Agustya Adi Martha
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

DISTRIBUSI FREKUENSI GEMPA DAN DIMENSI FRAKTAL PADA SEISMIK GAP DI INDONESIA Rahmat Setyo Yuliatmoko; Yusuf Hadi Perdana; Agustya Adi Martha
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 22, No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2338.408 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v22i2.771

Abstract

Seismic gap didefinisikan sebagai wilayah potensi gempa tinggi yang seharusnya telah melepaskan energi sebagai gempa besar, namun berdasarkan data katalog pelepasan energi tersebut belum terjadi. Identifikasi zona seismic gap dapat digunakan dalam meningkatkan kewaspadaan, penentuan prioritas monitoring kegempaan, warning tsunami, pertimbangan pembangunan infrastruktur, dan tata kota wilayah sehingga perlunya pemahaman yang akurat tentang karakteristik gempabumi di Indonesia. Dalam penelitian ini, baik a Value maupun b Value dari hubungan distribusi frekuensi-magnitudo dan fractal dimension (Dc) diteliti secara bersamaan dari 12 zona seismic gap di Indonesia. Dengan menggunakan data gempabumi, perhitungan b-value dan Dc-value telah menyiratkan adanya variasi seismotectonic stress. Hubungan antara Dc-b dan Dc-(a/b) diteliti untuk mengkategorikan tingkatan bahaya gempabumi dari zona sumber seismik, dimana kalibrasi kurva menggambarkan korelasi negatif antara Dc dan b-value (Dc=0.1146b-1.9029) dan korelasi negatif antara Dc dan rasio a/b (Dc=0.0443(a/b)-6.825) dengan koefisien korelasi yang berbeda antara R2=0.0011 dan R2=0.0027 untuk kedua regresi. Berdasarkan hubungan Dc-b lebih terpercaya dan lebih efektif, diinterpretasikan secara tektonik bahwa zona West Papua dan Fault Sumatera Selatan menunjukkan akumulasi stress yang rendah sedangkan zona Backthrust Bali dan Halmahera sebagai wilayah dengan stress tertinggi, yang berpotensi terjadinya gempa besar. Oleh karena itu, disarankan untuk di kaji lebih detail untuk memahami karakteristiknya sebagai upaya mitigasi bencana gempabumi.
Analisis Perubahan Parameter Fisis dan Kimiawi Sebagai Studi Prekursor Gempa Bumi di Wilayah Yogyakarta Divyana Meidita; Agustya Adi Martha; Yosi Setiawan; Supriyanto Rohadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 22, No 1 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1799.913 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v22i1.766

Abstract

Gempa merusak pernah terjadi di sekitar Sesar Opak, Yogyakarta pada 27 Mei 2006 dengan kekuatan 6,3 Mw. Sebagai upaya mitigasi, BMKG melakukan pengamatan parameter fisis dan kimiawi dengan memasang sensor parameter prekursor di Stasiun Pundong dan Piyungan, Yogyakarta. Data parameter prekursor (radon, geotemperatur, suhu udara, dan ketinggian air tanah) diperoleh dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) BMKG, sedangkan data parameter gempa bumi diperoleh dari katalog BMKG dengan kriteria magnitudo  dan jarak episenter dalam radius km pada tahun 2018. Penelitian ini menganalisis variasi nilai parameter prekursor yang berasosiasi dengan aktivitas gempa bumi di wilayah Yogyakarta. Pengolahan data mengacu pada beberapa penelitian terdahulu dengan menggunakan metode statistik. Validasi dilakukan secara kuantitatif menggunakan data curah hujan dan secara kualitatif menggunakan data kondisi geologi dari studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan adanya indikasi perubahan nilai parameter prekursor sebelum gempa bumi dengan variasi nilai yang dipengaruhi oleh besarnya parameter gempa, tetapi masih sulit dibedakan apakah anomali terjadi akibat aktivitas tektonik atau kondisi meteorologis.
Analisis Perubahan Parameter Fisis dan Kimiawi Sebagai Studi Prekursor Gempa Bumi di Wilayah Yogyakarta Divyana Meidita; Agustya Adi Martha; Yosi Setiawan; Supriyanto Rohadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v22i1.766

Abstract

Gempa merusak pernah terjadi di sekitar Sesar Opak, Yogyakarta pada 27 Mei 2006 dengan kekuatan 6,3 Mw. Sebagai upaya mitigasi, BMKG melakukan pengamatan parameter fisis dan kimiawi dengan memasang sensor parameter prekursor di Stasiun Pundong dan Piyungan, Yogyakarta. Data parameter prekursor (radon, geotemperatur, suhu udara, dan ketinggian air tanah) diperoleh dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) BMKG, sedangkan data parameter gempa bumi diperoleh dari katalog BMKG dengan kriteria magnitudo  dan jarak episenter dalam radius km pada tahun 2018. Penelitian ini menganalisis variasi nilai parameter prekursor yang berasosiasi dengan aktivitas gempa bumi di wilayah Yogyakarta. Pengolahan data mengacu pada beberapa penelitian terdahulu dengan menggunakan metode statistik. Validasi dilakukan secara kuantitatif menggunakan data curah hujan dan secara kualitatif menggunakan data kondisi geologi dari studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan adanya indikasi perubahan nilai parameter prekursor sebelum gempa bumi dengan variasi nilai yang dipengaruhi oleh besarnya parameter gempa, tetapi masih sulit dibedakan apakah anomali terjadi akibat aktivitas tektonik atau kondisi meteorologis.
DISTRIBUSI FREKUENSI GEMPA DAN DIMENSI FRAKTAL PADA SEISMIK GAP DI INDONESIA Rahmat Setyo Yuliatmoko; Yusuf Hadi Perdana; Agustya Adi Martha
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v22i2.771

Abstract

Seismic gap didefinisikan sebagai wilayah potensi gempa tinggi yang seharusnya telah melepaskan energi sebagai gempa besar, namun berdasarkan data katalog pelepasan energi tersebut belum terjadi. Identifikasi zona seismic gap dapat digunakan dalam meningkatkan kewaspadaan, penentuan prioritas monitoring kegempaan, warning tsunami, pertimbangan pembangunan infrastruktur, dan tata kota wilayah sehingga perlunya pemahaman yang akurat tentang karakteristik gempabumi di Indonesia. Dalam penelitian ini, baik a Value maupun b Value dari hubungan distribusi frekuensi-magnitudo dan fractal dimension (Dc) diteliti secara bersamaan dari 12 zona seismic gap di Indonesia. Dengan menggunakan data gempabumi, perhitungan b-value dan Dc-value telah menyiratkan adanya variasi seismotectonic stress. Hubungan antara Dc-b dan Dc-(a/b) diteliti untuk mengkategorikan tingkatan bahaya gempabumi dari zona sumber seismik, dimana kalibrasi kurva menggambarkan korelasi negatif antara Dc dan b-value (Dc=0.1146b-1.9029) dan korelasi negatif antara Dc dan rasio a/b (Dc=0.0443(a/b)-6.825) dengan koefisien korelasi yang berbeda antara R2=0.0011 dan R2=0.0027 untuk kedua regresi. Berdasarkan hubungan Dc-b lebih terpercaya dan lebih efektif, diinterpretasikan secara tektonik bahwa zona West Papua dan Fault Sumatera Selatan menunjukkan akumulasi stress yang rendah sedangkan zona Backthrust Bali dan Halmahera sebagai wilayah dengan stress tertinggi, yang berpotensi terjadinya gempa besar. Oleh karena itu, disarankan untuk di kaji lebih detail untuk memahami karakteristiknya sebagai upaya mitigasi bencana gempabumi.