Dian Rahma Nur Afifah
Fakultas ekonomi dan bisnis Islam IAIN Ponorogo

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Petilasan Prabu Brawijaya V di Alas Ketonggo Srigati Ngawi Dian Rahma Nur Afifah
Bakaba : Jurnal Sejarah, Kebudayaan dan Kependidikan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Laboratorium Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/bakaba.2021.v9i1.4516

Abstract

Pengaruh mitos Alas Ketonggo Srigati, terhadap masyarakat antara lain : membentuk watak, kepercayaan,dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memasuki tempat tersebut juga harus sopan,tidak boleh berkata jorok, jika ingin mengunjungi tempat tersebut harus izin terlebih dahulu untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan. Bukan hanya itu, Prabu Brawijaya V juga sempat meninggalkan baju kebesarannya ditempat itu. Hal itu, ia lakukan sebelum berangkat ke Gunung Lawu untuk Bertapa. Beberapa pengunjung yang menyukai hal mistis juga sempat melakukan komunikasi dengan makhluk halus atau penunggu Alas Ketonggo Srigati tersebut bahkan juga ada yang sudah melihat wujud mereka. Di Alas Ketonggo Srigati ini dipercaya juga oleh masyarakat sebagai tempat Bung Karno (Presiden RI Pertama) mengasingkan diri untuk berdoa. Pada hari-hari tertentu, situs Bung Karno itu menjadi salah satu jujukan bagi peziarah yang datang. Situs tersebut awalnya hanya berbentu sebuah batu. Karena sering dikunjungi peziarah,warga setempat selanjutnya membangun semacam pendopo yang dipergunakan untuk berkumpul bagi peziarah yang datang. Biasanya pada bulan suro diadakan semacam upacara dari keratin solo. Hingga saat ini masih simpang siur karena tidak ada saksi yang melihat Bung Karno berdoa diarea Srigati tersebut. Pesanggrahan Bung Karno terlihat lebih sederhana. Karena hanya ada lima tonggak yang menompang bilik kecil beratap asbes tanpa dilengkapi dinding, dan ditengahnya ada beberapa batu. Yang pasti di area hutan ini memang memiliki banyak situs atau peninggalan yang menjadi tujuan para peziarah untuk sekedar berdoa.
Petilasan Prabu Brawijaya V di Alas Ketonggo Srigati Ngawi Dian Rahma nur Afifah
SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah Vol 3 No 1 (2021): SINDANG: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH DAN KAJIAN SEJARAH
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31540/sindang.v3i1.1017

Abstract

Alas Ketonggo Srigati Ngawi still keeps various oral works, namely oral works that are trusted by local residents and are spoken or passed down from generation to generation. And also still harboring its thickness, namely various mythical things with traditions that are deeply believed by local residents. As part of history, there is one of the literatures, namely oral literature which holds a lot of information related to past events, oral literature has become a pride and has even become the identity of each region. There are three cultural values, namely: Values ​​related to human life as social beings, values ​​related to human life as individual beings, and values ​​related to human life as God's creatures. The influence of the myth of Alas Ketonggo Srigati on society includes: forming character, belief, and nature or action in human life. Alas Ketonggo Srigati this place is a historic place because in ancient times Alas Ketonggo Srigati was the resting place for King Brawijaya V who fled from the Majapahit Kingdom because he was being attacked by the Demak Army. At that time, the Demak army was under Raden Patah's control. Not only that, King left his oversized clothes in that place. This was done before he left for Mount Lawu to meditate. Located in Brendil Hamlet, Hutan, Babadan, Paron District, Ngawi Regency.
Petilasan Prabu Brawijaya V di Alas Ketonggo Srigati Ngawi Dian Rahma Nur Afifah
Bakaba Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Laboratorium Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1055.393 KB) | DOI: 10.22202/bakaba.2021.v9i1.4516

Abstract

Pengaruh mitos Alas Ketonggo Srigati, terhadap masyarakat antara lain : membentuk watak, kepercayaan,dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memasuki tempat tersebut juga harus sopan,tidak boleh berkata jorok, jika ingin mengunjungi tempat tersebut harus izin terlebih dahulu untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan. Bukan hanya itu, Prabu Brawijaya V juga sempat meninggalkan baju kebesarannya ditempat itu. Hal itu, ia lakukan sebelum berangkat ke Gunung Lawu untuk Bertapa. Beberapa pengunjung yang menyukai hal mistis juga sempat melakukan komunikasi dengan makhluk halus atau penunggu Alas Ketonggo Srigati tersebut bahkan juga ada yang sudah melihat wujud mereka. Di Alas Ketonggo Srigati ini dipercaya juga oleh masyarakat sebagai tempat Bung Karno (Presiden RI Pertama) mengasingkan diri untuk berdoa. Pada hari-hari tertentu, situs Bung Karno itu menjadi salah satu jujukan bagi peziarah yang datang. Situs tersebut awalnya hanya berbentu sebuah batu. Karena sering dikunjungi peziarah,warga setempat selanjutnya membangun semacam pendopo yang dipergunakan untuk berkumpul bagi peziarah yang datang. Biasanya pada bulan suro diadakan semacam upacara dari keratin solo. Hingga saat ini masih simpang siur karena tidak ada saksi yang melihat Bung Karno berdoa diarea Srigati tersebut. Pesanggrahan Bung Karno terlihat lebih sederhana. Karena hanya ada lima tonggak yang menompang bilik kecil beratap asbes tanpa dilengkapi dinding, dan ditengahnya ada beberapa batu. Yang pasti di area hutan ini memang memiliki banyak situs atau peninggalan yang menjadi tujuan para peziarah untuk sekedar berdoa.