Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Problematika Seksual dan Solusinya Aina Noor Habibah
Bahasa Indonesia Vol 4 No 1 (2018): Jurnal Ilmiah Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf, Maret 2018
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.709 KB) | DOI: 10.53429/spiritualis.v4i1.44

Abstract

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memang mempermudah segala urusan manusia. Seseorang dengan mudah mengakses berita melalui internet. Baik berupa video atau yang lainnya. Namun dibalik kemudahan itu, ada beberapa dampak negatif yang tidak boleh dilupakan. Misalnya, semakin mudah orang mengakses informasi melalui internet, semakin mudah pula mereka mendapatkan video-video negatif. Dampak dari semua itu, dalam dunia modern, terutama pada negara-negara maju, tingkat kejahatan seksual lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara berkembang. Oleh sebab itu, agama harus memainkan peran agar kejahatan tersebut bisa di tanggulangi. Tulisan singkat itu mencoba menguraikan beberapa sebab kejahatan seksual yang terjadi dan menawarkan solusinya. Kesimpulan artikel ini adalah pertama langkah pencegahan agar tidak mendekati zina, kedua mengenakan h}ijab. Dalam persoalan homo-lesbi, al-Qur‟an menawarkan solusi lewat pencitraan masyarakat bahwa „hal tersebut keji‟. Kedua dengan cara menikah secara wajar, yaitu dengan lawan jenis.
REFORMASI TASAWUF DALAM KERANGKA MODERASI BERAGAMA: STUDI PEMIKIRAN BUYA HAMKA DAN K.H. ABDURRAHMAN WAHID Aina Noor Habibah; Moch. Bashori Alwi; Bayu Fermadi; Akhmad Ali Said; Yuni Pangestutiani; Misbachul Munir; Moh. Hasan Fauzi; M. Sirojudin Alfin Abas
Journal of Innovative and Creativity Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.8426

Abstract

Artikel ini mengkaji pemikiran dua tokoh intelektual Muslim Indonesia, Buya Hamka dan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dalam merumuskan konsep moderasi beragama melalui reformasi tasawuf. Kedua tokoh ini merepresentasikan dua tradisi besar Islam Indonesia yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang memiliki pendekatan berbeda namun sama-sama berorientasi pada moderasi. Penelitian ini menggunakan metode analisis komparatif terhadap karya-karya utama kedua tokoh untuk menemukan titik temu dan perbedaan dalam upaya mereka mereformasi tasawuf sebagai instrumen moderasi beragama di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun memiliki pendekatan yang berbeda, Hamka lebih purifikasionis sementara Gus Dur lebih akomodatif, keduanya sama-sama menekankan pentingnya tasawuf yang aktif, rasional, dan berorientasi pada keadilan sosial. Sintesis dari pemikiran keduanya menawarkan framework moderasi beragama yang komprehensif bagi Indonesia kontemporer yang menghadapi tantangan radikalisme, sekularisme, dan intoleransi.
Relevansi Al-Hikam Ibnu ‘Athā’illāh bagi Pendidikan Akhlak Generasi Muda di Konteks Pascamodern Akhmad Ali Said; Bayu Fermadi; Moch. Bashori Alwi; Misbachul Munir; Moh. Hasan Fauzi; Yuni Pangestutiani; Aina Noor Habibah; Siti Isti'anah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v2i2.8438

Abstract

presents complex challenges to the moral and spiritual identity formation of youth. Conventional models of character education tend to rely on behavioral and secular frameworks, which often fail to adequately address the inner and spiritual dimensions of human development. This article aims to systematically examine the relevance and potential integration of Sufi teachings found in Al-Hikam by Ibn Ata’illah al-Sakandari as a transformative framework for youth character education within this context. This study employs a systematic literature review of fifty selected scholarly articles retrieved from major academic databases, including Consensus, Semantic Scholar, and PubMed, which met the established inclusion criteria. Thematic synthesis reveals that the core values articulated in Al-Hikam, such as ikhlas or sincerity, muhasabah or self reflection, tawadhu or humility, shabr or patience, and syukr or gratitude, are highly relevant for fostering resilience, self awareness, and moral responsibility among adolescents. The integration of these values through curricular strategies, experiential learning activities, and teacher modeling demonstrates positive and measurable impacts across three developmental domains, namely affective spiritual growth, moral and behavioral formation, and cognitive academic performance. However, the implementation of this integrative approach faces several challenges, including limited teacher preparedness, fragmented curricula, and methodological difficulties in assessing inner spiritual transformation. In conclusion, the teachings of Al-Hikam provide a strong and contextually relevant philosophical and pedagogical foundation for holistic character education in the midst of postmodern societal complexities. Effective implementation requires sustained commitment to integrative educational models, systematic capacity building for educators, and close collaboration among schools, families, and community environments.
Tazkiyat Al-Nafs Dalam Perspektif Al-Ghazali Dan Ibnu Miskawayh: Studi Komparatif Pembentukan Karakter Mulia Moch. Bashori Alwi; Akhmad Ali Said; Misbachul Munir; Bayu Fermadi; Aina Noor Habibah; Moh. Hasan Fauzi; Yuni Pangestutiani; M. Romadhon
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.8440

Abstract

This comparative analytical study examines the philosophical and pedagogical frameworks of tazkiyat al-nafs (purification of the soul) as conceptualized by two preeminent Islamic thinkers: Abu Hamid al-Ghazali (d. 505/1111) and Abu Ali Ahmad ibn Muhammad Miskawayh (d. 421/1030). Through rigorous examination of their foundational ethical treatises, particularly Al-Ghazali's Ihya' 'Ulum al-Din and Miskawayh's Tahdhib al-Akhlaq, this study elucidates the theoretical underpinnings, methodological approaches, and practical implications of their respective models for character formation. The analysis reveals a fundamental dichotomy between Miskawayh's rationalist-philosophical emphasis on psychic equilibrium and virtue cultivation through habituation, and Al-Ghazali's mystical-spiritual orientation toward divine proximity through systematic purification of the self. While both thinkers operated within the Aristotelian framework of virtue ethics and drew upon the tripartite division of the soul, their divergent epistemological commitments—Miskawayh's prioritization of natural reason and environmental conditioning versus Al-Ghazali's integration of Sufi mysticism with ethical praxis—produced substantively distinct architectures for moral development. This comparative investigation contributes to contemporary discourse on holistic character education within Islamic contexts, demonstrating the continued relevance of classical Islamic ethical philosophy for addressing multifaceted challenges in character formation and spiritual development.
Tazkiyat Al-Nafs Dalam Perspektif Al-Ghazali Dan Ibnu Miskawayh: Studi Komparatif Pembentukan Karakter Mulia Moch. Bashori Alwi; Akhmad Ali Said; Misbachul Munir; Bayu Fermadi; Aina Noor Habibah; Moh. Hasan Fauzi; Yuni Pangestutiani; M. Romadhon
Journal of Innovative and Creativity Vol. 3 No. 3 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This comparative analytical study examines the philosophical and pedagogical frameworks of tazkiyat al-nafs (purification of the soul) as conceptualized by two preeminent Islamic thinkers: Abu Hamid al-Ghazali (d. 505/1111) and Abu Ali Ahmad ibn Muhammad Miskawayh (d. 421/1030). Through rigorous examination of their foundational ethical treatises, particularly Al-Ghazali's Ihya' 'Ulum al-Din and Miskawayh's Tahdhib al-Akhlaq, this study elucidates the theoretical underpinnings, methodological approaches, and practical implications of their respective models for character formation. The analysis reveals a fundamental dichotomy between Miskawayh's rationalist-philosophical emphasis on psychic equilibrium and virtue cultivation through habituation, and Al-Ghazali's mystical-spiritual orientation toward divine proximity through systematic purification of the self. While both thinkers operated within the Aristotelian framework of virtue ethics and drew upon the tripartite division of the soul, their divergent epistemological commitments—Miskawayh's prioritization of natural reason and environmental conditioning versus Al-Ghazali's integration of Sufi mysticism with ethical praxis—produced substantively distinct architectures for moral development. This comparative investigation contributes to contemporary discourse on holistic character education within Islamic contexts, demonstrating the continued relevance of classical Islamic ethical philosophy for addressing multifaceted challenges in character formation and spiritual development.
Terapi Tasawuf: Penerapan Konsep Sabar, Syukur, dan Tawakal dalam Menurunkan Tingkat Kecemasan pada Pasien Penyakit Kronis Misbachul Munir; Bayu Fermadi; Aina Noor Habibah; Moch. Bashori Alwi; Moh. Hasan Fauzi; Akhmad Ali Said; Yuni Pangestutiani
Journal of Golden Generation Abdimas Vol. 1 No. 1 (2021): Maret 2021 : Journal of Golden Generation Abdimas
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jgga.v1i1.430

Abstract

Pasien penyakit kronis sering mengalami tekanan psikologis berat, terutama kecemasan, yang dapat memperburuk kondisi fisik dan menurunkan kualitas hidup. Pendekatan medis konvensional terkadang kurang menyentuh aspek spiritual-emosional yang mendalam. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengimplementasikan terapi tasawuf berbasis konsep sabar, syukur, dan tawakal sebagai intervensi psiko-spiritual untuk menurunkan tingkat kecemasan pada pasien penyakit kronis. Kegiatan dilaksanakan di Komunitas Pasien Ginjal Kronis “Sehati” dan Poli Penyakit Dalam RSUD Kota Y, melibatkan 25 pasien (gagal ginjal kronis, diabetes, hipertensi). Metode yang digunakan adalah partisipatif dengan pendekatan eksperimen kuasi (one group pre-test post-test). Intervensi berupa delapan sesi terstruktur yang mengintegrasikan psikoedukasi, praktik dzikir, muhasabah terpandu, dan diskusi kelompok untuk menginternalisasi nilai sabar (dalam menghadapi ujian), syukur (atas nikmat yang tersisa), dan tawakal (berserah diri kepada Allah). Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan *DASS-42* subskala anxiety. Hasil analisis statistik paired sample t-test menunjukkan penurunan skor kecemasan yang signifikan (p < 0,05). Peserta juga melaporkan peningkatan penerimaan terhadap penyakit, ketenangan batin, dan optimisme. Diskusi menyimpulkan bahwa konsep tasawuf yang diterapkan secara terstruktur berfungsi sebagai mekanisme koping religius yang efektif, meningkatkan resiliensi spiritual, dan mengurangi distres psikologis. Model terapi tasawuf ini direkomendasikan sebagai terapi komplementer yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien kronis.
Abdimas: Implementasi Wara' Tasawuf dalam Mediasi Konflik Antarwarga di Perdesaan Aina Noor Habibah; Moch. Bashori Alwi; Bayu Fermadi; Akhmad Ali Said; Yuni Pangestutiani; Misbachul Munir; Moh. Hasan Fauzi; M. Sirojudin Alfin Abas
Journal of Golden Generation Abdimas Vol. 1 No. 2 (2022): Maret 2022 : Journal of Golden Generation Abdimas
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jgga.v1i2.431

Abstract

Konflik antarwarga di wilayah perdesaan seringkali dipicu oleh persoalan sepele seperti perebutan aset bersama (tanah, jalan, air), gosip, atau persaingan ekonomi, namun dapat berkepanjangan dan merusak kerukunan sosial. Pendekatan mediasi formal atau hukum sering dianggap kaku dan tidak menyentuh akar budaya dan nilai-nilai masyarakat. Pengabdian masyarakat (abdimas) ini bertujuan untuk mengimplementasikan nilai wara’ dalam tasawuf yang menekankan kehati-hatian, menghindari syubhat (hal meragukan), dan meninggalkan hal yang tidak bermanfaat sebagai paradigma dan etika baru dalam mediasi konflik perdesaan. Kegiatan dilaksanakan di Desa Sukamaju, Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang sedang mengalami konflik batas lahan antarrukun tetangga. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) dengan tahapan: (1) Pemetaan konflik dan identifikasi aktor, (2) Pelatihan nilai wara’ bagi tokoh adat dan pemuda sebagai calon mediator, (3) Fasilitasi mediasi berbasis prinsip wara’ (menghindari prasangka, ghibah, dan adu domba), dan (4) Pendampingan pascamediasi. Hasil menunjukkan bahwa paradigma wara’ berhasil menciptakan ruang dialog yang lebih tenang dan objektif. Para pihak yang berkonflik menunjukkan kesediaan untuk wara’ dari klaim absolut dan memilih jalan keluar yang sederhana dan adil. Kesepakatan damai berhasil dicapai dan diformalkan dalam berita acara desa. Diskusi menggarisbawahi bahwa nilai wara’ efektif meredam ego, mengurangi eskalasi emosi, dan mengembalikan fokus pada kemaslahatan bersama. Disimpulkan bahwa internalisasi etika wara’ dapat menjadi soft skill kritis bagi mediator lokal dan model resolusi konflik yang berkelanjutan berbasis kearifan spiritual Nusantara.
Aplikasi Nilai Tafakkur Tasawuf dalam Program Deradikalisasi Pemuda Pedesaan Jawa Timur Akhmad Ali Said; Bayu Fermadi; Moch. Bashori Alwi; Misbachul Munir; Moh. Hasan Fauzi; Yuni Pangestutiani; Aina Noor Habibah; Siti Isti&#039;anah
Journal of Golden Generation Abdimas Vol. 1 No. 3 (2023): Maret 2023 : Journal of Golden Generation Abdimas
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jgga.v1i3.432

Abstract

Gerakan radikalisme yang menyasar generasi muda, termasuk di pedesaan Jawa Timur, membutuhkan pendekatan alternatif yang efektif dan sesuai dengan konteks sosio-kultural masyarakat. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menerapkan nilai-nilai tafakkur (kontemplasi mendalam) dalam tasawuf sebagai metode preventif dan kuratif dalam program deradikalisasi. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, workshop interaktif, pendampingan kelompok, dan pendirian komunitas “Remaja Tafakkur”. Lokasi kegiatan di Desa X, Kabupaten Y, Jawa Timur, dengan melibatkan 30 pemuda. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta tentang moderasi beragama, kemampuan introspeksi diri (muhasabah), serta penurunan ketertarikan terhadap narasi keagamaan yang eksklusif dan konfrontatif. Diskusi menggarisbawahi bahwa pendekatan spiritual-psikologis berbasis kearifan lokal (local wisdom) Islam Nusantara, seperti tasawuf, terbukti efektif membangun ketahanan mental dan spiritual pemuda terhadap paham radikal. Disimpulkan bahwa internalisasi nilai tafakkur tasawuf dapat menjadi model soft approach dalam deradikalisasi yang berkelanjutan di tingkat akar rumput.
KONVERGENSI DAN DIVERGENSI TAZKIYATUN NAFS DAN CHARACTER STRENGTHS: SINTESIS UNTUK PENGEMBANGAN KARAKTER HOLISTIK Aina Noor Habibah; Misbachul Munir; Moh. Hasan Fauzi; Bayu Fermadi; Akhmad Ali Said; Moch. Bashori Alwi; Yuni Pangestutiani; Nur Rahma Shanty
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 1 No. 2 (2025): April : Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v1i2.442

Abstract

Tinjauan sistematis ini mengkaji titik-titik konvergensi dan divergensi antara konsep Tasawuf tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan pendekatan character strengths dalam psikologi positif. Pencarian literatur komprehensif dilakukan melalui platform Consensus yang mengakses lebih dari 170 juta publikasi ilmiah. Dari 937 studi yang teridentifikasi, setelah melalui proses penyaringan dan penilaian eligibilitas, sebanyak 50 makalah dipilih untuk dianalisis secara mendalam. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa kedua kerangka kerja sama-sama bertujuan membina pengembangan moral dan kesejahteraan manusia melalui kultivasi kebajikan. Namun demikian, keduanya berakar pada pandangan dunia yang secara fundamental berbeda: tazkiyatun nafs berlandaskan kerangka spiritual-teosentris, sementara character strengths berpijak pada paradigma sekuler-humanistik. Konvergensi utama ditemukan pada kebajikan inti yang sama seperti kesabaran, syukur, dan kerendahan hati yang dalam kedua tradisi berfungsi sebagai faktor protektif bagi kesehatan mental. Sebaliknya, perbedaan signifikan muncul pada aspek epistemologi, metodologi, dan tujuan akhir. Tazkiyatun nafs menekankan transendensi spiritual dan penyelarasan diri dengan kehendak Ilahi, sedangkan character strengths memprioritaskan validasi empiris dan pencapaian flourishing dalam kerangka kerja sekuler. Upaya integrasi kedua pendekatan menunjukkan potensi yang menjanjikan, khususnya dalam konteks pendidikan dan intervensi terapeutik. Namun demikian, isu validitas pengukuran terutama dalam menangkap dimensi spiritual secara autentik masih menjadi tantangan krusial. Tinjauan ini mengidentifikasi kesenjangan penelitian yang ada dan mengusulkan arah penelitian masa depan menuju pendekatan pengembangan karakter yang holistik, terintegrasi, dan sensitif secara budaya.
Dekonstruksi Metafora Gender dalam Tasawuf Klasik: Membaca Ulang Narasi Emansipatif dalam Karya Ibnu ‘Arabi, Rumi, dan Al-Ghazali Bayu Fermadi; Yuni Pangestutiani; Misbachul Munir; Aina Noor Habibah; Moh. Hasan Fauzi; Akhmad Ali Said; Moch. Bashori Alwi; Ali Asfiyak
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 1 No. 3 (2025): Juni : Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i3.443

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendekonstruksi representasi gender dalam teks-teks tasawuf klasik melalui pendekatan hermeneutika kritis. Fokus utama adalah mengungkap potensi narasi spiritual non-patriarkal yang tersembunyi di balik metafora gender yang kompleks dalam karya tiga tokoh sentral: Ibnu ‘Arabi, Jalaluddin Rumi, dan Al-Ghazali. Penelitian menggunakan metode analisis teks kualitatif dengan pendekatan hermeneutika dekonstruktif. Sumber data primer meliputi karya fundamental ketiga tokoh, yaitu Al-Futuhat al-Makkiyyah dan Fusus al-Hikam (Ibnu ‘Arabi), Masnavi-ye Ma’navi (Rumi), serta Ihya’ ‘Ulum al-Din dan Mishkat al-Anwar (Al-Ghazali). Analisis dilakukan melalui eksplorasi tekstual, dekonstruksi binarisme gender, dan kontekstualisasi kritis terhadap realitas sosial-historis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tasawuf klasik mengandung dualitas mendasar antara semesta metafora spiritual yang transformatif dan realitas institusional yang patriarkal. Ibnu ‘Arabi menawarkan landasan ontologis egaliter melalui konsep Wahdat al-Wujud, yang meruntuhkan hierarki esensial gender. Rumi menggunakan metafora erotis yang ambigu untuk mengaburkan batas gender dan mensakralkan sifat feminin. Sementara itu, Al-Ghazali memperlihatkan kontradiksi internal antara wacana normatif patriarkal dalam Ihya’ dan visi kosmologis inklusif dalam Mishkat. Tasawuf klasik bukanlah monolit patriarkal, melainkan medan wacana yang kaya akan potensi dekonstruktif terhadap binarisme gender. Pembacaan kritis terhadap metafora gender dalam karya ketiga tokoh ini mengungkap “arsip internal” yang dapat mendukung spiritualitas non-biner dan emansipatif. Namun, potensi ini sering terbelenggu oleh struktur institusional dan pembacaan dominan yang patriarkal. Penelitian ini menyoroti pentingnya hermeneutika kritis dalam membuka ruang penafsiran yang lebih adil gender dalam tradisi intelektual Islam.