I Nyoman Warta
Bagian Fisioterapi RSUD Badung, Bali Program Studi S1 Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

NILAI ETIKA DALAM GEGURITAN I CEKER CIPAK Warta, I Nyoman
Widya Aksara Vol 21 No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.149 KB)

Abstract

Karya sastra merupakan salah satu khasanah budaya bangasa yang adhi luhung, karena di dalamnya terdapat mutiara-mutiara yang terpendam dan nilainya sangat penting untuk  pembentukan krakter dan  kepribadian bangsa. Penggalian naskah-naskah baik dalam bentuk Lontar, Prasasti dan sebagainya akan banyak membuka tabir rahasia yang selama ini sangat gelap bagi kita. Melalui karya-karya seni, khususnya seni sastra diungkapkan  ide-ide yang didalamnya ada idiologi kehidupan yang perlu disebarluaskan kepada masyrakat. Salah satu karya sastra yang dikaji dalam tulisan ini adalah Nilai-Nilai Etika Dalam Geguritan I Ceker Cipak. Geguritan  I Ceker Cipak mengisahkan seorang pemuda desa yang bernama I Ceker Cipak  mengisahkan seorang pemuda desa hidup yatim dan miskin diasuh oleh ibunya tanpa sanak saudara. Dalam kesehariannya ia selalu mengamalkan ajaran kebenaran (dharma), senantiasa berbahkti kepada ibunya serta tabah  menghadapi cobaan. Dengan demikian Geguritan I Ceker Cipak ini dipandang perlu untuk dikaji dalam suatu karya ilmiah. Dalam tulisan  ini akan ditelusuri serta dikaji rumusan masalah yakni: Nilai-Nilai Etika apa saja yang terkandung dalam Geguritan I Ceker Cipak?. Berdasarkan kajian pada Geguritan I Ceker Cipak,  dapat ditemukan Nilai-Nilai Etika Dalam Geguritan I Ceker Cipak sebagai berikut: (1) Nilai Pendidikan Etika. Dalam Geguritan I Ceker Cipak yang berhubungan dengan ajaran Etika seperti: Ajaran Panca Satya yaitu: (1) satya semaya (2) satya herdaya (3) satya mitra (4) satya semaya dan (5) satya laksana. Di samping tersebut juga terdapat (1).nilai kesetyaan Pati Brata, (2) Niali cinta kasih/Tanpa kekerasan, Nilai Sosial Kemasyarakatan. (3) Nilai Pendidikan Estitika. Nilai-Nilai yang terkandung dalam Geguritan I Ceker Cipak dapat dijadikan tonggak landasan baik dalam berpikir, bertutur kata maupun berbuat yang baik dan benar sebagai wujud implementasi ajaran?Tri Kaya Parisaudha?.
ANTUSIAS UMAT HINDU DALAM PELAKSANAAN UPACARA TAWUR KESANGA NASIONAL DI CANDI PRAMBANAN SAKA 1939 Warta, I Nyoman
Widya Aksara Vol 22 No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.728 KB)

Abstract

Latar belakang pelaksanaan upacara Tawur Kesanga di Candi Prambanan menurut tingkatannya seharusnya ?Tawur Agung Kesanga?,  karena tingkat nasional, namun umat yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta baru bisa meyelenggara  tingkat Panca Kelud. Sesungguhnya merupakan upacara Tawur Kesanga Tingakat Provinsi. Ini mencerminkan pada Desa Kala dan Patra yang dilandasi dengan ketulusan serta hari yang suci dan anandham. Candi Prambanan salah satu peninggalan Agama Hindu yang pernah mengalami kejayaan pada masanya. Sehingga dengan harapan anak cucu kita juga mampu meneruskan dan mewariskan kepada generari penerusnya. Mengingat sekarang pendidikan sejarah mengenai peninggalan Hindu sudah semakin berkurang serta niat anak-anak kita sangat minim terhadap sejarah, karena perkembangan jaman dan berbagai faktor. Dengan demikian Pelaksanaan Upacara Tawur Kesanga di Candi Prambanan merupakan salah satu metodelogis tentang pemahaman dan pelastarian peninggalan sejarah Hindu yang wajib kita pertahankan sampai kapanpun. Adapun yang menjadi rumusan masalah ini adalah: (a) Mengapa pelaksanaa Upacara Tawur Kesanga Nyepi Nasional di  Candi  Prambanan. (b) Persepsi masyarakat terhadap Upacara Tawur Kesanga Nyepi Nasional di Candi Prambanan. (c) Tingkatan Upacara Tawur Kesanga Nyepi Nasional di Candi Prambanan. Guna mengkaji Upacara tawur kesange nyepi menggunakan Teori Relegi, Teori Struktural Simbolik, krangka berpikir. Penelitian ini dilakukan di Candi Prambanan Yogyakarta. Umat Hindu Yogyakarta melaksanakan upacara Tawur Kesanga setiap tahun sekali dalam menjaga kelestarian atau keseimbangan alam semesta. Candi Prambanan adalah peninggalan sejarah kerajaan Hindu terbesar diperbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di sinilah tempat pelaksanaan upacara Bhutayajña Tawur Kesanga bagi umat Hindu Jawa Tengah dan Yogyakarta setiap tahun sekali. Khusus bagi umat Hindu Daerah Istimewa Yogyakarta semestinya melaksanakan upacara Bhutayajña Tawur Kesanga di Perempatan Tugu Yogyakarta, karena alasan keamanan maka pelaksanaan upacara Tawur Kesanga dilakukan di Pelataran Candi Prambanan, dengan tujuan menjaga secara ritual dan spitual keberadaan Candi Prambanan sebagai warisan terbesar agama Hindu, dengan harapan generasi penerus kita agar bisa menjaga dan merawatnya. Dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, teknik observasi, studi kepustakaan. Dengan demikian sehingga penelitian ini layak untuk dilanjutkan sehingga apa yang menjadi harapan dapat terwujud dengan baik
FILOSOFI RITUAL SESUAI KEARIFAN LOKAL MEWUJUDKAN KEHIDUPAN HARMONI Warta, I Nyoman
Widya Aksara Vol 22 No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.68 KB)

Abstract

Ritual sesungguhnya memiliki kekuatan saling ketergantungan dengan Puja,Weda, Sehe dan Attmanastuti. Karena ritual memiliki kekuatan Prawrti Jnana, sedangkan Puja Weda, mantram, sehe dan attmanastuti memiliki Nirwrti Jnana dan Prawrti Jenana kedua kekuatan itu adalah sebagai kekuatan Lingga (Puja Weda, Mantra, sehe dan attmanastuti) dan kekuatan Yoni  (ritual), atau kekuatan Bhakti dan Sradhanya umat Hindu kehadapan Sang Hyang Widhi. Kehidupan Rwa Bhineda tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan keseharian. Ritual dalam Hindu merupakan wujud, bentuk dan fungsi. Tetandingan Ritual   hendaknya berdasarkan pada: Kuno Dresta (purwa dresta), Desa Dresta, dan yang terpenting justru Sastra Dresta yang merupakan inti pokok dari filsafat  ritual agama Hindu, bentuknya boleh berbeda-beda sesuai dengan Desa Dresta namun isinya atau esensinya sesuai dengan Weda atau sastra Drsesta ( Ida Bagus Putu Dharsana,2010). Sesungguhnya ada 4 (empat) ajaran agama Hindu ini merupakan cerminan dari esensi ajaran Weda yaitu: (1). Ajaran Mantra mencerminkan adanya ritual dan  dharma gita/lagu-lagu pemujaan seperti adanya Puja Weda, mantra dan sehe. (2). Ajaran upanisad mencerminkan adanya Tattwa agama/filosofis ajaran agama yang sangat dalam maknanya, sesungguhnya tidak seperti apa yang kita lihat, namum dibalik tersebut tidak bisa terjangkau oleh akal pikiran manusia.(3). Ajaran Brahmana mencerminkan adanya ritual keagamaan yang sangat beraneka ragam bentuk jenis dan fungsinya, sesuai dengan Kuna Dresta, Desa Dresta dan Sastra Dresta. Namun secara kenyataan itu berbeda semua, tetapi secara esensi pada hakikatnya itu adalah sama ? Ekam Evam Adityam Brahmana?.(4). Ajaran Aranyaka mencerminkan adanya Etika. Ajaran etika sangat penting dalam pelaksanaan kehidupan  beragama dan keagamaan. Lebih-lebih dalam kehidupan kekinian, ajaran etika mutlak ditingkatkan disegala lini kehidupan.  Termasuk dalam pelaksanaan ritual  yadnya harus dilandasi dengan makna filosofis dan etika, sehingga makna ritual, makna filosifis dan makna etikanya menyatu yakni satyam sivam sumdharam. Ritual merupakan unsur yang dapat mewakili pengertian tersebut. Hal ini merupakan penyikapan bhatin yang mendalam dan pada hakikatnya sesaji/banten merupakan banyak hal. Bisa melambangkan sifat-sifat Tuhan seperti banten Dewa-dewi, Lis  Senjata, Banten Guru piduka, Banten Daksina Pejati, Banten Plagembal, Banten Bebangkit dan sebagainya. Disamping  tersebut banten juga  melambangkan kreatifitas manusia dalam  perjalnan hidupnya mencari  hakikat kebenaran. Banten juga  merupakan wujud cinta kasih dan pelepasan ikatan duniawi yang menjerat kehidupan manusia. Sebagai wakil ketinggian daya nalar manusia, untuk menyampaikan gagasan dan ide-ide dalam  melakukan komunikasi, baik diantara manusia, dengan alam lingkungan, maupun yang  bersikap transenden. Secara filsafat dinyatakan semakin tinggi daya nalar manusia, semakin mampu menampilkan gagasannya dan ide-idenya yang lahir dari  penyikapan pengalaman rohani yang  lebih  komunikatif, baik dilihat dari keanekaragaman bentuk, simbolis maupun keluasaan ataupun kedalaman makna. Filosofi ritual merupakan sarana konsentrasi, sarana pembersihan, sarana kesucian dan mengandung nilai estitika. Dan sangat perlu kita sadari mengapa kita beryadnya, tujuan melakukan yadnya, kualitas yadnya dan arti lambing yadnya. Sebagai manipestasi Ida Sang Hyang Widhi. Semua yadnya bhakti yang dilaksanakan sebagai peradaban hidup suci dan harmonis. Keharmonisan ini akan  menimbulkan  berbagai nalia seni, budaya dan tradisi menjadi akulturasi kehidupan dialektika agama dan budaya yang mengakar dalam masyarakat, dan ini lah yang sessungguhnya memutar dunia bisa bergerak sesuai dengan dharmanya. Dengan ritual yang tulus dan suci akan  memberikan kedamian bhatin serta alam beserta isinya menjadi harmoni.
MAKNA AYAM DALAM UPACARA AGAMA DAN KEAGAMAAN MASYARAKAT HINDU DI BALI Warta, I Nyoman
Widya Aksara Vol 23 No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.336 KB)

Abstract

Penelitian ini  merupakan penggabungan dari penelitian kepustakaan (library research) dengan pandangan filosofis di lapangan. Objek materialnya adalah simbol-simbol ayam dalam setiap upacara agama dan keagamaan masyarakar Hindu di bali, sedangkan obyek formalnya adalah filsafat agama. Perpaduan penelitian ini untuk memberikan suatu pemahaman baru atas konsepsi Masyarakat Hindu di bali  tentang makna simbol dan pentingnya bagi kehidupan umat manusia. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan  simbolisasi dalam tradisi ritual upacara agama dan keagamaan masyarakat Hindu. Secara lebih rinci, penelitian ini untuk menjawab pertanyaan tentang apa makna simbolisasi ayam dalam kehidupan agama dan keagamaan masyarakat Hindu di bali  dan bagaimana pengaruh penggunaan simbolisasi ayam dalam kehidupan beragama masyarakat Hindu. Pengungkapan atas makna yang terkandung dalam simbolisasi ayam tersebut untuk menunjukkan kuatnya hubungan antara agama dan kebudayaan dalam setiap tradisi dalam masyarakat Hindu . Makna yang terkandung dalam simbolisasi ayam menunjukkan tiga tingkatan simbol manusia, yaitu tingkatan etis, estetika dan religius. Simbolisasi ayam menunjukkan kecendrungan ke arah harmonisasi hubungan manusia baik yang bersifat horizontal imanen (harmonisasi sosial) dan vertikal transendental (hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa). Dalam mengungkapkan makna dalam setiap penggunaan ayam dalam upacara agama dan keagamaan tersebut, digunakan sebagai pendekatan, seperti deskripsi untuk mengungkap apa adanya tentang simbolisasi ayam. Interprestasi dan hermeneutika untuk memberikan penafsiran atas makna dalam penggunaan simbolisasi ayam serta heuristika yang digunakan untuk merumuskan pandangan hidup secara komprehensif dalam masyarakat Hindu.
PERAN WASI DALAM PEMBINAAN UMAT Warta, I Nyoman
Widya Aksara Vol 23 No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.056 KB)

Abstract

Wasi merupakan Rokhaniawan Hindu. Rokhaniawan artinya seseorang jiwanya telah disucikan. Karena itu sebagai rokhaniawan, seorang Wasi seyogyanya mendalami pengertian rokhaniawan, sehingga yang bersangkutan bisa menempatkan diri dan melaksanakan tugas pekerjaannya sesuai dengan tingkat kesuciannya. Puja pengastuti kita panjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kita berbagai kebahagiaan tiada hentinya. Sehingga kita dapat melaksanakan swadharma. Rokhaniawan artinya orang yang mempunyai kerokhaniawan, seorang wasi seyogianya mendalami dan meningkatkan kerokhaniawannya, sehingga yang bersangkutan bisa menenpatkan diri dan melaksanakan tugas pekerjaannya sesuai dengan tingkat kesuciannya. Wasi berdasarkan tingkatnya tergolong Ekajati. Supaya  dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka wasi perlu belajar kepada yang lebih tahu. Kitab suci Weda yang perlu dipelajari, hanya sebatas pengastawaan saja. Sedangkan upacara penyuciannya menjadi Wasi cukup hanya dengan upacara pewintenan. Upacara Pewintenan dapat dilakukan berulangkali. Jadi berbeda dengan upacara pediksaan yang hanya boleh dilakukan sekali dalam kehidupan. Dengan mengikuti upacara pewintenan seorang Wasi masih boleh bercukur, boleh bepergian sebagaimana layaknya anggota masyarakat biasa masih menpunyai tugas dan tanggung jawab dalam hubungan kemasyarakatan. Wasi tidak dibenarkan memakai alat pemujaan Sulinggih, juga tidak dibenarkan mempergunakan mudra dalam mepuja. Wasi memiliki sasana khusus yang tertuang dalam Lontar Kusuma Dewa, Sangkul Putih, Gegelaran Pinandita.
PURUSA DAN PRADANA SEBAGAI KONSEP KESETARAAN GENDER DALAM AGAMA HINDU Warta, I Nyoman
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 29 No 2 (2024): Widya Aksara
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v29i2.283

Abstract

The equality of Purusa and Pradana in its essence is to maintain the health of the universe and its contents. With their respective duties and functions, harmony is created. Likewise, the equality of men and women is created differently but in essence is the same. The understanding of gender or equality has become an important subject in various aspects of human life, including in the context of religion and spirituality. In Hinduism, the concept of gender is not only limited to biological differences between men and women, but also includes social structures, cultural norms, and expanded spiritual roles. Equality in the Hindu perspective reflects the complexity of human life, which is reflected in sacred texts, religious rituals, and daily practices. Gender issues in Hinduism have far-reaching implications in the understanding of gender roles in society and spiritual life. The concept not only encompasses the relationship between men and women in the context of family and society, but also involves the role of gods and goddesses who reflect different principles in the universe. Thus, the understanding of gender in Hinduism provides a rich view of the dynamics of human relationships with humans, humans with other life and humans with God (Brahman). The understanding of these positions contradicts the depiction of gender in Hinduism. Men are portrayed as protectors and women as providers of prosperity who are worshipped in the form of deities, and are even portrayed as transcending gender understanding in the exploration of social roles and sexuality. Thus, there is no aspect that distinguishes the position of men and women, both in their duties and responsibilities as human beings. The main difference between women and men is limited to biological differences, so the concept of gender is entirely a socio-cultural concept that applies in certain societies according to their nature or karmic purposes.
UPAYA PENCEGAHAN FUNDAMENTALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF HINDU Warta, I Nyoman
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 30 No 1 (2025): Maret
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v30i1.305

Abstract

Grounding fundamentalism in the perspective of Hinduism is a complex issue and requires in-depth analysis of the basic principles of universal Hindu teachings and how they are applied in modern life. Fundamentalism in the context of religion usually refers to rigid efforts to maintain a literal interpretation of the Holy Scriptures and traditions that have become traditional in life. In Hinduism, which has many branches of philosophy, beliefs, and practices that vary in diversity, the concept of fundamentalism faces its own challenges. Hindu teachings are inherently pluralistic, with texts such as the Vedas, Upanishads, Bhagavad Gita, and various commentaries from Hindu philosophers, offering room for broad and flexible interpretations. Thus, efforts to apply fundamentalism tend to be at odds with the essence of Hindu teachings which are tolerant and adaptive to changes in the times. This paper aims to examine how the concept of fundamentalism can emerge in the context of Hinduism, what factors influence its journey, and its impact on pluralism and harmony between religious communities in society. Through a historical, theological, and sociological approach, hopefully this article can provide insight into the dynamics between pluralistic Hindu teachings and fundamentalist tendencies that may develop in certain situations and will certainly face challenges that are not easy. From a Hindu perspective, efforts to avoid fundamentalism require a comprehensive strategy based on the basic principles of Hinduism, including tolerance, plurality, living in harmony, diversity in diversity, wasudhaiwa kutumbhakam, respecting humanism and ahimsa (non-violence). As an inclusive religion, Hinduism recognizes that there are various paths to spiritual freedom and universal truth. Seeing this reality, by understanding, practicing and thoroughly practicing the teachings of the Vedas to prioritize the importance of community peace and openness to differences, is one way to anticipate fundamentalism in Hinduism. The basis for preventing radicalism and extremist views are religious values ​​that emphasize the principles of tolerance, mutual respect, and respect for cultural and religious diversity. In addition, interfaith cooperation and dialogue are important means to foster a shared understanding of peace and harmony. In this sense, Hinduism offers a strong intellectual and ethical foundation to neutralize radicalism in all forms by promoting human brotherhood and universal morality.
TRI HITA KARANA SEBAGAI PELESTARI SEMESTA Warta, I Nyoman
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 30 No 2 (2025): Vol. 30, No. 2 September 2025
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v30i2.341

Abstract

The global ecological crisis characterized by environmental degradation, climate change, and biodiversity loss urges a need for holistic and sustainable alternative approaches. This paper examines Tri Hita Karana, a Balinese Hindu philosophy that offers a unique integration of spiritual, social, and ecological values ​​as a solution to environmental problems. Using qualitative methods with a cultural ecology approach, this study analyzes how the three main principles of Tri Hita Karana Parhyangan (human-God relationship), Pawongan (human-human relationship), and Palemahan (human-nature relationship)—contribute to ecosystem preservation in Bali. Parhyangan positions nature as a manifestation of the sacred Ida Sang Hyang Widhi, manifested through rituals such as Tumpek Uduh (vegetation) and Melasti (nature purification), as well as customary prohibitions (awig-awig) against the exploitation of forbidden forests. These principles instill a conservation ethic based on religious beliefs, protecting biodiversity organically. Pawongan strengthens communal collaboration in natural resource management, such as the subak system (a UNESCO-recognized traditional irrigation system) that ensures equitable water distribution and prevents ecological conflict. Meanwhile, Palemahan promotes environmentally friendly practices through traditional architecture, organic waste recycling, and coastal ecosystem restoration. The teachings of Tri Hita Karana are not only effective in maintaining Bali's ecological balance but also offer a globally relevant model of environmental ethics. However, this philosophy faces challenges from modernization, such as industrialization and mass tourism, which threaten the sustainability of local values. This suggests that integrating traditional wisdom such as Tri Hita Karana into development policies can be a transformative solution to the ecological crisis, emphasizing that humans are an integral part of, rather than masters of, the universe. These findings contribute to academic discussions on cultural ecology and sustainability, while also underscoring the importance of revitalizing local wisdom in responding to contemporary environmental challenges.