Amin Lestari
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONTRIBUSI PERILAKU DISRUPTIF TERHADAP EKSKLUSI SOSIAL PADA ANAK USIA SD Amin Lestari; Bambang Sumardjoko; Anatri Desstya; Laili Etika Rahmawati; Endang Fauziati
Primary: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Laboratorium Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.076 KB) | DOI: 10.33578/jpfkip.v11i3.8950

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap sebab-sebab perilaku disruptif (PD) pada anak SD, dan menjelaskan kontribusi PD terhadap eksklusi sosial. Riset ini menggunakan desain studi kasus, yang dilaksanakan di sebuah SD di Sragen, Indonesia. Data dihimpun melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Guna menguji validitas data, peneliti menempuh triangulasi. Data yang diperoleh dan dinyatakan valid kemudian dianalisis mengikuti langgkah-langkah yang dikemukakan Miles et al. (2014), yaitu data condensation, data display, dan conclusion drawing/verification. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa; (a) lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan teman sepermainan, dan lingkungan masyarakat menjadi determinan atas munculnya PD pada anak; (b) proses eksklusi sosial sebagai akibat dari PD dilakukan dalam tiga tahap, yaitu yaitu penilaian kelompok atas risiko PD, pengambilan keputusan untuk mengeksklusi pelaku, dan pembatasan diri dari siswa yang dieksklusi dalam periode waktu tertentu. Penelitian ini berkesimpulan bahwa di antara empat lingkungan yang berpengaruh terhadap PD, lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah sebagai determinan paling kuat. Namun dalam beberapa kasus, adanya role model dalam lingkungan masyarakat memperteguh PD pada anak. Eksklusi sosial akibat PD (pada fase ketiga) hanya akan berakhir manakala pelaku tidak lagi menampakkan PD. Peneliti merekomendasikan dilakukannya diagnosa awal atas gejala-gejala PD. Tujuannya adalah mengurangi risiko eksklusi sosial yang disebabkan PD.  
KONTRIBUSI PERILAKU DISRUPTIF TERHADAP EKSKLUSI SOSIAL PADA ANAK USIA SD Amin Lestari; Bambang Sumardjoko; Anatri Desstya; Laili Etika Rahmawati; Endang Fauziati
Primary: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol. 11 No. 3 (2022): June
Publisher : Laboratorium Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/jpfkip.v11i3.8950

Abstract

This article identifies the causes of disruptive behaviour (PD) in elementary school children and explains how PD can contribute to social exclusion. The study in this article employs a case study design and is conducted in an elementary school in Sragen Indonesia. Data were gathered through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. To test the validity, the researcher used triangulation. The data obtained and declared valid were then analyzed by following the procedures proposed by Miles et al. (2014). They are data condensation, data display, and conclusion drawing or verification. The results showed that (a) the family environment, school environment, playmate environment, and community environment were the determinants of the emergence of children’s disruptive behaviour, (b) the process of social exclusion as a result of PD was applied by following three stages; group assessment of the risk of PD, decision making to exclude perpetrators, and selflimitation of excluded students within a specified time. It could be concluded that based on the four environments that affected children’s disruptive behaviour, the family environment and school environment were frequently determinants. Nevertheless, in some cases, the existence of a role model in the community reinforced the children’s disruptive behaviour. The social exclusion that came from disruptive behaviour (in the third phase) would only be stopped when the perpetrator no longer shows their disruptive behaviour. The researcher recommended to do an early diagnosis of PD symptoms. It is