Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Konsep Self Efficacy pada Karakter Remaja dalam Pendidikan Agama Islam Amalia Kholiafatul Nissa; Abdul Majid; Siti Lailiyah
Jurnal Basicedu Vol 6, No 4 (2022): August Pages 5501-7663
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i4.3552

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mendefinisikan konsep Self-efficacy dalam karakter remaja; 2) mengetahui cara membentuk self-efficacy pada karakter remaja dalam pendidikan agama islam; 2)mengetahui faktor penghambat dan pendukung dari self-efficacy terhadap diri sendiri. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat kepustakaan/library research studi ini dilakukan dengan mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan penelitian berasal dari buku, jurnal-jurnl ilmuah, literature dan publikasi lain yang layak yang akan di teliti oleh penulis, dengan cara mendeskripsikan dan menguraikan. Hasil dari penelitian ini mengemukakan persoalan karakter remaja dalam kemampuan untuk memahami diri sendiri. Self-efficay sangat penting dalam mengukur kemampuan untuk memahami diri sendiri. Pendidikan agama islam memberikan kontribusi pada perubahan dan membentuk karakter empati pada remaja. Dalam proses pembentukan pembentukan karakter akan tertanam nilai berdasarkan ajaran Agama Islam.
School-Village-Family Collaboration in Strengthening Religious Moderation at Kaliputih Elementary School Siti Lailiyah; Raharjo; Mustopa; Atiqoh
EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan Vol. 24 No. 1 (2026): EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan
Publisher : Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32729/edukasi.v24i1.2461

Abstract

This study examines school-village-family collaboration in strengthening religious moderation at Kaliputih Elementary School. Previous studies on religious moderation in schools have mostly focused on curriculum, character education, and school culture, while the collaborative relationship between schools, village government, and families remains underexplored. This study used a qualitative case study design. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving school actors, village government representatives, and parents. The data were analyzed thematically to identify actor roles, collaboration mechanisms, and qualitative indicators of religious moderation practices. The findings show that the school internalizes moderation values through learning, teacher role modeling, and inclusive activities. The village government provides social legitimation through community-based activities and support for harmony. Families reproduce these values through parenting practices and daily habituation. The novelty of this study lies in explaining religious moderation as a collaborative practice across school, village, and family contexts. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji kolaborasi sekolah, desa, dan keluarga dalam memperkuat moderasi beragama di SDN Kaliputih. Kajian sebelumnya tentang moderasi beragama di sekolah umumnya berfokus pada kurikulum, pendidikan karakter, dan budaya sekolah, sedangkan hubungan kolaboratif antara sekolah, pemerintah desa, dan keluarga masih belum banyak dikaji. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan pihak sekolah, perwakilan pemerintah desa, dan orang tua. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi peran aktor, mekanisme kolaborasi, dan indikator kualitatif praktik moderasi beragama. Temuan menunjukkan bahwa sekolah menginternalisasi nilai moderasi melalui pembelajaran, keteladanan guru, dan kegiatan inklusif. Pemerintah desa memberi legitimasi sosial melalui kegiatan berbasis komunitas dan dukungan terhadap kerukunan. Keluarga mereproduksi nilai tersebut melalui pola asuh dan pembiasaan harian. Kebaruan penelitian terletak pada penjelasan moderasi beragama sebagai praktik kolaboratif lintas sekolah, desa, dan keluarga.
POLA PEMBELAJARAN FIKIH DALAM KITAB HASYIYAH  AL-SYEKH IBRAHIM AL-BAIJURI 'ALA  FATH AL-QARIB AL-MUJIB DI PONDOK PESANTREN MIFTAKHURROSYIDIN. Muchammad Masykur Aly Ghozali; Masykur Aly Ghozali; Siti Lailiyah
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 5 (2026): Juni
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v3i5.8010

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola pembelajaran fikih dalam kitab Hasyiyah al-Syekh Ibrahim Al-Baijuri 'Ala Fath al-Qarib al-Mujib di Pondok Pesantren Miftakhurrosyidin, mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam proses pembelajaran, serta menganalisis implikasi pembelajaran tersebut terhadap kemampuan santri. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pembelajaran fikih yang diterapkan bersifat komprehensif dan terstruktur melalui kombinasi metode bandongan, sorogan, dan munadzarah (Bahtsul Masail). Metode tersebut dipadukan dengan pendekatan kontekstual berupa demonstrasi praktik ibadah serta pemanfaatan referensi literatur klasik dan media digital seperti Maktabah Syamilah. Faktor pendukung pembelajaran meliputi kompetensi dewan asatidz dalam memahami kitab turats, adanya sistem tutor sebaya dari santri senior, dan ketersediaan referensi pendukung yang memadai. Adapun faktor penghambatnya meliputi kompleksitas bahasa dalam kitab hasyiyah, keterbatasan penguasaan ilmu alat sebagian santri, serta pengaruh informasi keagamaan instan dari media sosial yang kurang memiliki dasar keilmuan yang kuat. Pola pembelajaran tersebut memberikan implikasi positif terhadap peningkatan kemampuan qira'atul kutub, pemahaman terhadap illat hukum dan ikhtilaf ulama, kemampuan berargumentasi dalam forum Bahtsul Masail, serta ketepatan praktik ibadah santri dalam kehidupan sehari-hari.
MODEL PENANAMAN ILMU TAUHID PONDOK PESANTREN AL-ISTIQOMAH KEBUMEN MENGGUNAKAN METODE HAFALAN KITAB AQIDATUL AWWAM Ma'rifatun Khasanah; Ngarifin Shiddiq; Siti Lailiyah
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 4 (2026): Juli
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i4.8017

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh pentingnya penerapan metode pembelajaran tauhid yang efektif di lembaga pendidikan Islam tradisional guna memperkuat pemahaman akidah santri secara mendalam dan terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan perencanaan model penanaman ilmu tauhid melalui metode hafalan Kitab Aqidatul Awwam di Pondok Pesantren Al-Istiqomah Kebumen; (2) menganalisis pelaksanaan metode hafalan tersebut; serta (3) mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam penerapannya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode hafalan Kitab Aqidatul Awwam dilaksanakan secara sistematis melalui lima tahapan: bin-nadzhar (menyimak), lalaran (membaca bersama), tahfidz (hafalan mandiri), sema'an (setoran individu), dan penjelasan makna. Santri dinyatakan lulus kurikulum tauhid dasar apabila mampu menyetorkan seluruh 57 bait kitab secara lancar (itqon) di hadapan ustadzah. Faktor pendukung keberhasilan meliputi kedisiplinan santri, peran aktif ustadzah, dan lingkungan pesantren yang kondusif. Faktor penghambat berupa keterbatasan waktu tatap muka dan perbedaan kemampuan hafalan antar-santri. Metode ini berkontribusi signifikan dalam menginternalisasikan nilai-nilai tauhid dan membentuk karakter santri yang berlandaskan kesadaran muraqabah.