The Menyikhang Tendi tradition is a hereditary custom passed down from ancestors to the present generation. The meaning of the term is metaphorical; it serves as an expression of longing and profound sorrow over the loss of a loved one. This study aims to examine: (1) the community’s interpretation of the Menyikhang Tendi tradition in Tanah Bara Village, Gunung Meriah District, Aceh Singkil Regency; and (2) the actual practice of the Menyikhang Tendi tradition in the local context. This research employs a qualitative method using interviews, observations, and documentation. Data analysis was conducted through data collection, data presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that: (1) the symbolic meaning of the Menyikhang Tendi tradition is to help the grieving family of the deceased not fall into deep and prolonged sorrow; and (2) the ritual is usually performed after the Islamic funeral rites—bathing, shrouding, and before the burial. The body is brought to the front yard of the house, where the community gathers to listen to a speech by an imam or ustadz, who conveys an apology on behalf of the deceased. Afterward, the family of the deceased walks underneath the coffin in seven clockwise rotations, starting from the left side, without looking upward and wearing a head covering or long cloth as a sign of respect and spiritual humility. Keywords: Menyikhang Tendi, local tradition, Aceh Singkil, Islamic funeral, cultural grief expression, symbolic procession Abstrak: Tradisi Menyikhang Tendi merupakan kebiasaan turun-temurun yang diwariskan dari para leluhur hingga generasi saat ini. Istilah ini memiliki makna kiasan, yakni sebagai ungkapan rasa rindu dan duka yang mendalam atas kepergian orang yang dicintai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji: (1) bagaimana pemaknaan masyarakat terhadap tradisi Menyikhang Tendi di Kampung Tanah Bara, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil; dan (2) bagaimana praktik tradisi Menyikhang Tendi dilakukan dalam konteks lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahap pengumpulan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) makna simbolik dari tradisi Menyikhang Tendi adalah untuk membantu keluarga almarhum agar tidak terlalu larut dalam kesedihan yang mendalam; dan (2) praktik ritual ini biasanya dilakukan setelah kewajiban keagamaan terhadap jenazah dilaksanakan, seperti memandikan dan mengkafani. Jenazah kemudian dibawa ke halaman depan rumah, tempat masyarakat berkumpul untuk mendengarkan ceramah dari imam atau ustaz yang menyampaikan permohonan maaf atas nama almarhum. Setelah itu, keluarga almarhum berjalan di bawah keranda jenazah sebanyak tujuh kali putaran searah jarum jam, dimulai dari sisi kiri. Selama prosesi ini, tidak diperbolehkan melihat ke atas dan wajib mengenakan penutup kepala atau kain panjang sebagai bentuk penghormatan dan kerendahan hati secara spiritual. Kata kunci: Menyikhang Tendi, tradisi lokal, Aceh Singkil, pemakaman Islam, ekspresi budaya duka, prosesi simbolik.