Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Makna Simbolik Tradisi Pakkio’ Bunting Pada Perkawinan Adat Suku Makassar Nosakros Arya Arya; Teguh Ardiansyah Sabir; Dhia Naufalia Ilmi; Akhyar
Connected: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 2 No. 2 Desember 2021
Publisher : Connected: Jurnal Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.945 KB)

Abstract

Marriage is an essential thing for a person—likewise, the views of the Bugis people. According to the opinion of the Bugis people, marriage is not the union of the two brides and groom in a husband-wife relationship. Still, marriage is a ceremony that aims to unite two prominent families that have previously become closer or deeper. The depth of the meaning of marriage for Bugis makes a series of ceremonies to respect the perka. In the customary marriage of the Bugis Makassar, there is a tradition that the community has carried out. One of those traditions is "Pakkio' Bunting." Pakkio 'Buntter' consists of two words, namely pakkio, 'which means the caller or welcome, and the pregnant bride or groom. Pakkio' Bunting poetry is tribal oral literature in a series of poetic lines used in the welcoming procession. When the groom and his entourage arrive at the bride's house, a man will say the Pakkio' pregnant poem. The research aims to practice the pakkio' pregnant tradition in Bugis Makassar traditional marriages today, which causes the Pakkio' Bunting tradition in Bugis customary marriages. Then identify the most reasonable efforts to maintain the Pakkio' Bunt tradition in the Makassar Bugis marriage tradition. The location of this research is Biringbulu District, Kab. Gowa, South Sulawesi Province. This research will use a qualitative descriptive approach. Based on the research results, the meaning of the pregnant pakkiok is related to the atmosphere of the newlyweds navigating the household ark, such as being responsible, respecting each other, accepting each other, and understanding each other.
POLA KOMUNIKASI DALAM MEMPERTAHANKAN ALIRAN KEPERCAYAAN PADA RITUAL KOMUNITAS TOLOTANG Kahar Kahar; Dhia Naufalia Ilmi
KAREBA : Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 11 No. 2 Juli-Desember 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap komunitas manusia memiliki struktur sosial atau tatanan baku yang disepakati serta fungsi yang melekat pada setiap bagian struktur sosial. Dalam suatu komunitas perlu adanya pola yang berfungsi sebagai pengatur tingkah laku setiap anggota komunitasnya. Sebagaimana komunitas yang terdapat di Amparita Sidenreng Rappang yaitu komunitas Tolotang. Masyarakat Tolotang menjalani kehidupan sehari-harinya seperti masyarakat lainnya di. Komunitas mereka dikenal dengan integritas budaya yang kuat. peneliti ingin mengkaji mengenai pola komunikasi uwatta’ dalam mempertahankan aliran kepercayaan melalui ritual komunitas tolotang. Penelitian ini mengkaji mengenai pola komunikasi pemimpin tertinggi komunitas Tolotang, uwatta’, dalam mempertahankan aliran kepercayaan melalui ritual komunitas tolotang. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan mewawancari informan yang merupakan pemangku adat (Uwa) serta masyarakat Towani Tolotang secara umum dalam hal ini masyarakat biasa (umat). Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Amparita Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidenreng Rappang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pola Komunikasi Interpersonal Uwatta dilakukan dalam mempertahankan ritual aliran kepercayaan melalui ritual Tolotang dengan mengembangkan nilai-nilai tertentu yang diwariskan secara turun-temurun. Bentuk pola komunikasi yang dilakukan oleh Uwatta sebelum persiapan pelaksanaan ritual, dilakukan dengan duduk bermusyawarah bersama dengan para Uwa. Dari hasil kesepakatan para Uwa tersebut di sampaikan kepada Pemerintah.