Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Reposisi Akal Sebagai Sumber Dalil Ekonomi Islam Ubbadul Adzkiya'; Ahmad Lukman Nugraha; Mustofa Hasan
Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam Vol 8, No 2 (2022): JIEI
Publisher : ITB AAS INDONESIA Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/jiei.v8i2.4836

Abstract

The author aims to define sense as a source of argument in Islamic law. The author tries to remap the position of sense as a source of argument for Islamic economic studies. The research method used in this study is a descriptive qualitative method using a literature study with a literature review approach. The finding of this paper is that sense has an urgent position as a corelation medium between positive economics and normative verses. sense is the power of gathering knowledge in developing science. In history, the Mu'tazilah places hujjah al-aql in the first position of the source of evidence as the process of istinbath al-ahkam. Qur'an and Hadith as normative explanations of ilm dharury determined by sense. The development of Islamic economics is dynamic in order to deal with issues and problems that occur in society. In addition to the Qur'an, Sunnah and Ijma', sense has an urgent position in the development of Islamic economics, so that it is able to detect solutions to modern economic problems through the Qur'an and Sunnah texts.
Ushul Fiqh sebagai Basis Epistemologis Integrasi Maqashid Syariah dan Ekonomi Keberlanjutan Prima Dwi Priyatno; Mustofa Hasan; Dudang Gojali
Jesya Vol 9 No 1 (2026): Artikel Riset Januari 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Al-Washliyah Sibolga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36778/jesya.v9i1.2505

Abstract

Penelitian ini bertujuan membangun kerangka konseptual integrasi antara epistemologi Ushul Fiqh, maqashid syariah, dan ekonomi keberlanjutan dalam konteks global ESG dan SDGs. Melalui pendekatan kualitatif konseptual dan meta-analisis literatur, ditemukan bahwa Ushul Fiqh berperan strategis dalam tiga dimensi: memberikan justifikasi normatif melalui kaidah kemaslahatan (maslahah), memperluas orientasi maqashid dengan dimensi pelestarian lingkungan (hifz al-bi’ah), serta mengoperasionalkan kebijakan pada instrumen modern seperti green sukuk, zakat-wakaf produktif, dan Islamic ESG funds. Di tengah dominasi kajian terdahulu yang bersifat normatif-konseptual, kebaruan penelitian ini terletak pada penyusunan kerangka yang menghubungkan Ushul Fiqh dengan agenda keberlanjutan global sekaligus menghadirkan instrumen kebijakan aplikatif lintas sektor industri halal. Kontribusi utama penelitian ini adalah memperkuat dasar epistemologis integrasi maqashid dengan ESG/SDGs serta memberikan arah baru bagi pengembangan model ekonomi berkelanjutan berbasis syariah
Membaca Simbur Cahaya melalui Audi Alteram Partem dan Nemo Judex in Causa Sua: Analisis Fungsional dan Historis Muhammad Azizzullah Ilyas; Ija Suntana; Mustofa Hasan
QIYAS: JURNAL HUKUM ISLAM DAN PERADILAN Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/qiyas.v11i2.12679

Abstract

Abstracts: This study analyzes Simbur Cahaya through the lenses of audi alteram partem and nemo judex in causa sua, employing both historical and functional-comparative approaches. It proceeds from the premise that similarities between local legal mechanisms and legal principles found in the European legal tradition do not necessarily imply direct transmission or influence. The findings indicate that the complaint mechanism outlined in Article 7 of the Adat Perhukuman (Customary Penal Code) allowed for appeals to higher authorities. While this mechanism bears a limited resemblance to audi alteram partem, it functions more robustly as a system of oversight and post-judgment review. Conversely, the parallel to nemo judex in causa sua is more pronounced, as the code restricted the involvement of officials who held a personal interest in a given case. Historically, this research shows that the evolution of the local judiciary in Palembang reflects the continuity of indigenous legal institutions that existed before the colonial era—institutions that later became formalized under colonial rule. It further suggests that principles of procedural justice can emerge from local institutional practices, aligned with the norms of the era. Keywords: Simbur Cahaya; audi alteram partem; nemo judex in causa sua; marga justice system; customary law; legal history.   Abstrak : Penelitian ini menganalisis Simbur Cahaya melalui perspektif audi alteram partem dan nemo judex in causa sua dengan menggunakan pendekatan historis dan fungsional-komparatif. Penelitian ini berangkat dari persoalan bahwa kesamaan antara mekanisme hukum lokal dan prinsip hukum yang dikenal dalam tradisi hukum Eropa tidak membuktikan adanya transmisi atau pengaruh langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme pengaduan dalam Pasal 7 Adat Perhukuman memberikan ruang pengaduan kepada otoritas yang lebih tinggi. Mekanisme tersebut memiliki kesepadanan terbatas dengan audi alteram partem, tetapi secara fungsional lebih kuat menunjukkan mekanisme kontrol dan pemeriksaan kembali setelah keputusan. Sebaliknya, kesepadanan dengan nemo judex in causa sua tampak lebih kuat dalam pembatasan keterlibatan pejabat yang memiliki kepentingan dalam perkara. Secara historis, Penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan peradilan lokal Palembang merupakan proses kontinuitas lembaga hukum lokal yang telah ada sebelum era kolonial, yang mengalami formalisasi kelembagaan kolonial, dan prinsip keadilan prosedural dapat tumbuh dari praktik lokal secara kelembagaan sesuai dengan norma zamannya Kata kunci: Simbur Cahaya; audi alteram partem; nemo judex in causa sua; peradilan marga; hukum adat; sejarah hukum.