Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Internalisasi Nilai Kesetaraan Gender dalam Pendidikan di Pondok Pesantren Al Iman Ponorogo Lutfiana Dwi Mayasari
Tarbawi: Journal of Islamic Education Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Riyadlotul Mujahidin Ngabar Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55380/tarbawi.v4i2.438

Abstract

Pondok Pesantren al-Iman Ponorogo adalah salah satu pesantren yang memberikan kesempatan, akses, partisipasi dan kontrol yang sama antara santri perempuan dan santri laki-laki. Hal ini terbukti dengan banyaknya alumni putra maupun putri yang berkiprah diranah publik, dan banyaknya santri yang aktif mengikuti kegiatan intelektual hingga mancanegara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa model-model internalisasi nilai nilai mubadalah yang dibentuk di Pondok Pesantren Al Iman, serta menganalisis peran Pondok Pesantren al-Iman Ponorogo dalam mewujudkan Islam rahmatan lilalamin untuk semua gender. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dalam bentuk field reseach dengan metode deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Al Iman menginternalisasi konsep mubadalah melalui penerapan panca jiwa, meliputi jiwa keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwwah Islamiyah, dan kebebasan, sesuai dengan amanat Rasulullah SAW untuk tidak membedakan antara perempuan dan laki-laki dalam memperoleh kesempatan pendidikan. Pondok Pesantren al-Iman Ponorogo berperan penting untuk membumikan Islam yang rahmatan lilalamin untuk semua gender.
Religious Moderation in Constantinople in the Resolution of Political Conflicts in the 14th Century Muhimmatul Mukaromah; Lutfiana Dwi Mayasari; Shereeza Mohamed Saniff
AL-TAHRIR Vol 23 No 2 (2023): Islamic Studies
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/altahrir.v23i2.6005

Abstract

The Islamic conquest of Constantinople in the 14th century is a captivating historical episode in history that continues to intrigue historians. It stands out due to the involvement of two major world religions - Islam and Christianity. Furthermore, this conquest marked the end of the Roman civilization. One notable aspect of this conquest was the harmonious relationship between Muslims and Christians, which persisted before and after the event. This study aims to explore the implementation of religious moderation in Constantinople to resolve political conflicts. Adopting a historical methodology, the research collects data through extensive documentation and literature studies, employing a socio-political approach. The findings highlight that religious moderation played a crucial role in conflict resolution during the 14th century in Constantinople. The concept of religious moderation was not only applied before the conquest, but also after it. Before the conquest, the value of moderation was demonstrated through peaceful negotiations between the Islamic kingdom and the Catholic prelate in Rome. Several treaties were agreed upon, emphasizing the importance of faith and peaceful dialogue over resorting to military confrontation. Following the conquest, Sultan Muhammad al-Fatih exemplified religious moderation by engaging in negotiations with the inhabitants of Hagia Sophia. They agreed an agreement allowing Christians to continue practicing their faith despite being under Islamic rule. Additionally, al-Fatih displayed respectful treatment towards the prelate and Christian warlords, further exemplifying the value of moderation. The findings of this study shed light on the significance of religious moderation in resolving conflicts and offer a fascinating insight into the history of Constantinople during this period
Kebijakan Pembatasan Poligami oleh Mahkamah Agung dan Analisis Keberpihakan Bagi Perempuan Lutfiana Dwi Mayasari; Akmal Adi Cahya; Nur Triyono
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v4i1.6508

Abstract

Selama ini poligami dipahami sebagai bagian dari perbuatan yang dianjurkan karena disebut sebagai sunnah rasul. Tidak sedikit penceramah yang menganjurkan pelaksanaan poligami dan kerapkali-baik sengaja ataupun tidak-memojokkan wanita untuk menerima dimadu oleh suaminya. Paham ini hidup dan secara tidak sadar diterima sebagai nilai yang hidup (living law) dalam masyarakat muslim Indonesia. Padahal terdapat pendapat lain yang menempatkan poligami sebagai perbuatan mubah belaka. Beberapa madzhab bahkan mensunnahkan agar suami cukup menikahi satu orang istri saja, karena poligami cenderung akan menyakiti perempuan. Pendapat fiqh inilah yang melatarbelakangi Mahkamah Agung menerbitkan petunjuk teknis dan sejumlah Sema berkaitan dengan praktik poligami. Melalui medium tersebut, diberikan jaminan kepastian hukum bagi istri untuk bersuara di depan sidang serta mempertahankan hak-haknya atas harta dalam perkawinan. Poligami liar juga telah dilarang untuk disahkan serta sejumlah hak keperdataan antara suami dan istri tidak diakui di depan hukum. Mahkamah Agung tengah menggunakan hukum (law as tool of social engineering) untuk menghidupkan pendapat-pendapat fiqh yang berpihak pada perlindungan perempuan dan sedikit demi sedikit diharapkan dapat mengikis pemahaman fiqh yang cenderung menegasikan kedudukan perempuan.
Relevansi Konsep Kesetaraan Gender Dengan Nilai-Nilai Pendidikan Islam Menurut Husein Muhammad Dan M. Quraish Shihab Lutfiana Dwi Mayasari; Juwita Eka Prasasti
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.9649

Abstract

Kesetaraan gender dalam pendidikan Islam merupakan sesuatu yang urgen guna mengembangkan masyarakat yang inklusif dan adil. Budaya patriarki yang ada di masyarakat menjadikan perempuan dipandang sebagai manusia kelas dua yang tidak memiliki kesamaan hak dengan laki-laki. Dalam konteks mendapatkan hak, seharusnya perempuan memiliki hak yang sama terlebih dalam hak mendapatkan pendidikan. Karena itu, peneliti bertujuan untuk menganalisis bagaimana relevansi konsep kesetaraan gender dengan nilai-nilai pendidikan islam. Metode yang digunakan adalah penelitian ini adalah kepustakaan (library research), dengan mengacu pada karya-karya penting kedua tokoh yaitu "Islam Agama Ramah Perempuan, Perempuan Islam dan Negara" karya Hussein Muhammad dan "Perempuan" karya M. Quraish Shihab. Adapun teknik analis data, peneliti menggunakan teknik kajian isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pemikiran Husein Muhammad dan M. Quraish Shihab, kesetaraan gender merupakan ajaran esensial dalam Islam karena didalamnya terdapat penghormatan terhadap manusia. Hak dan kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan berlaku di berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Mereka meyakini bahwa konsep kesetaraan gender sesuai dengan nilai-nilai pendidikan Islam, seperti nilai amaliyah (praktik), khuluqiyah (akhlak), dan i'tiqodiyah (keyakinan). Kata Kunci : Gender, Kesetaraan Gender, Nilai-nilai Pendidikan Islam