Abdul Hafid
Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MA’BURA KAMPUNG: RITUAL TRADISIONAL PADA MASYARAKAT BATETANGNGA DI KABUPATEN POEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT Abdul Hafid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.198

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendekripsikan tentang tradisi ritual Mabbura Kampung, yang merupakan salah satu tradisi ritual yang dilakukan pada masyarakat Suku Pattae tepatnya Dusun Baruga dan Dusun Passembaran di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi (pengamatan langsung terhadap berbagai aktivitas dan perilaku pada masyarakat Suku Pattae di Desa Batetangnga), wawancara mendalam terhadap tokoh masyarakat, budayawan, pelaku ritual dan pemerintah setempat serta dokumentasi. Tradisi ritual Mabbura Kampung ini, mencerminkan karakter dan jati diri masyarakat Suku Pattae di Desa Batetangnga sehingga perlu dikaji dalam upaya melestarikan budaya lokal, sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Dari hasil penelitian ini diketahui, bahwa pelaksanaan tradisi ritual Mabbura Kampung merupakan warisan nenek moyang terdahulu yang diyakini sebagai pencucian diri atau tolak bala’ dari berbagai gangguan bencana alam, baik gangguan tanaman, gangguan di sungai maupun gangguan wabah penyakit yang dapat membahayakan kehidupan masyarakat pendukungnya. Tradisi ritual Mabbura Kampung  tersebut hingga saat ini masih tetap bertahan dan dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat pendukungnya yang bermukim di Desa Batetangnga dan masyarakar Suku Pattae pada umunya. Tradisi ritual ini dipimpin oleh dua orang, yaitu  sando banua baine (dukun kampung perempuan), dan seorang Imam kampung, dan  kedua pemimipin ritual ini  mempunyai tugas masing-masing.          
PENGOBATAN TRADISIONAL PENYAKIT “NONMEDIS” PADA MASYARAKAT ADAT KAJANG KABUPATEN BULUKUMBA SULAWESI – SELATAN Abdul Hafid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2060.348 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v5i2.37

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan tentang pengobatan tradisional berkenaan dengan penyakit nonmedis, penyakit kajakkalang (arwah leluhur), kasamperoan (penghuni kampung), pappitaba (guna-guna), dan pangngisengang (pekasih). Pengobatan mengenai penyakit nonmedis merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat adat Kajang untuk mengatasi persoalan penyakit yang sering diderita oleh masyarakat adat Kajang. Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat Kajang masih tetap mempertahankan sistem pengobatan tradisional yang terkait dengan penyakit nonmedis. Menurut pandangan masyarakat adat Kajang bahwa penyakit nonmedis adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara medis oleh ilmu kedokteran karena jenis penyakit ini disebabkan oleh hal gaib, seperti kemasukan roh leluhur, setan atau jin, dan sebagainya. Penyakit nonmedis biasa juga disebabkan oleh perbuatan manusia yang menggunakan makhluk gaib atau makhluk halus (guna-guna). Jenis penyakit seperti ini diyakini oleh masyarakat adat Kajang bahwa pengobatannya harus melalui dukun atau sanro. Pengobatan dilakukan berdasarkan gejala dan penyebab masing-masing penyakit, gejalanya ada sebagian mirip satu dengan lainnya, akan tetapi sanro memiliki pengetahuan lokal untuk mengobati penyakit dengan melihat kondisi dan perilaku pasien.