and children. According to a report from the Journal of Pediatrics, there were 54% of 1-month-old babies who had diaper rash. This skin disorder attacks the body parts of babies or toddlers who are covered in diapers. There are still many mothers who have babies who don't know about diaper rash, especially about how to prevent and treat diaper rash. This shows that the mother's knowledge about diaper rash is still lacked. Objective: To know The Knowledge Identification of Infant’s Mother about Diaper Rash at Posyandu Rindang Kenari 2.Method: This study uses descriptive methods with sampling techniques using accidental sampling. The sample in this study was 45 mothers of babies. Instrument research uses a questionnaire. Results: The results showed that mothers who had good knowledge about diaper rash were 17 people (37.8%), enough 19 people (42.2%), and less 9 people (20%). Knowledge of mothers who have babies about diaper rash based on age characteristics, obtained by mothers who have the most good knowledge at the age of 20-35 years (76.5%) and mothers who have the least knowledge at the age of 20 years (66.7%). Based on the characteristics of education, most mothers had the most knowledge in higher education (70.6%) and mothers who had the least knowledge at the lowest level (88.9%).Conclusion: Based on the results, mothers have enough knowledge about diaper rash. Mothers are expected to be able to increase knowledge about diaper rash and how to overcome it. Mothers can get information about diaper rash from health workers and various other sources of information such as print media and electronic mediaKeywords: Knowledge, Infant’s Mother, Diaper rash, Age, Education
Analisis Pola Komunikasi Keluarga terhadap Keberhasilan Toilet Training pada Anak Usia Toddler Nita Hestiyana
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 12, No 1 (2021): Dinamika Kesehatan: Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/dksm.v12i1.687

Abstract

Latar belakang: Toilet training merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar. Salah satu aspek perkembangan yang umum dalam periode toddler adalah pengajaran ke toilet, usia 18 bulan anak sudah mampu menahan kandung kemih. Perilaku toilet taining dipengaruhi beberapa faktor salah satunya adalah pola komunikasi keluarga.Pola komunikasi terdiri dari pola komunikasi fungsional dan pola komunikasi disfungsional.Tujuan: mengetahui Hubungan Pola Komunikasi Keluarga terhadap Keberhasilan Toilet Training Anak Usia Toddler di Posyandu Rindang Kenari 2Metode: metode penelitian yang digunakan yaitu survei analitik melalui pendekatan Cross Sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 82 anak dengan menggunakan teknik pengambilan sampel adalah total sampling yaitu teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi.. Penelitian ini menggunakan uji chi square.Hasil: uji chi square menunjukkan Nilai p = 0,000 α = 0,05 maka p α, sehingga Ha di terima dan Ho di tolak, artinya ada hubungan pola komunikasi keluarga terhadap keberhasilan toilet training pada anak usia toddler. Pola komunikasi keluarga yang fungsional akan meningkatan keberhasilan anak dalam melakukan toilet training.Simpulan: berdasarkan hasil yang diperoleh bahwa pola komunikasi keluarga mempengaruhi keberhasilan toilet training pada anak usia toddlerKata kunci : Komunikasi, Toddler, Toilet TrainingBackground: Toilet training is a way to train children to be able to control their urination and defecation. One aspect of development that is common in the toddler period is teaching to the toilet, at 18 months of age the child can hold the bladder. The toilet training behavior is influenced by several factors, one of which is the family communication pattern. Communication patterns consist of functional communication patterns and dysfunctional communication patterns.Objective: To know the effect of family communication patterns on the success of toilet training for toddlers at Posyandu Rindang Kenari 2Methods: The research method used is an analytic survey through a cross-sectional approach. The sample used in this study is 82 children. The sampling technique is total sampling, namely a sampling technique where the number of samples was the same as the population. This study uses the chi-square test.Results: the chi-square test shows the value of p = 0.000 α = 0.05, then p α, so that Ha is accepted and Ho is rejected, meaning that there is a relationship between family communication patterns on the success of toilet training in toddlers. Functional family communication patterns will increase children's success in doing toilet training.Conclusion: Based on the results obtained, family communication patterns affect the success of toilet training for toddlers.Keyword: Communication, Toddlers, Toilet Training.
Literatur Review: Pengaruh Terapi Rendaman Air Jahe Hangat terhadap Penurunan Derajat Edema Kaki Ibu Hamil: Literature Review: Effect of Warm Ginger Immersion Therapy on Decreasing Degree of Foot Edema in Pregnant Women Mardiyah Mardiyah; Nita Hestiyana; Bagus Rahmat Santoso
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 8 No. 2 (2022): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v8i2.3887

Abstract

Introduction: Physiological leg edema can cause discomfort, a feeling of heaviness, and cramps at night. Pathological edema can show signs of danger in pregnancy if edema in the face or in the fingers, severe headaches, and blurred vision resulting from pre-eclampsia. The degree of edema can be reduced by improving blood circulation by soaking the feet in combination with ginger. Aims: To conduct a journal review by identifying the effect of warm ginger water immersion therapy on reducing the degree of leg edema of pregnant women from various literature studies. Methods: The research method was a literature review using several selected sources based on the criteria set by the researcher. Results: From 21 types of literature, it was found that soaking feet using warm ginger water can reduce leg edema in third-trimester pregnant women. Reducing the degree of leg edema by utilizing the content of essential oils and oleoresin (gingerol) compounds which provide a warm feeling and a spicy aroma. Conclusions: Based on the analysis that has been done, it was concluded that the application of warm ginger water immersion therapy to reduce the degree of leg edema in pregnant women has an effect on reducing leg edema in pregnant women, and it was recommended to apply foot soaking therapy as a cheaper and easier non-pharmacological alternative, can also avoid complications from pharmacological therapy (diuretic).
Pengaruh Pemberian Kompres Hangat terhadap Suhu Tubuh Pasca Imunisasi Pentabio di Wilayah Kerja Puskesmas Beruntung Marsha Dwi Juliana; Hairiana Kusvitasari; Nita Hestiyana
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2026): Juli: Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v6i2.10929

Abstract

DPT-HB-Hib immunization is part of the basic immunization program for infants aged 2–4 months and may cause post-immunization adverse events, particularly mild fever. Appropriate management of post-immunization fever is necessary to maintain infant comfort, including non-pharmacological approaches such as warm compresses. This study aimed to analyze the effect of warm compress application on changes in body temperature among infants after pentabio immunization in the working area of Beruntung Raya Community Health Center. This quantitative study employed a pre-experimental design with a one-group pretest–posttest approach. The sample consisted of 10 infants aged 2–4 months selected using purposive sampling. Body temperature was measured before and after the warm compress intervention using a digital axillary thermometer and analyzed using a paired samples t-test with a significance level of 0.05. The results demonstrated a decrease in the mean body temperature of infants following the warm compress intervention, with statistical analysis indicating a significant difference between pre- and post-intervention body temperatures (p < 0.05). In conclusion, warm compress application has a significant effect on reducing body temperature in infants after pentabio immunization and may be considered an effective non-pharmacological intervention for managing mild post-immunization fever.
KESESUAIAN TAFSIRAN BERAT JANIN DENGAN RUMUS JOHNSON-TOSHACK DENGAN BERAT LAHIR BAYI DI PUSKESMAS BASARANG Dewi Murni; Desilestia Dwi Salmarini; Angga Irawan; Nita Hestiyana
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 11, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v11i1.4807

Abstract

Latar Belakang: Provinsi Kalimantan Tengah merupakan 10 provinsi dengan presentase kematian ibu dan bayi tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2022 angka kematian ibu sebesar 146 per 100 kelahiran hidup dan angka kematian balita sebesar 9,0 per 1000 kelahiran hidup. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menekan angka kejadian BBLR adalah melakukan skrining saat kehamilan secara tepat dengan pengukuran tinggi fundus uteri (TFU). Metode sederhana yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah TFU adalah dengan rumus Johson- Toshack.Tujuan: menguji Kesesuaian Tafsiran Berat Janin dengan Rumus Johnson-Toshack dengan Berat Lahir Bayi di Puskesmas Basarang.Metode: Penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan rancangan cross sectional menggunakan pendekatan Retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di wilayah kerja Puskesmas Basarang dari bulan Oktober-November 2023 yang berjumlah 40 orang dengan usia kehamilan kisarannya 37-42 minggu. Sampel diambil dengan teknik Total Sampling.Analisis menggunakan Wilcoxon test.Hasil: Analisis dengan SPSS versi 23 didapatkan perbedaan antara taksiran berat badan janin dengan berat badan bayi baru lahir. Selisih rata-rata taksiran berat badan janin dengan berat badan bayi baru lahir adalah sebesar 49,37 gram. Sedangkan berdasarkan hasil uji Wilcoxon sign test terdapat angka p value 0,043 (<0,05) Simpulan: Ada kesesuaian antara taksiran berat badan janin menurut rumus Johnson Tausack dengan berat lahir bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Basarang tetapi tidak signifikan dengan adanya perbedaan rata-rata 49,37 gram antara tafsiran berat janin dan berat badan bayi saat lahir. Kata Kunci: Tafsiran Berat Janin, Johnson Tausack
Cari Sukur (Cegah Anemia Remaja Putri dengan Susu Kurma) Untuk Mencegah Stunting Sedari Dini pada Remaja di Wilayah Kerja Puskesmas Giri Mulia Isni Renuati; Susanti Suhartati; Nita Hestiyana
Jurnal Pengabdian Cendekia Vol. 2 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Cendekia
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/jpc.v2i1.34

Abstract

Usia remaja menurut WHO dimulai usia 12-24 tahun. Salah satu kelompok umur yang rentan mengalami anemia adalah remaja dengan prevelensi anemia dinegara berkembang adalah 27% dan 6% di negara maju. Kondisi  anemia  yang  dialami  saat  remaja  dapat meningkatkan resiko menderita  anemia  saat  hamil.  Apabila kondisi ini  tidak  ditangani  dengan  baik  akan  berisiko  terjadinya  pendarahan  saat persalinan, bayi berat badan lahir rendah, dan akhirnya melahirkan bayi stunting. Berdasarkan indikator TB/U, prevalensi pendek (stunting) secara nasional pada tahun 2023 adalah sebesar 7,1% dimana terjadi penurunan dibandingkan pada tahun 2022 (8,4%) dan 2021 (9,5%). Pada kalimantan selatan didapatkan 8 prevalensi (stunting) pada tahun 2023 sebanyak (8,7%) dimana terjadi penurunan dibandingkan pada tahun 2022 (9,3%) dan 2021 sebanyak (10,4%). Berdasarkan data tersebut penulis melakukan pengabdian masyarakat dengan tujuan untuk mencegah stunting  sedari dini pada remaja di wilayah kerja Puskesmas Giri Mulia.
KESESUAIAN TAFSIRAN BERAT JANIN DENGAN RUMUS JOHNSON-TOSHACK DENGAN BERAT LAHIR BAYI DI PUSKESMAS BASARANG Dewi Murni; Desilestia Dwi Salmarini; Angga Irawan; Nita Hestiyana
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol. 11 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v11i1.4807

Abstract

Latar Belakang: Provinsi Kalimantan Tengah merupakan 10 provinsi dengan presentase kematian ibu dan bayi tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2022 angka kematian ibu sebesar 146 per 100 kelahiran hidup dan angka kematian balita sebesar 9,0 per 1000 kelahiran hidup. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menekan angka kejadian BBLR adalah melakukan skrining saat kehamilan secara tepat dengan pengukuran tinggi fundus uteri (TFU). Metode sederhana yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah TFU adalah dengan rumus Johson- Toshack.Tujuan: menguji Kesesuaian Tafsiran Berat Janin dengan Rumus Johnson-Toshack dengan Berat Lahir Bayi di Puskesmas Basarang.Metode: Penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan rancangan cross sectional menggunakan pendekatan Retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di wilayah kerja Puskesmas Basarang dari bulan Oktober-November 2023 yang berjumlah 40 orang dengan usia kehamilan kisarannya 37-42 minggu. Sampel diambil dengan teknik Total Sampling.Analisis menggunakan Wilcoxon test.Hasil: Analisis dengan SPSS versi 23 didapatkan perbedaan antara taksiran berat badan janin dengan berat badan bayi baru lahir. Selisih rata-rata taksiran berat badan janin dengan berat badan bayi baru lahir adalah sebesar 49,37 gram. Sedangkan berdasarkan hasil uji Wilcoxon sign test terdapat angka p value 0,043 (<0,05) Simpulan: Ada kesesuaian antara taksiran berat badan janin menurut rumus Johnson Tausack dengan berat lahir bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Basarang tetapi tidak signifikan dengan adanya perbedaan rata-rata 49,37 gram antara tafsiran berat janin dan berat badan bayi saat lahir. Kata Kunci: Tafsiran Berat Janin, Johnson Tausack
HUBUNGAN SOSIAL EKONOMI DENGAN STATUS GIZI PADA REMAJA PUTRI DI SMPN I BARITO TUHUP RAYA Rumi Amanda; Elvine Ivana Kabuhung; Nita Hestiyana; Dwi Sogi Sri Redjeki
Jurnal Kesehatan Vol. 16 No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v16i2.457

Abstract

Adolescent girls are considered a vulnerable group to nutritional problems, both undernutrition and overnutrition. The socioeconomic status of the family influences adolescents’ dietary patterns and nutrient intake. However, the relationship between socioeconomic conditions and nutritional status is not always linear, particularly in rural areas with limited food access. This study aimed to determine the extent of the relationship between socioeconomic status and the nutritional condition of adolescent girls at SMPN 1 Barito Tuhup Raya. An analytical observational design with a cross-sectional approach was employed. The sample consisted of 54 adolescent girls selected using a total sampling technique. Socioeconomic status was categorized based on family income (≤ or > IDR 3,500,000). Nutritional status was determined through the calculation of Body Mass Index (BMI). Data were analyzed using the Chi-Square test to examine the relationship between variables. The majority of respondents were from families with low socioeconomic status (59.3%) and had normal nutritional status (63%). Bivariate analysis revealed a significant relationship between socioeconomic level and nutritional condition (p = 0.027). Interestingly, adolescent girls from lower-income families had a higher proportion of normal nutritional status compared to those from higher-income families. The findings indicate that socioeconomic background has a meaningful association with the nutritional condition of adolescent girls. However, family income is not the only determining factor; dietary patterns, eating habits, nutrition literacy, and lifestyle also contribute to adolescents’ nutritional status.   Abstrak: Remaja putri termasuk kelompok yang rentan mengalami masalah gizi, baik gizi kurang maupun gizi lebih. Status sosial ekonomi keluarga turut memengaruhi pola konsumsi dan asupan gizi remaja. Namun, hubungan antara kondisi sosial ekonomi dan status gizi tidak selalu bersifat linier, terutama di wilayah pedesaan dengan keterbatasan akses pangan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana status sosial ekonomi berhubungan dengan kondisi gizi remaja putri di SMPN 1 Barito Tuhup Raya. Desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik engan rancangan potong lintang (cross-sectional). Sampel berjumlah 54 remaja putri yang dipilih dengan teknik total sampling. Data status sosial ekonomi dikategorikan berdasarkan pendapatan keluarga (≤ atau > Rp3.500.000). Tingkat status gizi responden ditetapkan melalui perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Data dianalisis dengan menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Mayoritas responden tercatat berasal dari keluarga dengan kondisi sosial ekonomi rendah (59,3%) dan menunjukkan status gizi normal (63%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara tingkat sosial ekonomi dan kondisi gizi remaja (p = 0,027). Menariknya, remaja dari keluarga ekonomi bawah justru memiliki proporsi kondisi gizi normal yang lebih tinggi dibandingkan kelompok ekonomi atasHasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara latar belakang sosial ekonomi dan keadaan gizi remaja putri. Namun, pendapatan keluarga bukan satu-satunya faktor penentu. Pola konsumsi, kebiasaan makan, literasi gizi, dan gaya hidup turut memengaruhi status gizi remaja