I Komang Kusuma Adi
Cultural Arts Institute Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KOMPLEKSITAS TABUH KREASI BARU GONG KEBYAR SANG NYOMAN PUTRA ARSA WIJAYA I Komang Kusuma Adi
Sorai: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 13, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/sorai.v13i1.3177

Abstract

ABSTRACTThe complexity indicates the main characteristics of karawitan art as the meaning of the word “rawit” which means refined and complicated. Composing the complexity on Tabuh Kreasi Baru Gong Kebyar is not considered easily if it is not balanced by the good knowledge related to gamelan and its musical elements. Similarly, it is considered as the ways of the idea actualization which manifested into a music compostion. A talented composer namely Sang Nyoman Putra Arsa Wijaya is currently being a point of interest related to his musicality “Tabuh-Tabuh Kreasi Baru”  which seems too complicated. This Research tries to investigate the cases which construct the complexity of  musucality on Tabuh Kreasi Baru created by Sang Nyoman with textual ethomusicology approach. Based on the result of inductive, interpretative, and garap analysis, it can be assumed that (1) the complexity of Tabuh Kreasi Baru by Sang Nyoman is influenced by his art behaviours. (2) all off structure, achievement of technical play, and the work system of instruments are designed by the concepts witch have the complicated sound to guess and attracting audiences to think of it. (3) some of material which have been processed are the musical elements of Gong Kebyar that never used by most musicians. Then, (4) some of instruments on his garap are the manifestation of interescting style of western music composition. Basically, Sang Nyoman considers the complexity on his desire in case to contribute the new insight related to the aesthetics of a composition and persuades the art lovers to do not think passively, otherwise they are able to develop their ability of imagination and intellegence in apreciating an art work.Keyword : Complexity, Sang Nyoman, Tabuh Kreasi Baru, Gong Kebyar ABSTRAKKompleksitas  merupakan ciri pokok seni karawitan sebagaimana arti kata “rawit” yang berarti halus dan rumit. Mencipta kompleksitas pada Tabuh Kreasi Baru Gong Kebyar, bukan perkara mudah jika tidak diimbangi dengan pengetahuan yang cukup terkait gamelan beserta unsur-unsur musikalnya. Begitu juga dengan cara mengaktualisasikan ide dan gagasan ke dalam wujud komposisi. Seorang komposer  bernama Sang Nyoman Putra Arsa Wijaya belakangan tengah menjadi sorotan terkait musikalitas Tabuh-tabuh Kreasi Baru-nya yang dipandang  begitu komplek. Penelitian ini berupaya mengungkap hal-hal yang mengkonstruksi kompleksitas musikal Tabuh Kreasi Baru Sang Nyoman dengan pendekatan tekstual etnomusikologi. Berdasarkan hasil analisa induktif, interpretatif dan garap, maka dapat diketahui bahwa; (1) kompleksitas Tabuh Kreasi Baru Sang Nyoman dilatar belakangi oleh pola-laku kesenimananya. (2) segala bentuk struktur, capaian teknik permainan dan  sistem kerja instrumen didesain sedemikian rupa oleh konsep yang bunyinya “susah ditebak” dan “ikut berpikir”. (3) sebagian materi yang diolah merupakan unsur-unsur musikal Gong Kebyar yang jarang digunakan oleh seniman  kebanyakan. Begitu juga dengan (4)  prabot garapnya yang sebagian merupakan hasil silang gaya komposisi musik barat. Pada intinya Sang Nyoman mempertimbangkan kompleksitas itu atas keinginan untuk memberi wawasan baru terkait estetika komposisi, dan mengajak penikmat seni untuk tidak pasif, melainkan dapat mengembangkan kemampuan imajinasi dan intelekstual dalam berapresiasi seni.Kata kunci : Kompleksitas, Sang Nyoman, Tabuh Kreasi Baru, Gong Kebyar.
MAKARO LEMAH : INTERNALISASI NILAI PADA GELAHANG DALAM PENCIPTAAN KOMPOSISI MUSIK GAMELAN GONG LUANG I Komang Kusuma Adi; I Putu Adi Saputra
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 28 No 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v28i2.242

Abstract

Adat dan budaya bangsa Indonesia begitu beragam dari Sabang sampai Merauke. Terkadang ragam nilai, makna, dan filosofinya menghadirkan inspirasi tersendiri yang pada gilirannya dapat menjadi alternatif dalam menyikapi dinamika dan kompleksitas kehidupan, tak terkecuali perihal penciptaan musik gamelan. Bahwa pergulatan ideologi penciptaan antar seniman telah menunjukan semacam sikap antipati sepihak terhadap estetika garap tradisi konvensional dan juga kontemporer. Padahal kedua estetika tersebut merupakan kekayaan yang perlu dikelola (swadikara) dan sekaligus menjadi tanggung jawab (swadharma) bagi para seniman agar eksistensi dan keberlanjutan musik dalam kehidupan masyarakat kian menemukan manfaatnya. Maka kemudian dilakukan langkah penciptaan komposisi musik dengan menginternalisasi nilai Pada Gelahang dari adat perkawinan masyarakat Hindu Bali ke dalam komposisi musik gamelan Gong Luang. Tujuannya adalah untuk menjaga eksistensi gamelan Gong Luang diantara gamelan golongan baru yang ada. Selain itu juga untuk memperkaya repertoar garap gending hasil dari penggabungan unsur-unsur garap tradisi dan kontemporer. Adapun metode penciptaan yang dilakukan yakni eksplorasi, improvisasi, dan forming. Bentuk akhir karya adalah komposisi kreasi baru yang diberi judul “Makaro Lemah”. Struktur komposisinya terbagi menjadi tiga bagian, yang mana pada tiap bagian terdapat olahan-olahan permainan tempo, ritme, nada, dinamika yang kompleks dan sistematis. Terdapat pula vokal gerong dan akapela Cakepung, yang kemudian secara keseluruhan elaborasi ini memberi warna dan kesan pertunjukan musik yang berbeda terkait Gong Luang sebagai warisan budaya gamelan golongan tua di Bali.
IMAJINASI VISUAL TAJEN DALAM FOTOGRAFI EKSPRESI I Komang Adi Kusuma; I Made Saryana; Putu Agus Bratayadnya
Retina Jurnal Fotografi Vol 1 No 2 (2021): Retina Jurnal Fotografi
Publisher : Lp2mpp Isi Denpasar - Ps. Fotografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/rjf.v1i2.792

Abstract

Bali is one of the provinces in Indonesia which has a variety of unique arts, cultures and customs. From the various kinds of arts, culture and customs in Bali, it is inseparable from Hindu religious activities in general in Bali. One of them is cockfighting or commonly called tajen. Cockfighting is one of the cultures of the Hindu community in Bali to offer blood as a ritual in Hinduism known as tabuh rah. The author uses Expression Photography in realizing this work, because he wants to show tajen from a different angle and wants to be more free to explore, express, imagine, the author's experience related to the tajen phenomenon in Bali. Through digital processing, which is controlled by the author with Photoshop software, objects can be manipulated, adding or subtracting objects in order to get a work that has a maximum visual appearance. To further strengthen this, the author utilizes the theoretical basis of aesthetics and semiotics in photographic works and maximizes visual elements in photographic works. The data used in this work are secondary data and primary data. The creator's data collection process uses a qualitative method, which is a method used to observe the environment and the documentation method through digital photo camera recordings, which is then followed by image processing on computer software. The process of observing the creation of this work is done by observing objects related to the making of Expression Photography before taking a photo. At the shooting stage, data collection is also carried out on the angle of shooting / camera angle against the object and the angle of light on the object. So that the resulting photo has charm and beauty. Keywords: Tajen, Expression Photography, Art, Culture and Custom