Seismic gap didefinisikan sebagai wilayah potensi gempa tinggi yang seharusnya telah melepaskan energi sebagai gempa besar, namun berdasarkan data katalog pelepasan energi tersebut belum terjadi. Identifikasi zona seismic gap dapat digunakan dalam meningkatkan kewaspadaan, penentuan prioritas monitoring kegempaan, warning tsunami, pertimbangan pembangunan infrastruktur, dan tata kota wilayah sehingga perlunya pemahaman yang akurat tentang karakteristik gempabumi di Indonesia. Dalam penelitian ini, baik a Value maupun b Value dari hubungan distribusi frekuensi-magnitudo dan fractal dimension (Dc) diteliti secara bersamaan dari 12 zona seismic gap di Indonesia. Dengan menggunakan data gempabumi, perhitungan b-value dan Dc-value telah menyiratkan adanya variasi seismotectonic stress. Hubungan antara Dc-b dan Dc-(a/b) diteliti untuk mengkategorikan tingkatan bahaya gempabumi dari zona sumber seismik, dimana kalibrasi kurva menggambarkan korelasi negatif antara Dc dan b-value (Dc=0.1146b-1.9029) dan korelasi negatif antara Dc dan rasio a/b (Dc=0.0443(a/b)-6.825) dengan koefisien korelasi yang berbeda antara R2=0.0011 dan R2=0.0027 untuk kedua regresi. Berdasarkan hubungan Dc-b lebih terpercaya dan lebih efektif, diinterpretasikan secara tektonik bahwa zona West Papua dan Fault Sumatera Selatan menunjukkan akumulasi stress yang rendah sedangkan zona Backthrust Bali dan Halmahera sebagai wilayah dengan stress tertinggi, yang berpotensi terjadinya gempa besar. Oleh karena itu, disarankan untuk di kaji lebih detail untuk memahami karakteristiknya sebagai upaya mitigasi bencana gempabumi.