Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DALAM ANALISIS PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA STUDI KASUS : KOTA DEPOK Mildawani, Irina; Susilowati, Diana; Schiffer, Lia Rosmala
Jurnal Ilmiah Desain & Konstruksi Vol 8, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota (RTHK)merupakan bagian penting dalam perencanaan, pembangunan dan pengelolaan kawasanbinaan (budi daya) maupun kawasan alami di perkotaan berlandaskan Rencana UmumTata Ruang Kota (RUTRK). Studi ini bertujuan membuat analisis RTHK dengandukungan aplikasi SIG untuk melakukan identifikasi potensi, kondisi dan masalah RTHKDepok dalam kerangka RUTRK Hasil studi ini diharapkan dapat menjadi masukankepada Pemda Kota Depok berupa (1) identifikasi potensi dan kondisi gambaran umumRTHK yang ada dan (2) analisis potensi kawasan yang memiliki daya dukung lingkunganuntuk menjadi RTHK Depok. Hasilnya berupa paparan peta SIG, yaitu informasi tematikspasial dan bukan spasial RTHK Depok yang dapat diperbaharui dengan lebih cepat danlebih mudah dibandingkan dengan peta kartografi yang menjadi acuan selama ini.AbstractThe Planning, implementation and City’s Green Open Spaces (CGOS) Management isthe most important part of planning, implementation and management of plantationdistrict and natural district in a city based on General Planning of City Spaces. Thisstudy is aimed to create City’s green open spaces (CGOS) analysis with the aplicationof SIG support to identified the potency, condition dan CGOS problem in Depok based onthe General Planning of City Spaces. This SIG application is exactly suitable to planning,implementation and management of the CGOS information, because the results of CGOSanalysis can be optimised to the used and management of CGOSThis study results wish tobe a reference for the district goverment of Depok as (1) identification of potency andgeneral ilustration of CGOS and (2) potencial analysis of a district which haveenvironmental support to become City’s green open Spaces of Depok. The resultscontaints SIG maps, spatial thematic information and non spatial CGOS of Depok whichcan be upgraded faster dan easier compare to the cartographic map used nowadays.
PENGARUH AKULTURASI PADA MAKNA ORNAMEN BUNGA TERATAI DI MIHRAB MASJID SANG CIPTA RASA CIREBON Schiffer, Lia Rosmala; Suprapti, Atiek; Rukayah, R. Siti; Nugraha, Yudi
Jurnal Ilmiah Desain & Konstruksi Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/dk.2019.v18i2.2581

Abstract

Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang terletak di sisi barat alun-alun di depan Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Pulau Jawa sebagai peninggalan dari bukti penyebaran agama Islam oleh para Walisongo di Pulau Jawa. Bukti fisik bangunan dari segi arsitektur mempunyai nilai simbolis dan historis dari pengaruh Islam di Cirebon. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif dengan menggunakan teori akulturasi dan makna pada elemen arsitektural berupa ornamentasi pada interior peninggalan bangunan masjid bersejarah. Dan secara arsitektural membahas masjid dengan pendekatan dari pengaruh akulturasi dari Hindu, Budha dan Islam terhadap ornament pada masjid, dengan demikian teori dan metodologi yang digunakan dapat menangkap fenomena akulturasi dalam arsitektur masjid ini melalui penelusuran masjid sebagai Peninggalan arsitektur islam dan dalam proses pengaruh budaya nusantara pada ornamentasi pada bangunan masjid. Analisis data mencakupi: (1) indentifikasi unsur artistik dari objek (seni hias Teratai pada Mihrab bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa), konfigurasi elemen rupa dan bentuk, dan kaitannya dengan pengaruh dari Hindu-Budha-Mesir ; (2) tahap interpretasi makna ornamen, yaitu pengaruh akulturasi dengan pertimbangan berbagai gejala visual. Dapat dibuat kesimpulan bahwa memang dari tahun pembuatannya, Masjid Sang Cipta Rasa dibangun pada 1489 M, pada masa itua dalah masa peralihan masa pra-Islam ketika Jawa masih dikuasai Mataram Hindu ke masa Kerajaan Raja-raja Islam dengan persebaran agam Islam melalui para Walisongo di Pulau Jawa. Dimasa peralihan inilah masjid dibangun dengan toleransi kepada kebudayaan sekitar yaitu terlihat dengan masih adanya pengaruh Hindu Budha Mesir pada tampilan ornament bunga Teratai pada masjid ini.
Pengaruh Arsitektur Nusantara dan Islam pada Masjid Peninggalan Fatahilah di Jakarta Lia Rosmala Schiffer
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.616 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i6.7538

Abstract

Sejarah Jakarta atau dulu dikenal dengan nama Jayakarta tidak bisa dilepaskan dari Fatahillah, kesultanan Demak, kesultanan Cirebon, para wali dan Islam dan masjid-masjid tua, yang bertebaran di seantero kota. Dalam masa penyerbuan Sunda Kelapa (22 Juni 1527) pasukan Fatahillah yang ketika itu berhasil mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa membangun dua masjid bersejarah yang seumur dengan Kota Jakarta. Dua masjid itu dikenal dengan nama masjid Al Alam Marunda (1527) dan masjid Al Alam Cilincing (1527). Pada penelitian ini kedua masjid tersebut diatas yang akan menjadi objek penelitian tentang pengaruh akulturasi arsitektur Islam dan arsitektur nusantara. Tujuan dari penelitian adalah untuk melestarikan warisan Masjid-masjid tua di Kota Jakarta sebagai bagian dari sejarah dan proses akulturasi arsitektur Islam dan kebudayaan Lokal Nusantara yang awalnya dibawa oleh para pedagang Timur tengah dan atau melalui persebaran Islam melalui walisongo di Jawa. Pengaruh arsitektur Islam dan Nusantara terhadap masjid-masjid tua tersebut perlu ditelisik di bagian mana saja yang dipegaruhi arsitektur Islam dari Timur tengah dan di bagian manakah yang dipengaruhi oleh kebudayaan lokal Nusantara dan percampuran atau akulturasi arsitektur yang dominan yang terjadi pada bangunan masjid ini. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif, analitik dan interpretative dengan menggunakan teori archetype, teori ordering principle, teori fungsi, bentuk dan makna (FBM) dan teori budaya Nusantara (Betawi dan Jawa/Sunda), dengan demikian teori dan metodologi yang digunakan dapat menangkap fenomena arsitektur melalui penelusuran wujud akulturasi dari aspek fungsi, bentuk dan maknanya melalui filosofi tata ruang, kesakralan dan pengaruh budaya pada sebuah bangunan masjid. Dari penelusuran yang dilakukan diharapkan dapat membuktikan bahwa masjid Al’Alam Marunda dan masjid Al’Alam Cilincing merupakan ekspresi akulturasi antara budaya Nusantara dengan budaya Islam. Penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat, serta pengetahuan teori akulturasi arsitektur pada aspek fungsi, bentuk dan maknanya.
Gerbang Sebagai Pembentuk Identitas Kawasan Wisata Situs Gunung Padang Devina Marshanda; Lia Rosmala Schiffer; Rehulina Apriyanti
SADE : Jurnal Arsitektur, Planologi dan Teknik Sipil Vol 2 No 1 (2023): SADE April 2023
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/sade.v2i1.36

Abstract

The gate of the Gunung Padang Site Tourism Area located in Karyamukti Village, Gunung Padang Hamlet, Campaka District, Cianjur Regency, West Java, is a gate as a shaper of the identity or image of the Gunung Padang Site. The padang mountain site attracts tourists and scientists because of its rock site that was built in 8000 BC. However, this tourist area will be developed into a tourist area with various tourist destinations to attract more tourists. So that the redesign of the existing gate is needed that can provide an area identity that is lifted from the cultural values in Karyamukti Tourism Village. Identitas the shape of the new gate design is taken from the shape of kujang, rice on the district logo and represents the tea plantations in Karyamukti Tourism Village. From the redesign of the existing gate, it is hoped that the redesign of the gate will provide added value based on the potential that will be developed in Karyamukti Tourism Village. For this study, the data collection method used methods by means of field surveys, direct observations at the study site, interviews with speakers, taking video photo documentation from each angle, gate measurements to analyze tourist gate standards, gate sketches and all data collected in one storage for this study.
Penerapan Konsep Arsitektur Berkelanjutan untuk Meningkatkan Kenyamanan Termal Bangunan Tanatap Coffee di Bekasi Novariza Yasmin; Lia Rosmala Schiffer
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 19 No. 1 (2025): January 2025
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v19i1.922

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan konsep arsitektur berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kenyamanan pengguna pada bangunan Tanatap Coffee di Bekasi. Dalam perkembangan arsitektur modern, keberlanjutan telah menjadi fokus penting untuk mengurangi dampak negatif lingkungan, sekaligus menciptakan ruang yang efisien dan nyaman bagi penggunanya. Kajian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif-deskriptif, melibatkan observasi langsung pada elemen-elemen arsitektur yang diterapkan, seperti pemanfaatan energi alami, material ramah lingkungan, dan efisiensi tata ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanatap Coffee telah memanfaatkan beberapa prinsip arsitektur berkelanjutan, seperti ventilasi silang, pencahayaan alami, dan pemilihan vegetasi yang mendukung kenyamanan termal. Selain itu, pemanfaatan material daur ulang serta desain terbuka pada fasad bangunan turut mendukung pengalaman ruang yang nyaman bagi pengguna.
Identifikasi Kebutuhan Ruang Berdasarkan Potensi Subsektor Ekonomi Kreatif pada Bogor Creative Center Diky Pangestu; Raziq Hasan; Lia Rosmala Schiffer; Yonav Partana
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 19 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/v19i2.2765

Abstract

Pertumbuhan ekonomi kreatif di tingkat kota menuntut tersedianya ruang yang mendukung aktivitas produksi, kolaborasi, dan pengembangan komunitas kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan ruang berdasarkan subsektor ekonomi kreatif dominan di Kota Bogor, dengan fokus pada Bogor Creative Center (BCC) sebagai fasilitas utama. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur dengan pengelola, serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subsektor kuliner, musik, dan kriya merupakan sektor dengan komunitas terbanyak dan aktivitas yang paling aktif. Namun, fasilitas ruang yang tersedia belum sepenuhnya mendukung kebutuhan spesifik masing-masing subsektor. Seperti pada ruang workshop kuliner belum tersedia, studio musik belum memenuhi standar akustik dan peredaman suara, dan ruang kriya belum dilengkapi zona kerja yang memadai. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan desain ruang yang lebih adaptif dan partisipatif, termasuk penyediaan dapur terbuka, studio terinsulasi, serta ruang kriya semi terbuka yang mendukung kegiatan produksi dan edukasi. Penyesuaian desain ruang yang berbasis kebutuhan subsektor diharapkan dapat meningkatkan efektivitas Bogor Creative Center sebagai pusat pengembangan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.
PENDAMPINGAN PEMETAAN JARINGAN INFRASTRUKTUR DAN OPTIMALISASI TATA RUANG KAWASAN THE LEARNING FARM SEBAGAI PUSAT EDU-AGROWISATA Nurina Yasin; Lia Rosmala Schiffer; Veronika Widi Prabawasari; Haryono Putro; Agus Suparman; Wahyu Prakosa; Doddy Ari Suryanto; Didiek Pramono; Thomas Yuni Gunarto; Lilik Setiawan
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 8 No. 3 (2025): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v8i3.35653

Abstract

Sektor pertanian Indonesia menghadapi tantangan produktivitas dan regenerasi petani, sehingga model Edu- Agrowisata menjadi solusi strategis untuk memberikan nilai tambah ekonomi dan edukasi. Penelitian ini bertujuan menyusun perencanaan tata ruang dan infrastruktur dasar yang responsif terhadap kondisi topografi curam di kawasan The Learning Farm (TLF), Kabupaten Cianjur. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dan teknis eksperimental melalui pemetaan udara menggunakan drone DJI Mavic 2 Pro yang diolah dengan aplikasi DroneDeploy dan ArcGIS untuk menghasilkan peta Digital Elevation Model (DEM). Hasil analisis spasial menunjukkan kawasan seluas 2,4 hektar ini memiliki rentang elevasi 846 hingga 870 mdpl dengan perbedaan ketinggian ekstrem sebesar 24 meter. Kondisi morfologi tersebut diarahkan pada zonasi lahan yang menempatkan bangunan pada area stabil di dataran tinggi dan lahan pertanian pada area produktif di lereng. Infrastruktur air bersih dirancang menggunakan sistem gravitasi (Gravity-Fed System) dengan menempatkan tandon utama pada elevasi tertinggi (±868 mdpl) guna mencapai efisiensi energi dan biaya operasional. Selain itu, sistem drainase jalan diintegrasikan dengan badan air alami untuk mengendalikan limpasan air dan memitigasi risiko erosi serta banjir. Simpulan penelitian menegaskan bahwa transformasi TLF menjadi pusat Edu-Agrowisata berkelanjutan didukung oleh manajemen utilitas yang menghormati karakteristik alami lahan. Perencanaan ini menjamin keseimbangan antara efisiensi operasional pertanian, konservasi lingkungan, dan kenyamanan fasilitas edukasi.  ABSTRACT Indonesia's agricultural sector faces productivity and regeneration challenges, making the Edu-Agrotourism model a strategic solution to provide economic and educational value. This study aims to develop spatial planning and basic infrastructure designs responsive to the steep topographic conditions of The Learning Farm (TLF) in Cianjur Regency. The method employed a participatory and technical experimental approach using aerial mapping via a DJI Mavic 2 Pro drone, processed with DroneDeploy and ArcGIS to generate Digital Elevation Model (DEM) maps. Spatial analysis reveals that the 2.4-hectare area has an elevation range of 846 to 870 masl with an extreme height difference of 24 meters. These morphological conditions dictate land zoning that places buildings on stable ground in the highlands and agricultural activities in productive sloped areas. Clean water infrastructure is designed as a Gravity-Fed System, positioning the main reservoir at the highest elevation (±868 masl) to achieve energy and operational cost efficiency. Furthermore, the roadside drainage system is integrated with natural water bodies to control runoff and mitigate erosion and flooding risks. The study concludes that TLF's transformation into a sustainable Edu-Agrotourism center is supported by utility management that respects the natural characteristics of the land. This planning ensures a balance between agricultural operational efficiency, environmental conservation, and the comfort of educational facilities.      
Pendampingan Penentuan Lokasi dan Program Ruang Bangunan Pengelolaan Limbah Organik: Pengabdian Ade Syoufa; Agus Suparman; Agus Nugraha; Dimyati; Lilik S.H.P; Joko Slameto; lia Rosmala Schiffer; Wahyu Prakosa; X. Furuhitho; Yudi Nugraha Bahar
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pemeliharaan vegetasi di kawasan Alun-Alun Kota Depok menghasilkan limbah organik berupa daun, ranting, batang kecil, dan sisa pemangkasan pohon yang memerlukan pengelolaan berkelanjutan agar tidak menimbulkan permasalahan lingkungan dan penurunan kualitas kawasan. Sebagai tindak lanjut permohonan pendampingan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Depok kepada Universitas Gunadarma, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberikan rekomendasi pemilihan lokasi serta menyusun program ruang bangunan pengelolaan limbah vegetasi/organik. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui koordinasi dengan mitra, inventarisasi data, survei lapangan, identifikasi sumber limbah vegetasi, analisis alternatif lokasi, penyusunan matriks penilaian, dan penyusunan program kebutuhan ruang. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa dari tiga alternatif lokasi yang dianalisis, alternatif pertama merupakan lokasi yang paling sesuai karena memiliki akses operasional yang baik, dekat dengan area parkir pengelola, serta mendukung efisiensi mobilisasi dan pengendalian operasional. Selain itu, kegiatan ini menghasilkan program ruang bangunan pengelolaan limbah vegetasi dengan luas minimum sekitar 60 m² dan pola ruang linear yang mendukung proses pengolahan secara efektif. Luaran kegiatan berupa rekomendasi lokasi prioritas, matriks penilaian tapak, serta program ruang bangunan yang dapat menjadi acuan dalam pengembangan fasilitas pengelolaan limbah vegetasi di kawasan Alun-Alun Kota Depok
Pengaruh Bentuk Bukaan Terhadap Kondisi Thermal Bangunan Masjid Jami Al-hurriyah Fadilawati Khairunnisa; Lia Rosmala Schiffer; Agus Dharma; Yonav Partana
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 20 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v20i1.3183

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh bentuk bukaan terhadap kondisi termal bangunan Masjid Jami Al-Hurriyah di Jakarta Selatan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan dukungan data kuantitatif sebagai data pendukung untuk memperkuat analisis kualitatif, bukan untuk pengujian statistik. Teknik pengumpulan data meliputi observasi lapangan, pengukuran suhu udara menggunakan termometer digital, serta analisis visual terhadap pola aliran udara pada setiap lantai bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) bukaan yang terbatas di lantai dasar menyebabkansirkulasi udara tidak optimal dengan suhu berkisar antara 27,6–29,3°C; (2) penggunaan bukaan lebar berbahan kaca di lantai satu meningkatkan suhu ruang hingga 29,1°C akibat paparan radiasi matahari; dan (3) keberadaan bukaan vertikal berupa skylight di lantai dua mampu menciptakan mekanisme stack ventilation yang lebih efektif dengan suhu ruang berkisar antara 26,8–27,3°C. Meskipun demikian, seluruh lantai bangunan belum memenuhi standar kenyamanan termal berdasarkan SNI, yaitu 22,8–25,8°C. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya penerapan strategi desain pasif, seperti optimalisasiventilasi silang, pengendalian radiasi matahari melalui elemen peneduh, serta pemilihan material bangunan yang mampu mengurangi perpindahan panas, guna meningkatkan kenyamanan termal pada bangunan masjid di iklim tropis.
Konsep Arsitektur Biofilik Pada Bangunan Studi Banding Bangunan Pendidikan: Studi Kasus SMA IT Al-Haraki, Binus School Bekasi, dan Sekolah Bogor Raya Muhammad Ilham Habibulloh; Lia Rosmala Schiffer; Yonaf Partana
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 20 No. 2 (2026): July 2026
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v20i2.3570

Abstract

Perkembangan zaman yang ditandai oleh meningkatnya kepadatan kawasan perkotaan berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan binaan, khususnya pada bangunan pendidikan yang semakin minim akses terhadap ruang terbuka hijau, cahaya alami, dan udara segar. Kondisi ini menuntut penerapan pendekatan arsitektur yang mampu merespons keterbatasan lahan sekaligus menjaga kesejahteraan pengguna, salah satunya melalui arsitektur biofilik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi banding terhadap bangunan pendidikan yang menerapkan prinsip biofilik. Analisis dilakukan secara deskriptif-komparatif terhadap aspek hubungan bangunan dengan alam, pengolahan ruang terbuka, pencahayaan dan ventilasi alami, serta karakter ruang. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi elemen alam dalam desain mampu menjadi strategi efektif dalam menghadapi kepadatan, meningkatkan kualitas lingkungan belajar, dan mendukung keberlanjutan. Dengan demikian, arsitektur biofilik dapat dipandang sebagai pendekatan desain yang relevan dan adaptif terhadap tantangan kepadatan di era perkembangan perkotaan modern.