Christine Sri Widiputranti
Jalan Timoho No 317 Yogyakarta Telp. (0274) 561971

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

MODEL PENGELOLAAN AIR BERSIH DESA DI BANTUL YOGYAKARTA -, Hardjono; Dwi Astuti, Nuraini; Widiputranti, Christine Sri
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa
Publisher : Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakArtikel ini bertujuan mendeskripsikan model pengelolaan air minum desa dan permasalah yang dihadapinya. Penelitian dilakukan di wilayah Pucung Desa Wukirsari Bantul Yogyakarta. Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana pengelolaan  ditinjau dari aspek kelembagaan, ketersediaan air, jumlah pengguna, kebutuhan air bersih, pedoman yang mengatur dan manajemen keuangannya. Jenis penelitian survai dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Subyek penelitian kepala keluarga. Hasil penelitian Pengelolaan Air Bersih (PAB) Pucung dikelola berbasis masyarakat (tipe C), namun belum melibatkan pelanggan dalam pengelolaannya. Ketersediaan air sangat cukup, tetapi kebutuhan pelanggan belum terpenuhi secara maksimal. Apabila PAB Pucung dapat beroperasi secara efektif dan efisien masyarakat Pucung tidak akan kekurangan air bersih karena dalam satu bulan masih tersedia 13.445 m3, yang setara  dengan pemenuhan kebutuhan air bersih rata–rata 259 jiwa/bulan.AbstractThis article aims to describe a village water management model and the problems it faces. The study was conducted in the area of ​​Bantul, Yogyakarta, to be exactly in Wukirsari village. The article studies water management in the aspect of institutional management, water availability, number of users, the need for clean water, and guidelines governing financial management. The results of the study reveals that the water is managed by the community (type C), and do not involve the customer in its management. Though water is abundant, the management does not meet customer needs to the fullest. If PAB Pucung can operate effectively and efficiently Pucung people will not lack of clean water because of lack of clean water is still available in a month 13 445 m3, which is equivalent to a clean water supply on average 259 people/month.© 2013 Universitas Negeri Semarang
MODEL PENGELOLAAN AIR BERSIH DESA DI BANTUL YOGYAKARTA -, Hardjono; Dwi Astuti, Nuraini; Widiputranti, Christine Sri
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i2.2737

Abstract

AbstrakArtikel ini bertujuan mendeskripsikan model pengelolaan air minum desa dan permasalah yang dihadapinya. Penelitian dilakukan di wilayah Pucung Desa Wukirsari Bantul Yogyakarta. Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana pengelolaan  ditinjau dari aspek kelembagaan, ketersediaan air, jumlah pengguna, kebutuhan air bersih, pedoman yang mengatur dan manajemen keuangannya. Jenis penelitian survai dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Subyek penelitian kepala keluarga. Hasil penelitian Pengelolaan Air Bersih (PAB) Pucung dikelola berbasis masyarakat (tipe C), namun belum melibatkan pelanggan dalam pengelolaannya. Ketersediaan air sangat cukup, tetapi kebutuhan pelanggan belum terpenuhi secara maksimal. Apabila PAB Pucung dapat beroperasi secara efektif dan efisien masyarakat Pucung tidak akan kekurangan air bersih karena dalam satu bulan masih tersedia 13.445 m3, yang setara  dengan pemenuhan kebutuhan air bersih rata–rata 259 jiwa/bulan.AbstractThis article aims to describe a village water management model and the problems it faces. The study was conducted in the area of ??Bantul, Yogyakarta, to be exactly in Wukirsari village. The article studies water management in the aspect of institutional management, water availability, number of users, the need for clean water, and guidelines governing financial management. The results of the study reveals that the water is managed by the community (type C), and do not involve the customer in its management. Though water is abundant, the management does not meet customer needs to the fullest. If PAB Pucung can operate effectively and efficiently Pucung people will not lack of clean water because of lack of clean water is still available in a month 13 445 m3, which is equivalent to a clean water supply on average 259 people/month.© 2013 Universitas Negeri Semarang
Respon dan Keberdayaan Petani dalam Program Corporate Social Responsibility PT Pertamina di D.I. Yogyakarta Widiputranti, Christine Sri
Suluh Pembangunan : Journal of Extension and Development Vol 2 No 02 (2020): Suluh Pembangunan : Journal of Extension and Development
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jsp.Vol2.No2.2020.69

Abstract

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan etika bisnis perusahaan yang diimplementasikan dalam suatu program untuk meningkatkan sosial ekonomi masyarakat sekitar perusahaan. Dalam penelitian ini, PT Pertamina Terminal Bahan Bakar Minyak Rewulu melaksanakan kegiatan CSR guna meningkatkan keberdayaan masyarakat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan/ pengaruh antara aktivitas program CSR dengan respons petani, dan respons dengan keberdayaan petani. Penelitian dilaksanakan di Desa Argomulyo Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul yang merupakan area sekitar perusahaan Pertamina. Penelitian dilakukan dengan metode survey, dengan mengambil sampel sejumlah 22 orang petani dengan teknik Simple Random Sampling. Analisis dilakukan secara deskriptif dan statistik non parametrik (korelasi spearman) untuk melihat hubungan antara respons petani tarhadap program CSR dengan keberdayaan petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara aktivitas program CSR dengan respon petani, juga korelasi positif antara respon petani dengan tingkat keberdayaan. Semakin tinggi aktivitas program pertanian organik maka akan meningkatkan respon petani dalam bertani organik. CSR dinilai meningkatkan semangat kerja yang menyebabkan peningkatkan keberdayaan petani, yakni mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, mengatasi problema cara berproduksi, pengolahan, dan pengembangan usaha. Kata kunci: Corporate Social Responsibility, respons, keberdayaan, petani
MODEL PENGELOLAAN AIR BERSIH DESA DI BANTUL YOGYAKARTA -, Hardjono; Dwi Astuti, Nuraini; Widiputranti, Christine Sri
Komunitas Vol 5, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i2.2737

Abstract

AbstrakArtikel ini bertujuan mendeskripsikan model pengelolaan air minum desa dan permasalah yang dihadapinya. Penelitian dilakukan di wilayah Pucung Desa Wukirsari Bantul Yogyakarta. Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana pengelolaan  ditinjau dari aspek kelembagaan, ketersediaan air, jumlah pengguna, kebutuhan air bersih, pedoman yang mengatur dan manajemen keuangannya. Jenis penelitian survai dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Subyek penelitian kepala keluarga. Hasil penelitian Pengelolaan Air Bersih (PAB) Pucung dikelola berbasis masyarakat (tipe C), namun belum melibatkan pelanggan dalam pengelolaannya. Ketersediaan air sangat cukup, tetapi kebutuhan pelanggan belum terpenuhi secara maksimal. Apabila PAB Pucung dapat beroperasi secara efektif dan efisien masyarakat Pucung tidak akan kekurangan air bersih karena dalam satu bulan masih tersedia 13.445 m3, yang setara  dengan pemenuhan kebutuhan air bersih rata–rata 259 jiwa/bulan.AbstractThis article aims to describe a village water management model and the problems it faces. The study was conducted in the area of ??Bantul, Yogyakarta, to be exactly in Wukirsari village. The article studies water management in the aspect of institutional management, water availability, number of users, the need for clean water, and guidelines governing financial management. The results of the study reveals that the water is managed by the community (type C), and do not involve the customer in its management. Though water is abundant, the management does not meet customer needs to the fullest. If PAB Pucung can operate effectively and efficiently Pucung people will not lack of clean water because of lack of clean water is still available in a month 13 445 m3, which is equivalent to a clean water supply on average 259 people/month.© 2013 Universitas Negeri Semarang
PEMBERDAYAAN PETANI AGAR MAMPU MENGEMBANGKAN AGRIBISNIS (THE ENABLENSES OF FARMER TO BE ABLE TO DEVELOP AGRIBISNIS) Widiputranti, Christine Sri
Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. 3 No. 1 (2007): Juli
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usually peasants have ability to increase agricultural productivity, but weakness in marketing, so they do not increase their income. More over, there are many peasants that always think risk minimization and not profit maximization. In order to become farmer that have ability to develop agribusiness, peasants empowering can be carried out by farmer gives agricultural extension to peasants.
PEMBERDAYAAN PETANI MISKIN DI PEDESAAN: ANALISIS PENGALAMAN PROGRAM SLT DAN IDT (EMPOWERING POOR FARMER IN VILLAGES: ANALYSIS OF EXPERIENCE OF SLT AND IDT PROGRAMME) Widiputranti, Christine Sri
Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. 2 No. 1 (2006): Juli
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

There are two events that almost similar, first, economy crisis in 2005 because increasing oil price almost 100 percent, second, economy crisis in 1997 because monetary situation. In 2005, government carried out SLT programme for solving poverty, and in 1997 government carried out IDT programme. SLT programme was not followed by empowering poor farmer, but IDT programme was followed by empowering poor farmer. IDT programme gave capital for business for instance livestock, and gave livestock extension and guidance. The result of empowering poor farmer were, there were increasing income level and saving ability of poor farmer.