Budi Kristanto
AKPER PANTI KOSALA SURAKARTA, Sukoharjo, Jawa Tengah

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

EFEKTIFITAS TERAPI RENDAM KAKI MENGGUNAKAN AIR HANGAT TERHADAP PENURUNAN KEJADIAN INSOMNIA PADA LANSIA Budi Kristanto; Diyono; Muljadi Hartono
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2022): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v10i2.242

Abstract

Insomnia merupakan suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur yang adekuat, baik kulitas maupun kuantitas. Merupakan gangguan tidur yang paling sering dialami oleh lansia.  Di dunia, angka prevalensi insomnia pada lansia diperkirakan sebesar 13-47% dengan proporsi sekitar 50-70% terjadi pada usia diatas 65 tahun. Kondisi insomnia yang tidak kunjung mendapatkan solusi dapat  menimbulkan berbagai dampak buruk antara lain stres, gangguan mood, alkohol dan substance abuse yang nantinya akan berujung pada penurunan kualitas hidup pada usia lanjut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas terapi rendam kaki menggunakan air hangat untuk menurunkan kejadian insomnia pada lansia. Jenis penelitian adalah analisis observasional dengan desain korelasi, untuk mengetahui pengaruh merendam kaki dengan air hangat terhadap insomnia pada lansia. Uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk sedangkan analisa data menggunakan uji Wilcoxon. Subyek penelitian adalah Lansia di Kelurahan Mancasan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo dengan sampel sebanyak 35 orang diambil menggunakan teknik sampling jenuh. Hasil penelitian menunjukkan kejadian insomnia pada lansia sebelum tindakan merendam kaki dengan air hangat sebelum tidur mayoritas mengalami insomnia berat sejumlah 17 (48,57%) sedangkan 14 (40%) mengalami insomnia sedang dan 4 (11,43%) mengalami insomnia ringan. Kejadian insomnia pada lansia setelah intervensi seluruhnya sejumlah 35 (100%) responden dengan insomnia ringan. Hasil analisis data diperoleh nilai rerata skor insomnia sebelum intervensi adalah 12,11 (insomnia sedang), sedangkan setelah intervensi adalah 4,6 (insomnia ringan) dengan p = 0,001. Kesimpulan penelitian ini yaitu terdapat pengaruh yang signifikan secara statistik terapi rendam kaki dengan air hangat terhadap penurunan kejadian insomnia (p = 0,001).   Kata kunci: air hangat, insomnia, lansia   Insomnia is a state of inability to get adequate sleep, both quality and quantity. It is the most common sleep disorder experienced by the elderly. In the world, the prevalence of insomnia in the elderly is estimated at 13-47% with a proportion of around 50-70% occurring in people over 65 years of age. Insomnia conditions that do not get a solution can cause various adverse effects, including stress, mood disorders, alcohol and substance abuse which will lead to a decrease in the quality of life in the elderly. This study aims to determine the effectiveness of foot bath therapy using warm water to reduce the incidence of insomnia in the elderly. The method that the researcher will do is observational analysis with a correlation design, to determine the effect of soaking feet in warm water on insomnia in the elderly.  There are 35 elderly people in Mancasan Village, Baki District, Sukoharjo Regency. The normality test of the data used the Kolmogorov-Smirnov and Shapiro-Wilk tests while the data analysis used the Wilcoxon test. Result showed that the incidence of insomnia in the elderly before the act of soaking the feet with warm water before going to bed the majority experienced severe insomnia in the amount of 17 (48.57%) while 14 (40%) experienced moderate insomnia and 4 (11.43%) experienced mild insomnia. The incidence of insomnia in the elderly after the intervention were 35 (100%) respondents with mild insomnia. The results of data analysis showed that the mean score of insomnia before the intervention was 12.11 (moderate insomnia), while after the intervention was 4.6 (mild insomnia) with p = 0.001. The conclusion of the study is there was a statistically significant effect of foot bath therapy with warm water on the reduction in the incidence of insomnia (p = 0.001).   Keywords: elderly, insomnia, warm water   Korespondensi: Budi Kristanto, STIKES PANTI KOSALA, Jl. Raya Solo-Baki KM. 4. Gedangan, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Email : budikrist18@gmail.com, 085747790186.
EFEKTIVITAS TERAPI SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) UNTUK MENURUNKAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA Budi Kristanto; Ratna Indriati
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2023): KOSALA: Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v11i1.272

Abstract

Merokok merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu perhatian serius karena tingkat penggunaannya masih tinggi di Indonesia. Data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menyatakan bahwa terdapat peningkatan prevalensi merokok penduduk umur 10 Tahun dari 28,8% pada tahun 2013 menjadi 29,3% pada tahun 2018. Pada saat sekarang ini, kebiasaan merokok tidak hanya menjadi masalah pada orang dewasa, namun juga semakin marak pada kalangan anak dan remaja. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya prevalensi merokok pada populasi usia 10-18 tahun yakni sebesar 1,9% dari tahun 2013 (7,2%) ke tahun 2018 (9,1%) (Kemenkes RI, 2020). Upaya menghentikan perilaku merokok bukanlah usaha mudah, terlebih lagi bagi perokok di Indonesia. Perlu berbagai cara atau metode untuk menurunkan jumlah perokok. Salah satu cara mengatasi perilaku merokok diantaranya yaitu dengan terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT). Untuk itu perlu penelitian untuk menilai efektivitas terapi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) untuk menurunkan perilaku merokok pada remaja. Jenis penelitian adalah analisis observasional dengan desain korelasi, untuk mengetahui efektifitas terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) untuk menurunkan perilaku merokok pada remaja. Subyek penelitian adalah Remaja di Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah sebanyak 36 orang. Hasil penelitian menunjukkan Rerata konsumsi rokok sebelum dilakukan intervensi SEFT perhari adalah 6 batang. Sedangkan rerata konsumsi rokok setelah dilakukan intervensi SEFT perhari adalah 3,6 batang. Kesimpulan penelitian ini yaitu Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) efektif untuk menurunkan perilaku merokok pada remaja (p = 0,001).   Kata kunci: merokok, remaja, SEFT   Smoking is a health problem that needs serious attention because the level of its use is still high in Indonesia. Data from the 2018 Basic Health Research stated that there was an increase in the prevalence of smoking in the population aged 10 years from 28.8% in 2013 to 29.3% in 2018. At the present time, smoking is not only a problem in adults, but It is also increasingly common among children and adolescents. This is evidenced by the increasing prevalence of smoking in the population aged 10-18 years, namely by 1.9% from 2013 (7.2%) to 2018 (9.1%) (RI Ministry of Health, 2020). Efforts to stop smoking behavior are not easy, especially for smokers in Indonesia. Need various ways or methods to reduce the number of smokers. One of the ways to overcome smoking behavior is through Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) therapy. For this reason, research is needed to assess the effectiveness of this therapy. This study aims to determine the effectiveness of Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) therapy to reduce smoking behavior in adolescents. The method that the researchers will use is observational analysis with a correlation design, to determine the effectiveness of the Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) therapy to reduce smoking behavior in adolescents. There are 36 teenagers in theTypes Village, Serengan District, Surakarta City, Central Java. Result showed that the The average daily consumption of cigarettes before the SEFT intervention was 6 cigarettes. Meanwhile, the average daily consumption of cigarettes after the SEFT intervention was 3.6 cigarettes. It can be concluded that Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) therapy is effective in reducing smoking behavior in adolescents (p = 0.001).   Keywords: SEFT, smoking, teenagers
PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG DAMPAK ANEMIA PADA REMAJA SISWA SMA NEGERI 2 SUKOHARJO Ditya Yankusuma Setiani; Budi Kristanto; Warsini Warsini
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2 No 1 (2023): Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v2i1.252

Abstract

Pada masa remaja mengalami perubahan baik biologis, sosial, psikologis dan kognitif. Perubahan tersebut dapat mempengaruhi status gizi dan kesehatan remaja. Pertumbuhan fisik yang cepat pada masa remaja membutuhkan energi dan zat gizi yang tinggi. Gizi yang baik pada remaja tidak hanya berpengaruh terhadap optimalisasi pertumbuhan saat remaja, akan tetapi dapat mencegah penyakit kronis khususnya penyakit anemia setelah dewasa dan dapat meningkatkan kualitas kehamilan dimasa yang akan datang. Siswa SMA Negeri 2 Sukoharjo sebagian besar belum mengetahui tentang dampak anemia bagi remaja. Untuk itu perlu adanya sosialisasi tentang dampak anemia bagi remaja sehingga dapat mencegah komplikasi terutama pada saat kehamilan kelak. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa SMA Negeri 2 Sukoharjo tentang dampak anemia bagi remaja melalui pemberian penyuluhan kesehatan. Kata kunci : Dampak anemia bagi remaja, penyuluhan kesehatan
SKRINING GANGGUAN PENGLIHATAN PADA ANAK USIA SEKOLAH Budi Kristanto; Diyono Diyono
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2 No 2 (2023): Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v2i2.287

Abstract

Kesehatan mata bagi anak merupakan hal yang sangat penting dalam mendukung proses belajar mengajar. Tanpa mata yang sehat maka seorang anak tidak akan mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan optimal. Masalah kesehatan mata saat ini telah menjadi permasalahan yang serius di dunia. Di Indonesia masalah penyakit mata juga dialami oleh masyarakat yaitu sebanyak 6,4 juta masyarakat menderita kerusakan mata dimana 10-20% diantaranya diderita oleh anak-anak dan usia remaja yang masih duduk di bangku sekolah. Masalah yang dapat terjadi pada penglihatan adalah gangguan ketajaman penglihatan dan buta warna. Meskipun demikian sebagian besar dari mereka tidak mengetahui jika mengalami gangguan mata. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengetahui adanya gangguan penglihatan pada anak usia sekolah di wilayah kerja Puskesmas Bulu yang meliputi ketajaman penglihatan dan buta warna. Strategi yang dapat dilakukan untuk memantau kesehatan mata pada anak usia sekolah adalah melalui skrining kesehatan. Hasil yang diperoleh yaitu jumlah sasaran sebanyak 4004 siswa yang terdiri dari anak usia SD, SMP dan SMA di wilayah kerja Puskesmas Bulu, terdapat 154 anak yang mengalami rabun jauh dan 34 anak mengalami buta warna sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat 3,85% anak mengalami rabun jauh dan 0,85% anak mengalami buta warna.
EDUKASI BUDAYA 5S (SENYUM, SAPA, SALAM, SOPAN, SANTUN) DALAM MENINGKATKAN KARAKTER ANAK USIA SEKOLAH Warsini Warsini; Budi Kristanto; Sri Aminingsih; Tunjung Sri Yulianti
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2024): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v3i1.319

Abstract

Persoalan karakter merupakan suatu persoalan yang mendasar dan penting. Secara eksplisit pendidikan karakter merupakan amanat UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Permasalahan yang ada adalah banyak pihak yang menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal berdasarkan fenomena sosial yang muncul yaitu kenakalan remaja dalam masyarakat. Tujuan program meningkatkan karakter anak sehingga lebih baik melalui pembudayaan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) sehingga diharapkan sejak kecil anak-anak sudah tertanam karakter yang baik. Solusi yang ditawarkan meliputi edukasi tentang 5S dan penerapan budaya 5S selama jam sekolah berlangsung. Hasil kegiatan yang didapatkan adalah peningkatan pemahaman para siswa tentang budaya 5S. Luaran yang diharapkan adalah publikasi pada jurnal pengabdian kepada masyarakat nasional ber-ISSN.   Kata kunci: anak sekolah, budaya, karakter, pendidikan, sikap   The issue of character is a fundamental and important issue. Character education is explicitly mandated by Law No. 20 of 2003 concerning the National Education System which emphasizes that national education functions to develop abilities and shape the character and civilization of a dignified nation in order to educate the life of the nation and to develop the potential of students to become human beings who believe and are devoted to God. God Almighty, noble, healthy, knowledgeable, capable, creative, independent and a democratic and responsible citizen. The problem that exists is that many parties are demanding an increase in the intensity and quality of the implementation of character education in formal education institutions based on emerging social phenomena, namely juvenile delinquency in society. The aim of the program is to improve children's character so that it is better through cultivating 5S (Smile, Greet, Greeting, Polite, Courteous) so that it is hoped that from childhood children will have good character instilled. The solutions offered include education about 5S and the implementation of 5S culture during school hours. The results of the activities obtained were an increase in students' understanding of 5S culture. The expected output is publication in an ISSN community service journal.   Keywords: attitude, character, culture, education, children
HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN KELUARGA DENGAN PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK Ratna Indriati; Budi Kristanto; Ditya Yankusuma Setiani
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2023): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v11i2.303

Abstract

Latar belakang: manusia yang memiliki karakter baik adalah manusia yang bertumbuh sebagai individu yang cerdas, baik dan mampu bertanggungjawab atas pertumbuhan dirinya sendiri dan orang lain. Periode usia anak merupakan periode yang penting  untuk membentuk karakter. Masa usia anak perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya karena masa ini dapat sangat menentukan kualitas manusia dimasa depan. Keluarga berperan penting untuk membangun karakter anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor lingkungan keluarga dengan pembentukan karakter anak. Subyek dan metode: penelitian berupa observasi analitik, desain korelasi dengan metode cross sectional. Subyek penelitian ini 58 anak kelas V SD Kristen Widya Wacana X Kartasura. Pengambilan sampel secara sampling jenuh. Analisa bivariat menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan keluarga dengan lingkungan yang mendukung 89,7% dan anak dengan karakter baik 77,6%. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan antara faktor lingkungan keluarga dengan pembentukan karakter anak dengan  p=0,028 (<0,05) dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,288. Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan positif faktor lingkungan keluarga dengan pembentukan karakter anak kelas V SD Kristen Widya Wacana X Kartasura dengan korelasi hubungan yang lemah.   Kata kunci: karakter anak, lingkungan keluarga   Background: humans who have good character are humans who grow as individuals who are smart, good and able to be responsible for the growth of themselves and others. The period of child age is an important period for forming character. Children's age needs to be utilized as well as possible because this period can greatly determine the quality of human beings in the future. Family plays an important role in building children's character. The purpose of tis study was to determine the relationship between family environmental factors and the formation of children's character. Subject and method: research in the form of analytic observation, correlation design with cross sectional method. This research respondents were 58 children of fifth grade elementary School at Widya Wacana X Kartasura Christian Elementary School.Sampling by saturated sampling. Bivariate analysis using the Pearson Product Moment correlation test. The Result showed that Families with a supportive environment 89.7%, children with good character 77.6%. The results of the analysis of the relationship between family environmental factors and the formation of children's character obtained p = 0.028 (<0.05) so that Ha is accepted with a correlation coefficient value of 0.288. The conclusion of this study is there is a positive relationship between family environmental factors and the character formation of fifth grade children at Widya Wacana X Kartasura Christian Elementary School with a weak correlation.   Keywords: child character, family environment
PENGARUH KUALITAS HIDUP LANSIA TERHADAP RISIKO ELDERLY ABUSE: SYSTEMATIC REVIEW AND META ANALYSIS Diyono; Budi Kristanto; Dian Putranto
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2023): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v11i2.304

Abstract

Latar belakang: Negara Indonesia saat ini mulai memasuki periode aging population. Diproyeksikan tahun 2035 mencapai 48,2 juta jiwa 15,77%, lebih tinggi dari angka global pada angka 28,8 juta (11,34%) dari total populasi penduduk dunia. Kelompok lansia cenderung terjadi penurunan kualitas hidup terkait masalah fisik, sosial dan ekonomi yang rentan terhadap kekerasan (abuse) dari orang lain. Identifikasi faktor risiko ederly abuse merupakan langkah penting untuk menurunkan risiko ederly abuse. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan kualitas hidup lansia dengan risiko elderly abuse berdasar studi literatur. Subyek dan metode penelitian yang digunakan yaitu Systematic Review dengan basis data Science Direct, Google schoolar dan PubMed menggunakan program Harzing’s Publish or Peris.  Medical Subject Heading (Mesh) “risk factors” yang dikombinasikan dengan “Elderly Abuse” OR “elderly negelct” OR “elderly maltreatment”. Meta analisis menggunakan program MedCalc Statistic Seri 22. Hasil penelitian(1). Bentuk Elderly Abuse kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan psikologis, kekerasan finasial dan penyalahgunaan fasilitas lansia (2) Kualitas hidup lansia yang rendah merupakan faktor risiko Elderly Abuse (OR:5,360;p:<0,001;CI:1,327-1,839). Kesimpulan penelitian ini adalah kualitas hidup lansia yang rendah meningkatkan risiko elderly abuse.   Kata kunci: elderly abuse, elderly maltreatment, elderly neglect, kualitas hidup   Background: Indonesia is currently starting to enter a period of population aging. It is projected that in 2035 it will reach 48.2 million people, 15.77%, higher than the global figure of 28.8 million (11.34%) of the world's total population (Central Statistics Agency, 2021). The elderly group tends to experience a decline in quality of life related to physical, social and economic problems and is vulnerable to violence (abuse) from other people. Identifying risk factors for derly abuse is an important step to reduce the risk of derly abuse. The purpose of this study was to Identify impact quality of life of elderly on risk factors for elderly abuse based on literature studies. Subject and method: this research is Systematic Review with the Science Direct database, Google schoolar, and PubMed using the Harzing's Publish or Peris program. Medical Subject Heading (Mesh) "risk factors" combined with "Elderly Abuse" OR "elderly neglect" OR "elderly maltreatment". Meta analysis using the MedCalc Statistics Series 22 program. The results  (1). Forms of Elderly Abuse physical violence, sexual violence, psychological violence, financial violence, and abuse of elderly facilities (2) Elderly Abuse risk factors are the quality of life of the elderly (OR:5.360;p:<0.001;CI:1.327-1.839). Conclusion: the low quality of life of the elderly increased the risk factors for Elderly Abuse.   Keywords: Elderly Abuse, Elderly Maltreatment, Elderly Neglect, Quality of Life
SYSTEMATIC REVIEW AND META ANALYSIS PENGARUH UMUR DAN STATUS EKONOMI LANSIA TERHADAP RISIKO ELDERLY ABUSE Diyono Diyono; Budi Kristanto; Sri Aminingsih; Tunjung Sri Yulianti
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2024): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v12i1.323

Abstract

Latar belakang: Jumlah kelompok usia lanjut (lansia) meningkat drastis seiring dengan peningkatan usia harapan hidup. Proyeksi jumlah lansia di Indonesia tahun 2035 mencapai 48,2 juta jiwa 15,77%, lebih tinggi dari angka global yaitu 28,8 juta (11,34%). Semakin lanjut usia individu akan diikuti dengan penurunan kemampuan fisik dan produktifitas sehingga sering menjadi beban keluarga. Tujuan penelitian ini untuk Mengidentifikasi pengaruh umur dan status ekonomi lansia terhadap risiko elderly abuse berdasar studi literatur. Metode Systematic Review dengan basis data Science Direct, Google schoolar, dan PubMed menggunakan program Harzing’s Publish or Peris.  Medical Subject Heading (Mesh) “risk factors” yang dikombinasikan dengan “Elderly Abuse” OR “elderly negelct” OR “elderly maltreatment”. Meta analisis menggunakan program MedCalc Statistic Seri 22. Hasil penelitian 1). Umur yang sangat lanjut meningkatkan terjadinya elderly abuse (OR=47,82; p:<0,001;CI: 11,804 to 14,577). 2) Status ekonomi lansia tidak meningkatkan risiko Elderly Abuse (p=0,436). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan usia yang sangat lanjut meningkatkan risiko elderly abuse, sedangkan status ekonomi lansia tidak berpengaruh terhadap risiko elderly abuse.   Kata kunci: elderly abuse, elderly maltreatment, elderly neglect, status ekonomi, umur   Background: the number of elderly people (seniors) has increased drastically along with increasing life expectancy. The projected number of elderly people in Indonesia in 2035 will reach 48.2 million people, 15.77%, higher than the global figure of 28.8 million (11.34%). As individuals age, physical abilities and productivity decline, which often becomes a burden on the family. The aim of this research was to identifying the influence of age and economic status of the elderly on the risk of elderly abuse based on literature studies. Methods: Systematic Review with Science Direct, Google Scholar, and PubMed databases using the Harzing's Publish or Peris program. Medical Subject Heading (Mesh) “risk factors” combined with “Elderly Abuse” OR “elderly neglect” OR “elderly maltreatment”. Meta analysis using the MedCalc Statistics Series 22 program. The research results: 1). Very advanced age increases the occurrence of elderly abuse (OR=47.82; p:<0.001; CI: 11.804 to 14.577). 2) The economic status of the elderly does not increase the risk of Elderly Abuse (p=0.436). Conclusion: very advanced age increases the risk of elderly abuse, while the economic status of the elderly has no effect on the risk of elderly abuse.   Keywords: elderly abuse, elderly maltreatment, elderly neglect, economic status, age