Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengembangan Sistem Pelaporan Hazard Dan Manajemen Risiko Keselamatan Berbasis Web Pada Bandar Udara Triyani Retno Putri Sari Dewi
Langit Biru: Jurnal Ilmiah Aviasi Vol 14 No 01 (2021): Langit Biru: Jurnal Ilmiah Aviasi
Publisher : Politeknik Penerbangan Indonesia Curug

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54147/langitbiru.v14i01.392

Abstract

Pelaporan hazard adalah hal yang sangat penting dalam sistem manajamen keselamatan penerbangan. Hazard yang teridentifikasi melalui laporan dapat digunakan untuk mengelola risiko keselamatan. Dengan kemajuan teknologi, hazard dapat lebih cepat dilaporkan secara daring sehingga dapat segera dilakukan mitigasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem pelaporan hazard dan manajemen risiko keselamatan berbasis web untuk budaya pelaporan pada bandar udara dan mengelola risiko keselamatan dengan cara yang lebih efektif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian berbasis desain dengan empat tahap yaitu analisis masalah, pengembangan solusi, pengujian dan perbaikan produk, dan refleksi. Hasil pengujian penerimaan pengguna menunjukkan bahwa desain tersebut efektif dan bermanfaat untuk melaporkan hazard dan mengelola risiko keselamatan.
Pengembangan Sistem Pelaporan Hazard Dan Manajemen Risiko Keselamatan Berbasis Web Pada Bandar Udara Triyani Retno Putri Sari Dewi
Langit Biru: Jurnal Ilmiah Aviasi Vol 14 No 01 (2021): Langit Biru: Jurnal Ilmiah Aviasi
Publisher : Politeknik Penerbangan Indonesia Curug

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54147/langitbiru.v14i01.392

Abstract

Hazard reporting is very important in aviation safety management system. Hazards identified through the report can be used to manage safety risks. With advances in technology, hazards can be reported online more quickly so that mitigation can be carried out immediately. This study aims to develop a web-based hazard reporting and safety risk management system to improve the reporting culture at airports and manage safety risks in a more effective manner. This study uses a design-based research method with four stages, namely problem analysis, solution development, product testing and improvement, and reflection. The results of user acceptance test show that the design is effective and useful for reporting hazards and managing safety risks.
Pengembangan Sistem Pelaporan Hazard Dan Manajemen Risiko Keselamatan Berbasis Web Pada Bandar Udara Triyani Retno Putri Sari Dewi
Langit Biru: Jurnal Ilmiah Aviasi Vol 14 No 01 (2021): Langit Biru: Jurnal Ilmiah Aviasi
Publisher : Politeknik Penerbangan Indonesia Curug

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54147/langitbiru.v14i01.392

Abstract

Hazard reporting is very important in aviation safety management system. Hazards identified through the report can be used to manage safety risks. With advances in technology, hazards can be reported online more quickly so that mitigation can be carried out immediately. This study aims to develop a web-based hazard reporting and safety risk management system to improve the reporting culture at airports and manage safety risks in a more effective manner. This study uses a design-based research method with four stages, namely problem analysis, solution development, product testing and improvement, and reflection. The results of user acceptance test show that the design is effective and useful for reporting hazards and managing safety risks.
Evaluasi Strategi Penanganan Irregular Operations oleh Integrated Operation Control Center (IOCC) Dalam Meminimalkan Keterlambatan Penerbangan Lion Air Group Mochamad Ryan Ghulam Faturohman; Triyani Retno Putri Sari Dewi; Rivandi Hafieza
Journal of Humanities Education Management Accounting and Transportation Vol. 3 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/hemat.v3i2.9095

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk irregular operation (IROPS), menganalisis strategi penanganan, dan mengevaluasi efektivitas strategi tersebut yang diterapkan oleh Integrated Operation Control Center (IOCC) Lion Air Group dalam meminimalkan keterlambatan penerbangan, mengingat Lion Air mencatat On-Time Performance (OTP) sebesar 68,71% pada tahun 2024, masih di bawah rata-rata nasional sebesar 73,78%. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif evaluatif dan strategi studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan empat informan, observasi nonpartisipatif di ruang IOCC, dan telaah dokumen Standard Operating Procedure (SOP) IOCC-QS-SOP/OCC-02, yang dianalisis menggunakan teknik triangulasi sumber serta model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña (2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa IROPS dipengaruhi oleh faktor internal (late incoming aircraft, gangguan teknis, minus aircraft, ketidaksiapan kru) dan faktor eksternal (cuaca buruk, pembatasan Air Traffic Flow Management, unexpected NOTAM, force majeure). IOCC menerapkan koordinasi lintas unit, sembilan opsi pemulihan operasi, prosedur Emergency Response Plan (ERP), dan Minus Aircraft Procedure. Evaluasi terhadap empat dimensi (kecepatan respons, kualitas koordinasi, ketepatan pemilihan tindakan, dan pencegahan delay propagation) menunjukkan strategi tersebut sudah kuat pada level operasional-taktis, namun masih memerlukan peningkatan pada kecepatan pelaporan administratif, integrasi sistem, dan kapasitas prediktif.
Analisis Dampak Perubahan Minimum Equipment List terhadap Operational Limitation ATR 42-500 Pelita Air Service Salsabila Pramudita; Triyani Retno Putri Sari Dewi; Rivandi Hafieza
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9149

Abstract

Minimum Equipment List (MEL) merupakan dokumen operasional yang menjadi dasar penentuan kelayakan dispatch pesawat ketika terdapat peralatan yang tidak berfungsi. Revisi MEL ATR 42-500 Pelita Air Service tahun 2025 mencakup perubahan pada 118 item, namun dampak operasional dari perubahan tersebut terhadap operational limitation belum dikaji secara sistematis di tingkat operator. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perubahan MEL ATR 42-500 Pelita Air Service tahun 2025, menganalisis dampaknya terhadap operational limitation, serta menjelaskan implikasinya terhadap pengambilan keputusan operasional. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain deskriptif-komparatif melalui gap analysis terhadap dokumen MEL sebelum dan sesudah revisi, ditunjang wawancara semiterstruktur dengan Flight Operations Officer, Pilot, dan Aircraft Maintenance Technician. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman serta divalidasi melalui triangulasi sumber dan teknik. Metode ini dipilih karena mampu menggali makna dan konteks operasional yang tidak dapat diperoleh hanya melalui data kuantitatif semata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 118 perubahan pada MEL Operations Part, sembilan item tergolong signifikan karena berkaitan langsung dengan perubahan rectification interval (tujuh item) dan penambahan item baru (dua item). Perubahan tersebut memberikan dampak yang berbeda-beda, mulai dari perpanjangan fleksibilitas operasional hingga pengetatan kategori dispatch pada item yang berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan. Revisi MEL juga memengaruhi keputusan dispatch, jenis penerbangan yang diizinkan, prioritas pemeliharaan, serta koordinasi antara pilot, Flight Operations Officer, dan maintenance. Perbedaan interpretasi yang pernah terjadi pada salah satu item menunjukkan bahwa kategori perbaikan tidak dapat dibaca secara terpisah dari dispatch condition serta prosedur operasional dan pemeliharaan. Dengan demikian, revisi MEL ATR 42-500 meningkatkan kejelasan batas operasional dan konsistensi keputusan dispatch, tetapi efektivitas penerapannya tetap bergantung pada sosialisasi, keseragaman pemahaman, dan koordinasi lintas fungsi. Penelitian lanjutan disarankan mengumpulkan data kuantitatif dispatch reliability untuk mengukur secara empiris dampak revisi MEL terhadap keandalan operasional armada pasca-revisi.