Lifa Mutiara
Magister Psikologi UIN Suska Riau

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Tradisi Mengayun Anak Suku Banjar “Bapukong” di Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Riau Lifa Mutiara
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.632 KB) | DOI: 10.31004/jptam.v6i2.4641

Abstract

Bapukong adalah cara mengayunkan anak usia 2 bulan hingga 1,5 tahun dengan posisi duduk, punggung dan tulang belakang dalam posisi lurus dan yang menopangnya harus pintar dan telaten, tidak bisa dilakukan sembarangan karena dalam Jika Anda merawat anak tersebut, dikhawatirkan anak tersebut akan merasa sakit dan terjadi sesuatu. tidak diinginkan, maka posisi lutut terlipat hampir menyentuh dada, dan posisi tangan anak menyentuh dada atau perut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini tentunya merupakan pendekatan emic dengan metode deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah alasan mengapa kota masih mempertahankan tradisi Bapukong yang merupakan identitas budaya lokal Suku Banjar di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau., Sebuah penghormatan kepada nenek moyang masyarakat Suku Banjar yang sudah membuat adat yang dianggap sangat bermanfaat bagi masyarakat. Suku Banjar sendiri. Tradisi Bapukong dipertahankan oleh Suku Banjar di Tembilahan karena fungsinya antara lain mendidik mental, menguatkan dan meluruskan tulang belakang, menguatkan dan meluruskan leher, memberikan kenyamanan dan membuat anak cepat hanyut, mencegah anak masuk angin, digigit nyamuk, dan menjaga anak agar tidak jatuh dari ayunan, menghindari anak tersedak saat menyusu menggunakan botol, menghindari lecet karena anak buang air kecil.