Keterlambatan dalam pelaksanaan proyek konstruksi dapat memberikan dampak signifikan terhadap pembengkakan biaya dan perpanjangan waktu penyelesaian. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengendalian yang efektif, salah satunya melalui penerapan metode crashing. Metode ini dipilih karena memiliki keunggulan berupa fleksibilitas dalam pelaksanaan percepatan secara bertahap, sehingga memungkinkan penyesuaian terhadap biaya dan hasil yang diperoleh tanpa memerlukan investasi besar di awal seperti metode percepatan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aktivitas pada lintasan kritis, menganalisis perubahan biaya dan durasi proyek sebelum dan sesudah percepatan, serta menentukan kombinasi waktu dan biaya yang paling optimal. Data penelitian diperoleh melalui data sekunder dan studi literatur yang relevan dengan lokasi proyek. Hasil analisis menunjukkan bahwa aktivitas pada lintasan kritis meliputi pekerjaan persiapan dan pekerjaan struktur lantai 1 hingga lantai 8. Alternatif percepatan yang paling efisien adalah penambahan waktu kerja lembur selama 1 jam pada aktivitas kritis. Penerapan strategi ini menyebabkan peningkatan biaya proyek dari Rp66.044.958.000 menjadi Rp66.517.764.847, namun mampu mengurangi durasi pelaksanaan dari 329 hari menjadi 278 hari. Dengan demikian, terjadi percepatan waktu sebesar 51 hari dibandingkan kondisi aktual, serta 32 hari lebih cepat dari rencana awal selama 310 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode crashing melalui penambahan jam kerja lembur efektif dalam mengoptimalkan waktu pelaksanaan proyek dengan peningkatan biaya yang masih dapat dikendalikan.