Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ASPEK TEKNIS, FISIOLOGIS, DAN EKONOMIS BERBAGAI SISTEM PENYADAPAN FREKUENSI RENDAH UNTUK MERESPON TINGGINYA BIAYA PENYADAPAN DAN KELANGKAAN PENYADAP Radite Tistama; Afdholiatus Syafaah; sahuri sahuri; jamin saputra; Iman Satra Nugraha
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 39, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v39i1.776

Abstract

Agribisnis karet selama satu dekade ini kurang menguntungkan karena harga karet sangat rendah dan rendahnya produktivitas di sebagian besar perkebunan karet. Kondisi ini membutuhkan upaya efesiensi biaya produksi terutama dari biaya penyadapannya. Sistem penyadapan frekuensi rendah (PFR) diuji untuk mengatasi permasalahan biaya produksi penyadapan. Klon yang digunakan untuk pengujian ini adalah PB 260 dan RRIC 100 pada tanaman satu tahun sadap atau TM 1. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa selama 7 bulan pengamatan, klon PB 260 dan RRIC 100 dengan perlakuan PFR d4, d5, dan d7 masih di bawah produksi sistem sadap konvensional d3. Perubahan produksi PB 260 terjadi seiring penurunan frekuensi penyadapan yaitu dari sistem d3 ke PFR d4 terjadi penurunan sebesar 17%, dari d3 ke PFR d5 menurun sebesar 34%, dan dari d3 ke LFT d7 menurun sebesar 52%. PFR d4 pada RRIC 100 menghasilkan karet kering paling mendekati produksi d3 dengan selisih 456 kg/ha/tahun atau 26% lebih rendah. Konsumsi kulit pada frekuensi penyadapan d3 sesuai dengan norma, sedangkan pemakaian kulit PFR d4, d5, dan d7 masih kurang 2-3 cm per bulan di bawah norma. Diagnosis lateks menunjukkan bahwa kondisi fisiologis tanaman kedua klon yang diperlakukan dengan d4 masih dikategorikan optimum, sementara sistem sadap d5 dan d7 masih termasuk dalam kondisi under eksploitasi. Keuntungan tertinggi diperoleh pada frekuensi penyadapan d3 diikuti PFR d4, d5, dan d7. Keuntungan sistem penyadapan d3 akan tercapai apabila tersedia tenaga penyadap. Perkebunan karet yang terkendala kurangnya penyadap, PFR d4 atau d5 sebaiknya diimplementasikan.
SIFAT FISIOLOGI LATEKS TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis) AKIBAT PEMBERIAN STIMULAN ORGANIK Muhamad Rizqi Darojat; Radite Tistama; Junaidi Junaidi
Warta Perkaretan Vol. 39 No. 1 (2020): Volume 39, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.569 KB) | DOI: 10.22302/ppk.wp.v39i1.691

Abstract

Teknologi stimulan lateks masih sangat rendah diadopsi oleh petani karet rakyat karena  dikhawatirkan dapat membahayakan tanaman dan memiliki harga jual yang cukup tinggi. Ekstrak kulit buah klimakterik dapat digunakan sebagai stimulan lateks organik karena mengandung zat etilen. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh jenis stimulan yaitu kovensional (berbahan aktif etefon) dan bahan organik (ektrak kulit buah pisang dan nanas) terhadap produksi dan kondisi fisiologi lateks tanaman karet. Penelitian ini menggunakan rancangan tersarang dua tahap (two-stage nested design) yaitu: jenis klon  (PB 260, IRR 118, IRR 39, dan IRR 42), dan jenis stimulan (0% tanpa stimulan, Ethrel 2,5%, SP-1, ekstrak kulit buah pisang, dan ekstrak kulit nanas). Stimulan berbahan Ethrel (ET2,5% dan SP-1) dan stimulan ekstrak pisang menghasilkan produksi lateks lebih tinggi dibanding dengan stimulan ekstrak nanas dan kontrol. Stimulan organik memiliki nilai TSC lebih tinggi pada klon IRR 118 dan PB 260. Hasil diagnosa lateks menunjukkan stimulan konvensional maupun organik menghasilkan nilai sukrosa, fosfat anorganik (Pi), dan thiol yang berfluktuatif, namun masih berada pada kisaran batas normal. Kadar sukrosa dan Pi cenderung menurun dan kadar thiol cenderung meningkat terhadap kontrol dengan kisaran nilai sebesar  0,72 – 1,76 mM, 0,06 – 0,13 mM, dan 0,8 – 6,3 mM, secara berturut-turut. Jenis stimulan konvensional menghasilkan nilai penurunan kadar thiol lebih tinggi sehingga relatif memberikan efek fisiologis lebih berat dibandingkan dengan stimulan organik. Hasil ini menunjukkan bahwa stimulan Ethrel maupun stimulan organik tidak memberikan efek negatif terhadap kondisi fisiologi lateks tanaman karet.