Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PLACEMAKING KAWASAN KULINER HUTAN KOTA KAOMBONA SEBAGAI SELF-HEALING MASYARAKAT PALU Adnagmesha Magfirah Ramadhani Najib; Hastuti Saptorini; Hilmi Nur Fauzi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2022.v11i3.007

Abstract

Kawasan Kuliner Hutan Kota Kaombona merupakan relokasi komunitas korban bencana alam gempa, tsunami, dan likuefaksi yang terjadi di Pantai Talise Palu pada 2018. Kawasan hutan kota yang dibangun oleh pemerintah ini, awalnya terlihat gersang dan kurang bergairah. Namun semenjak dijadikan tempat relokasi korban bencana, menjadi kawasan yang relatif lebih hidup. Aktivitas mereka mayoritas bergerak di bidang kuliner. Bagaikan gayung bersambut, aktivitas hutan yang semula didominasi oleh warga setempat untuk berolahraga pagi, menjadi hidup dan lebih ramai oleh masyarakat luas setelah dilengkapi oleh usaha kuliner korban bencana (pelaku relokasi). Pengguna hutan kota semakin ramai dan korban bencana pun semakin bergairah dalam berdagang kuliner sehingga diindikasi mampu melupakan/mengalihkan/self-healing masa lalu bencana yang telah menimpanya. Paper ini bertujuan mempublikasikan semangat indikatif tersebut melalui penelitian yang bertema placemaking dengan metode deskriptif kualitatif. Peneliti mengamati dan menstrukturkan aktivitas dan peristiwa yang dilakukan Pengguna kuliner sebagai proses self-healing berdasarkan Supportive Environment Theory (SET) yang memiliki 8 indikator. Pertama, adalah serene yang berarti ketenangan. Ketenangan ini tercipta karena tempat aktivitas kuliner berada di lokasi yang jauh dari perkotaan. Kedua adalah nature (alam). Setting relokasi memilki daya tarik alam yang eksotis dan indah sehingga memicu Pengunjung beraktivitas kuliner sambil menikmati alamnya. Ketiga adalah rich in species (keberagaman). Tempat relokasi ini memiliki keberagaman jenis flora dan alam bukit yang kaya fauna. Keempat adalah terciptanya space, yakni tempat yang menyuguhkan suasana baru dengan aktivitas yang hidup berupa kuliner. Kelima, adalah prospect. Ruang hidup ini memiliki prospek dengan vista yang menarik. Keenam adalah refuge (tempat yang aman) karena aktivitas kuliner berada di sekitar perbukitan sehingga dapat dijadikan pelarian/tempat berlindung. Ketujuh adalah bernilai sosial, yaitu tumbuhnya interaksi sosial di antara Pengguna kuliner. Terakhir adalah bernilai budaya, karena ragam kuliner yang disuguhkan menunjukkan lokalitas budaya setempat.
Makna Elemen Shared Space Street Bagi Pesepeda pada Jalur Pedestrian di Koridor Komersial Pecinan Kota Magelang Dwiwangga Sang Nalendra Hadi; Hastuti Saptorini; Hilmi Nur Fauzi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2022): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.167 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v11i01.90

Abstract

Trotoar Timur di Koridor Komersial Pecinan Kota Magelang dimanfaatkan sebagai shared space street dimana pengguna formalnya adalah pejalan kaki dan pesepeda. Sebelum pandemik, pejalan kaki menjadi pengguna dominan. Semakin tingginya minat bersepeda khususnya saat pandemik, membuat pesepeda juga mulai mengimbangi dominansi pejalan kaki sehingga menimbulkan potensi konflik. Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengamati fisik jalur, aktivitas yang terjadi, berpartisipasi aktif sebagai pesepeda, dan wawancara mendalam dengan pesepeda. Data diperkuat dengan studi literatur yang berkaitan dengan placemaking, makna, dan shared space street. Analisis data dilakukan berdasarkan teori placemaking oleh Relph, PPS.org, dan pendekatan menemukan makna menurut Rapoport. Makna secara semiotik dieksplisitkan pada elemen signage bagi pesepeda yang lebih lengkap, jalur yang menarik secara visual, dan koridor jalur yang dilingkupi pohon peneduh membuat elemen-elemen tersebut bermakna dalam mendukung kegiatan bersepeda, seperti bersepeda santai hingga beristirahat. Peneliti merekomendasikan penambahan street furniture yang dieksplisitkan sebagai traffic calming pesepeda untuk meminimalisir konflik yang mungkin terjadi akibat penggunaan jalur secara bersama dengan pejalan kaki.  The east sidewalk in the Magelang City Chinatown Commercial Corridor is used as a shared space street where the formal users are pedestrians and cyclists. Before the pandemic, pedestrians were the dominant users. The increasing interest in cycling, especially during a pandemic, makes cyclists also begin to balance the dominance of pedestrians, causing potential conflicts. Data collection methods were carried out by observing the physical path, the activities that occurred, actively participating as cyclists, and in-depth interviews with cyclists. The data is strengthened by literature studies related to placemaking, meaning, and shared space street. Data analysis was conducted based on the placemaking theory by Relph, PPS.org, and the meaning-finding approach according to Rapoport. Semiotic meanings are expressed in signage elements for cyclists that are more complete, visually attractive trails, and pathway corridors covered by shade trees make these elements meaningful in supporting cycling activities, such as relaxing cycling to resting. The researcher recommends adding street furniture which is explicit as a traffic calming cyclist to minimize conflicts that may occur due to the use of the lane together with pedestrians.