ENIE WAHYUNING HANDAYANI
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

KARYA TARI “MBUK E JLEG” SYAHYU PERMATASARI, DEA; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari ini mengangkat cerita tentang salah satu tokoh wayang yaitu Limbuk. Karya tari ini disajikan dalam bentuk tari kelompok dan mengambil tema tentang kehidupan Limbuk. Karya tari ini mengambil judul ?Mbuk e Jleg?. Limbuk adalah tokoh wanita muda yang lucu berbadan gembul. Ia hanya dikenal dalam cerita pedalangan Jawa. Ia merupakan gambaran seorang emban/abdi dalem wanita yang bertugas sebagai inang atau juru taman di keputren keraton sebuah kerajaan di tanah Jawa. Karena itu Limbuk selalu tampil di setiap adegan keputrian keraton di manapun. Baik pada jaman Lokapala, Ramayana sampai Mahabharata. Koreografer menggunakan metode perpaduan antara Jacquiline Smith, dan Soedarsono. Elemen-elemen pendukung terwujudnya suatu karya seni meliputi: gerak, pola lantai, musik/iringan, tata busana, tata rias, tempat pertunjukkan, dan perlengkapan atau property. Kata Kunci: Bentuk penyajian, Tari, Limbuk
VISUALISASI TOKOH WAROK PONOROGO PADA KARYA TARI “PRAMONO ROGO” KURNIA MAHENDRA, NUNGKI; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Warok Ponorogo merupakan tokoh kebanggaan masyarakat Ponorogo yang mempunyai tekd suci, serta siap memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok berasal dari kata wewarah. Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran yang lain tentang hidup yang baik. Warok merupakan tokoh yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin. Warok sangat disegani dan dihormati. Penggambaran wantah dari seorang Warok adalah diwujudkan dalam bentuk perawakan besar, berkumis, dan bagian dada tumbuh bulu-bulu hitam. Menurut kepercayaan hitam mengandung makna keteguhan, sedangkan kesucian budi, ilmu, an tingkah laku digambarkan berupa kolor yang bewarna putih, panjang dan terurai ujungnya. Dari sini didapatkan pengertian bahwa manusia itu perlu sekali dikuatkan dengan kesucian budi, ilmu dan tingkah laku.Pada penggarapan karya tari ini memfokuskan pada suasana yang mencoba dibangun melalui isi cerita penggambaran sosok Warok melalui karya tari ?Pramono Rogo?. Pramono Rogo merupakan asal kata dari Ponorogo yang bearti Pramono berarti daya kekuatan, rahasia hidup, sedangkan Rogo berarti badan, jasmani. Kedua kata tersebut bisa ditafsirkan bahwa dibalik badan manusia tersimpan suatu rahasia hidup berupa olah batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-sifat amarah, yang berarti harus mampu melihat diri kita dan mengerti luar dalamnya. Bila kita mampu mengenal diri kita secara utuh, kita akan mengenal Tuhan. Hal tersebut merupakan awal pencapaian cinta yang nantinya Manunggaling Gusti lan Kawulo. Manusia yang memiliki olah batin mantap dan mapan mampu menempatkan diri dimanapun dan kapanpun berada.Pada penggarapan karya tari ini menggunakan metode kontruksi yang meliputi rangsang awal, eksplorasi, dan improvisasi. Rangsang awal berupa gagasan yang dibentuk melalui intensi untuk menyampaikan gagasan atau menggelarkan cerita. Eksplorasi berupa motif gerak yang sesuai dengan motivasi kekuatan badan manusia yang tercermin dalam arti ?Pamono Rogo? dengan berpijak pada gerak-gerak Panoragan. Improvisasi berupa penggabungan motif gerak dengan pengembangan gerak Panoragan melalui penentuan transisi, ekspresi atau rasa sehingga terbentuklah gerak-gerak yang dinamis. Kata Kunci : Warok, Pramono, Rogo
MANAJEMEN SENI PERTUNJUKAN TAYUB ADI LARAS DI DESA TALOK KECAMATAN TUREN KABUPATEN MALANG NANDA DEWI, VITA; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malang merupakan sebuah kota atau kabupaten di Jawa. Ada beberapa budaya-budaya yang dapat kita jumpai di Malang, antara lain Wayang Topeng Malangan (Topeng Malang), Tayub, Jaranan, Bantengan, dan lain sebagainya. Diantara dari beberapa kesenian yang ada di Malang, ada salah satu kesenian yang populer dari daerah Malang Selatan yaitu Tayub Adi Laras tempatnya di Desa Talok Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Adi Laras merupakan organisasi Tayub yang sangat populer di daerah Malang. Ada dua kemasan pertunjukan yang ditawarkan kepada konsumen yaitu Tayuban dan Campursari. Itulah yang menjadi alasan konsumen puas dengan mengundang Adi Laras, karena Kepopuleran Adi Laras terbukti dari album yang dimiliki sudah mencapai 40 album, video yang sudah ditonton banyak orang melalui youtube, dan jadwal pementasan yang sangat padat. Keberhasilan Adi Laras ini, tentu ada manajemen yang mengelola. Kata kunci: Tayub, Adi Laras, Manajemen
BENTUK PERTUNJUKAN KESENIAN JARANAN TURONGGO JENGKI DI KABUPATEN TULUNGAGUNG JAWA TIMUR YESSYEKA LOVIANI, ERVINA; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Jaranan Turonggo Jengki di Desa Beji Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung mempunyai ciri yang unik yaitu pada struktur penyajiannya penyajiannya yakni memasukan unsur lawakan di dalam pertujukan. Kesenian Jaranan Turonggo Jengki tercipta terbentuk secara tidak sengaja, berawal dari perkumpulan seniman biasa kemudian salah seorang seniman menerima job Jaranan , salah satu menerima job Ngelawak di Kediri, dan seniman yang lain hanya datang untuk menonton. Namun pada saat hari dimana akan tampil salah satu teman berhalangan hadir karena ada kegitan, akhirnya seniman yang menonton diajak untuk ikut menggantikan. Selesainya Job tersebut mereka berfikir bahwa Jaranan yang mereka bawakan disukai oleh banyak penonton karena ada unsur lawakan yg menjadikan Jaranan ini unik beda dari Jaranan lain. Terbentuknya nama Turonggo Jengki sendiri berasal dari kata Turonggo berarti sepeda laki laki dan Jengki berarti sepeda perempuan, maka maknanya penonton laki laki dan penonton perempuan menyukai jaranan tersebut. Di awal tahun 2013 nama Jaranan Turonggo Jengki di resmikan karena para seniman jaranan ingin lebih dikenal di semua kalangan. Untuk menampung para generasi muda yang berjiwa seni tinggi dan sadar akan pelestarian kebudayaan maka dibentuklah komunitas tari Jaranan Turonggo Jengki yang diprakarsai oleh Amit Bagus Prasetyo. Kesenian Jaranan Turonggo jengki mempunyai ciri yang unik yaitu pada struktur penyajiannya yakni memasukan unsur lawakan di dalam pertujukan.Pada kesempatan inilah peneliti ingin mengkaji lebih jauh mengenai Bentuk dan Fungsi Kesenian Jaranan Turonggo jengki dengan rumusan masalah, 1). Bagaimana bentuk penyajian kesenian Jaranan Turonggo Jengki di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur ?, 2). Apa fungsi kesenian Jaranan Turonggo Jengki bagi masyarakat penikmatnya saat ini ?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjek penelitiannya yaitu Kesenian Jaranan Turonggo Jengki Desa Beji, Kecamatan Boyolangu, Kabupeten Tulungagung dan objek penelitiannya Bentuk dan Fungsi Kesenian Jaranan Turonggo Jengki. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Bentuk oleh Soedarsono ( 1978:21-36), Teori Fungsi Soedarsono (2002:123.). Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dan validitas data menggunakan triangulasi sumber, metode, dan waktu.Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Bentuk Penyajian Kesenian Jaranan Turonggo Jengki Di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur mempunyai keunikan khusus yaitu pada bentuk penyajian yakni pertunjukan dengan menggabungkan antara kesenian jaranan dengan lawakan. Hal ini mengakibatkan jaranan ini berbeda dengan jaranan yang lainnya yang hanya menyajikan tarian saja. Dalam penelitian ini bentuk yang dimaksud adalah perwujudan yang diartikan sebagai hasil dari berbagai elemen tari dimana secara bersama-sama elemen itu menyatu dalam pertunjukan kesenian Jaranan Turonggo Jengki. Elemen-elemen pada Kesenian Jaranan Turonggo Jengki yaitu gerak, pola lantai, iringan, tata rias, tata busana, tempat pertunjukan, dan properti. Berdasarkan fungsi Kesenian Jaranan Turonggo Jengki yang bersifat kerakyatan memiliki dua fungsi yaitu fungsi primer dan sekunder, fungsi primer adalah sebagai media hiburan. Fungsi yang kedua yaitu fungsi sekunder yang terdiri sebagai pengikat dan pembangkit rasa solidaritas, media komunikasi, dan sarana kebutuhan ekonomi.Kunci : Kesenian, Jaranan Turonggo Jengki, Tulungagng, bentuk, struktur, fungsi
GAYA PERTUNJUKAN COLOR GUARD PADA ACARA BANDUNG MARCHING BAND CHAMPIONSHIP OLEH KOMUNITAS GITA WIDYA AGNI SURABAYA RAFLI ALI ASNAN, MOHAMAD; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Color guard merupakan bagian non musik pada pertunjukan Marching Band yang mendukung keindahan secara visual, biasanya berupa olah tubuh atau tarian dengan menggunakan properti flag (bendera), rifle (senapan), sabre (pedang), serta properti lain sesuai dengan konsep yang ingin dibawakan pada saat pertunjukannya. Seiring dengan perkembangan zaman dan format pertunjukan color guard yang awalnya merupakan bagian dari pertunjukan musik Marching Band, kini telah menjadi sebuah pertunjukan yang lepas dari awalnya dengan memamerkan keindahan permainan bendera, permainan properti, permainan akrobatik, dan juga sebuah tarian yang biasanya menggunakan iringan musik yang diadopsi dari lagu yang sudah ada (rekaman). Di Surabaya ada komunitas color guard yang memiliki sebuah ciri khas dalam setiap pertunjukannya yaitu ?Gita Widya Agni? Surabaya. Adapun fokus penelitian ini yaitu mendeskripsikan gaya pertunjukan color guard pada komunitas ?Gita Widya Agni? Surabaya, mendeskripsikan ciri-ciri estetik pertunjukan color guard pada komunitas komunitas ?Gita Widya Agni? Surabaya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori gaya tari oleh Sumaryono, teori estetika oleh Djelantik. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan didekatkan teori keilmuan estetik. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dan validitas data menggunakan triangulasi sumber, metode, dan waktu. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa pertunjukan color guard ?Gita Widya Agni? Surabaya memiliki sebuah gaya pertunjukan yang berbeda, ditinjau dari segi gerak, iringan, tata rias dan busana memiliki ciri tersendiri yang menjadikan sebuah identitas di setiap pertunjukannya. Hal ini tidak lepas dari kreativitas seorang koreografer dalam mengkemas pertunjukannya sehingga menjadi sebuah sajian pertunjukan yang apik. Arinto Prihatmoko merupakan koreografer dari color guard ?Gita Widya Agni? Surabaya. Dalam menganalisis gerak pada color guard ?Gita Widya Agni? Surabaya dapat dilihat pada penggunaan gerak akrobatik yang lebih bervariatif seperti fronts hand spring, toss jump dll. Gerak akrobatik tersebut memberikan kesan memukau kepada para penonton sehingga menjadikan sebuah identitas tersendiri disetiap pertunjukannya. Iringan musik yang digunakan dalam pertunjukan color guard diadopsi dari musik rekaman yang sudah ada dan ditambah dengan musik instrumen serta vokal untuk membangun suasana yang diinginkan. Konsep rias dan busana yang digunakan juga memiliki makna agar tidak lepas dengan konsep pertunjukannya. Warna biru menjadi warna dominan dalam penggunaan rias dan busana dikarenakan konsep yang dibawakan yaitu hujan. Apabila ditinjau dari ciri-ciri estetik, pertunjukan color guard yang dibawakan oleh ?Gita Widya Agni? Surabaya tidak jauh berbeda dengan pertunjukan tari berkelompok. Namun pertunjukan color guard memiliki perbedaan pada penggunaan properti sebagai media ungkapnya, jika pada pertunjukan tari properti dihadirkan sesuai dengan konsep atau sesuai dengan kebutuhan yang menunjang sebuah penampilan karya tari, sedangkan color guard properti yang menjadi alat memamerkan unsur keindahannya. Perpaduan gerak tari, pergerakan properti serta unsur akrobatik dalam pergerakan pemain menjadikan sebuah keberagaman variasi pada pertunjukan color guard. Penggunaan gerak akrobatik, dinamika gerak, tata rias dan busana, serta penggunaan properti yang berbeda-beda menghasilkan daya tarik atau kekuatan dari pertunjukan color guard yang dapat membuat orang terpaku di setiap pertunjukannya. Setiap pemain color guard memiliki sebuah intensitas atau kekuatan yang tidak sama, maka dari itu agar terlihat seimbang antar para pemain bisa dicapai pada penyusunan desain pola lantai (display) dan penempatan pembagian properti yang di pertontonkan pada setiap pertunjukannya. Dengan demikian akan nampak sebuah keseimbangan dari para pemainnya.Kata kunci: Color guard, Gita Widya Agni, gaya, ciri-ciri estetik
EKSISTENSI LEMBAGA KURSUS DAN PELATIHAN “RUMAH KECAPI SURABAYA” VALENTINA PUTRI, AQUITA; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 2, No 14 (2019)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLembaga Kursus dan Pelatihan ?Rumah Kecapi Surabaya? menjadi satu-satunya lembaga kursus danpelatihan yang mengajarkan Guzheng di kota Surabaya yang dinilai kompeten bersaing dengan kursusmusik konvensional lainnya, kompetensi ini dilihat melalui sisi keunikan alat musik dan konseplembaganya, oleh sebab itu tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan eksistensi Lembaga Kursus danPelatihan ?Rumah Kecapi Surabaya? berikut faktor pendukungnya yang menyebabkan lembaga ini bisatetap eksis hingga saat ini.Mengenai metode penelitian yang digunakan dalam mencapai tujuan tersebut adalahsebagaimana berikut: (1) penelitian ini menggunakan 3 jenis teknik pengumpulan data yaitu: teknikobservasi, wawancara, dan dokumentasi. Mengenai teknik observasi, penelitian ini menggunakan jenispartisipasi-pasif. Mengenai teknik wawanacara digunakan kombinasi antara wawancara terstruktur dantidak terstruktur dengan mengajukan pertanyaan seputar latar belakang, aktivitas dan prestasi yang pernahdidapatkan, sarana dan prasarana, faktor pendukung eksistensi yang disebutkan narasumber secara lisan,serta kendala pelaksanan aktivitas LKP Rumah Kecapi Surabaya. Mengenai teknik dokumentasi, penelitimelakukan penggambilan gambar dan rekaman digital dalam rupa foto, video dan rekaman suara untukmelihat keseluruhan komponen dan aktifitas lembaga yang mendukung keeksistensiannya selama 12 tahun,(2) penelitian ini menggunakan teknik analisis data bernama teknik reduksi, yang mana peneliti akanmelakukan pemilihan dan pemilahan pada data yang didapatkan, data yang akan masuk dalam tahapreduksi adalah data hasil wawancara bersama narasumber, data observasi awal, dan data arsip yang tersediadi LKP Rumah Kecapi Surabaya, (3) penelitian ini juga mengkonfirmasi keabsahan data yang didapatdengan menggunakan teknik validitas data berdasarkan tempat (place) yakni tempat berlangsungnyaaktifitas LKP Rumah Kecapi Surabaya di jalan Tambak Windu nomor 66, Simokerto-Surabaya, pelaku(person) yakni pendiri LKP, staff menejemen, pihak siswa, wali siswa, penikmat musik tradisionalTionghoa, dan musisi Guzheng, dan dokumen atau arsip (papper) seperti arsip daftar nama siswa aktif LKPRumah Kecapi Surabaya, arsip penyelenggaraan acara di pusat keramaian kota Surabaya.Hasil penelitian meliputi (1) latar belakang lembaga beserta pendirinya, (2) visi dan misilembaga, (3) eksistensi pendiri lembaga, (4) agenda dan aktifitas rutin lembaga, (5) Standart OperasionalProsedure pelaksanaan aktivitas lembaga berikut hasil implementasinya, (6) kendala dan solusipelaksanaan aktivitas LKP, (7) prestasi yang pernah diraih oleh lembaga, (8) faktor pendukung eksistensilembaga dari pihak internal dan eksternal, (9) sarana dan prasarana yang disediakan lembaga, dan (10)dukungan sosial dari pihak internal dan eksternal yang didapatkan lembaga untuk mempertahankankeeksistensiannya selama 12 tahun.Kata Kunci: eksistensi, LKP Rumah Kecapi Surabaya, kursus dan pelatihan.
PROSES KREATIF PENCIPTAAN TARI SURAMADU KARYA DIAZTIARNI DI SANGGAR TYDIF SURABAYA MEDIANA WIJAYA, CHRISTIANTI; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 2, No 14 (2019)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Saat ini sudah banyak seniman yang sudah terungkap melalui tulisan tentang kiprahnya dalam menggeluti dunia seni. Salah satunya adalah penelitian ini, yang mengungkap sebuah proses kreatif seorang seniman Surabaya. Diaztiarni, seorang seniman sekaligus seorang guru asal Surabaya dengan berbagai macam karya-karyanya salah satunya adalah Tari Suramadu. Tarian tersebut diciptakan pada tahun 2009, yang bertepatan dengan pembangunan jembatan Suramadu. Adapun rumusan masalah yang diajukan untuk mengungkapkan fenomena tersebut yaitu, bagaimana proses kreatif penciptaan Tari Suramadu karya Diaztiarni di sanggar Tydif Surabaya. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap proses-proses yang dilakukan oleh Diaztiarni dalam pembuatan sebuah karya tari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan melakukan wawancara mendalam kepada narasumber. Diaztiarni merupakan narasumber utama dalam penelitian ini. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka, pengamatan atau observasi, dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Diaztiarni menciptakan karya menggunakan pedoman dari beberapa buku yang kemudian ditungkan melalui sebuah proses kreatif penciptaan karya tari. Proses kreatif penciptaan tari karya Diaztiarni melalui ide dan konsep yang begitu sederhana dengan melihat dan mengamati fenomena yang ada di sekitar. Terciptalah karya Tari Suramadu yang kemudian menjadi karya yang monumental serta menjadi keunggulan di sanggar Tydif Surabaya. Melalui eksplorasi, improvisasi, evaluasi dan komposisi. Diaztiarni menciptakan karya berkolaborasi dengan seniman musik Surabaya dan seniman musik pamekasan Madura. Eksplorasi gerak tentang Tari Suramadu dilakukan dengan mengamati secaca cermat pola-pola gerak Jawa Timuran yaitu Tari Remo Putri dan Tandakan. Proses improvisasi dilakukan dengan membuat gerak-gerak baru yang sesuai kontras dan berkualitas. Pada tahap ini Diaztiarni mentrasfer gerak secara spontan kepenari, kemudian dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Pada tahap Evaluasi Diaztiarni telah membuat satu rangkaian gerak menjadi beberapa ragam kemudian menyeleksi dengan merubah, menambah, mengurangi gerak tersebut. Komposisi tari dilakukan dengan cara menyusun gerak-gerak yang telah dihasilkan dalam proses eksplorasi, improvisasi dan evaluasi. Aris Setiawan dan Yudi Meonk merupakan komposer dalam karya Tari Suramadu. Melalui banyak proses yang dilalui dan keterlibatan beberapa pihak dalam pembuatan karya tari ini, akhirnya pada tahun 2009 Tari Suramadu mulai dikenal oleh masyarakat. Kata Kunci: Proses Kreatif, Diaztiarni, Koreografer.
PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN KURSUS TARI DI SANGGAR TARI RIZKY BUDOYO JATIM KECAMATAN CANDI KABUPATEN SIDOARJO AULIA FIZKA BELLA BIONITA; ENIE WAHYUNING HANDAYANI
Jurnal Pendidikan Sendratasik Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jps.v5n1.p%p

Abstract

Sanggar Tari Rizky Budoyo Jatim merupakan sanggar tari yang mengajarkan seni tari tradisional maupun modern. Sanggar Tari Rizky Budoyo Jatim memiliki banyak prestasi di bidangnya. Sanggar Tari Rizky Budoyo Jatim juga memiliki karya tari sendiri yang bisa dipertunjukkan pada even-even tertentu. Tujuan pada penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui latar belakang sanggar tari Rizky Budoyo di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo; 2) untuk mengetahui metode pembelajaran yang digunakan oleh pelatih di Sanggar Tari Rizky Budoyo Jatim; 3) untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi peserta didik untuk mengikuti kursus tari di Sanggar Tari Rizky Budoyo Jatim.Teori yang digunakan dalam penelitian ini yakni teori sanggar dari Jazuli, strategi pembelajaran dari Ismail, perkembangan seni dari Soedarsono. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi yang divalidasi dengan menggunakan triangulasi sumber, teknik, dan teori. Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis dengan cara Reduksi data, interpretasi data, serta penarikan kesimpulan.Hasil penelitian memaparkan bahwa (1) latar belakang berdirinya sanggar dimulai sejak tahun 1978 di Surabaya dengan nama Rizky Group dan berkembang menjadi Sanggar Tari Rizky Budoyo Jatim sampai sekarang; (2) metode pembelajaran yang digunakan oleh Sanggar Tari Rizky Budoyo dalam proses belajar mengajar salah satunya adalah tutor sebaya sehingga mudah untuk menanamkan pendidikan karakter kepada siswa; (3) faktor yang mempengaruhi peserta didik untuk mengikuti kursus tari di Sanggar Tari Rizky Budoyo Jatim adalah dari faktor internal yang berupa motivasi dan faktor eksternal yang berupa karakteristik pimpinan sanggar.Kata Kunci: Pendidikan karakter, Pembelajaran, kursus tari.
PEMBELAJARAN MUSIK KERONCONG PADA KOMUNITAS KERONCONG ANAK JOMBANGJAWA TIMUR LIA ROVI AMELANI; ENIE WAHYUNING HANDAYANI
Jurnal Pendidikan Sendratasik Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jps.v8n1.p%p

Abstract

Pembelajaran seni merupakan salah satu upaya pendukung dalam melestarikan suatu kesenian. Pembelajaran seni dapat menghasilkan prestasi non akademik yang penting dalam pengembangan potensi anak. Salah satunya dengan pembelajaran musik keroncong. Komunitas Keroncong Anak Jombang merupakan salah satu lembaga non formal di Kabupaten Jombang Jawa Timur yang menyelenggarakan pembelajaran musik keroncong. Untuk itu peneliti tertarik untuk mendeskripsikan tentang pembelajaran keroncong pada Komunitas Keroncong Anak Jombang di Kabupaten Jombang yang dikaji dalam tinjauan pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah pelatih keroncong di Komunitas Keroncong Anak Jombang. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi nonpartisipan, wawancara terstruktur dan tidak terstruktur, serta dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data kemudian penarikan kesimpulan. Validitas data menggunakan triangulasi sumber, teknik dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan (1) Proses pembelajaran keroncong terdapat beberapa tahap yaitu dimulai dengan tahap awal yaitu pengenalan masing-masing alat keroncong, pembelajaran ritmis keroncong yang dimulai dari irama dasar, irama tunggal atau engkel dan irama rangkap atau dobel. (2) Kendala dalam pembelajaran terbagi menjadi dua yaitu kendala internal dan kendala eksternal. Kendala internal meliputi aspek estetis, waktu, dan materi yang diberikan meliputi tingkat kesulitan pada materi lagu yang diberikan. Kendala eksternal merupakan kendala yang berasal dari luar komunitas tersebut seperti dari pihak pemerintah kota yang kurang memperhatikan keberadaan komunitas ini. Selain itu dengan adanya globalisasi pula berpengaruh pada banyaknya musik-musik yang berkembang sehingga berpengaruh pada jumlah peminat musik keroncong.
PROSES PEMBELAJARAN LAGU RINDU LUKISAN PADA PADUAN SUARA ENHARMONIC SINGERS SMA NEGERI 1 PANDAAN DALAM RANGKA LPS UGM 2019 DINA LOWRENTZA AGUSTIN; ENIE WAHYUNING HANDAYANI
Jurnal Pendidikan Sendratasik Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jps.v8n1.p%p

Abstract

SMA Negeri 1 Pandaan mempunyai program ekstrakurikuker paduan suara bernama Enharmonic Singers. Selama 9 tahun didirikan, paduan suara ini dinilai berhasil dalam mengembangkan potensi yang ada. Hal ini dibuktikan dengan prestasi yang diraih para alumni. Tahun 2019, tim lomba dipersiapkan untuk mengikuti LPS UGM 2019 kategori paduan suara muda dengan membawakan lagu wajib berjudul rindu lukisan. Berdasarkan fenomena tersebut peneliti merumuskan permasalahan tentang bagaimana proses pembelajaran dan bagaimana hasil belajar lagu rindu lukisan pada paduan suara Enharmonic Singers dalam rangka LPS UGM 2019. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Objek penelitian mengenai proses pembelajaran lagu rindu lukisan pada paduan suara Enharmonic Singers dalam rangka LPS UGM 2019. Subjek sekaligus data primer ialah pembina, pelatih dan tutor. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi nonpartisipan, dokumentasi, serta wawancara terstruktur. Sebelum data disajikan dan menarik simpulan, dilakukan validitas data melalui teknik triangulasi sumber, dan teknik. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa proses pembelajaran sudah berjalan dengan baik. Hal ini terbukti dengan tiap-tiap langkah pembelajarannya dapat diatasi dengan kerjasama yang baik antar anggota dan pelatih. Siswa dapat percaya diri tampil dalam acara prakompetisi serta LPS UGM 2019. Sikap mandiri dan kerjasama ditunjukkan dalam berlatih dan pada saat mempersiapkan konser serta keperluan LPS UGM 2019. Hasil pembelajaran latihan sesuai dengan tujuan awal yang mengacu pada 3 ranah, antara lain: (1) ranah afektif, (2) ranah kognitif, dan (3) ranah psikomotorik. Pada ranah afektif ditunjukkan dengan sikap disiplin dan mandiri. Pada ranah kognitif ditunjukkan dengan memahami teknik membaca partitur dan teknik vokal yang tepat. Pada ranah psikomotorik ditunjukkan dengan mampu bernyanyi lagu rindu lukisan dengan teknik vokal yang benar dan tepat. Hal ini dibuktikan dengan diraihnya juara 2 saat mengikuti LPS UGM 2019 di Jogjakarta pada kategori paduan suara muda dengan total nilai 80,81. Kata kunci: Pembelajaran, Lagu Rindu Lukisan, Paduan Suara.