Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : WIDYA LAKSANA

PELATIHAN MEMBUAT KOMPOS DARI LIMBAH PERTANIAN DI SUBAK TELAGA DESA MAS KECAMATAN UBUD Wiratini, Ni Made
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.909 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v3i2.9165

Abstract

Pelatihan ini bertujuan:  mengurangi  ketergantungan  para petani padi terhadap  pupuk urea, mengenalkan  pupuk kompos sebagai pengganti pupuk urea, melatih para petani padi   membuat  kompos dari jerami padi dan kotoran sapi, dan melatih cara menggunakan  kompos jerami padi. Subyek pelatihan ini adalah para petani di Subak Telaga Desa Mas Ubud.  Sedangkan obyek pelatihan adalah kompos, menyangkut cara pembuatan, cara penggunaan, dan keunggulannya. Untuk mencapai tujuan pelatihan digunakan metode diskusi dan praktek. Hasil pelatihan dianalisis secara deskriptif. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa peetani padi di subak telaga desa mas mulai mengurangi penggunaan  urea dengan mengganti  dengan kompos,  dapat membuat  kompos jerami dengan menggunakan kotoran sapi, jerami, dan EM4, dan dapat menggunakan kompos padi untuk tanaman padi secara benar.
PELATIHAN MEMBUAT KOMPOS DARI LIMBAH PERTANIAN DI SUBAK ANAKAN DESA MAS KECAMATAN UBUD Wiratini, Ni Made; Maryam, Siti; Retug, Nyoman; Lasia, Ketut
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.056 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v4i2.9607

Abstract

Indonesia merupakan negara agraria yang mayoritas penduduknya adalah petani. Namun realitanya Indonesia merupakan pengimpor beras terbesar di dunia (14% dari beras yang diperdagangkan di dunia), diikuti Banggladesh (4%), dan Brazil (3%). Produksi padi Indonesia 64,4 juta ton tahun 2009, 66,47 juta ton tahun 2010, 65,76 juta ton tahun 2011, dan 69,05 juta ton pada tahun 2012. Luas sawah di Desa Mas adalah 140 Ha. Desa Mas terletak 3 km di sebelah selatan kota Kecamatan Ubud dan 5 km di sebelah barat kota Kabupaten Gianyar. Dilihat dari keadaan geografisnya, Desa Mas adalah desa yang subur dengan mayoritas mata pencahariannya dibidang pertanian padi dan pariwisata. Di Desa Mas terdapat kelompok tani padi Subak Anakan dan Subak Telaga. Subak Anakan memiliki anggota 60 orang dan semuanya laki-laki. Dari 60 anggota subak tersebut 10% merupakan petani penggarap. Luas garapan setiap petani 30 are sampai 1hektar. Tingkat pendidikan terakhir anggota Subak Anakan adalah 30 orang SMA, 25 orang SMP, 5 orang SD. Luas wilayah Subah Anakan adalah 32 Ha. Subak Anakan memiliki suhu udara 30-31 oC. Petani Subak Anakan sepanjang tahun terus menanam padi. Setiap tahun petani padi panen 3 kali. Kebutuhan pupuk urea setiap musim tanam 200-250 kg /Ha. Padi yang dihasilkan oleh Subak Anakan 4 - 5 ton per Ha. Padi yang dihasilkan dijual dipohonnya 50-100% dari luas garapan. Harga padi dipohonnya dijual Rp. 150.000-250.000 setiap are. Setiap panen, jerami padi dibakar, kadangkadang dibuang untuk mengejar musim tanam berkutnya.
PELATIHAN MEMBUAT KOMPOS DARI LIMBAH PERTANIAN DI SUBAK TELAGA DESA MAS KECAMATAN UBUD Wiratini, Ni Made
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.909 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v3i2.9165

Abstract

Pelatihan ini bertujuan:  mengurangi  ketergantungan  para petani padi terhadap  pupuk urea, mengenalkan  pupuk kompos sebagai pengganti pupuk urea, melatih para petani padi   membuat  kompos dari jerami padi dan kotoran sapi, dan melatih cara menggunakan  kompos jerami padi. Subyek pelatihan ini adalah para petani di Subak Telaga Desa Mas Ubud.  Sedangkan obyek pelatihan adalah kompos, menyangkut cara pembuatan, cara penggunaan, dan keunggulannya. Untuk mencapai tujuan pelatihan digunakan metode diskusi dan praktek. Hasil pelatihan dianalisis secara deskriptif. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa peetani padi di subak telaga desa mas mulai mengurangi penggunaan  urea dengan mengganti  dengan kompos,  dapat membuat  kompos jerami dengan menggunakan kotoran sapi, jerami, dan EM4, dan dapat menggunakan kompos padi untuk tanaman padi secara benar.
PELATIHAN MEMBUAT KOMPOS DARI LIMBAH PERTANIAN DI SUBAK ANAKAN DESA MAS KECAMATAN UBUD Wiratini, Ni Made; Maryam, Siti; Retug, Nyoman; Lasia, Ketut
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.056 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v4i2.9607

Abstract

Indonesia merupakan negara agraria yang mayoritas penduduknya adalah petani. Namun realitanya Indonesia merupakan pengimpor beras terbesar di dunia (14% dari beras yang diperdagangkan di dunia), diikuti Banggladesh (4%), dan Brazil (3%). Produksi padi Indonesia 64,4 juta ton tahun 2009, 66,47 juta ton tahun 2010, 65,76 juta ton tahun 2011, dan 69,05 juta ton pada tahun 2012. Luas sawah di Desa Mas adalah 140 Ha. Desa Mas terletak 3 km di sebelah selatan kota Kecamatan Ubud dan 5 km di sebelah barat kota Kabupaten Gianyar. Dilihat dari keadaan geografisnya, Desa Mas adalah desa yang subur dengan mayoritas mata pencahariannya dibidang pertanian padi dan pariwisata. Di Desa Mas terdapat kelompok tani padi Subak Anakan dan Subak Telaga. Subak Anakan memiliki anggota 60 orang dan semuanya laki-laki. Dari 60 anggota subak tersebut 10% merupakan petani penggarap. Luas garapan setiap petani 30 are sampai 1hektar. Tingkat pendidikan terakhir anggota Subak Anakan adalah 30 orang SMA, 25 orang SMP, 5 orang SD. Luas wilayah Subah Anakan adalah 32 Ha. Subak Anakan memiliki suhu udara 30-31 oC. Petani Subak Anakan sepanjang tahun terus menanam padi. Setiap tahun petani padi panen 3 kali. Kebutuhan pupuk urea setiap musim tanam 200-250 kg /Ha. Padi yang dihasilkan oleh Subak Anakan 4 - 5 ton per Ha. Padi yang dihasilkan dijual dipohonnya 50-100% dari luas garapan. Harga padi dipohonnya dijual Rp. 150.000-250.000 setiap are. Setiap panen, jerami padi dibakar, kadangkadang dibuang untuk mengejar musim tanam berkutnya.
Pemberdayaan Kelompok Nelayan melalui Program Transformasi Berkala dengan Pendekatan Edukasi Justice for Ecology Untuk Peningkatan Kualitas Hidup dan Ekonomi Adnyani, Ni Ketut Sari; Wirawan, I Made Agus; Wiratini, Ni Made; Putra, I Made Dwi Cahya Prayogi; Pratiwi, Ni Kadek Mira
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 14 No 1 (2025): January
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v14i1.85904

Abstract

Permasalahan utama mitra meliputi ketergantungan hasil tangkapan ikan terhadap musim dan belum optimalnya pengelolaan garam lokal menjadi produk konsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan kapasitas produksi dan manajemen sumber daya pesisir melalui pendekatan edukatif dan aplikatif berbasis teknologi, serta menumbuhkan kesadaran ekologis nelayan dalam mendukung praktik berkelanjutan. Penelitian ini merupakan penelitian terapan dengan desain Participatory Rural Appraisal (PRA). Subjek dalam penelitian ini adalah 25 anggota kelompok nelayan aktif, termasuk pengolah hasil tangkapan dan pengelola tambak garam. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, FGD, dan kuesioner. Instrumen kuesioner dikembangkan berdasarkan indikator keterampilan produksi, pencatatan usaha, pemasaran, dan pemahaman ekologi. Analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif dan FGD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitasi rumpon dan transfer teknologi filtrasi mampu menciptakan sumber produksi alternatif; pelatihan pembukuan digital melalui aplikasi XAMPP meningkatkan ketertelusuran usaha; strategi pemasaran berbasis teknologi memperluas jangkauan pasar dari 3 menjadi 7 lokasi; serta edukasi justice for ecology berhasil membentuk perubahan mindset mitra terhadap pentingnya konservasi laut. Disimpulkan bahwa pendekatan kolaboratif berbasis PRA efektif dalam memberdayakan mitra nelayan baik dalam aspek produksi, manajemen usaha, maupun pelestarian ekosistem. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa program pemberdayaan yang dirancang berbasis kebutuhan lokal.