M. Yaser Arafat
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BUDAYA KHATAMAN AL-QUR?AN DI KALANGAN MUHAMMADIYAH M. Yaser Arafat; Siti Mupida; Dwi Abu Taukhid
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i2.1931

Abstract

Abstract; This article aims to describe the khataman Al-Qur?an among the Muhammadiyah community. Khataman Al-Qur?an is one of the various forms of Islamic culture at Indonesia which often held by Muslims who are attached to accomodative towards local culture, and non puritan. This study will examine the culture of khataman Al-Qur?an among the Muhammadiyah, an Islamic organization at Indonesia wich is know to be closely associated with puritanism. The data were abtained by observation, interview, and literature review. This study found that khataman Al-Qur?an among Muhammadiyah is a new culture. Khataman Al-Qur?an takes the form in the implementation of the Al-Qur?an recitation worship which only ?started? in the last two decades. Validity of this culture is still being debated in Muhammadiyah. Usually, the khataman Al-Qur?an is held in the authority of Muhammadiyah. Meanwhile, khataman Al-Qur?an among Muhammadiyah community is very quiet from the influence of local culture. However, Muhammadiyah actually made a new khataman Al-Quran culture that corresponds to the times, such as khataman in the context of birthdays.Keywords: Khataman Al-Qur?an, Muhammadiyah, New Culture.Abstrak; Artikel ini berbicara tentang budaya khataman Al-Qur?an di kalangan warga Muhammadiyah. Khataman Al-Qur?an merupakan satu di antara berbagai bentuk kebudayaan Islam di Indonesia. Hanya saja, khataman Al-Qur?an sering diadakan oleh kalangan umat Islam yang lekat dengan sikap akomodatif terhadap budaya lokal alias non-puritan. Penelitian ini akan mengkaji budaya khataman Al-Qur?an yang dilakukan oleh warga Muhammadiyah, sebuah organisasi Islam di Indonesia yang dikenal lekat dengan identitas puritanisme. Data dalam penelitian ini didapatkan dengan metode observasi, wawancara, dan tinjauan kepustakaan. Penelitian ini menemukan bahwa khataman Al-Qur?an di kalangan warga Muhammadiyah masih termasuk budaya baru. Di kalangan warga Muhammadiyah, khataman Al-Qur?an mengambil bentuk dalam pelaksanaan ibadah pembacaan Al-Qur?an yang baru ?dimulai? sekitar dua dekade terakhir. Biasanya khataman Al-Qur?an digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun Muhammadiyah atau lembaga pendidikan yang berada di bawah otoritas Muhammadiyah. Sedangkan bentuk budaya khataman warga Muhammadiyah sangat sepi dari pengaruh budaya lokal.Kata kunci: Khataman Al-Qur?an, Muhammadiyah, Budaya Baru.?
Islam-Lokal dan Lokal-Islam: Menonton Ujang Bustomi dan Om Hao di Youtube pada Masa Pandemi M. Yaser Arafat; Abd. Aziz Faiz; M Mujibuddin
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i1.2809

Abstract

This article aims to describe religious expression on YouTube during the Covid 19 pandemic. Religious activities were relatively limited to social restriction policies with all their dynamics. Pandemic encouraged some people, they are Ujang Busthomi and Om Hao, to express their religiosity in real and on YouTube. The type of this research is qualitative with the data search method using YouTube observations on Kang Ujang Busthomi, account of Ujang Busthomi, and Kisah Tanah Jawa, account of Om Hao. This article finds that the pandemic situation encourages religious actors to express their religious expression awareness through YouTube. The variety of religious expression on YouTube, base on Ujang Busthomi and Om Hao account, revolves around two model. First, the expression of Islam-local style. Second, expression of local-Islam style. [Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan ekspresi keagamaan di YouTube pada masa pandemi. Selama pandemi, pembatasan sosial dengan segala dinamikanya mendorong sebagian orang mengekspresikan religiusitasnya tidak terbatas di ruang-ruang sosial nyata, namun juga di media sosial seperti YouTube. Keterbukaan ini mendorong munculnya ekspresi keagamaan dari tokoh penekun dunia supranatural, Ujang Busthomi dan Om Hao, yang sebelumnya lebih sering diungkapkan tidak secara terbuka. Data artikel ini didapatkan dengan menggunakan observasi akun YouTube Kang Ujang Busthomi dan Kisah Tanah Jawa. Penelitian ini menemukan bahwa situasi pandemi mendorong umat beragama mengekspresikan dimensi keagamaan dari kehidupan mereka secara lebih terbuka dan virtual. Adapun ekspresi keagamaan dua tokoh yang dikaji dapat dibaca menjadi dua model. Pertama, ekspresi keagamaan Islam-lokal. Kedua, ekspresi keagamaan lokal-Islam.]