Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : GANESHA MEDICINA

GAMBARAN KLINIS PASIEN HEMOROID YANG DI RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BULELENG PADA TAHUN 2020-2021 Dinata, I Gede Surya; Agustisni, Ni Nyoman Mestri; Udrayana, Oka; Ulandari, Komang Sherly
Ganesha Medicina Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v3i2.68543

Abstract

Hemoroid merupakan penyakit anorektal tersering dengan prevalensi yang cukup tinggi di dunia. Insiden kasus hemoroid berkisar 5,7% atau 12,5 juta orang dari total populasi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran klinis pasien hemoroid yang di rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Buleleng pada tahun 2020-2021. Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan yang dimulai dari bulan Maret 2022 hingga bulan November 2022. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain penelitian cross sectional menggunakan data sekunder berupa rekam medis. Sampel pada penelitian ini adalah pasien hemoroid yang di rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Buleleng pada tahun 2020-2021 dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling dengan jumlah sampel 21 orang. Variabel penelitian yang digunakan yaitu usia, jenis kelamin, gejala klinis, penegakkan diagnosis, klasifikasi hemoroid, derajat hemoroid, tatalaksana, dan komplikasi pasca operasi. Data yang diperoleh akan disajikan menggunakan software Microsoft Excel yang dianalisis dengan program SPSS (Statistical Package for Social Science). Data yang sudah terkumpul disajikan dalam bentuk tabel berupa nilai rata-rata, frekuensi, dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari variabel usia adalah 51.81 tahun dengan simpang baku + 14.962, jenis kelamin terbanyak ditemukan yaitu laki-laki 15 orang (71.4%), gejala klinis yang paling sering dirasakan berdasarkan keluhan utamanya yaitu keluar darah pada anus sebanyak 8 orang (38.1%), penegakkan diagnosis yang paling sering digunakan melalui RT/DRE sebanyak 21 orang (100.0%), klasifikasi hemoroid yang paling sering ditemukan adalah hemoroid internal sebanyak 19 orang (90.5%), derajat hemoroid yang paling sering ditemukan adalah derajat 4 sebanyak 9 orang (42.9%), tatalaksana yang sering digunakan adalah terapi operatif dengan haemorrhoidectomy sejumlah 15 pasien (71.4%), dan komplikasi pasca operasi lebih sering tidak ditemukan sebanyak 21 orang (100.0%)
DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN HEMOROID Pradiantini, Kadek Helen Yustika; Dinata, I Gede Surya
Ganesha Medicina Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.539 KB) | DOI: 10.23887/gm.v1i1.31704

Abstract

Hemoroid merupakan jaringan normal yang terdapat pada semua orang. Hemoroid terdiri dari pleksus arteri-vena yang berfungsi sebagai katup dalam saluran anus untuk membantu sistem sfingter anus, mencegah inkontinensia flatus dan cairan. Bila hemoroid menyebabkan suatu keluhan seperti rasa tidak nyaman, gatal pada anus atau bahkan perdarahan lewat anus, maka perlu diperhatikan dan ditangani lebih lanjut. Hemoroid dapat diklasifikasikan menjadi hemoroid interna dan hemoroid eksterna. Penyebab dari hemoroid belum diketahui secara pasti, tetapi ada hal-hal paling umum yang diduga dapat memicu terjadinya hemoroid, yaitu, mengejan terlalu keras saat proses defekasi, kehamilan, asites dan faktor usia. Untuk menegakkan diagnosis hemoroid dibutuhkan pemeriksaan penunjang yang mendukung. Hemoroid merupakan kondisi yang sangat umum dan mempengaruhi sekitar 10 juta orang per tahun. Satu studi memperkirakan bahwa lebih dari 50% populasi AS yang berusia di atas 50 tahun memiliki pengalaman tentang penyakit hemoroid. Dari beberapa penelitian yang dilakukan, orang yang lebih sering menderita hemoroid berjenis kelamin laki-laki dan puncak terjadinya hemoroid berada pada usia 35 sampai 65 tahun dan jarang terjadi pada usia dibawah 20 tahun.  Meskipun hemoroid tidak mengancam jiwa, tetapi penyakit ini sangat berpotensi mengurangi kualitas hidup seseorang. Tatalaksana untuk hemoroid tergantung dari derajat keparahan hemoroid itu sendiri. Terapi untuk hemoroid dapat berupa terapi konservatif, terapi non bedah dan terapi bedah. Kata kunci: Hemoroid, Gejala, Klasifikasi, Tatalaksana.
TATALAKSANA TERKINI INFEKSI KAKI DIABETES Dinata, I Gede Surya; Yasa, Anak Agung Gede Wira Pratama
Ganesha Medicina Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.38 KB) | DOI: 10.23887/gm.v1i2.39304

Abstract

Laporan dari International Diabetes Federation Tahun 2019 menyebutkan bahwa tingkat kejadian Diabetes Melitus (DM) meningkat setiap tahunnya dan diperkirakan sekitar 629 Juta orang di seluruh dunia menderita DM pada tahun 2045. Hal ini tentunya berdampak pada peningkatan dari komplikasi yang ditimbulkan oleh DM salah satunya adalah Diabetic Foot Infection (DFI) atau Infeksi Kaki Diabetes (IKD). IKD merupakan komplikasi lanjutan dari kaki diabetik yang ditandai oleh adanya proses invasi mikroorganisme yang berkembang di jaringan dalam seperti kulit, otot, tendon, sendi, tulang pada ekstremitas bawah, tepatnya di bawah malleoli. IKD dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan, termasuk kecacatan, mobilitas berkurang, penurunan kualitas hidup pada aspek fisik dan mental, serta ancaman kehilangan anggota tubuh oleh karena amputasi. Selain itu, penyakit ini juga dikaitkan dengan komplikasi DM lainnya seperti komplikasi neuropati perifer, Peripheral Arterial Disease (PAD), dan infeksi pada pasien DM. Dalam melakukan tatalaksana terhadap pasien DM dengan ataupun berisiko IKD, diperlukan perawatan lebih lanjut yang harus didasari dengan tingkat keparahan infeksi. Sebagian besar kasus IKD memiliki kecenderungan amputasi sehingga penting untuk dilakukan penatalaksanaan dan pencegahan secara komprehensif dengan melibatkan manajemen multidisiplin dengan  ahli bedah (umum, vaskular, ortopedi), penyakit dalam, dan perawat luka, sehingga dapat mengurangi waktu penyembuhan luka, tingkat, dan keparahan amputasi.
THE OVERVEW OF SPINAL CORD INJURY Dinata, I Gede Surya; Yasa, Anak Agung Gede Wira Pratama
Ganesha Medicina Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.165 KB) | DOI: 10.23887/gm.v1i2.39735

Abstract

Spinal cord injury (SCI) atau cedera medula spinalis adalah suatu kondisi gangguan pada medula spinalis atau sumsum tulang belakang dengan gejala fungsi neurologis mulai dari fungsi motorik, sensorik, dan otonomik, yang dapat berujung menjadi kecacatan menetap hingga kematian. Menurut WHO, SCI diperkirakan terjadi sebanyak 40-80 kasus per 1 juta penduduk dalam setahun. Kasus traumatis menjadi faktor tersering penyebab SCI (90%) mulai dari kecelakaan lalu lintas, jatuh, rekreasi, dan pekerjaan. Sehingga pasien yang mengalami trauma multipel patut dicurigai terkena SCI. Gejala dapat bervariasi tergantung tingkat lokasi dan keparahan lesi cedera yang dapat berupa gejala neurologis seperti nyeri pada bagian tengah dari punggung, parasthesia, hingga penurunan kesadaran pada pasien. Mekanisme terjadinya SCI dapat terjadi secara langsung atau cedera primer dan apabila pasien tidak diberikan penanganan segera dan adekuat, cedera primer akan berlanjut menjadi cedera sekunder. Informasi yang didapatkan sebelum pasien masuk ke unit gawat darurat penting untuk didapatkan seperti mekanisme dari terjadinya cedera, dan penanganan pre-hospital. Penanganan pasien SCI dapat menggunakan teknik ABCD dan dapat dilakukan tindakan pembedahan darurat apabila pasien memiliki faktor risiko tertentu. Bila pasien tidak mendapat penanganan intensif dan segera, maka cedera dapat berlanjut menjadi defisit neurologis serta kecacatan yang menetap hingga akhir hayat pasien. Maka dari itu, penting bagi kita sebagai seorang klinisi untuk mengetahui dari struktur anatomi dan fisiologi medula spinalis, epidemiologi, etiologi, patogenesis, gejala klinis, diagnosis, tatalaksana, serta prognosis dari SCI, sehingga dapat melakukan pengamatan dan penanganan awal pada pasien yang terindikasi SCI.