Hadirnya berbagai macam platform media sosial menambah keriuhan pesan-pesan yang disampaikan para pembuat konten. Pesan komunikasi massa dalam upaya mempengaruhi pun bermetamorfosis bukan lagi sekedar mempengaruhi dalam pretensi politik, ideologis dan upaya mempengaruhi nilai nilai budaya. Tetapi kini hadir fenomena pesan yang disampaikan dengan menjual kesedihan dan kesengsaraan hidup. Berbagai konten dengan narasi kesedihan dan kesengsaraan dalam media sosial, khususnya dalam platform Tiktok, diproduksi oleh para pembuatnya dengan memaanfaatkan mudahnya rasa iba masyarakat kita kepada orang yang terkena musibah dan kesulitan hidup, sehingga mengundang kepedulian dan berbagai partisipasi. Keterampilann para content creator menggunakan narasi keprihatinan yang mengundang simpati dan reaksi menarik untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang memaparkan fenomena para pengemis digital yang marak dalam platform Tiktok. Sebagai pisau analisanya, peneliti menggunakan Semiotika dekonstruksi Jacques Derrida. Hasil penelitian ini menunjukan bahw, dalam melakukan aksinya para pembuat konten ini menampilkan berbagai macam tanda semiotis. Dalam konteks dekonstruksi Derrida pemaknaan pengemis digital ini dimaknai dengan lima hal. Dari opisisi oposisi biner, kesejarahan, pemaknaan teks tak tunggal, pemberian ruang kepada teks teks marjinal dan dekonstruksi merupakan sebuah peristiwa.