Abstrak Di Indonesia remaja dihadapkan pada tiga beban gizi yaitu gizi kurang, gizi lebih dan kekurangan zat gizi mikro. Status gizi remaja yang dapat diketahui melalui perhitungan Indeks Masa Tubuh (IMT), banyak faktor yang memiliki andil dalam menentukan atau membentuk status gizi remaja. Aktifitas fisik yang minim, perubahan pola makan, kebiasaan sarapan, asupan gizi, body image/citra diri memiliki andil di dalamnya. Semakin banyaknya jenis makanan siap saji dengan berbagai macam variasi semakin menambah daftar remaja putri yang memiliki status gizi yang belum optimal. Demikian halnya dengan sarapan, yang bagi masyarakat Indonesia masih belum menjadi kebiasaan. Dengan tidak sarapan memiliki dampak terhadap proses pembelajaan di sekolah, menurunkan aktifitas fisik menjadi gemuk dan meningkatkan kebiasaan jajan yang tidak sehat.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif, dengan rancangan observasional analitik menggunakan desain cross sectional.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi putri di SMK Tarunatama Semarang. Sampel dan teknik sampling menggunakanteknik purposive sampling, dengan besar sampel 30 orang. Analisis data dengan menggunakan uji Spearman Rank dengan bantuan SPSS.Kesimpulandari penelitianini adalah ada hubungan antara kebiasaan sarapan pagi dengan IMT dengan nilai signifikansi 0,025 pada remaja putri di SMK Tarunatama Semarang. Sedangkan pada kebiasaan mengkonsumi makanan cepat saji dengan IMT diketahui tidak ada hubungan yang signifikan dengan nilai signifikansi -0,193.KataKunci:Sarapan, makanan cepat saji, IMT Abstract In Indonesia, adolescents are faced with three nutritional burdens, namely undernutrition, overnutrition and micronutrient deficiencies. Adolescent nutritional status which can be known through the calculation of Body Mass Index (BMI), many factors have a role in determining or shaping the nutritional status of adolescents. Minimal physical activity, changes in diet, breakfast habits, nutritional intake, body image / self-image have a hand in it. The increasing number of types of ready-to-eat food with various variations further adds to the list of young women who have nutritional status that is not optimal. Likewise with breakfast, which for the people of Indonesia is still not a habit. Not having breakfast has an impact on the learning process at school, reducing physical activity to become fat and increasing unhealthy eating habits.This research is a type of quantitative research, with an analytical observational design using a cross sectional design. The population in this study were all female students at Tarunatama Vocational School Semarang. The sample and sampling technique used purposive sampling technique, with a sample size of 30 people. Data analysis using the Spearman Rank test with the help of SPSS.The conclusion of this study is that there is a relationship between breakfast habits and BMI with a significance value of 0.025 in young women at SMK Tarunatama Semarang. While the habit of consuming fast food with BMI is known to have no significant relationship with a significance value of -0.193Keywords: Breakfast, fast food, BMI