Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN AWAL MUSIM HUJAN DAN AWAL MUSIM KEMARAU DI INDONESIA Giarno Giarno; Zadrach Ledoufij Dupe; Musa Ali Mustofa
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.991 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i1.113

Abstract

Kriteria Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam menentukan awal musim hujan dan awal musim kemarau memerlukan waktu sebulan untuk memastikan masuknya musim hujan dan musim kemarau. Kadang didapatkan tahun tanpa awal musim hujan atau mundur hingga tahun berikutnya. Misalnya, tahun 2003, akumulasi hujan bulan Desember di Kupang 722 mm namun  bulan  tersebut  bukan  awal  musim  hujan.  Kriteria  ini  diperbaiki  dengan menggabungkan kesimpulan penelitian peneliti terdahulu yang menyimpulkan adanya hubungan kuat hujan 50 mm/dasarian dan angin baratan, dengan batas  evapotranspirasi potensial. Dengan menggunakan modifikasi hydrological onset and withdrawal index (HOWI) menunjukkan perambatan awal musim hujan dimulai dari utara menuju ke selatan dan secara zonal dari barat ke timur. Sedangkan awal musim kemaraunya dimulai dari selatan menuju utara dan secara zonal dari timur ke barat. Perbaikan metode untuk mempercepat penentuan awal musim hujan/kemarau dilakukan dengan menggabungkan data observasi hujan dan HOWI. Hasil uji di Makassar dan Kupang menunjukkan metode ini 18-20 hari lebih cepat untuk mendapatkan kepastian awal musim hujan/kemarau. Meteorology Climatology and Geophysics Agency (BMKG) criteria of onset and withdrawal need a month to ensure rainy season and dry season. Sometimes obtained year without onset or retreat to next year. Example, in 2003, rain accumulation in Kupang at Desember was 722 mm but this month was not onset. This criteria improved by combining the conclusions of previous researchers that conclude, there was a close relationship between rainfall accumulation 50 mm/decad and westerlies, with limit of potential evapotranspiration. Modified by hydrological onset and withdrawal index (HOWI) showed that onset propagated from north to south and from west to east. While the early of dry season propagated from south to north and from east to west. Improved method to accelerate certainty onset/withdrawal by combining rain observation data and HOWI. The results in Makassar and Kupang showed 18-20 days earlier to get the certainty of onset/withdrawal. 
PELATIHAN PEMANDU ASTROWISATA DAN PENCARIAN LOKASI PENGAMATAN DALAM RANGKA PERSIAPAN MENGHADAPI GERHANA MATAHARI 202 Chatief Kunjaya; Zadrach Ledoufij Dupe; Edi Riawan; Rahel Drupadi Chandepanembrama; Fachri Andeaf Ramadhan; Nida Azkiya; Mohammad Fa’iq Tarikh
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Sabu merupakan daerah yang memiliki jumlah hari cerah yang terbanyak di Indonesia dengan langit yang bersih minim polusi cahaya. Di lokasi seperti itu sangat baik untuk dikembangkan astrowisata, karena harapan cuaca cerahnya tinggi sehingga harapan suksesnya penyelenggaraan suatu event astrowisata juga tinggi. Gerhana Matahari 20 April 2023 yang melalui wilayah Indonesia Timur merupakan suatu fenomena yang dapat dimanfaatkan untuk membuat event astrowisata. Untuk mempersiapkan event tersebut dilaksanakanlah pelatihan bagi calon pemandu wisata dan pencarian lokasi terbaik untuk menyelenggarakan event pengamatan gerhana matahari untuk turis dan masyarakat setempat. Tujuan pelatihan calon pemandu itu adalah agar pulau Sabu memiliki orang-orang yang cukup mampu mendampingi masyarakat dan wisatawan dalam mengamati gerhana matahari dengan cara yang baik dan aman. Pemilihan lokasi diperlukan agar masyarakat dan wisatawan dalam jumlah cukup banyak dapat mengamati gerhana bersama-sama di tempat yang memiliki medan dan arah pandang yang baik ke arah Matahari selama gerhana berlangsung. Pelatihan telah dilaksanakan dengan peserta para siswa sekolah menengah, guru dan staf dinas pariwisata kabupaten Sabu Raijua. Dari beberapa lokasi yang disurvey, diperoleh lokasi terbaik pengamatan Gerhana Matahari adalah taman doa Skyber.