Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Keanekaragaman Spesies dan Status Konservasi Ikan Hiu dan Ikan Pari di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pemalang Sri Sukmaningrum; Suhestri Suryaningsih; Aulidia Nurul Habibah
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 15, No 1 (2022): AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v15i1.17987

Abstract

AbstrakEksploitasi ikan hiu dan pari di Indonesia tidak bisa dihindari, karena terus meningkatnya permintaan dari konsumen. Oleh karena itu perlu adanya upaya pengelolaan ikan hiu dan pari agar konservasinya tetap terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman spesies dan status konservasi ikan hiu dan pari yang didaratkan di TPI Pemalang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survei. Sampel diambil dengan teknik purposive random sampling. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan ikan hiu dan pari yang didaratkan sebanyak 796 individu terdiri dari 170 ekor ikan hiu dan 626 ekor ikan pari. Ikan hiu yang didaratkan tergolong ke dalam tiga ordo, lima famili, dan enam spesies, sedangkan ikan pari tergolong ke dalam satu ordo, dua famili, dan enam spesies. Ikan hiu dan pari yang paling banyak didaratkan adalah Rhizoprionodon oligolinx 152 individu dan Dasyatis zugei 501 individu. Keanekaragaman jenis ikan hiu dan pari pada lokasi penelitian tergolong sedang dengan H’= 1,124. Ikan hiu dan pari yang diamati selama penelitian memiliki status konservasi dengan kategori critically endangered dua spesies, vulnerable tiga spesies, near threatened empat spesies, least concern satu spesies, dan data deficient dua spesies.Abstract The exploitation of sharks and rays in Indonesia is inevitable, because of the increasing demand from consumers. Therefore, there is a need for sharks and rays management so that their conservation is maintained. This study aims to determine the species diversity and conservation status of sharks and rays landed at TPI Pemalang. The research was conducted using a survey method. Samples were taken by the purposive random sampling technique. The data obtained were analyzed descriptively. The results showed that 796 sharks and stingrays were landed, consisting of 170 sharks and 626 rays. The landed sharks are classified into 3 orders, 5 families and 6 species, while the stingrays are classified into 1 order, 2 families and 6 species. The most landed sharks and rays were 152 individuals of Rhizoprionodon oligolinx and 501 individuals of Dasyatis zugei. The diversity of sharks and stingrays at the research location is classified as moderate, with H '= 1.124. The sharks and rays observed during the study had a conservation status: two species of critically endangered, three species of vulnerable, four species of near threatened, one species of least concerned, and two species of deficient data.
Perbanyakan Koloni Tetragonula biroi pada "Tumbuh Lestari” Desa Langgongsari, Banyumas, Jawa Tengah Imam widhiono; Eming Sudiana; Elly Proklamasingingsih; Suhestri Suryaningsih
Journal of Innovation and Sustainable Empowerment Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jise.v5i2.222

Abstract

Salah satu masalah yang dihadapi pembudidaya lebah klanceng Tetragonula biroi di Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas adalah keberlanjutan populasi atau koloni yang dipelihara. Karena spesies lebah ini harus didatangkan dari Sulawesi dengan harga yang cukup tinggi. Oleh karena itu, pembudidaya harus memiliki kemampuan teknik untuk memperbanyak koloni. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan pembudidaya dalam melakukan perbanyakan koloni serta meningkatkan jumlah koloni hasil perbanyakan. Metode yang digunakan adalah kombinasi pemberian teori, praktik perbanyakan koloni, dan pendampingan selama 8 bulan, dari April hingga Oktober. Metode perbanyakan koloni yang dilakukan adalah metode perbanyakan koloni dengan ratu, metode perbanyakan koloni dengan sel calon ratu, dan metode perbanyakan secara acak.Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pembudidaya mampu melakukan perbanyakan koloni dengan baik, terbukti dari terbentuknya 25 koloni baru ( 15 koloni induk dan 10 koloni pecahan). Kendala yang dihadapi dalam perbanyakan koloni adalah perebutan sarang oleh Tetragonula laeviceps, yang merupakan spesies lokal. Rekomendasi dan implikasi  dari hasil kegiatan ini adalah bahwa untuk keberlanjutan budidaya perlu dilakukan perbanyakan koloni sekurang-kurangnya 2 tahun sekali dan perlu dipersiapkan nursery ground.