ENIE WAHYUNING HANDAYANI
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Solah

KARYA TARI “MBUK E JLEG” SYAHYU PERMATASARI, DEA; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari ini mengangkat cerita tentang salah satu tokoh wayang yaitu Limbuk. Karya tari ini disajikan dalam bentuk tari kelompok dan mengambil tema tentang kehidupan Limbuk. Karya tari ini mengambil judul ?Mbuk e Jleg?. Limbuk adalah tokoh wanita muda yang lucu berbadan gembul. Ia hanya dikenal dalam cerita pedalangan Jawa. Ia merupakan gambaran seorang emban/abdi dalem wanita yang bertugas sebagai inang atau juru taman di keputren keraton sebuah kerajaan di tanah Jawa. Karena itu Limbuk selalu tampil di setiap adegan keputrian keraton di manapun. Baik pada jaman Lokapala, Ramayana sampai Mahabharata. Koreografer menggunakan metode perpaduan antara Jacquiline Smith, dan Soedarsono. Elemen-elemen pendukung terwujudnya suatu karya seni meliputi: gerak, pola lantai, musik/iringan, tata busana, tata rias, tempat pertunjukkan, dan perlengkapan atau property. Kata Kunci: Bentuk penyajian, Tari, Limbuk
VISUALISASI TOKOH WAROK PONOROGO PADA KARYA TARI “PRAMONO ROGO” KURNIA MAHENDRA, NUNGKI; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Warok Ponorogo merupakan tokoh kebanggaan masyarakat Ponorogo yang mempunyai tekd suci, serta siap memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok berasal dari kata wewarah. Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran yang lain tentang hidup yang baik. Warok merupakan tokoh yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin. Warok sangat disegani dan dihormati. Penggambaran wantah dari seorang Warok adalah diwujudkan dalam bentuk perawakan besar, berkumis, dan bagian dada tumbuh bulu-bulu hitam. Menurut kepercayaan hitam mengandung makna keteguhan, sedangkan kesucian budi, ilmu, an tingkah laku digambarkan berupa kolor yang bewarna putih, panjang dan terurai ujungnya. Dari sini didapatkan pengertian bahwa manusia itu perlu sekali dikuatkan dengan kesucian budi, ilmu dan tingkah laku.Pada penggarapan karya tari ini memfokuskan pada suasana yang mencoba dibangun melalui isi cerita penggambaran sosok Warok melalui karya tari ?Pramono Rogo?. Pramono Rogo merupakan asal kata dari Ponorogo yang bearti Pramono berarti daya kekuatan, rahasia hidup, sedangkan Rogo berarti badan, jasmani. Kedua kata tersebut bisa ditafsirkan bahwa dibalik badan manusia tersimpan suatu rahasia hidup berupa olah batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-sifat amarah, yang berarti harus mampu melihat diri kita dan mengerti luar dalamnya. Bila kita mampu mengenal diri kita secara utuh, kita akan mengenal Tuhan. Hal tersebut merupakan awal pencapaian cinta yang nantinya Manunggaling Gusti lan Kawulo. Manusia yang memiliki olah batin mantap dan mapan mampu menempatkan diri dimanapun dan kapanpun berada.Pada penggarapan karya tari ini menggunakan metode kontruksi yang meliputi rangsang awal, eksplorasi, dan improvisasi. Rangsang awal berupa gagasan yang dibentuk melalui intensi untuk menyampaikan gagasan atau menggelarkan cerita. Eksplorasi berupa motif gerak yang sesuai dengan motivasi kekuatan badan manusia yang tercermin dalam arti ?Pamono Rogo? dengan berpijak pada gerak-gerak Panoragan. Improvisasi berupa penggabungan motif gerak dengan pengembangan gerak Panoragan melalui penentuan transisi, ekspresi atau rasa sehingga terbentuklah gerak-gerak yang dinamis. Kata Kunci : Warok, Pramono, Rogo
MANAJEMEN SENI PERTUNJUKAN TAYUB ADI LARAS DI DESA TALOK KECAMATAN TUREN KABUPATEN MALANG NANDA DEWI, VITA; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malang merupakan sebuah kota atau kabupaten di Jawa. Ada beberapa budaya-budaya yang dapat kita jumpai di Malang, antara lain Wayang Topeng Malangan (Topeng Malang), Tayub, Jaranan, Bantengan, dan lain sebagainya. Diantara dari beberapa kesenian yang ada di Malang, ada salah satu kesenian yang populer dari daerah Malang Selatan yaitu Tayub Adi Laras tempatnya di Desa Talok Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Adi Laras merupakan organisasi Tayub yang sangat populer di daerah Malang. Ada dua kemasan pertunjukan yang ditawarkan kepada konsumen yaitu Tayuban dan Campursari. Itulah yang menjadi alasan konsumen puas dengan mengundang Adi Laras, karena Kepopuleran Adi Laras terbukti dari album yang dimiliki sudah mencapai 40 album, video yang sudah ditonton banyak orang melalui youtube, dan jadwal pementasan yang sangat padat. Keberhasilan Adi Laras ini, tentu ada manajemen yang mengelola. Kata kunci: Tayub, Adi Laras, Manajemen
BENTUK PERTUNJUKAN KESENIAN JARANAN TURONGGO JENGKI DI KABUPATEN TULUNGAGUNG JAWA TIMUR YESSYEKA LOVIANI, ERVINA; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Jaranan Turonggo Jengki di Desa Beji Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung mempunyai ciri yang unik yaitu pada struktur penyajiannya penyajiannya yakni memasukan unsur lawakan di dalam pertujukan. Kesenian Jaranan Turonggo Jengki tercipta terbentuk secara tidak sengaja, berawal dari perkumpulan seniman biasa kemudian salah seorang seniman menerima job Jaranan , salah satu menerima job Ngelawak di Kediri, dan seniman yang lain hanya datang untuk menonton. Namun pada saat hari dimana akan tampil salah satu teman berhalangan hadir karena ada kegitan, akhirnya seniman yang menonton diajak untuk ikut menggantikan. Selesainya Job tersebut mereka berfikir bahwa Jaranan yang mereka bawakan disukai oleh banyak penonton karena ada unsur lawakan yg menjadikan Jaranan ini unik beda dari Jaranan lain. Terbentuknya nama Turonggo Jengki sendiri berasal dari kata Turonggo berarti sepeda laki laki dan Jengki berarti sepeda perempuan, maka maknanya penonton laki laki dan penonton perempuan menyukai jaranan tersebut. Di awal tahun 2013 nama Jaranan Turonggo Jengki di resmikan karena para seniman jaranan ingin lebih dikenal di semua kalangan. Untuk menampung para generasi muda yang berjiwa seni tinggi dan sadar akan pelestarian kebudayaan maka dibentuklah komunitas tari Jaranan Turonggo Jengki yang diprakarsai oleh Amit Bagus Prasetyo. Kesenian Jaranan Turonggo jengki mempunyai ciri yang unik yaitu pada struktur penyajiannya yakni memasukan unsur lawakan di dalam pertujukan.Pada kesempatan inilah peneliti ingin mengkaji lebih jauh mengenai Bentuk dan Fungsi Kesenian Jaranan Turonggo jengki dengan rumusan masalah, 1). Bagaimana bentuk penyajian kesenian Jaranan Turonggo Jengki di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur ?, 2). Apa fungsi kesenian Jaranan Turonggo Jengki bagi masyarakat penikmatnya saat ini ?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjek penelitiannya yaitu Kesenian Jaranan Turonggo Jengki Desa Beji, Kecamatan Boyolangu, Kabupeten Tulungagung dan objek penelitiannya Bentuk dan Fungsi Kesenian Jaranan Turonggo Jengki. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Bentuk oleh Soedarsono ( 1978:21-36), Teori Fungsi Soedarsono (2002:123.). Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dan validitas data menggunakan triangulasi sumber, metode, dan waktu.Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Bentuk Penyajian Kesenian Jaranan Turonggo Jengki Di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur mempunyai keunikan khusus yaitu pada bentuk penyajian yakni pertunjukan dengan menggabungkan antara kesenian jaranan dengan lawakan. Hal ini mengakibatkan jaranan ini berbeda dengan jaranan yang lainnya yang hanya menyajikan tarian saja. Dalam penelitian ini bentuk yang dimaksud adalah perwujudan yang diartikan sebagai hasil dari berbagai elemen tari dimana secara bersama-sama elemen itu menyatu dalam pertunjukan kesenian Jaranan Turonggo Jengki. Elemen-elemen pada Kesenian Jaranan Turonggo Jengki yaitu gerak, pola lantai, iringan, tata rias, tata busana, tempat pertunjukan, dan properti. Berdasarkan fungsi Kesenian Jaranan Turonggo Jengki yang bersifat kerakyatan memiliki dua fungsi yaitu fungsi primer dan sekunder, fungsi primer adalah sebagai media hiburan. Fungsi yang kedua yaitu fungsi sekunder yang terdiri sebagai pengikat dan pembangkit rasa solidaritas, media komunikasi, dan sarana kebutuhan ekonomi.Kunci : Kesenian, Jaranan Turonggo Jengki, Tulungagng, bentuk, struktur, fungsi
GAYA PERTUNJUKAN COLOR GUARD PADA ACARA BANDUNG MARCHING BAND CHAMPIONSHIP OLEH KOMUNITAS GITA WIDYA AGNI SURABAYA RAFLI ALI ASNAN, MOHAMAD; WAHYUNING HANDAYANI, ENIE
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Color guard merupakan bagian non musik pada pertunjukan Marching Band yang mendukung keindahan secara visual, biasanya berupa olah tubuh atau tarian dengan menggunakan properti flag (bendera), rifle (senapan), sabre (pedang), serta properti lain sesuai dengan konsep yang ingin dibawakan pada saat pertunjukannya. Seiring dengan perkembangan zaman dan format pertunjukan color guard yang awalnya merupakan bagian dari pertunjukan musik Marching Band, kini telah menjadi sebuah pertunjukan yang lepas dari awalnya dengan memamerkan keindahan permainan bendera, permainan properti, permainan akrobatik, dan juga sebuah tarian yang biasanya menggunakan iringan musik yang diadopsi dari lagu yang sudah ada (rekaman). Di Surabaya ada komunitas color guard yang memiliki sebuah ciri khas dalam setiap pertunjukannya yaitu ?Gita Widya Agni? Surabaya. Adapun fokus penelitian ini yaitu mendeskripsikan gaya pertunjukan color guard pada komunitas ?Gita Widya Agni? Surabaya, mendeskripsikan ciri-ciri estetik pertunjukan color guard pada komunitas komunitas ?Gita Widya Agni? Surabaya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori gaya tari oleh Sumaryono, teori estetika oleh Djelantik. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan didekatkan teori keilmuan estetik. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dan validitas data menggunakan triangulasi sumber, metode, dan waktu. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa pertunjukan color guard ?Gita Widya Agni? Surabaya memiliki sebuah gaya pertunjukan yang berbeda, ditinjau dari segi gerak, iringan, tata rias dan busana memiliki ciri tersendiri yang menjadikan sebuah identitas di setiap pertunjukannya. Hal ini tidak lepas dari kreativitas seorang koreografer dalam mengkemas pertunjukannya sehingga menjadi sebuah sajian pertunjukan yang apik. Arinto Prihatmoko merupakan koreografer dari color guard ?Gita Widya Agni? Surabaya. Dalam menganalisis gerak pada color guard ?Gita Widya Agni? Surabaya dapat dilihat pada penggunaan gerak akrobatik yang lebih bervariatif seperti fronts hand spring, toss jump dll. Gerak akrobatik tersebut memberikan kesan memukau kepada para penonton sehingga menjadikan sebuah identitas tersendiri disetiap pertunjukannya. Iringan musik yang digunakan dalam pertunjukan color guard diadopsi dari musik rekaman yang sudah ada dan ditambah dengan musik instrumen serta vokal untuk membangun suasana yang diinginkan. Konsep rias dan busana yang digunakan juga memiliki makna agar tidak lepas dengan konsep pertunjukannya. Warna biru menjadi warna dominan dalam penggunaan rias dan busana dikarenakan konsep yang dibawakan yaitu hujan. Apabila ditinjau dari ciri-ciri estetik, pertunjukan color guard yang dibawakan oleh ?Gita Widya Agni? Surabaya tidak jauh berbeda dengan pertunjukan tari berkelompok. Namun pertunjukan color guard memiliki perbedaan pada penggunaan properti sebagai media ungkapnya, jika pada pertunjukan tari properti dihadirkan sesuai dengan konsep atau sesuai dengan kebutuhan yang menunjang sebuah penampilan karya tari, sedangkan color guard properti yang menjadi alat memamerkan unsur keindahannya. Perpaduan gerak tari, pergerakan properti serta unsur akrobatik dalam pergerakan pemain menjadikan sebuah keberagaman variasi pada pertunjukan color guard. Penggunaan gerak akrobatik, dinamika gerak, tata rias dan busana, serta penggunaan properti yang berbeda-beda menghasilkan daya tarik atau kekuatan dari pertunjukan color guard yang dapat membuat orang terpaku di setiap pertunjukannya. Setiap pemain color guard memiliki sebuah intensitas atau kekuatan yang tidak sama, maka dari itu agar terlihat seimbang antar para pemain bisa dicapai pada penyusunan desain pola lantai (display) dan penempatan pembagian properti yang di pertontonkan pada setiap pertunjukannya. Dengan demikian akan nampak sebuah keseimbangan dari para pemainnya.Kata kunci: Color guard, Gita Widya Agni, gaya, ciri-ciri estetik