Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efek Antidiabetes Tanaman Okra (Abelmoschus esculentus) Cahaya Carla Bangsawan; Intanri Kurniati
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 4 (2019): Volume 6 Nomor 4
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.062 KB) | DOI: 10.33024/jikk.v6i4.2108

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi batas normal dimana kadar gula darah sewaktu sama atau melebihi 200 mg/dL, dan kadar gula darah puasa di atas atau sama dengan 126 mg/dL atau kadar gula darah plasma 2 jam pada Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) ³200 mg/dL diikuti dengan gejala polidipsia, poliuria, dan polifagia. Berdasarkan data Riskesdas 2018, penderita diabetes melitus terbesar berada pada rentang usia 55-64 tahun dan 65-74 tahun serta lebih didominasi oleh wanita (1.8%) dibandingkan pria (1.2%) dan banyak ditemui di daerah perkotaan (1.9%) dibandingkan perdesaan (1.0%). Penggunaan obat jangka panjang sebagai terapi diabetes sering kali menimbulkan beberapa efek samping yang akhirnya menurunkan tingkat kepatuhan pasien dalam meminum obat. Buah okra (Abelmoschus esculentus) termasuk dalam keluarga Malvaceae merupakan tanaman yang tersebar luas di Indonesia bahkan di dunia. Tanaman ini banyak dikonsumsi sebagai alternatif terapi untuk mengobati penyakit diabetes melitus oleh masyarakat. Review artikel ini tertuju pada pengaruh tanaman okra (Abelmoschus esculentus) sebagai anti diabetes. Simpulan, tanaman okra dapat menjadi terapi alternatif untuk mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus.
Peran Growth Differentiation Factor-15 (GDF-15) sebagai Biomarker Prognostik Gagal Jantung: Literature Review Brian; Iswandi Darwis; Eka Putri Rahmadhani; Intanri Kurniati
Medula Vol 16 No 2 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i2.1770

Abstract

Heart failure is a complex clinical syndrome with high morbidity and mortality, contributing to a substantial global health burden, including in Indonesia. Although conventional biomarkers such as BNP and NT-proBNP are well established for diagnosis and risk stratification, they have limitations in capturing the heterogeneous pathophysiology of heart failure. Growth Differentiation Factor-15 (GDF-15), a member of the TGF-β superfamily that increases in response to oxidative stress, inflammation, and myocardial ischemia, has emerged as a more comprehensive prognostic biomarker. This literature review examines clinical studies, prospective and retrospective cohorts, observational research, and meta-analyses evaluating the prognostic value of GDF-15 in acute and chronic heart failure. The synthesized evidence demonstrates that elevated GDF-15 levels consistently correlate with increased risks of mortality, rehospitalization, and disease progression. In addition, serial measurements of GDF-15 reflect therapeutic response, as failure of GDF-15 levels to decline is associated with poorer outcomes. Combining GDF-15 with other biomarkers, such as NT-proBNP, further enhances risk stratification accuracy compared with single-biomarker assessment. Based on current evidence, GDF-15 holds substantial potential as an independent and dynamic prognostic biomarker, supporting more precise risk assessment, disease monitoring, and clinical decision-making in patients with heart failure.