Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PEMBERDAYAAN KADER LANSIA DALAM UPAYA PENATALAKSANAAN HIPERTENSI Achmad Syukkur; Elizabeth Yun Yun Vinsur; Anang Nurwiyono
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 6, No 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v6i2.7041

Abstract

ABSTRAKLanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas. Jumlah lanjut usia diproyeksikan meningkat sampai dengan 1.5 miliar pada tahun 2050. Seiring meningkat jumlah lansia permasalahan kesehatan juga semakin meningkat, salah satunya masalah penyakit hipertensi yang menjadi urutan pertama penyakit pada lansia. Hipertensi seringkali tanpa gejala (asimptomatik), sehingga banyak diabaikan dan merasa tidak ada masalah, sehingga dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak dalam penatalaksanaannya, salah satunya keterlibatan kader kesehatan kesehatan lansia. Kader kesehatan lansia memiliki peran penting dalam pengelolaan hipertensi di masyarakat, meliputi pendataan, pengawasan atau monitoring, dan pendidikan kesehatan terkait hipertensi. Kegiatan ini bertujuan menguatkan peran dan fungsi kader pada lansia sehingga upaya kesehatan masyarakat dalam bentuk promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dapat berjalan lebih optimal. Kegiatan PkM yang dilaksanakan meliputi edukasi kesehatan kepada kader: peran dan fungsi kader, konsep penyakit hipertensi dan kegawatdaruratannya, manajemen dan penatalaksanan hipertensi, pelatihan pemantauan tekanan darah, dilaksanakan secara hybrid dengan memperhatikan protokol kesehatan. Kegiatan diikuti 9 (90%) kader kesehatan lansia. Hasil post test didapatkan peningkatakan pengetahuan dan pelaksanaan pemantauan tekanan darah, pengetahuan kader meningkat dari rata-rata 68.1 menjadi 96.8 dan pemantauan tekanan darah didapatkan rata-rata 50.8 menjadi 88. Kegiatan ini penting dilakukan bagi para kader untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan lansia khususnya dalam penatalaksanaan hipertensi di masyarakat. Kata kunci:lanjut usia; hipertensi; kader kesehatan lansia. ABSTRACTThe Elderly is someone who has reached the age of 60 years and over. The number of elderly people is projected to increase to 1.5 billion by 2050. The increasing number of elderly, unfortunately, followed by an increase in health problems, one of them is hypertension. Hypertension is often asymptomatic, it’s often ignored and no problem. Management of hypertension requires the involvement of various parties, including elderly health cadres. Elderly health cadres have an important role in managing hypertension in the community, such as data collection, supervision or monitoring, and health education related to hypertension. This program aims to strengthen the role and function of elderly health cadres in promotive, preventive, curative, and rehabilitative activities, especially so that hypertension management can run more optimally. PkM activities carried out include health education to cadres: the roles and functions of cadres, the concept of hypertension and its emergencies, hypertension management, blood pressure monitoring training, carried out in a hybrid manner by observing health protocols. The activity was attended by 9 (90%) elderly health cadres. The results of the post-test of cadre knowledge obtained an average value of 96.8 from the previous average of 68.1 for the pre-test. The results of blood pressure monitoring obtained an average of 88 which was previously 50.8. It suggested the importance to maintain the enthusiasm and motivation of elderly health cadres with their potential roles in carrying out these roles. Keywords: elderly; hypertension; elderly health cadres.
Pemberdayaan caregiver dalam menghadapi kegawatdaruratan lansia dengan hipertensi di lembaga kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKS LU) Elizabeth Yun Yun Vinsur; Sugiyanto Sugiyanto; Anang Nurwiyono
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.36181

Abstract

Abstrak Hipertensi pada lansia di Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKS LU) berisiko tinggi berkembang menjadi kondisi kegawatdaruratan jika tidak terpantau dengan baik. Caregiver memegang peran vital, namun sering kali memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai tanda krisis hipertensi dan manajemen awal kegawatdaruratan. Pengabdian ini bertujuan meningkatkan kompetensi caregiver dalam deteksi dini krisis hipertensi, manajemen obat, dan dukungan psikososial. Metode pelaksanaannya adalah edukasi bertahap dan simulasi kasus dengan desain one-group pretest-posttest pada 14 caregiver di LKS LU X. Evaluasi efektivitas diukur menggunakan kuesioner 15 item dan dianalisis menggunakan Normalized Gain (N-Gain). Hasil menunjukkan peningkatan skor pengetahuan yang signifikan dari rata-rata pre-test 51,9 menjadi post-test 77,2. Rata-rata N-Gain sebesar 0,45 (kategori Sedang), dengan dua caregiver mencapai kategori Tinggi (>0,7). Selain peningkatan kapasitas pengetahuan, kegiatan ini juga menghasilkan luaran berupa poster edukasi mengenai alur penanganan kegawatdaruratan hipertensi yang dipasang di area LKS LU sebagai panduan mandiri bagi caregiver. Program ini terbukti efektif meningkatkan kesiapan caregiver dalam situasi darurat, namun pendampingan berkelanjutan diperlukan bagi caregiver dengan latar belakang non-kesehatan untuk retensi pengetahuan yang optimal. Kata kunci: hipertensi; kegawatdaruratan; lansia; pengasuh. Abstract Hypertension in elderly people in nursing homes (LKS LU) is at high risk of developing into an emergency condition if not monitored properly. Caregivers play a vital role, but often have limited knowledge about the signs of a hypertensive crisis and initial emergency management. This service aims to improve the competence of caregivers in the early detection of hypertensive crises, medication management, and psychosocial support. The method used was gradual education and case simulations with a one-group pretest-posttest design involving 14 caregivers at the LKS LU. Effectiveness was evaluated using a 15-item questionnaire and analysed using Normalised Gain (N-Gain). The results showed a significant increase in knowledge scores from a pre-test average of 51.9 to a post-test average of 77.2. The average N-Gain was 0.45 (Moderate category), with two participants reaching the High category (>0.7). In addition to the increase in knowledge capacity, this program also produced an educational poster regarding the emergency management flow of hypertension, which was installed in the nursing home area as a self-guidance for caregivers. This programme proved effective in improving caregivers' preparedness in emergency situations, but ongoing support is needed for caregivers with non-health backgrounds to ensure optimal knowledge retention. Keywords: caregiver; emergency; hypertension; older-adults.
Pemberdayaan kader kesehatan dalam pendampingan screening dan monitoring Ankle-Brachial Index (ABI) pada penderita diabetes mellitus Achmad Syukkur; Anang Nurwiyono
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v%vi%i.37871

Abstract

Abstrak Program Kemitraan Masyarakat (PkM) berjudul “Pemberdayaan Kader Kesehatan dalam Pendampingan Screening dan Monitoring Ankle-Brachial Index (ABI) pada Penderita Diabetes Mellitus” dilaksanakan di Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Kegiatan ini bertujuan guna meningkatkan kapasitas kader dalam deteksi dini komplikasi Penyakit Arteri Perifer (PAD) pada pasien DM. Angka penderita Diabetes Mellitus (DM) di Desa Pandansari cukup tinggi, namun pengetahuan masyarakat mengenai deteksi dini komplikasi penyakit arteri perifer (PAD) masih rendah. Meskipun kader kesehatan telah aktif di posyandu dan posbindu, mereka belum memiliki keterampilan khusus dalam mendampingi screening serta monitoring Ankle-Brachial Index (ABI). Permasalahan mitra meliputi tingginya jumlah penderita DM, rendahnya pengetahuan masyarakat tentang deteksi dini PAD, serta keterbatasan pengetahuan, keterampilan, dan sistem pendampingan kader dalam melakukan screening dan monitoring ABI. Program dilaksanakan melalui edukasi tentang DM dan komplikasinya, pelatihan teknis pemeriksaan ABI, serta pembekalan pencatatan hasil secara sistematis. Evaluasi melalui pretest dan posttest menunjukkan peningkatan pengetahuan kader sebesar 45,45% (dari skor 55,00 menjadi 80,00) dan peningkatan keterampilan praktik sebesar 42,22% (dari 56,25 menjadi 80,00). Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan PkM efektif meningkatkan kompetensi kader sebagai agen edukasi dan pendamping dalam pencegahan komplikasi DM di tingkat komunitas. Kata kunci: diabetes mellitus; kader kesehatan; penyakit arteri perifer; screening dan monitoring; Ankle-Brachial Index (ABI). Abstract The Community Partnership Program (PkM) entitled “Empowering Community Health Volunteers in Assisting the Screening and Monitoring of the Ankle-Brachial Index (ABI) among Patients with Diabetes Mellitus” was implemented in Pandansari Village, Poncokusumo Subdistrict, Malang Regency. This program aimed to enhance the capacity of community health volunteers in the early detection of complications related to Peripheral Artery Disease (PAD) among patients with Diabetes Mellitus (DM). The prevalence of DM in Pandansari Village is relatively high; however, community awareness regarding the early detection of PAD complications remains low. Although community health volunteers are actively involved in integrated health services (posyandu and posbindu), they lack specific skills in assisting with ABI screening and monitoring. The partner-related problems included the high number of DM cases, limited community knowledge regarding early PAD detection, and insufficient knowledge, skills, and structured mentoring systems among volunteers for conducting ABI screening and monitoring. The program was conducted through health education on DM and its complications, technical training on ABI measurement, and capacity building in systematic documentation of examination results. Evaluation using pretest and posttest demonstrated a 45.45% increase in volunteers’ knowledge (from a mean score of 55.00 to 80.00) and a 42.22% improvement in practical skills (from 56.25 to 80.00). These findings indicate that the program was effective in improving volunteers’ competencies as educators and facilitators in preventing DM complications at the community level. Keywords: diabetes mellitus; community health volunteers; peripheral artery disease; screening and monitoring; Ankle-Brachial Index (ABI).