Laksmi Kusuma Wardani
Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Dan Desain, Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto 121-131, Surabaya 60236

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search
Journal : Dimensi Interior

POLA TATA LETAK RUANG HUNIAN-USAHA PADA RUMAH TINGGAL TIPE KOLONIAL DI PUSAT KOTA TUBAN Wardani, Laksmi Kusuma
Dimensi Interior Vol 2, No 1 (2004): JUNI 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.465 KB) | DOI: 10.9744/interior.2.1.pp. 37-50

Abstract

Tuban is one of the most bustle trading town because its territory passed by Daendels Road that had been made in colonial era. Position stayed at regional road Surabaya-Babat-Tuban-Semarang-Jakarta made that city as a focus from vehicle circulation among same city or another city. Tuban developed as a trading town as long as the growth of luxuriant houses that had been occupied by europeans and chinese rich merchant, that make some not directly influence to the shape formation of residence environment in the center of city, given some effect with growing place of stay that used as a place of trading with difference space formation arrangement. Space formation arrangement is various as an effect of stay-trade activity, which mean is resident combined with trading (tobacco trading, tobacco and livestock, tobacco and store, furniture and live stock trading, agricultural produce trading, and shop). More over, used of space process was changing statically, that is function increasing (with space increasing) and space quality increasing (with completing some of space). The use of stay-trade space had some changes because of economic factor opinion and trading activity. The changing effect to zoning and space organization, nevertheless the identity as grid formation still being used. Abstract in Bahasa Indonesia : Kota Tuban merupakan salah satu kota perdagangan yang cukup ramai karena wilayahnya dilalui jalan Daendels yang dibuat pada era kolonial. Posisinya yang berada di jalan regional Surabaya-Babat-Tuban-Semarang-Jakarta menjadikan kota tersebut sebagai fokus dari sistem sirkulasi kendaraan kota dan antar kota. Kota Tuban berkembang menjadi kota perdagangan seiring dengan timbulnya lingkungan rumah-rumah mewah yang dihuni oleh orang eropa dan pedagang cina kaya, yang secara tidak langsung mempengaruhi bentuk pola lingkungan permukiman di pusat kota, yang berdampak pada munculnya rumah-rumah tinggal sebagai tempat usaha dengan pola tata letak ruang yang beragam. Pola tata letak ruang bervariasi sebagai dampak aktivitas hunian-usaha, yaitu hunian merangkap perdagangan (usaha tembakau, tembakau dan ternak, tembakau dan toko, usaha mebel dan ternak, usaha hasil bumi, dan toko). Selain itu, proses penggunaan ruang mengalami perubahan yang bersifat statis, berupa penambahan fungsi (dengan penambahan ruang) dan peningkatan kualitas ruang (dengan penyempurnaan sebagian ruang). Pemanfaatan ruang hunian-usaha mengalami perubahan karena pertimbangan faktor ekonomi dan aktivitas usaha. Perubahan yang terjadi mempengaruhi zoning dan organisasi ruang, namun demikian identitasnya sebagai pola grid tetap dipertahankan. Kata kunci : pola tata letak ruang, hunian usaha, rumah tinggal tipe kolonial
EVALUASI ERGONOMI DALAM PERANCANGAN DESAIN Wardani, Laksmi Kusuma
Dimensi Interior Vol 1, No 1 (2003): JUNI 2003
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.049 KB) | DOI: 10.9744/interior.1.1.pp. 61-73

Abstract

It needs a set of works to achieve the best design, such as planning and development of design, from idea discovering, analysis and to be continued by a set of stages : development, concept design, system and detail, prototype making, production process, evaluation or examination product, and finished by distribution stage. The problem solving for good design should recognize the human and their activity, such as size, postures, position in activity, behavior and the manner of human activity. Appraise these matter, it needs ergonomic consideration. Ergonomic is one of the qualification to achieve qualified, certified design and customer need. How far the extent of design fulfills the functional techniques, aesthetics quality and economic, it needs evaluation by using some basic qualifications. Ergonomic is needed for post evaluation product examination. Beside functionality, good design should give safety, health, security and enjoyment for human when they use and operate the product of that design. Abstract in Bahasa Indonesia : Untuk menghasilkan desain yang baik dalam perancangan desain, dibutuhkan serangkaian kegiatan berupa perencanaan maupun pengembangan desain, mulai dari tahap penggalian ide, analisis dilanjutkan dengan tahap pengembangan, konsep perancangan, sistem dan detil, pembuatan prototipe, proses produksi, evaluasi atau pengujian produk, berakhir dengan tahap pendistribusian. Pemecahan masalah untuk menghasilkan desain yang baik juga memperhatikan faktor manusia dan aktivitasnya, seperti ukuran, bentuk tubuh, posisi beraktivitas, perilaku dan kebiasaan manusia beraktivitas, sehingga tercapai produktivitas kerja. Memperhatikan hal itu, dibutuhkan pertimbangan-pertimbangan ergonomi. Ergonomi merupakan salah satu dari persyaratan untuk mencapai desain yang qualified, certified dan customer need. Dan seberapa jauh sebuah desain telah memenuhi aspek teknis fungsional, kualitas estetis dan ekonomis, maka dalam hal ini diperlukan evaluasi yang menggunakan tolok ukur tertentu. Ergonomi diperlukan untuk evaluasi produk. Selain fungsional, desain juga harus mampu memberikan keselamatan, kesehatan, keamanan dan kenyamanan bagi manusia pada saat memakai dan mengoperasionalkan hasil produk desain tersebut. Kata kunci : perancangan desain, evaluasi, ergonomi, produktivitas kerja.
Makna Simbolik pada Banua Layuk Rumah Tradisional Mamasa, Sulawesi Barat Frans, Stephanie Melinda; Wardani, Laksmi Kusuma
Dimensi Interior Vol 13, No 1 (2015): JUNE 2015
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1144.481 KB) | DOI: 10.9744/interior.13.1.11-20

Abstract

Banua  yang  berarti  rumah,  merupakan  rumah  tradisional  yang  dimiliki  masyarakat  Mamasa,  bukan  hanya  sebagai  tempat  untuk berlindung (fungsi praktis) dan ungkapan estetis belaka, tetapi juga dipahami mengandung fungsi simbolik yaitu wujud dari cita-cita dan  pandangan  hidup  masyarakat  Mamasa,  selain  itu  difungsikan sebagai tempat untuk melakukan adat ritual, serta tempat  untuk memelihara  ternak.  Penelitian  ini  membahas  mengenai  makna  simbolik  pada  Banua  Layuk  antara  lain  tata  letak  bangunan,  arah hadap/orientasi bangunan, bentuk dan struktur bangunan, organisasi dan sirkulasi ruang,  elemen pembentuk ruang, elemen pengisi ruang,  elemen  transisi,  dan  ragam  hias.  Metode  analisis  data  yang  digunakan  yakni  metode  analisis  deskriptif  dengan  pendekatan hermeneutika Paul Ricouer. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa rumah tradisional Mamasa adalah rumah paradoks, yang berarti  bahwa di dalam rumah tradisional ini terdapat banyak unsur-unsur/pasangan koordinasi ruang  yang bertolak belakang atau berlawanan  tetapi  dapat  harmoni  menjadi  satu  kesatuan  sebuah  rumah  tradisional.  Bentuk  visual  rumah  tradisional  Mamasa  ini menghadirkan simbol kesatuan yang harmoni antara yang transenden (vertikal) dan yang imanen (horizontal). Filosofi dan pandangan hidup  masyarakat  Mamasa  dapat  ditemukan  pada  elemen  rumah  tradisional  Mamasa,  baik  elemen  arsitektural,  interior,  maupun makna ragam hiasnya.
GAYA SENI HINDU–JAWA PADA TATA RUANG KERATON YOGYAKARTA Wardani, Laksmi Kusuma; Soedarsono, R.M.; Haryono, Timbul; Suryo, Djoko
Dimensi Interior Vol 9, No 2 (2011): DESEMBER 2011
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (893.59 KB) | DOI: 10.9744/interior.9.2.108-118

Abstract

The Sultan Palace is one of the art cultural heritages that has now become a historical artifact, containing important information regarding art styles as a result of acculturation. This study is a qualitative study with a descriptive analysis method. The approach used is the historical approach and interpretation to find traces of the historical development of the Hindu-Javanese art style and the meaning behind the spatial form of Keraton Yogyakarta. The results of the research explain that prehistoric art is purely determined by custom, and at the same time take its role in the formation of cultural arts during the Hindu period. Art activities were carried out to ensure that the survival of religion is based on an agricultural system of the people's lives who regard the king as having the supreme authority who is equal to the gods. The expression of the art in layout plan of Yogyakarta palace basically follows the theological concept of Vastusatra and the mythic beliefs of the pre-Hindu society which still continues today. Based on the results of the study, it was found that the expression of the form and content of the layout plan was inspired by religious considerations, and does not perform as mere aesthetic expression. The alignment of the micro universe with a macro universe is a reflection of the pre-Hindu and Hindu periods. Changes occurred as a form of acculturation, especially in the aspects of building orientation and spatial arrangement of Keraton Yogyakarta.
PERUBAHAN DESAIN RUMAH TINGGAL JAWA MENJADI RUANG PUBLIK TERBATAS (Dari Rumah Bangsawan ke Hunian Publik) Wardani, Laksmi Kusuma
Dimensi Interior Vol 5, No 2 (2007): DESEMBER 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1160.333 KB) | DOI: 10.9744/interior.5.2.pp. 98-108

Abstract

A house or dalem Joyokusuman, is treated as a big mountain where life resources are obtained by its inhabitants, experiencing transition due to the encouragement of human knowledge, travelling from a simple to a more complex level. A significant change occurred in the function of central senthong, which initially functioned as a place of contemplation, the integration of The Absolute One of the Universe (Brahma) with the Self, but has now become a circulation space. A change has also occured in the nature of space that was initially private, and has now become limitedly public. The continuous circulation flow has changed to all directions, causing impacts in the circulation between inhabitants, guests and servants in the palace due to the variety of entrepreneurial activities. The transition of function, space nature and fulfillment of activity facilities in the space has made its interior setting overloaded. Besides that, due to the existing business activities, the space has become more open for public. The vast feeling of space becomes reduced because of the presence of overload furniture, however, it is neutralized by the open form of space maintaining its natural atmosphere. These transitions prominently show that the once sacred space of dalem has now become profane because of business activities. Abstract in Bahasa Indonesia : Rumah atau dalem Joyokusuman, diperlakukan sebagai gunung besar yang menjadi sumber kehidupan penghuninya, mengalami perubahan sebagai akibat dorongan pengetahuan manusia. Perubahan yang signifikan terjadi pada fungsi senthong tengah, yakni awalnya sebagai tempat kontemplasi, manunggalnya Semesta Tunggal Absolut (Brahma) dengan si Diri, saat ini berubah fungsi sebagai ruang sirkulasi. Perubahan terjadi pula pada sifat ruang yang dahulu privat, berubah menjadi publik terbatas. Alur sirkulasi yang menerus berubah ke segala arah, terjadi tabrakan sirkulasi antara penghuni, tamu maupun abdi dalem sebagai akibat beragamnya aktivitas usaha. Perubahan fungsi, sifat ruang, sirkulasi, dan pemenuhan fasilitas kegiatan dalam ruang membuat penataan interior menjadi berlebihan. Akibat adanya aktivitas usaha, membuat ruang menjadi lebih terbuka untuk publik. Kesan luas ruang menjadi berkurang karena furnitur yang berlebihan, namun masih dapat dinetralisir dengan bentuk ruang yang terbuka, sehingga kesan alami masih terjaga. Perubahan tersebut di atas menunjuk dengan jelas bahwa dalem yang dulunya sakral berubah menjadi propan karena aktivitas usaha. Kata kunci: Perubahan, Rumah Jawa, Ruang Publik
PENERAPAN ELEMEN HIAS PADA INTERIOR MASJID AL AKBAR SURABAYA Wardani, Laksmi Kusuma; Gustinantari, Arinta Prilla
Dimensi Interior Vol 6, No 2 (2008): DESEMBER 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1245.231 KB) | DOI: 10.9744/interior.6.2.

Abstract

The Al Akbar Mosque in Surabaya applies ornaments in its interior design. In Islamic teachings, the prohibition in using human and animal visualization has thus arised several kinds of Islamic ornaments that can be used as a measure in mosque interior implementations. Islamic ornaments in the mosque can be seen in the interior elements and facilities (furniture) supporting human activities and possess values and meanings according to Islamic concepts. This research aims to observe whether the ornament implemenations in Al Akbar Mosque used are according to Islamic rules. The results show that the interior of Al Akbar Mosque apply Islamic principles such as geometric patterns, Arabic calligraphy, Arabesk patterns and lighting systems that are according to Islamic values. The implementation of ornaments are in line with Islamic rules. This means that the designing of this place of worship as a process of actualizing physical concepts has analyzed the requisites of religious teachings as well as the worship activities as basic determinations of ornament implementations in interior design. Abstract in Bahasa Indonesia: Masjid Al Akbar Surabaya menerapkan elemen hias pada interiornya. Dalam Islam ada larangan visualisasi manusia dan hewan, sehingga muncul jenis elemen hias khas Islam yang bisa dijadikan tolok ukur dalam penerapannya pada interior masjid. Penerapan elemen hias Islam pada masjid dapat dilihat pada unsur interior dan fasilitas penunjang kegiatan (perabot). Peletakkan pada tiap-tiap bidang tersebut mempunyai makna yang sesuai dengan konsep Islam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengetahui apakah elemen hias yang diterapkan pada interior Masjid Al Akbar Surabaya sudah sesuai dengan aturan-aturan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interior Masjid Al Akbar Surabaya menerapkan elemen hias Islam yaitu pola geometris, kaligrafi Arab, pola Arabesk, dan menampilkan pencahayaan yang sesuai dengan nilai-nilai Islami. Penerapan elemen hias ini sudah sesuai dengan aturan-aturan Islam, yang berarti merancang ruang ibadah sebagai proses perwujudan konsep fisik telah mengupas persyaratan ajaran agama maupun prosesi kegiatan sebagai dasar penentu perwujudan unsur elemen hias pada interior. Kata kunci: Masjid, interior, elemen hias
DESAIN MEBEL DALAM PENDIDIKAN SENI DAN DESAIN Wardani, Laksmi Kusuma
Dimensi Interior Vol 2, No 2 (2004): DESEMBER 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.656 KB) | DOI: 10.9744/interior.2.2.pp. 134-146

Abstract

Furniture design in art and design education use the thinking model which entangling design process with various problems which its character is not static and require the creative and critical opinion in joining creating energy, technological growth, and up to standard esthetics element to be produced. Problem solving which still on is going into effect in one case of furnitur design, differing at other case. The success of efficacy teaching and learning process in the studio of furniture design influenced by external and internal (study process, quality of human resource or lecturer and students, curriculum, education management, and also supporter facility learning and teaching process) factor. Abstract in Bahasa Indonesia : Desain mebel dalam pendidikan seni dan desain menggunakan model berfikir yang melibatkan proses desain dengan berbagai permasalahan yang sifatnya tidak statis dan membutuhkan pemikiran kritis dan kreatif dalam menggabungkan daya cipta, perkembangan teknologi, dan unsur estetika yang memenuhi syarat untuk diproduksi. Pemecahan masalah yang berlaku di satu kasus dalam desain mebel, berbeda pada kasus yang lain. Keberhasilan proses belajar mengajar di studio desain mebel dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal (proses pembelajaran, kualitas sumber daya manusia atau pendidik maupun peserta didik, kurikulum, manajemen pendidikan, maupun fasilitas-fasilitas penunjang proses belajar mengajar). Kata kunci : desain mebel, pendidikan, seni dan desain.
NILAI BUDAYA PADA INTERIOR MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA Wardani, Laksmi Kusuma
Dimensi Interior Vol 5, No 1 (2007): JUNI 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2088.889 KB) | DOI: 10.9744/interior.5.1.pp. 23-33

Abstract

The interior of Sonobudoyo Museum has been utilized for aesthetics, education, and tourism importance and conservation of cultural value. This museum is the result of ideas integrating the rational thinking of Deutsch architect, Thomas H. Karsten with the Java cultural value. The monumental art value and technical innovation in this building, is a process towards modernization, which has been contributing specific characteristics to the city of Yogyakarta as a cultural city. The erection of the building is not just referring to the functional, aesthetical,and technical concept, but also containing material and immaterial value of the Javanese society, so that the building and its environment becomes an object or material that is integrated in the museum collection. Abstract in Bahasa Indonesia : Interior Museum Sonobudoya dimanfaatkan untuk kepentingan estetik, pendidikan, pariwisata dan pelestarian nilai budaya. Museum ini merupakan wujud gagasan yang mengabungkan pemikiran rasional arsitek Belanda Thomas H. Karsten dengan nilai-nilai budaya Jawa. Nilai monumental seni dan inovasi teknik pada bangunan ini, merupakan proses menuju pembaharuan, yang memberi karakter khusus Yogyakarta sebagai kota budaya. Pendirian museum ini bukanlah sekadar mengacu pada konsep fungsi, estetika dan teknik saja, melainkan memuat nilai material dan imaterial masyarakat Jawa, sehingga bangunan dan lingkungannya menjadi obyek atau materi yang menyatu dengan koleksi museum. Kata kunci: Makna, Interior, Museum Sonobudoyo
SIMBOLISME LITURGI EKARISTI DALAM GEREJA KATOLIK SEBUAH KONSEPSI DAN APLIKASI SIMBOL Wardani, Laksmi Kusuma
Dimensi Interior Vol 4, No 1 (2006): JUNI 2006
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.456 KB) | DOI: 10.9744/interior.4.1.pp. 17-24

Abstract

Liturgy represents the experience of believing in God as well as the aesthetic experience containing elements of emotional rituals. It also possesses a creative goal, that is the formation of symbols, and the content symbolized is heading no other than towards reality, that is the presence of Christ the saviour. The religious experience in the ceremony of Eucharistic liturgy does not only act as an intellectual or philosophic experience, but also includes human feelings and actions. On the other hand, the Catholic Church building as God's house represents the sacred building loading aesthetic experiences, signs and symbols of heavenly nature that reflects the mystery and supremacy of God. The church service space applies the symbolic and sacred values through the supply of various religious service facilities, the use of symbols, and the materialization of space atmosphere in its zoning, walls, floors, ceilings, windows, furniture, decorations, colour, and others, capable of bringing the church people to the experience the reality celebrated in liturgy. Abstract in Bahasa Indonesia : Liturgi merupakan pengalaman keimanan dan sekaligus pengalaman estetis yang mengandung unsur ritual emosional, dan memiliki tujuan kreatif yaitu pembentukan simbol, dan isi yang disimbolkan tidak lain menuju ke arah realitas, yakni kehadiran Kristus yang menyelamatkan. Pengalaman religiusitas dalam upacara liturgi ekaristi tidak hanya sebagai pengalaman filosofis atau intelektual, tetapi juga melibatkan perasaan dan tindakan manusia. Sedangkan bangunan gereja katolik sebagai rumah Tuhan merupakan bangunan sakral yang memuat pengalaman estetik, memuat tanda dan lambang alam surgawi yang mencerminkan misteri Allah dan sifat keagungan Tuhan. Ruang ibadah gereja menerapkan nilai-nilai simbolik yang sakral melalui penyediaan berbagai fasilitas ibadah, penggunaan tanda, dan perwujudan suasana ruang, baik pada zoning, dinding, lantai, plafon, jendela, perabot, dekorasi, warna, dan lain-lain. Yang mampu membawa umat pada pengalaman realitas yang dirayakan dalam liturgi. Kata kunci: simbol, interior, gereja katolik.
PERANCANGAN FURNITUR PERKANTORAN (PROSES DESAIN, MANUFAKTUR, DISTRIBUSI, DAN KONSUMSI) Wardani, Laksmi Kusuma
Dimensi Interior Vol 8, No 1 (2010): JUNI 2010
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.863 KB) | DOI: 10.9744/interior.8.1.29-37

Abstract

A furniture design of good quality has esoteric value, consisting of complexity of values in both knowledge and skill techniques as well as philosophical contents and methodological contents. The planning consideration of office furniture is designed with the concept of mobility that can be set or adjusted to the aim of increasing productivity, creativity, interaction, spontaneity, aesthetics, movement comfort and the ease of fixing, keeping, cleaning, as well the comfort in size, form, proportion and flexibility. The design should always undergo the processes of design, manufacturing, circulation, and distribution to produce a design of good quality.