Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Safety and Comfortableness of Playing as the Manifestation of Child Friendly Kampung. Case Study of Kampung Badran Yogyakarta Hastuti Saptorini; Heri Apricilianingtyas
Journal of Architectural Research and Design Studies Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Departement of Architecture, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jars.vol1.iss1.art4

Abstract

Limited space in densely populated area in cities becomes threat for safety and comfortableness for children need for outdoor playground. Kampung Badran in Yogyakarta has been declared as one of the children friendly kampungs. Thus, it is necessary to examine the parameters and indicators of safety and comfortableness to move based on the standard. This paper aims to study the level of safety and comfortableness in the playing space of children in the kampung as the manifestation of children friendly kampung. The data was collected by observing and taking photographs and analyzed with descriptive analytical method. The findings show that the conditions of facilities in the form of space are relatively adequate and safe. However, the condition of playing equipment and facilities are not safe and lacking of treatment. The children who are playing are prone to potential accidents such as sinking in, jammed in, and slippery. The participation of stakeholders in maintaining and developing the Kampung is highly needed because the kampung has potential assets to be example and role model for other kampung to achieve Children Friendly Kampong.Key Words: children safety, movement comfortableness, children friendly Kampung  
PLACEMAKING KAWASAN KULINER HUTAN KOTA KAOMBONA SEBAGAI SELF-HEALING MASYARAKAT PALU Adnagmesha Magfirah Ramadhani Najib; Hastuti Saptorini; Hilmi Nur Fauzi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2022.v11i3.007

Abstract

Kawasan Kuliner Hutan Kota Kaombona merupakan relokasi komunitas korban bencana alam gempa, tsunami, dan likuefaksi yang terjadi di Pantai Talise Palu pada 2018. Kawasan hutan kota yang dibangun oleh pemerintah ini, awalnya terlihat gersang dan kurang bergairah. Namun semenjak dijadikan tempat relokasi korban bencana, menjadi kawasan yang relatif lebih hidup. Aktivitas mereka mayoritas bergerak di bidang kuliner. Bagaikan gayung bersambut, aktivitas hutan yang semula didominasi oleh warga setempat untuk berolahraga pagi, menjadi hidup dan lebih ramai oleh masyarakat luas setelah dilengkapi oleh usaha kuliner korban bencana (pelaku relokasi). Pengguna hutan kota semakin ramai dan korban bencana pun semakin bergairah dalam berdagang kuliner sehingga diindikasi mampu melupakan/mengalihkan/self-healing masa lalu bencana yang telah menimpanya. Paper ini bertujuan mempublikasikan semangat indikatif tersebut melalui penelitian yang bertema placemaking dengan metode deskriptif kualitatif. Peneliti mengamati dan menstrukturkan aktivitas dan peristiwa yang dilakukan Pengguna kuliner sebagai proses self-healing berdasarkan Supportive Environment Theory (SET) yang memiliki 8 indikator. Pertama, adalah serene yang berarti ketenangan. Ketenangan ini tercipta karena tempat aktivitas kuliner berada di lokasi yang jauh dari perkotaan. Kedua adalah nature (alam). Setting relokasi memilki daya tarik alam yang eksotis dan indah sehingga memicu Pengunjung beraktivitas kuliner sambil menikmati alamnya. Ketiga adalah rich in species (keberagaman). Tempat relokasi ini memiliki keberagaman jenis flora dan alam bukit yang kaya fauna. Keempat adalah terciptanya space, yakni tempat yang menyuguhkan suasana baru dengan aktivitas yang hidup berupa kuliner. Kelima, adalah prospect. Ruang hidup ini memiliki prospek dengan vista yang menarik. Keenam adalah refuge (tempat yang aman) karena aktivitas kuliner berada di sekitar perbukitan sehingga dapat dijadikan pelarian/tempat berlindung. Ketujuh adalah bernilai sosial, yaitu tumbuhnya interaksi sosial di antara Pengguna kuliner. Terakhir adalah bernilai budaya, karena ragam kuliner yang disuguhkan menunjukkan lokalitas budaya setempat.