Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN BANTUAN HIDUP DASAR DAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA ANGGOTA POKDARWIS DI DESA SAMBANGAN TAHUN 2020 Suputra, Putu Adi; Lestari, Ni Made Sri Dewi; Dinata, I Gede Surya; Agustini, Ni Nyoman Mestri
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v10i1.29897

Abstract

Tujuan utama kegiatan pengabdian masyarakat ini  adalah  untuk meningkatkan pengetahuan dan  pemahaman tentang manfaat BHD dan penanganan cedera, serta meningkatkan keterampilan anggota Pokdarwis Sambangan dalam melakukan BHD dan perrtolongan pertama pada cedera. Metode pelaksanaan program P2M adalah penyuluhan, pelatihan dan pendampingan. Peserta dalam kegiatan ini adalah anggota Pokdarwis Desa Sambangan yang berjumlah 20 orang. Evaluasi dilakukan selama pelaksanaan kegiatan dengan melihat :  kehadiran peserta sampai akhir  (100%),  keaktifan peserta saat diskusi,dan memberikan  tes berupa pretest, postest. . Hasil  menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan  peserta dimana pada saat pre test hanya 45% persen peserta yang tahu dan memahami tentang BHD dan pertolongan pertama pada cedera. Setelah dilaksanakan pelatihan dan diberikan post test, hampir 80% peserta memahami tentang BHD dan pertolongan pertama pada cedera. Pelatihan ini juga membuat antusiasme peserta meningkat untuk mengetahui tentang BHD dilihat dari banyaknya pertanyaan dari peserta dan keaktifan dalam melakukan demonstrasi tentang BHDKata kunci: bantuan hidup dasar, pertolongan pertama pada cedera, pokdarwis sambangan
Capillary-Cavernous Hemangioma of Lymph Node: An Extremely Rare Case I Gede Surya Dinata; Made Jatiluhur
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 5 No 1 (2021): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBN.2021.v05.i01.p04

Abstract

Background: Hemangioma is a benign vascular tumour commonly found in young children. This tumor can grow within many organs, but occurring in the lymph node is extremely rare. The capillary-cavernous hemangioma (CCH) of the lymph node was mostly found as an incidental finding after histopathology confirmation of oncological surgery. Case: We presented the first case of intranodal CCH from the parietal region of the head in a 11-year-old boy. The easily-bleed lump was found above the head fascia and confirmed with histopathological examination. Conclusion: The capillary-cavernous hemangioma arising from the lymph node was an extremely rare pathological finding after oncological surgery. Treatment by surgical excision was curative. The awareness of this benign vascular tumour must be known to physicians so that it was not mistakenly diagnosed as a malignant disease with subsequent unnecessary radical therapy.
GAMBARAN KLINIS PASIEN HEMOROID YANG DI RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BULELENG PADA TAHUN 2020-2021 Dinata, I Gede Surya; Agustisni, Ni Nyoman Mestri; Udrayana, Oka; Ulandari, Komang Sherly
Ganesha Medicina Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v3i2.68543

Abstract

Hemoroid merupakan penyakit anorektal tersering dengan prevalensi yang cukup tinggi di dunia. Insiden kasus hemoroid berkisar 5,7% atau 12,5 juta orang dari total populasi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran klinis pasien hemoroid yang di rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Buleleng pada tahun 2020-2021. Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan yang dimulai dari bulan Maret 2022 hingga bulan November 2022. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain penelitian cross sectional menggunakan data sekunder berupa rekam medis. Sampel pada penelitian ini adalah pasien hemoroid yang di rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Buleleng pada tahun 2020-2021 dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling dengan jumlah sampel 21 orang. Variabel penelitian yang digunakan yaitu usia, jenis kelamin, gejala klinis, penegakkan diagnosis, klasifikasi hemoroid, derajat hemoroid, tatalaksana, dan komplikasi pasca operasi. Data yang diperoleh akan disajikan menggunakan software Microsoft Excel yang dianalisis dengan program SPSS (Statistical Package for Social Science). Data yang sudah terkumpul disajikan dalam bentuk tabel berupa nilai rata-rata, frekuensi, dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari variabel usia adalah 51.81 tahun dengan simpang baku + 14.962, jenis kelamin terbanyak ditemukan yaitu laki-laki 15 orang (71.4%), gejala klinis yang paling sering dirasakan berdasarkan keluhan utamanya yaitu keluar darah pada anus sebanyak 8 orang (38.1%), penegakkan diagnosis yang paling sering digunakan melalui RT/DRE sebanyak 21 orang (100.0%), klasifikasi hemoroid yang paling sering ditemukan adalah hemoroid internal sebanyak 19 orang (90.5%), derajat hemoroid yang paling sering ditemukan adalah derajat 4 sebanyak 9 orang (42.9%), tatalaksana yang sering digunakan adalah terapi operatif dengan haemorrhoidectomy sejumlah 15 pasien (71.4%), dan komplikasi pasca operasi lebih sering tidak ditemukan sebanyak 21 orang (100.0%)
Cognitive Function of the Elderly in Banjar Busana, Desa Sibanggede, Badung Regency: A Descriptive Study Bawana, Harry; Ni Nyoman Mestri Agustini; I Gede Surya Dinata; Ni Luh Kadek Alit Arsani
WMJ (Warmadewa Medical Journal) Vol 9 No 1 (2024): May 2024
Publisher : Warmadewa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmj.9.1.8657.5-10

Abstract

Countries around the world are currently entering an aging population era, where the number of elderly individuals is increasing. In the elderly, there is a decline in intrinsic capacities such as physical, mental, and cognitive capacities, which hampers their functional abilities. Cognitive function impairment is an early stage of cognitive decline and is a risk factor for dementia, which significantly disrupts daily activities. Banjar Busana, Desa Sibanggede, is one of the banjars with a relatively large elderly population, totalling 117 individuals. However, data on the cognitive function profile in Banjar Busana, Desa Sibanggede, is not yet definitively available. This study aims to determine the cognitive function profile of the elderly in Banjar Busana, Desa Sibanggede, Badung Regency. The population of this study comprises all elderly individuals in Banjar Busana in 2023, totalling 117 people. The sample size was calculated using the formula by Dean et al., 2013, with a 95% confidence level, resulting in a sample size of 90 individuals. The sample was then selected using simple random sampling. Cognitive function was measured using the MoCA-INA questionnaire. The data were analyzed descriptively and quantitatively. The results showed that the majority of respondents were aged 60-69 years (59%), with more male respondents (51%) than female respondents (49%). Respondents experiencing cognitive function impairment amounted to 47%, while those without cognitive function impairment were 53%. It is recommended to provide more education to the community regarding the dangers of cognitive function impairment and preventive efforts.
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN BANTUAN HIDUP DASAR DAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA ANGGOTA POKDARWIS DI DESA SAMBANGAN TAHUN 2020 Suputra, Putu Adi; Lestari, Ni Made Sri Dewi; Dinata, I Gede Surya; Agustini, Ni Nyoman Mestri
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.889 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v10i1.29897

Abstract

Tujuan utama kegiatan pengabdian masyarakat ini  adalah  untuk meningkatkan pengetahuan dan  pemahaman tentang manfaat BHD dan penanganan cedera, serta meningkatkan keterampilan anggota Pokdarwis Sambangan dalam melakukan BHD dan perrtolongan pertama pada cedera. Metode pelaksanaan program P2M adalah penyuluhan, pelatihan dan pendampingan. Peserta dalam kegiatan ini adalah anggota Pokdarwis Desa Sambangan yang berjumlah 20 orang. Evaluasi dilakukan selama pelaksanaan kegiatan dengan melihat :  kehadiran peserta sampai akhir  (100%),  keaktifan peserta saat diskusi,dan memberikan  tes berupa pretest, postest. . Hasil  menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan  peserta dimana pada saat pre test hanya 45% persen peserta yang tahu dan memahami tentang BHD dan pertolongan pertama pada cedera. Setelah dilaksanakan pelatihan dan diberikan post test, hampir 80% peserta memahami tentang BHD dan pertolongan pertama pada cedera. Pelatihan ini juga membuat antusiasme peserta meningkat untuk mengetahui tentang BHD dilihat dari banyaknya pertanyaan dari peserta dan keaktifan dalam melakukan demonstrasi tentang BHDKata kunci: bantuan hidup dasar, pertolongan pertama pada cedera, pokdarwis sambangan
PENYULUHAN PERAWATAN KAKI DIABETIK KEPADA PESERTA PROGRAM PROLANIS DI PUSKESMAS BULELENG II TAHUN 2022 I Gede Surya Dinata; Udrayana, Oka; Ketut Suparna; Ida Ayu Setyawati Sri Krisna Dewi; Kadek Surya Candra Wijaya
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 12 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v12i1.51538

Abstract

Jumlah pengidap penyakit diabetes mellitus (DM) terus meningkat setiap tahun, seiring perubahan gaya hidup masyarakat global yang tidak sehat. Diperkirakan di seluruh dunia, lebih dari 500 juta orang dewasa hidup dengan DM. Peningkatan ini berdampak pada tingginya angka komplikasi DM, khususnya pada kaki akibat kerusakan pembuluh darah, saraf, gangguan system imun dan penyembuhan luka. Komplikasi DM pada kaki berupa adanya luka, infeksi, perubahan bentuk kaki yang sangat mengurangi kualitas hidup dan menjadi beban sosial dan kesehatan yang berat. Untuk itu diperlukan upaya pencegahan terjadinya komplikasi pada kaki pengidap DM untuk mencegah perburukan penyakit dan penurunan kualitas hidupnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan edukasi kepada pengidap penyakit DM, yang sebagian besar berobat ke Puskesmas sebagai peserta Prolanis, dengan metode penyuluhan dan diskusi dua arah. Edukasi dengan metode ceramah, dilaksanakan pada peserta Prolanis di Puskesmas Buleleng II, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan mampu melakukan tindakan perawatan kaki diabetic. Tanpa pemberian informasi yang baik, sehingga tidak memiliki pengetahuan yang benar, pengidap DM berisiko mengalami komplikasi pada kaki yang cukup serius, memerlukan perawatan di rumah sakit, bahkan kehilangan tungkai dan berakibat fatal.
DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN HEMOROID Pradiantini, Kadek Helen Yustika; Dinata, I Gede Surya
Ganesha Medicina Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.539 KB) | DOI: 10.23887/gm.v1i1.31704

Abstract

Hemoroid merupakan jaringan normal yang terdapat pada semua orang. Hemoroid terdiri dari pleksus arteri-vena yang berfungsi sebagai katup dalam saluran anus untuk membantu sistem sfingter anus, mencegah inkontinensia flatus dan cairan. Bila hemoroid menyebabkan suatu keluhan seperti rasa tidak nyaman, gatal pada anus atau bahkan perdarahan lewat anus, maka perlu diperhatikan dan ditangani lebih lanjut. Hemoroid dapat diklasifikasikan menjadi hemoroid interna dan hemoroid eksterna. Penyebab dari hemoroid belum diketahui secara pasti, tetapi ada hal-hal paling umum yang diduga dapat memicu terjadinya hemoroid, yaitu, mengejan terlalu keras saat proses defekasi, kehamilan, asites dan faktor usia. Untuk menegakkan diagnosis hemoroid dibutuhkan pemeriksaan penunjang yang mendukung. Hemoroid merupakan kondisi yang sangat umum dan mempengaruhi sekitar 10 juta orang per tahun. Satu studi memperkirakan bahwa lebih dari 50% populasi AS yang berusia di atas 50 tahun memiliki pengalaman tentang penyakit hemoroid. Dari beberapa penelitian yang dilakukan, orang yang lebih sering menderita hemoroid berjenis kelamin laki-laki dan puncak terjadinya hemoroid berada pada usia 35 sampai 65 tahun dan jarang terjadi pada usia dibawah 20 tahun.  Meskipun hemoroid tidak mengancam jiwa, tetapi penyakit ini sangat berpotensi mengurangi kualitas hidup seseorang. Tatalaksana untuk hemoroid tergantung dari derajat keparahan hemoroid itu sendiri. Terapi untuk hemoroid dapat berupa terapi konservatif, terapi non bedah dan terapi bedah. Kata kunci: Hemoroid, Gejala, Klasifikasi, Tatalaksana.
TATALAKSANA TERKINI INFEKSI KAKI DIABETES Dinata, I Gede Surya; Yasa, Anak Agung Gede Wira Pratama
Ganesha Medicina Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.38 KB) | DOI: 10.23887/gm.v1i2.39304

Abstract

Laporan dari International Diabetes Federation Tahun 2019 menyebutkan bahwa tingkat kejadian Diabetes Melitus (DM) meningkat setiap tahunnya dan diperkirakan sekitar 629 Juta orang di seluruh dunia menderita DM pada tahun 2045. Hal ini tentunya berdampak pada peningkatan dari komplikasi yang ditimbulkan oleh DM salah satunya adalah Diabetic Foot Infection (DFI) atau Infeksi Kaki Diabetes (IKD). IKD merupakan komplikasi lanjutan dari kaki diabetik yang ditandai oleh adanya proses invasi mikroorganisme yang berkembang di jaringan dalam seperti kulit, otot, tendon, sendi, tulang pada ekstremitas bawah, tepatnya di bawah malleoli. IKD dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan, termasuk kecacatan, mobilitas berkurang, penurunan kualitas hidup pada aspek fisik dan mental, serta ancaman kehilangan anggota tubuh oleh karena amputasi. Selain itu, penyakit ini juga dikaitkan dengan komplikasi DM lainnya seperti komplikasi neuropati perifer, Peripheral Arterial Disease (PAD), dan infeksi pada pasien DM. Dalam melakukan tatalaksana terhadap pasien DM dengan ataupun berisiko IKD, diperlukan perawatan lebih lanjut yang harus didasari dengan tingkat keparahan infeksi. Sebagian besar kasus IKD memiliki kecenderungan amputasi sehingga penting untuk dilakukan penatalaksanaan dan pencegahan secara komprehensif dengan melibatkan manajemen multidisiplin dengan  ahli bedah (umum, vaskular, ortopedi), penyakit dalam, dan perawat luka, sehingga dapat mengurangi waktu penyembuhan luka, tingkat, dan keparahan amputasi.
THE OVERVEW OF SPINAL CORD INJURY Dinata, I Gede Surya; Yasa, Anak Agung Gede Wira Pratama
Ganesha Medicina Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.165 KB) | DOI: 10.23887/gm.v1i2.39735

Abstract

Spinal cord injury (SCI) atau cedera medula spinalis adalah suatu kondisi gangguan pada medula spinalis atau sumsum tulang belakang dengan gejala fungsi neurologis mulai dari fungsi motorik, sensorik, dan otonomik, yang dapat berujung menjadi kecacatan menetap hingga kematian. Menurut WHO, SCI diperkirakan terjadi sebanyak 40-80 kasus per 1 juta penduduk dalam setahun. Kasus traumatis menjadi faktor tersering penyebab SCI (90%) mulai dari kecelakaan lalu lintas, jatuh, rekreasi, dan pekerjaan. Sehingga pasien yang mengalami trauma multipel patut dicurigai terkena SCI. Gejala dapat bervariasi tergantung tingkat lokasi dan keparahan lesi cedera yang dapat berupa gejala neurologis seperti nyeri pada bagian tengah dari punggung, parasthesia, hingga penurunan kesadaran pada pasien. Mekanisme terjadinya SCI dapat terjadi secara langsung atau cedera primer dan apabila pasien tidak diberikan penanganan segera dan adekuat, cedera primer akan berlanjut menjadi cedera sekunder. Informasi yang didapatkan sebelum pasien masuk ke unit gawat darurat penting untuk didapatkan seperti mekanisme dari terjadinya cedera, dan penanganan pre-hospital. Penanganan pasien SCI dapat menggunakan teknik ABCD dan dapat dilakukan tindakan pembedahan darurat apabila pasien memiliki faktor risiko tertentu. Bila pasien tidak mendapat penanganan intensif dan segera, maka cedera dapat berlanjut menjadi defisit neurologis serta kecacatan yang menetap hingga akhir hayat pasien. Maka dari itu, penting bagi kita sebagai seorang klinisi untuk mengetahui dari struktur anatomi dan fisiologi medula spinalis, epidemiologi, etiologi, patogenesis, gejala klinis, diagnosis, tatalaksana, serta prognosis dari SCI, sehingga dapat melakukan pengamatan dan penanganan awal pada pasien yang terindikasi SCI.
Development and Validation of a Virtual Reality Circumcision Training Simulator: Simulator Sickness, User Experience, and Clinical Performance in Bali, Indonesia Sindu, I Gede Partha; Kertiasih, Ni Ketut; Dinata, I Gede Surya; Sugiartawan, Putu
IJCCS (Indonesian Journal of Computing and Cybernetics Systems) Vol 19, No 4 (2025): October
Publisher : IndoCEISS in colaboration with Universitas Gadjah Mada, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijccs.111664

Abstract

Virtual Reality (VR) is increasingly integrated into medical education, yet its application in Indonesia remains limited. This study developed and validated a VR-based circumcision simulator to evaluate simulator sickness, user experience, and clinical performance. A mixed-methods, repeated-measures design was conducted with 74 participants (25 Novices, 24 Intermediates, 25 Experts). Participants engaged in three simulation modes (Autonomous, Guided, Haptic). Instruments included SSQ, FMS, VRNQ, UEQ-S, Checklist, and OSATS. Analyses employed repeated-measures ANOVA, nonparametric tests, and Spearman correlations. Simulator sickness was highest in Autonomous Mode. User experience scores improved with expertise, showing positive correlations with performance and negative correlations with sickness. Experts consistently outperformed other groups, and skill improvements were retained for up to one month. The VR circumcision simulator demonstrated strong construct validity and educational impact. Instructional modes effectively reduced sickness, while haptic integration enhanced spatial orientation. Future studies should incorporate physiological measures and assess real-world skill transfer.