This Author published in this journals
All Journal Warta Perkaretan
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TANTANGAN BUDIDAYA KARET DALAM KONDISI PERUBAHAN IKLIM GLOBAL Junaidi Junaidi
Warta Perkaretan Vol. 38 No. 2 (2019): Volume 38, Nomor 2, Tahun 2019
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1151.137 KB) | DOI: 10.22302/ppk.wp.v38i2.657

Abstract

Kesadaran terhadap dampak pemanasan global dan perubahan iklim perlu terus ditingkatkan. Artikel ini menyampaikan perubahan kondisi iklim saat ini dan dampaknya terhadap kultur teknis tanaman karet. Dampak pemanasan global dan perubahan iklim meliputi peningkatan suhu dan kekeringan yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman, memperpanjang periode tanaman belum menghasilkan (TBM), menurunkan hasil, dan meningkatkan potensi kejadian kering alur sadap (KAS). Anomali cuaca juga dapat menyebabkan curah hujan berlebihan yang dapat mengganggu kegiatan panen, menyebabkan kehilangan hasil dan meningkatkan serangan penyakit daun dan akar. Ancaman lain adalah evolusi gulma menjadi lebih agresif dan sulit dikendalikan. Artikel ini menggarisbawahi pentingnya perakitan klon yang adaptif terhadap perubahan iklim global. Pada bagian akhir disampaikan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak perubahan iklim pada tanaman karet antara lain penanaman tanaman penutup tanah, pembuatan rorak dan konservasi air untuk mengurangi dampak kekeringan; penerapan sistem penyadapan tipologi klon, diagnosis lateks dan manajemen panel sadap untuk pencegahan KAS;  pengolahan lahan, penggunaan bahan kimia dan agensia hayati untuk pengendalian penyakit jamur akar putih (JAP); modifikasi jarak tanam dan penggunaan tanaman pemecah angin untuk antisipasi serangan angin; penggunaan pelindung hujan mengurangi kehilangan hasil; serta pengendalian gulma terpadu dan tumpang sari untuk menekan pertumbuhan gulma di areal tanaman karet.
SIFAT FISIOLOGI LATEKS TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis) AKIBAT PEMBERIAN STIMULAN ORGANIK Muhamad Rizqi Darojat; Radite Tistama; Junaidi Junaidi
Warta Perkaretan Vol. 39 No. 1 (2020): Volume 39, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.569 KB) | DOI: 10.22302/ppk.wp.v39i1.691

Abstract

Teknologi stimulan lateks masih sangat rendah diadopsi oleh petani karet rakyat karena  dikhawatirkan dapat membahayakan tanaman dan memiliki harga jual yang cukup tinggi. Ekstrak kulit buah klimakterik dapat digunakan sebagai stimulan lateks organik karena mengandung zat etilen. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh jenis stimulan yaitu kovensional (berbahan aktif etefon) dan bahan organik (ektrak kulit buah pisang dan nanas) terhadap produksi dan kondisi fisiologi lateks tanaman karet. Penelitian ini menggunakan rancangan tersarang dua tahap (two-stage nested design) yaitu: jenis klon  (PB 260, IRR 118, IRR 39, dan IRR 42), dan jenis stimulan (0% tanpa stimulan, Ethrel 2,5%, SP-1, ekstrak kulit buah pisang, dan ekstrak kulit nanas). Stimulan berbahan Ethrel (ET2,5% dan SP-1) dan stimulan ekstrak pisang menghasilkan produksi lateks lebih tinggi dibanding dengan stimulan ekstrak nanas dan kontrol. Stimulan organik memiliki nilai TSC lebih tinggi pada klon IRR 118 dan PB 260. Hasil diagnosa lateks menunjukkan stimulan konvensional maupun organik menghasilkan nilai sukrosa, fosfat anorganik (Pi), dan thiol yang berfluktuatif, namun masih berada pada kisaran batas normal. Kadar sukrosa dan Pi cenderung menurun dan kadar thiol cenderung meningkat terhadap kontrol dengan kisaran nilai sebesar  0,72 – 1,76 mM, 0,06 – 0,13 mM, dan 0,8 – 6,3 mM, secara berturut-turut. Jenis stimulan konvensional menghasilkan nilai penurunan kadar thiol lebih tinggi sehingga relatif memberikan efek fisiologis lebih berat dibandingkan dengan stimulan organik. Hasil ini menunjukkan bahwa stimulan Ethrel maupun stimulan organik tidak memberikan efek negatif terhadap kondisi fisiologi lateks tanaman karet.