Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

UJI KLINIS IN VIVO PENGARUH KONSUMSI DALUMAN (CYCLLEA BARBATA) TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA TIKUS WISTAR JANTAN DENGAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 Astiyandani, Putu Gina; Permana A. W., Gd. Angga; Vedayanti, Putu Diah; Larayanthi, Cok. Istri Devi; Windasari, Made Prani; Wahyuniari, I.A. Ika
IPTEKMA Volume 2 No.1 - Desember 2010
Publisher : Bidang Kemahasiswaan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.701 KB)

Abstract

Angka insiden diabetes mellitus tipe 2 berada pada angka tertinggi di negara ekonomi berkembang, khususnya di Indonesia. Mediator mayor terjadinya resistensi insulin diinduksi oleh stres oksidatif. Stres oksidatif mengakibatkan hambatan fosforilasi kaskade protein untuk pengambilan glukosa dan mengurangi sensitifitas terhadap insulin sehingga terjadilah resistensi terhadap insulin. Penggunaan insulin sebagai terapi utama sering memberatkan pasien utamanya kelas menengah ke bawah, karena harga sediaan yang tergolong mahal. Daluman yang memiliki tiga kandungan antioksidan alami antara lain: asam askorbat (vitamin C), flavonoid, dan karoten yang merupakan antioksidan alami potensial yang mampu membantu sistem antioksidan alami tubuh mengatasi stres oksidatif yang mendasari patogenesis diabetes mellitus tipe 2. Penelitian ini menggunakan model uji klinis paralel terandomisasi yang dilakukan secara in vivo pada 24 ekor tikus Wistar yang telah memenuhi kriteria inklusi yang sebelumnya telah diinduksi Alloxan sehingga menderita Diabetes mellitus tipe 2 yang kemudian dikelompokkan menjadi 4 jenis perlakuan, di mana masing-masing kelompok tersebut terdiri dari 6 ekor tikus Wistar jantan. Berdasarkan data kasar yang diperoleh dari penelitian menunjukkan bahwa pemberian intervensi Daluman dengan ketiga dosis yang berbeda memberikan efek yang signifikan terhadap penurunan gula darah, yakni dengan rata-rata di atas 10%. Berdasarkan hasil uji ANNOVA dengan SPSS 16 menunjukkan terdapatnya perbedaan yang bermakna antara rata-rata kadar gula darah pada minggu pertama (PPGD1) kelompok kontrol dengan kelompok kedua, dan ketiga. Di samping itu, perbandingan rata-rata kadar gula darah pada minggu kedua (PPGD2) kelompok kontrol dengan kelompok pertama, kedua, dan ketiga menunjukkan perbedaan yang bermakna.
Divergent Carcinogenic Risks of Domestic versus Ritual Combustion on Nasopharyngeal Carcinoma in Bali: A Matched Case-Control Study Made Prani Windasari; I Gde Ardika Nuaba; Made Lely Rahayu
Archives of The Medicine and Case Reports Vol. 7 No. 1 (2026): Archives of The Medicine and Case Reports
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/amcr.v7i1.841

Abstract

Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is endemic in Indonesia, particularly among the ethnically distinct Balinese population. The interplay between Epstein-Barr virus (EBV) and environmental co-factors remains critical to its pathogenesis. A unique cultural duality exists in Bali regarding inhalant exposure: the utilitarian combustion of firewood and tobacco versus the ritual combustion of incense. This study aims to distinguish the carcinogenic risks of these disparate smoke sources using robust statistical methods to account for sparse data bias. A matched case-control study was conducted at a tertiary referral center in Denpasar, Bali. Forty-two patients with histopathologically confirmed WHO Type III Undifferentiated NPC were matched by age and sex with 42 non-cancer controls screened via Digby score. Exposures to firewood, passive and active smoking, and ritual incense were assessed. To address quasi-complete separation due to high exposure prevalence, Firth’s Penalized Likelihood Logistic Regression was employed to determine Adjusted Odds Ratios (AOR). Firewood smoke exposure emerged as the predominant risk factor (AOR 14.21; 95% CI 4.82–42.15; p < 0.001), significantly higher than previously estimated by standard models. Passive smoking was confirmed as a substantial independent risk factor (AOR 11.54; 95% CI 3.91–33.82; p < 0.001). Conversely, despite universal usage, ritual incense exposure showed no association with NPC (AOR 0.92; 95% CI 0.35–2.41; p = 0.865), likely due to the open-air ventilation of Balinese shrines. Salted fish consumption remained a significant co-factor (AOR 6.80; p = 0.002). In conclusion, the study establishes a clear etiological hierarchy: chronic domestic pollutants such as biomass and tobacco smoke are potent drivers of NPC in Bali, likely acting as tumor promoters via EBV reactivation. Ritual incense, in the context of Balinese architecture, is not a significant risk. Public health interventions must prioritize healthy kitchen ventilation and tobacco control.