Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PREDIKSI PARAMETER CUACA MENGGUNAKAN DEEP LEARNING LONG-SHORT TERM MEMORY (LSTM) Eko Supriyadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 21, No 2 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.663 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v21i2.619

Abstract

Saat ini metode deep learning dapat diaplikasikan untuk memprediksi suatu kejadian, seperti memprediksi cuaca suatu wilayah. Salah satu contoh deep learning yang cocok digunakan pada jenis data time series adalah LSTM. Penelitian ini menerapkan metode deep learning LSTM dengan jumlah layer 200, perbandingan data training dengan data test sebesar 9:1, serta mengukur nilai RMSE dan RMSE update hasil validasi dan prediksi beberapa hari ke depan. Data yang digunakan terdiri dari pengukuran suhu udara, kelembaban udara, kecepatan angin, dan tekanan udara selama bulan Januari dan Februari 2019. Data bulan Januari digunakan sebagai data training dan test untuk melakukan validasi prakiraan, sedangkan data bulan Februari digunakan sebagai pembanding dari hasil prediksi deep learning LSTM. Hasil penelitian menunjukkan RMSE seluruh validasi parameter cuaca nilainya semakin baik ketika menggunakan LSTM dengan update. Diperoleh RMSE update untuk parameter suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan tekanan udara masing-masing bernilai 0,576; 2,8687; 2,1963; dan 1,0647. Sedangkan prediksi suhu udara, kelembaban, kecepatan angin, dan tekanan udara untuk 1 hari ke depan (1 Februari 2019) masing-masing sebesar 1,0337; 6,3413; 2,8934; dan 1,4313. Dari parameter tersebut hanya parameter suhu dan kelembaban udara yang mengalami pertambahan RMSE seiring bertambahnya waktu. Sedangkan parameter kecepatan angin dan tekanan udara mengalami penurunan di hari ketiga dan meningkat secara kontinu hingga satu bulan ke depan.  Today, deep learning can be applied to predict any events, such as predict the weather of a region. One of them is LSTM which is suitable for use in time series data types. This study conducted the deep learning LSTM with the number of 200 layers, ratio training with test data of 9:1, measuring the value of validation RMSE and RMSE update and also predictions some weather parameters in a few days later. The data used consisted of measurements of air temperature, humidity, wind speed, and air pressure during January and February 2019. The data January were used as training and test data to conduct forecast validation, while the data February was used as a comparison of the results predicted for deep learning LSTM. The result shows that the forecast RMSE for all-weather parameters is better when using LSTM with an update. Obtained for temperature, relative humidity, wind speed, and air pressure have RMSE with update are 0,576; 2,8687; 2,1963; and 1,0647, respectively. While the prediction of air temperature, wind speed, and air pressure for one day later (1 February 2019) is 1.0337; 6.3413; 2,8934; and 1.4313, respectively. From the all-weather parameters only temperature and humidity parameter that increase in RMSE over time. While the parameters such as wind speed and air pressure decreased on the third day and increased continuously for the next one month.
PEMANFAATAN SATELIT ALTIMETRI UNTUK VERIFIKASI TINGGI GELOMBANG SIGNIFIKAN OCEAN FORECAST SYSTEM (OFS) – MODEL BMKG Eko Supriyadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 19, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1716.914 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v19i2.586

Abstract

Model OFS-BMKG yang sudah beroperasi sejak akhir tahun 2016 belum banyak dilakukan verifikasi secara menyeluruh di perairan Indonesia.  Penelitian kali ini melakukan kajian verifikasi tinggi gelombang laut signifikan (SWH) hasil pemodelan OFS menggunakan pengamatan satelit altimetri untuk periode Januari 2017. Verifikasi dilakukan dengan menyesuaikan posisi SWH yang diperoleh dari lintasan satelit terhadap kontur model menggunakan grid yang sama.  Hasil analisis statistika menunjukkan nilai koefisien korelasi SWH antara hasil model dengan pengamatan satelit  tergolong baik, yaitu sebesar 0.64.  Sedangkan untuk uji bias, RMSE, dan SI masing-masing bernilai 0.41, 0.89, dan 0.52.  Secara umum bila dilihat dari plot time series dan sebaran data setiap waktu pengamatan umumnya hasil model lebih tinggi dibandingkan pengamatan satelit. Sehingga dibutuhkan penyesuaian untuk hasil model agar sesuai dengan pengamatan sebenarnya. The OFS-BMKG system has been operating since the end of 2016 but has not been verified in Indonesian waters. This system was developed from the WaveWatch III (WW3) model. This study was conducted to verify OFS Significant Wave Height (SWH) against satellite altimetry measurements for the period of January 2017. The verification was performed by adjusting the position of SWH obtained from the altimetry satellite path to the contour of the WW3 model for the same grids. The results showed that the OFS SWH had good accordance with the satellite measurement. The correlation coefficient was 0,64 while bias, RMSE, and SI values were 0,41; 0,89; and 0,52, respectively. The time series and data distribution showed that OFS SWH, in general, had higher values than that measured by altimetry satellite. Adjustments or fine-tuning therefore are required for the WW3 model results to match actual observations. 
KARAKTERISTIK MUSIMAN DAN VARIABILITAS ARUS WYRTKI PERIODE 2000 – 2014 Eko Supriyadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.316 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v20i1.538

Abstract

Arus Wyrtki merupakan bagian dari arus ekuatorial yang dihasilkan dari dominasi angin baratan. Penelitian ini menggunakan data observasi bouy RAMA, OSCAR, ERA-Interim pada periode 2000 – 2014.  Penelitian ini difokuskan pada identifikasi arus Wyrtki dan variasi EOF/PC yang dihasilkan pada tahun pengamatan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa arus Wyrtki musim dingin Asia lebih kuat dan dan berlangsung pada bulan Februari – Mei dibandingkan dengan musim panas Asia yang berlangsung pada bulan September - November.  Arus Wyrtki pada musim panas dan dingin Asia memiliki kecepatan masing – masing sebesar 20 m/s dan 40 m/s.  Analisa spasial dan temporal arus Wyrtki sepanjang ekuator terhadap angin zonal menunjukkan bahwa arus Wyrtki yang dibangkitkan pada  musim dingin dan panas Asia berhubungan dengan angin baratan yang dihasilkan.  Dimana pada pada saat musim panas dan dingin Asia angin zonal maksimum berturut – turut terjadi pada bulan Mei dan November dengan kecepatan masing – masing sebesar 3 m/s dan 4 m/s.  Sementara itu nilai varians yang dihasilkan dari 4 komponen teratas EOF/PC memegang 92.1 % variabilitas pengamatan data.  Variabilitas skala ruang menunjukkan pada kedalaman ~ 150 m memiliki varians sebesar 0.  Sedangkan dari skala temporal varians terbesar dan terendah masing-masing terjadi pada bulan Mei 2003 dan Januari 2008.