Bermawy Munthe
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Puisi Wuqūfu al-Mā‘i Yufsiduhu karya Al-Imām Al-Syāfi’īy: Analisis Semiotik Riffaterre Mufti Nabil Rafsanjani; Bermawy Munthe
‘A Jamiy : Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol 11, No 1: JUNI 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31314/ajamiy.11.1.68-82.2022

Abstract

Objek material tulisan ini adalah puisi Wuqu>fu al-Ma>‘i Yufsiduhu karya al-Ima>m al-Sya>fi’i> dan objek formalnya adalah semiotik Riffaterre. Dalam teori semiotik Riffaterre terdapat dua tahap pembacaan, yaitu pembacaan heuristik (pembacaan puisi berdasarkan sistem kebahasaan) dan pembacaan hermeneutik (pembacaan puisi berdasarkan sistem kesastraannya dengan mencari model, matriks, hipogram potensial dan aktual untuk mendapatkan kesatuan makna puisi). Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa hasil pembacaan heuristik terhadap puisi Wuqu>fu al-Ma>‘i Yufsiduhu diperoleh makna leksikal saja, belum menunjukkan kesatuan makna, dan belum memberi sebuah pemahaman yang memusat yang menggambarkan sebuah kesatuan struktur. Dalam pembacaan hermeneutik, hipogram potensial menunjukkan gagasan bahwa seseorang jika menginginkan kebahagiaan dan kemuliaan dalam hidupnya, hendaknya ia merantau dan bekerja keras. Perihal merantau, dapat dianalogikan dengan air, singa, anak panah, matahari, biji emas dan kayu gaharu. Model puisi adalah fada’i al-awtha>na wa ightaribi “tinggalkanlah negeri dan merantaulah” dan wa inshab fa inna ladzi>dza al-‘aysyi fi an-nashabi  “bekerja keraslah, karena kelezatan hidup terletak pada bekerja keras”. Matriks puisi yaitu “pentingnya merantau dan bekerja keras dalam hidup”. Hipogram aktual yang menjadi latar terbentuknya matriks adalah Q.S. Al-Jumu’ah ayat 10, dan Q.S. Al-Insyirah ayat 7. Ayat pertama merupakan perintah supaya manusia mengembara di bumi untuk mencari karunia Allah. Ayat kedua merupakan perintah untuk bekerja keras dalam hal kebajikan. Kedua ayat ini selaras dengan puisi Wuqu>fu al-Ma>‘i Yufsiduhu yang menegaskan pentingnya merantau dan bekerja keras dalam hidup.
KECERDASAN EMOSIONAL TOKOH GHOMA DALAM DRAMA AZ-ZA’IM KARYA MUSTHAFA MAHMOUD: KAJIAN PSIKOLOGI DANIEL GOLEMAN Sayyidah Khoizuroonah; Mukhammad Kamil Pribadi; Bermawy Munthe
Afshaha: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol 5, No 1 (2026): Afshaha: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab
Publisher : Faculty of Humanities UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/afshaha.v5i1.40601

Abstract

Emotional intelligence plays a crucial role in shaping emotional development and how a person adapts, both in personal contexts and when interacting in social environments. This study focuses on the emotional intelligence of the character Ghoma in the Az-Za’im drama by Musthafa Mahmoud and using Daniel Goleman’s theory of emotional intelligence. The purpose of this study is to reveal the forms of self-awareness, self-regulation, motivation, empathy, and social skills exhibited by the character Ghoma. This study employs a qualitative descriptive method, utilizing data in the form of dialogues or sentences that demonstrate the character Ghoma’s emotional intelligence. The results indicate that the character Ghoma possesses strong and stable emotional intelligence. He exhibits five indicators of self-awareness, five indicators of self-regulation, four indicators of motivation, three indicators of empathy and three indicators of social skills. Ghoma is depicted as capable of recognizing his own emotions, restraining aggressive impulses, managing political tensions, and making strategic decisions that involve moral and collective considerations. Furthermore, he is able to convert emotions into the energy of struggle and maintain social relationships with fellow comrades through persuasive communication. The study’s conclusion indicates that Ghoma’s emotional intelligence serves as the primary foundation of his leadership in confronting colonial conflict and psychological pressure. This research also demonstrates that drama is not merely a representation of social conflict but also a space for the formation of character and the complex emotional dynamics of a people’s leader.