Ahmad Yustam Tobroni
UIN Sunan Ampel Surabaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Sabàtu Ahrūf: Redaksi, dan Gambaran Sabàtu Ahrūf Menurut Muhadisīn Misbakhul Arifin; Ahmad Yustam Tobroni; Ahmad Wafi Nur Sasfaat
SINDA: Comprehensive Journal of Islamic Social Studies Vol 1 No 1 (2021): Volume 1, Number 1, April 2021
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (987.029 KB) | DOI: 10.28926/sinda.v1i2.31

Abstract

Melihat dari banyaknya riwayat dengan karakter kejadian yang berbeda sesuai faktor yang melatar belakangi turunnya sabda Nabi, sangat wajar bila para ulama tidak ada kesepakatan dalam memahami maksud dari kata Sab’atu ahruf. Kata Sab’ah sendiri secara etimologi menunjukan arti sebuah bilangan yaitu angka yang jatuh setelah angka enam. Sedangkan Ahruf berasal dari suku kata harfin, bentuk pluralnya adalah Ahruf. Harfin sendiri secara bahasa mempunyai beberapa makna, diantaranya pinggir, baca’an, dialek dan lainnya. Adapun metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode penelitian library research atau penelitian tentang kajian pustaka, yaitu suatu metode yang kajiannya atau penelitiannya menggunakan buku, majalah, jurnal, atau karya ilmiah lainnya yang berkaitan dengan focus penelitian atau permasalahannya sebagai acuan. Sedangkan hasil penelitian Hadis dari segi karakter redaksi atau muatan peristiwa secara global terdapat tiga corak gambaran hadith Sabatu Ahruf: Hadis menceritakan sebuah peristiwa beberapa sahabat yang bersengketa dalam bacaan al-Quran, selanjutnya mereka bersama sama menghadap nabi saw untuk mengadukan apa yang mereka alami, kemudian nabi saw membenarkan bacaan mereka semua dan sekaligus menegaskan bahwasanya al-Quran turun atas Sab’atu Ahruf. Hadis menceritakan sebuah dialog yang terjadi antara nabi Muhammad saw dengan malaikat jibril, dan terkadang juga melibatkan Mikail. Hadis menceritakan peristiwa nabi Muhammad saw memberikan pemberitahuan secara lansung tanpa didahului dengan peristiwa, bahwa al-Qur’an dapat dibaca atau turun dengan Sab’atu Ahruf