Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

EDUKASI KANKER PAYUDARA DAN DETEKSI DINI PADA KADER WANITA KELURAHAN TOMANG Chrismerry Song
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v4i2.12692

Abstract

Breast cancer is the most common cancer in women. In Indonesia, the incidence of breast cancer is 42.1 per 100,000 population with an average death rate of 17 per 100,000 population. Age is a major risk factor for breast cancer. Incidence will increase as a person ages, but now, breast cancer is starting to be common at young age. Treatment cost is very large, so health promotion and early detection are very important. Early detection can be done with BSE (Breast Self Exam). Health education is one way to increase knowledge and BSE training can make breast cancer found at an early stage so morbidity and mortality can be reduce. There were 47 PKK administrators and female cadres of Tomang Village participated. Respondents ages 22-76 years with a mean of 48 years. Most of the participants thought the material was easy to understand, as expected, information conveyed was clear, speaker mastered the topic and could answer questions well and clearly, discussions helped improve participants' understanding, time allocation was sufficient, and this counseling was useful. Most of the participants also can do BSE after counseling and will teach BSE to other residents. There was an increase in the level of knowledge of participants after the counseling. It is hoped that through this activity, breast cancer cases can be known more quickly so that they can be treated as soon as possibleABSTRAK:Kanker payudara merupakan kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di dunia dan di Indonesia. Di Indonesia angka kejadian kanker payudara 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk. Usia merupakan faktor risiko mayor terjadinya kanker payudara, dengan meningkatnya usia insiden kanker payudara meningkat, namun makin sering ditemukan penderita kanker payudara berusia muda. Biaya pengobatan kanker payudara sangat besar sehingga promosi kesehatan dan deteksi dini menjadi sangat penting. Deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan dengan SADARI. Edukasi kesehatan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan tentang kanker payudara dan pelatihan cara melakukan SADARI dapat membuat kanker payudara ditemukan dalam stadium dini sehingga dapat menurunkan morbiditas dan mortalitasnya. Penyuluhan diikuti 47 orang pengurus PKK dan kader wanita Kelurahan Tomang secara daring. Rentang usia responden adalah 22 – 76 tahun dengan rata-rata 48 tahun. Hasil kuesioner didapatkan sebagian besar peserta berpendapat materi mudah dipahami, sesuai harapan, informasi yang disampaikan jelas, pembicara menguasai topik serta dapat menjawab pertanyaan dengan baik dan jelas, diskusi membantu meningkatkan pemahaman peserta, alokasi waktu penyampaian materi maupun diskusi mencukupi, dan penyuluhan ini bermanfaat. Sebagian besar peserta dapat melakukan SADARI setelah penyuluhan dan akan mengajarkan SADARI kepada warga Tomang lainnya. Terlihat adanya peningkatan tingkat pengetahuan peserta setelah penyuluhan. Diharapkan melalui pengenalan tanda-tanda kanker payudara, SADARI, dan rujukan yang tepat, kasus kanker payudara dapat diketahui lebih cepat sehingga mendapatkan penanganan sesegera mungkin
Prevalensi enterobiasis di Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 1 Jakarta Timur periode Juli-November 2016 Jeinie Pricylia Yusuf; Chrismerry Song
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i2.3833

Abstract

Enterobiasis sering menginfeksi anak – anak usia prasekolah dan sekolah, penularannya sangat mudah terjadi pada seluruh anggota keluarga, penghuni panti asuhan, asrama, dan di tempat-tempat berkumpulnya orang banyak dalam waktu yang lama. Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 1 adalah sebuah panti asuhan yang padat penghuni dengan jumlah 104 anak asuh dengan rentang usia prasekolah - sekolah. Kondisi yang demikian merupakan faktor resiko penyebaran infeksi enterobiasis mudah terjadi, namun belum ada data mengenai infeksi enterobiasis pada panti tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi Enterobiasis di Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 1 Kelurahan Klender, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jenis penelitian deskriptif. Sampel yang digunakan sebanyak 104 sampel dipilih secara consecutive non-random sampling. Data diperoleh dengan pengambilan sampel dengan teknik anal swab pada responden dan diperiksa langsung di bawah mikroskop cahaya. Prevalensi Enterobiasis dari 104 sampel di Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 1 kelurahan Klender, kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur adalah 53,8%.
Hubungan status infeksi Askariasis dengan status gizi anak di Komunitas Sahabat Anak area Jakarta Barat periode 2015–2016 Rendy Singgih; Chrismerry Song
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i1.5857

Abstract

Infeksi kecacingan merupakan salah satu penyebab gizi buruk pada anak. Subjek penelitian terdiri dari 60 anak. Studi dilakukan dengan pengambilan sampel tinja, pengukuran tinggi, berat badan dan umur anak. Kemudian dilakukan pemerisaan status infeksi dan dihubungkan dengan status gizi. Status gizi ditentukan dengan indikator BB/TB untuk anak di bawah 5 tahun dan IMT/U untuk anak berusia diatas 5 tahun. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 23 (38,3%) anak menderita infeksi A. lumbricoides dengan status gizi kurang berdasarkan indikator IMT/U sebanyak 5 (21,7%) anak. Berdasarkan uji chi-square didapatkan nilai p sebesar 0,496 dengan prevalence risk 0,731 dengan rentang (CI 95%) 0,291 – 1,825 yang artinya tidak ada perbedaan yang bermakna antara hubungan status infeksi dengan status gizi.
Gambaran kepadatan tungau debu pada ruangan-ruangan Sekolah X Jakarta periode April - Juni 2018 Ignatius Daniel Setyabudi; Chrismerry Song
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i2.7841

Abstract

Tungau debu merupakan salah satu aero allergen yang dapat menyebabkan alergi pada manusia, baik pada dewasa maupun anak-anak. Tungau ini dapat ditemukan di berbagai tempat, baik di dalam maupun di luar ruangan. Studi deskriptif ini dilakukan untuk mengetahui kepadatan tungau debu yang ada pada seluruh ruangan sekolah X di Jakarta. Metode studi adalah cross-sectional, sampel diambil secara non-random sampling (accidental sampling). Besar sampel minimal adalah 138 sampel, dengan menggunakan rumus satu sampel tunggal untuk estimasi proporsi suatu populasi, namun total sampel yang diperoleh hanya 90 yang terdiri dari 25 ruangan SD, 25 Ruangan SMP, dan 40 Ruangan SMA. Sampel debu tiap ruangan diambil dengan menggunakan kuas lalu tungau diisolasi menggunakan corong berlese, selanjutnya diperiksa di bawah mikroskop cahaya. Berat total debu dari ruangan-ruangan di SD adalah 63.1 gram (rata-rata 2.49 gram) terbanyak di ruang kelas 23; di ruangan SMP adalah 104.81 gram (rata-rata 4.19 gram) terbanyak di ruang musik; dan di ruangan SMA adalah 160.1 gram (rata-rata 4.00 gram) terbanyak di perpustakaan. Tungau debu ditemukan pada 44 ruangan yang terdiri dari 6 ruangan di SD dengan total 10 tungau debu; 14 ruangan di SMP dengan total 98 tungau debu; 24 ruangan di SMA dengan total 182 tungau debu. Tungau debu terbanyak ditemukan di perpustakaan SMA (25 tungau). Rata-rata tungau debu per ruangan adalah 3.21 tungau.
Gambaran tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2018 mengenai geohelminthiasis Sebastian Giovanni; Chrismerry Song
Tarumanagara Medical Journal Vol. 4 No. 1 (2022): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v4i2.18475

Abstract

Geohelminthiasis termasuk neglected tropical disease, di mana penyakit ini ditransmisikan lewat tanah.1 Setidaknya 1,5 miliar individu menderita geohelminthiasis dengan jumlah terbesar di Afrika sub-Sahara, Amerika, China dan Asia timur.2  Kejadian geohelminthiasis di Indonesia tahun 2017 sendiri tergolong sangat tinggi, mencapai 2,5% - 62%. Penting untuk mengetahui kemampuan para calon dokter dalam menangani penyakit ini karena termasuk dalam kompetensi 4A pada Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). Studi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku mahasiswa, serta mengetahui hubungan tingkat pengetahuan terhadap sikap dan perilaku mahasiswa mengenai geohelminthiasis. Metode studi adalah cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden yang diambil secara simple random sampling. Hasil pada studi ini menunjukkan 16% dengan tingkat pengetahuan baik, sebanyak 41% dengan tingkat pengetahuan cukup dan sebanyak 43% dengan tingkat pengetahuan yang kurang. Sikap mahasiswa didapatkan sebanyak 94% dengan sikap yang baik dan sebanyak 6% dengan sikap yang kurang. Perilaku mahasiswa didapatkan sebanyak 94% dengan perilaku yang baik dan 6% dengan perilaku yang kurang. Kesimpulan dari penelitian ini pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2018 memiliki tingkat pengetahuan yang cukup, sikap dan perilaku yang baik mengenai geohelminthiasis.
PROFIL SUHU DAN TEKANAN DARAH PENERIMA VAKSIN BOOSTER COVID-19 DI SENTRA VAKSIN UNTAR Chrismerry Song; Octavia Dwi Wahyuni; Twidy Tarcisia
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 5 No. 2 (2022): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v5i2.19464

Abstract

The SARS-CoV-2 virus has experienced thousands of mutations and has led to the emergence of new, relatively more dangerous variants. Analysis results of several patients who were hospitalized in the period January - February 2022 showed that most of the patients who died had not been fully vaccinated. Results of the study showed a decrease in antibodies 6 months after the complete primary dose of COVID-19 vaccination, so booster dose was needed to increase individual protection. The implementation of education at Universitas Tarumanagara (UNTAR), especially medical faculty, requires face-to-face hands-on learning activities so that all components involved in these activities need to get booster vaccinations for protection. UNTAR in collaboration with health institution held community service activities in the form of giving booster vaccinations to support government programs, as well as launching academic activities. Blood pressure (< 180/110 mmHg) and temperature (<37,5oC) screening are important requirements that must be considered before receiving a booster vaccine. Measurement of blood pressure and body temperature using a sphygmomanometer and digital thermometer which is calibrated before the day of implementation. The screening is carried out to prevent the occurrence of follow-up events after immunization, worsening of the recipient's health condition, and reduction of vaccine effectiveness. A total of 666 participants attended and all of them had normal temperatures with a range between 36oC to 37.1oC. A total of 148 (22.22%) participants had normal blood pressure (blood pressure <120/80 mmHg), 250 (37.54%) participants were classified as pre-hypertension (blood pressure 120/80 and <140/90 mmHg), and 268 (40.2%) participants had hypertension. The high prevalence of hypertension is hoped can be reduced by performing “PATUH“ and “CERDIK” behavior. Education was carried out by the medical team of UNTAR when the blood pressure examination was found to be ≥ 120/80 mmHg. ABSTRAK: Virus SARS-CoV-2 hingga saat ini mengalami ribuan mutasi dan menyebabkan munculnya varian baru yang relatif lebih berbahaya. Sejumlah pasien rawat inap RS pada periode Januari - Februari 2022 menunjukkan sebagian besar pasien yang meninggal belum divaksinasi lengkap. Hasil studi menunjukkan penurunan antibodi pada 6 bulan pasca vaksinasi COVID-19 dosis primer lengkap, sehingga dibutuhkan pemberian dosis lanjutan (booster) untuk meningkatkan proteksi individu. Penyelenggaraan pendidikan di Universitas Tarumanagara (UNTAR) terutama Fakultas Kedokteran memerlukan kegiatan praktik hands-on learning secara tatap muka sehingga seluruh komponen yang terlibat perlu mendapatkan vaksinasi booster untuk perlindungan. UNTAR bekerja sama dengan instansi kesehatan menyelenggarakan kegiatan PKM berupa pemberian vaksin booster sebagai upaya mendukung program pemerintah, juga melancarkan kegiatan akademik. Penapisan berupa pemeriksaan tekanan darah (< 180/110 mmHg) dan suhu tubuh (<37,5oC) merupakan syarat penting yang harus diperhatikan sebelum menerima vaksin booster. Pengukuran tekanan darah dan suhu tubuh menggunakan tensimeter dan termometer digital yang diterima sebelum hari pelaksanaan. Penapisan dilakukan untuk mencegah terjadinya kejadian ikutan pasca imunisasi, perburukan kondisi kesehatan penerima serta pengurangan efektivitas vaksin.  Total sebanyak 666 peserta yang hadir dan semuanya memiliki suhu normal dengan rentang suhu antara 36oC hingga 37,1oC. Sebanyak 148 (22,22%) peserta memiliki tekanan darah normal (tekanan darah <120/80 mmHg), 250 (37,54%) peserta tergolong pre-hipertensi (tekanan darah ≥120/80 dan <140/90 mmHg), dan 268 (40,2%) peserta memiliki tekanan darah tinggi/hipertensi. Tingginya angka prevalensi hipertensi diharapkan dapat diturunkan dengan melakukan perilaku “PATUH” dan “CERDIK”. Edukasi dilaksanakan oleh tim medis UNTAR saat pemeriksaan tekanan darah didapatkan ≥120/80 mmHg
Tingkat pengetahuan tentang tindakan pencegahan malaria berdasarkan karakteristik masyarakat Kabupaten Merauke periode tahun 2022 Fanya Felicia Nadin Latumahina; Chrismerry Song
Tarumanagara Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v5i1.24382

Abstract

Malaria merupakan salah satu penyakit tular vektor nyamuk Anopheles betina dan sering menyebabkan tingkat mortalitas yang tinggi. Malaria masih menjadi masalah kesehatan terutama di wilayah Papua termasuk Kabupaten Merauke yang merupakan wilayah endemis. Penyakit ini dapat dicegah dan dibutuhkan penyebaran informasi kepada masyarakat terutama daerah endemis. Studi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mengenai pencegahan malaria berdasarkan karakteristik masyarakat Kabupaten Merauke. Studi deskriptif cross-sectional ini dilakukan di Kabupaten Merauke khususnya di Kelurahan Mandala, Kelurahan Karang Indah, dan Kelurahan Samkai. Jumlah subjek studi sebanyak 300 orang yang dibagi menjadi 100 subjek pada setiap kelurahan dan diambil dengan metode consecutive sampling. Data studi diperoleh menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan mengenai tindakan pencegahan malaria. Hasil studi ini didapatkan mayoritas subjek memiliki tingkat pengetahuan yang cukup (194 subjek; 64,7%). Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan malaria paling tinggi pada usia 15-30 tahun yaitu sebanyak 34.6% (44/127), dan didapatkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan responden, semakin tinggi pula tingkat pengetahuan responden, yaitu pada tamatan SMA sebesar 35.9% (51/142), S1 sebesar 71.1% (37/52), dan S2 sebesar 100% (3/3). Masyarakat yang belum pernah menderita malaria sebelumnya memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi yaitu sebanyak 38.3% (18/47) dibandingkan yang pernah terinfeksi (31,2%; 79/253). Kesimpulan dari penelitian ini adalah masyarakat Kabupaten Merauke mayoritas memiliki tingkat pengetahuan yang cukup mengenai pencegahan malaria, tingkat pengetahuan lebih baik pada masyarakat yang memiliki riwayat tingkat pendidikan lebih tinggi dan tidak pernah menderita malaria.