Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemenuhan Kebutuhan Alat Pemadam Api Ringan Pada UMKM “Pentol Gilaaa” Surabaya Mochamad Yusuf Santoso; Aulia Nadia Rachmat; Fitri Hardiyanti; Imam Khoirul Rohmat; Ahmad Erlan Afiuddin; Mey Rohma Dhani
Surya Abdimas Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37729/abdimas.v6i1.1581

Abstract

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu penyangga perekonomian Indonesia. Meski peran UMKM bagi perekonomian negara sangat besar, salah satu tantangan yang dihadapi UMKM adalah bagaimana meningkatkan produktivitas, sekaligus di saat yang sama meningkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di tempat kerja. K3 tidak hanya perlu diterapkan oleh perusahaan besar atau sektor dengan potensi bahaya tinggi seperti konstruksi dan pertambangan, namun juga oleh UMKM. UMKM “Pentol Gilaaa” merupakan salah satu usaha kuliner yang menyajikan jajanan pentol modern di Surabaya. Seiring dengan berkembangnya pasar dan meningkatnya minat konsumen, proses produksi tidak lagi dilakukan pada skala rumah tangga. UMKM ini memiliki rumah produksi yang memiliki berbagai macam peralatan yang dapat menimbulkan potensi bahaya. Salah satu potensi bahaya yang timbul adalah kebakaran, karena digunakan kompor dalam proses produksi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) bagi UMKM kuliner “Pentol Gilaaa”. Kegiatan diawali dengan observasi rumah produksi, yang dilanjutkan dengan identifikasi bahaya kebakaran. Hasil observasi dan identifikasi bahaya kemudian dianalisis untuk menghasilkan rekomendasi jenis APAR dan penempatannya. Hasil rekomendasi yang dapat diberikan adalah tabung APAR yang cocok untuk digunakan yaitu APAR dengan media tepung kering (dry chemical). Hal ini karena potensi kebakaran yang terjadi tergolong kebakaran kelas A, B, dan C. Jumlah APAR yang dibutuhkan adalah empat buah untuk lantai 1 dan satu buah untuk lantai 2. Untuk penempatan APAR, diberikan rekomendasi berupa peta penempatan APAR. Tindak lanjut dari kegiatan ini dapat berupa pelatihan penggunaan dan pemeliharaan APAR yang benar.
Evaluation of Permit-to-Work System for Confined Spaces Using Value Stream Mapping and Root Cause Analysis Aulia Nadia Rachmat; Nurul Ramadhanti; Arief Subekti; Adistia Puji Pramesti
G-Tech: Jurnal Teknologi Terapan Vol 10 No 2 (2026): G-Tech, Vol. 10 No. 2 April 2026
Publisher : Universitas Islam Raden Rahmat, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70609/g-tech.v10i2.9356

Abstract

The work permit system fulfills clause 6.1.5 in PP No. 50 of 2012 concerning Occupational Health and Safety Management Systems (SMK3) and is required for high-risk activities, such as hot work, confined space operations, work at height, and scaffolding operations. This research aims to analyze waste in the confined space work permit issuance process and determined the root causes. The methods employed are Value Stream Mapping (VSM), to map the permit issuance workflow and identify existing waste. Root Cause Analysis (RCA), to analyze the root causes of waste. The results illustrate process efficiency of the confined space permit issuance process through Future State Mapping and recommendations for potential improvements to reduce waste permit issuance process, prevent work delays and avoiding impediments to company productivity. The waste analysis results of the confined space permit issuance process using Value Stream Mapping (VSM) indicate that the Approval 1 stage is already categorized as Lean Enterprise, with a Process Cycle Efficiency (PCE) value > 30%. However, the Approval 2 and Approval 3 stages are still classified as Un-Lean Enterprise, with PCE values < 30%. Recommended improvements include developing a notification-based website system, prioritizing new permit submissions, enabling mobile approvals, refining the permit issuance SOP and online submission process.