Nurhayati Nurhayati
Jurusan Keperawatan Poltekkes Tanjungkarang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN LINGKUNGAN KERJA PENDERITA TB PARU TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT TB PARU Fina Oktafiyana; Nurhayati Nurhayati; Almurhan Almurhan
Jurnal Keperawatan Vol 12, No 1 (2016): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.06 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v12i1.344

Abstract

Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang hampir seluruh organ tubuh dapat diserang olehnya tapi yang paling sering diserang adalah paru-paru. Tujuan dari penalitian ini adalah Untuk mengetahui hubungan antara lingkungan kerja penderita TB Paru terhadap kejadian TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Panjang  Bandarlampung tahun 2015. Penelitian ini menggunakan metode  penelitian survei analitik dan dalam mencari hubungan variabel penelitian, peneliti menggunakan desain penelitian cross sectional. Populasi penelitian ini adalah semua orang yang berobat ke  Puskesmas Panjang Bandarlampung tahun 2015  yang berusia 20-59 tahun pada bulan Januari-Mei 2015 yang berjumlah 730 orang dengan jumlah sampel yaitu sebanyak 131 orang. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa dari 79 orang responden yang menyatakan lingkungan kerja tidak baik sebanyak 41 orang (51,9%) terkena TB paru setelah bekerja di lingkungan kerja tersebut, dari 52 orang responden yang menyatakan lingkungan kerja tidak baik tidak ada yang terkena TB paru. Dari hasil uji statistik didapatkan nilai p-value (0,00) berarti p < α (0,05) artinya Ho ditolak.Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara lingkungan kerja penderita TB paru terhadap kejadian TB paru di Puskesmas Panjang Bandarlampung tahun 2015. Disarankan kepada Puskesmas Panjang untuk memberi informasi tentang TB paru dan memantau lingkungan kerja, serta menjalankan APD (Alat Pelindung Diri) baik di Puskesmas maupun lingkungan kerja. 
PENGETAHUAN KANKER PAYUDARA DENGAN MEMERIKSA PAYUDARA SENDIRI (SADARI) PADA SISWI SEKOLAH MENENGAH ATAS Nurhayati Nurhayati
Jurnal Keperawatan Vol 9, No 1 (2013): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.916 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v9i1.292

Abstract

Kanker payudara merupakan salah satu jenis penyakit yang mempunyai prevalensi cukup tinggi. Kanker payudara dapat terjadi pada pria maupun wanita, hanya prevalensi pada wanita cukup tinggi. Tahun 2006 di Amerika terdapat 212.920 kasus baru kanker payudara pada wanita dan 1.720 kasus baru pada pria, dengan 40.970 kasus kematian pada wanita dan 460 kasus kematian pada pria. Kanker payudara di Indonesiasebanyak 463 kasus dari 2.538 kasus kanker (18,24%), sedangkan kasus kanker pada remaja putri sebanyak 54 kasus (11,66%). Catatan medik Rumah Sakit Abdul Moeloek  pasien ruang Mawar tahun 2009 mencapai 398 pasien, 70% pasien tersebut sudah dalam stadium lanjut dan menjalani kemoterapi. Pendeteksi dini kanker payudara pada remaja putri sebenarnya mudah dan dapat dilakukan oleh setiap wanita maupun pria. Waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri adalah  seminggu setelah menstruasi, pemeriksaan payudara sendiri pada wanita disebut SADARI.Tujuan dari penelitian ini adalah  diketahuinya hubungan antara pengetahuan kanker payudara dengan memeriksa payudara sendiri (SADARI) pada siswi kelas X.X1 dan X11 SMA Tunasharapan Gedong Meneng Bandar Lampung. Desain yang digunakan  adalah Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswi SMA Tunas Harapan kelas X, XI dan XII Gedong meneng Bandar Lampung  yang berjumlah 52 orang. Pengumpulan data menggunakan lembar instrument test, dan analisa data menggunakan rumus uji Chi Square. Hasil analisa menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antar pengetahuan kanker payudara dengan tindakan memeriksa payudara sendiri di SMA Tunas Harapan  Bandar Lampung, dengan p value sebesar 0,865.Peneliti menyarankan agar SMA Tunas Harapan dapat meminta  informasi tentang pelaksanaan memeriksa payudara sendiri bekerja sama dengan program promosi kesehatan Puskesmas setempat.
PENGARUH LATIHAN KANDUNG KEMIH (BLADDER TRAINING) TERHADAP INTERVAL BERKEMIH WANITA LANJUT USIA (LANSIA) DENGAN INKONTINENSIA URIN M.Reza Pamungkas; Nurhayati Nurhayati; Musiana Musiana
Jurnal Keperawatan Vol 9, No 2 (2013): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.243 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v9i2.360

Abstract

Inkontinensia urin ialah kehilangan kontrol berkemih yang bersifat sementara atau menetap (Potter dan Perry, 2006). Salah satu  penatalaksananaan keperawatan klien dengan inkontinensia urin adalah  bladder training. Bladder Training adalah latihan kandung kemih yang bertujuan untuk mengembangkan tonus otot dan sfingter kandung kemih agar berfungsi optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan kandung kemih (bladder training) terhadap interval berkemih pada lansia yang mengalami inkontinensia urin di UPTD PSLU Tresna Werdha Bakti Yuswa Provinsi Lampung.  Penelitian menggunakan desain quasi eksperimen pada 26 lansia penderita inkontinensia urin. Teknik pengambilan sampel  dengan  cara accidental sampling. Hasil penelitian didapat  rata-rata interval berkemih lansia sebelum latihan kandung kemih adalah 2,3154 jam dengan SD = 0,82580 sedangkan rata-rata interval berkemih lansia setelah latihan kandung kemih  yaitu  2,4615 jam dengan SD = 0,83992. Hasil uji statistic didapat  nilai P-value 0,000. Hal ini berarti ada perbedaan  rata – rata interval berkemih pada lansia sebelum dan setelah latihan kandung kemih. Saran bagi institusi agar dapat melanjutkan terapi komplementer ini dengan  pengawasan intensif pengasuh wisma sehingga lansia dapat memiliki kemampuan lebih lama dalam menahan urin