Abd. Karim
Badan Riset dan Inovasi Nasional

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ASSILESSURENG AND ASSIJINGENG: THE CONCEPT OF RELIGIOUS MODERATION TOMANURUNGE RI BACUKIKI Faisal Bachrong; Abd. Karim
Al-Qalam Vol 28, No 1 (2022)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v28i1.1031

Abstract

Religious Moderation is a concept that will bring peace to society. Religious moderation can be an instrument to prevent conflict and even solve social problems in society. Social problems often occur because society is very heterogeneous. Differences in ethnicity, race, religion, and culture are often social problems born of this heterogeneity. However, conflicts can be avoided by using moderate tools. One of them is using local wisdom as a unifying tool for the community. In addition, the values of religious moderation can be used to shape civil society. This article examines the values of religious moderation in the concepts of Assilessureng and Assijigeng initiated by Tomanurunge ri Bacukiki La Bangenge. Thus, the collaboration between local values and religious moderation forms a frame to limit conflicts in society. This article uses a qualitative method. Data were obtained by tracing local manuscripts and interviews with the community.
Suara dari Masa Silam: Berdirinya Madrasah Ibtidayyah Negeri 2 Tanah Toraja 1969-1980 Ira Hadrayani; Abd. Karim
EDUCANDUM Vol 8 No 1 (2022): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Madrasah di tengah pemukiman masyarakat Nasrani merupakan kondisi “spesial”. Dibutuhkan dukungan dari pemerintah dan masyarakat. Kondisi inilah yang terjadi pada awal berdirinya Madrasah Ibtidayyah Negeri 2 Tanah Toraja. Mendirikan sekolah berciri Islam, terutama di daerah minoritas muslim bukan perkara mudah. Diperlukan perjuangan, kerja keras, dan tekad yang kuat. Studi ini berusaha menguak masa lalu sekolah tersebut. Dibangun pada tahun 1969, tidak lantas membuatnya menjadi sekolah yang diterima seluruh lapisan masyarakat. Berbagai macam penolakan menjadi pengiring dalam membangun sekolah tersebut. Namun pada akhirnya Madrasah Ibtidayyah menjadi simbol pluralitas dalam masyarakat Salubarani Tanah toraja. Bahwa keberagaman bukanlah menjadi penghalang dalam memanusiakan manusia dan membangun pendidikan. Artikel ini menggunakan metode penelitian sejarah lisan dengan teknik wawancara, pengamatan langsung dan penelusuran dokumen madrasah.