Desak Nyoman Seniwati
UNIVERSITAS HINDU INDONESIA DENPASAR

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERSEMBAHYANGAN DAN PAWINTENAN SARASWATI BAGI SISWA BARU DI SD NO. 1 DENBANTAS Desak Nyoman Seniwati; I Gusti Ayu Wahyu Marhaenningrat
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 1 No 1 (2018): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.438 KB) | DOI: 10.32795/vw.v1i1.179

Abstract

Penelitian ini berjudul Persembahyangan Saraswati dan Pawintenan Saraswati bagi Siswa Baru di SD No. 1 Denbantas Kajian Pendidikan Agama Hindu. Pada intinya ingin mengkaji tentang tata cara pelaksanaan upacara Persembahyangan Saraswati ditinjau dari Pendidikan Agama Hindu. Latar belakang dilakukannya penelitian ini adalah adanya keinginan untuk memahami secara lebih mendalam mengenai proses, makna filosofis serta nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam pelaksanaan persembahyangan Saraswati dan pawintenan Saraswati bagi siswa baru SD No. 1 Denbantas, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan. Hasil penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut: proses persembahyangan Saraswati dan pawintenan Saraswati bagi siswa baru di SD No. 1 Denbantas, dilaksanakan dengan urutan-urutan upacara sebagai berikut: tahap persiapan, dengan menyiapkan saranasarana upacara berupa banten Saraswati. Upakara (banten) tersebut ditempatkan sedemikian rupa dihadapan pelinggih Padma sekolah berdampingan dengan tempat pustaka-pustaka atau buku pengetahuan yang merupakan lingga stana Sang Hyang Saraswati yang akan diupacarai. Tahap pelaksanaan; persembahyangan Saraswati dan pawintenan Saraswati bagi siswa baru dipuput oleh seorang pemangku Tri Khayangan yang diawali dengan mebyakala, kemudian dilanjutkan dengan upacara penyucian yaitu meprayascita yangbertujuan untuk menyucikan upakara maupun semua umat (guru dan siswa) yang akan ikut atau terlibat dalam persembahyangan dimaksud. Kegiatan selanjutnya adalah upacara pokok yakni upacara persembahyangan Saraswati yakni pemujaan terhadap keagungan dan kebesaran Ida Sang Hyang Saraswati yang telah menurunkan ilmu pengetahuan kepada umat manusia. Nilai tattwa terletak pada bentuk-bentuk bebantenan (reringgitan, tetuasan, dsbnya).
FUNGSI AJARAN CERITA BHISMA PARWA DALAM PENDIDIKAN AGAMA HINDU Ni Kadek Desy Trisna Dewi; Desak Nyoman Seniwati
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 1 No 2 (2018): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.585 KB) | DOI: 10.32795/vw.v1i2.189

Abstract

Tulisan ini ingin mengkaji cerita Bhisma Parwa dari dua tema besar yakni fungsi ajaran dalam pendidikan agama Hindu dan nilai pendidikannya. Fungsi Ajaran Cerita Bhisma Parwa dalam Pendidikan Agama Hindu yaitu sebagai media pendidikan, sarana hiburan dan pelestarian budaya, dalam pelestarian budaya yaitu seni tari, seni suara pesantian yang dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali, seperti seni kekidungan, wirama dan palawakya. Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu yang Terkandung Dalam Cerita Bhisma Parwa yaitu, sebagai dasar keyakinan umat Hindu adalah Panca Sradha, dalam Cerita Bhisma Parwa terkandung ajaran Panca Sradha yang pertama yaitu percaya dengan adanya Brahman. Menjelaskan bahwa Sang Hyang Widhi Wasa ialah yang maha kuasa, beliau sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur segala yang ada di alam ini.
TRADISI PERANG PISANG DI DESA TENGANAN DAUH TUKAD KABUPATEN KARANGASEM I Wayan Dauh; Desak Nyoman Seniwati
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 1 (2020): Vidya Werta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1110.114 KB) | DOI: 10.32795/vw.v3i1.666

Abstract

Tradisi Perang Pisang dilaksanakan masyarakat Desa Tenganan Dauh Tukad didasari oleh beberapa landasan, yaitu : 1) landasan histori, berkaitan dengan usaha Jro mangku Dukuh untuk melestarikan tradisi Perang Pisang; 2) landasan teologi, yaitu sebagai ungkapan rasa angayubagia (terimakasih dan syukur) kehadapan Ida Sanghyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa atas anugrah kemakmuran yang dinikmati masyarakat; 3) landasan filosofi, berhubungan dengan kepercayaan bahwa tradisi Perang Pisang itu sesungguhnya adalah sebagai bentuk persembahan yadnya juga; dan 4) landasan sosiologi berhubungan erat dengan struktur kepemimpinan sosial masyarakat desa Tenganan Dauh Tukad terutama dalam hal memilih calon pemimpin (ayah dan penampih) dari seke terunanya agar memperoleh pemimpin yang sesuai dengan nilai-nilai etika Hindu. Prosesi tradisi Perang Pisang ini dimulai dari tahap persiapan, pelaksanaan dan penutup yang kesemua itu dijalankan dengan penuh kepatuhan oleh masyarakat setempat. Sedangkan nilai-nilai etika yang terdapat pada tradisi Perang Pisang.