Alfred Jonathan Susilo
Universitas Tarumanagara

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

KORELASI NILAI CBR TERHADAP TEGANGAN VERTIKAL DAN TEGANGAN HORIZONTAL PADA TANAH LEMPUNG DI DAERAH SENTUL Edwin Wongkar; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 2, Nomor 2, Mei 2019
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v2i2.4295

Abstract

Tanah merupakan material yang sangat berpengaruh dalam pekerjaan konstruksi, karena kondisi tanah di suatu tempat tidak akan sama dengan kondisi tanah tempat lain. Oleh sebab itu, kondisi tanah dan sifat fisiknya harus diketahui terlebih dahulu. Sebagian besar wilayah Indonesia terutama di Jakarta merupakan tanah yang bersifat lempung. Beberapa masalah utama pada tanah lempung adalah settlement yang besar dan daya dukung yang kecil. Daya tahanan tanah dapat ditentukan dengan cara California Bearing Ratio (CBR) yang dilakukan di laboratorium. Penelitian CBR ini dilakukan korelasi antara nilai CBR terhadap tegangan vertikal dan tegangan horizontal sampel tanah. Sampel tanah yang diuji pada penelitian ini berasal dari Jl. Babakan-sirkuit, Tangkil, Citeureup, Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Sampel tanah untuk pengujian CBR laboratorium dibuat dengan pemadatan 2.5%, 5.0%, 7.5%, dan 10%. Hasil penelitian menunjukan persentase kenaikan nilai Su pada kepadatan 2.5% ke 5.0% adalah sebesar 22.51% untuk posisi vertikal, dan 45.58% untuk posisi horizontal. Pada kepadatan 5.0% ke 7.5% terjadi peningkatan nilai Su sebesar 17.14% pada posisi vertikal, dan 15.67% untuk posisi horizontal. Selanjutnya pada kepadatan 7.5% ke 10% terjadi peningkatan nilai Su sebesar 32.70% pada posisi vertikal dan 22.32% pada posisi horizontal
PERBANDINGAN DEFORMASI DINDING PADA BASEMENT METODE TOP-DOWN DENGAN ANALISIS CONSTRUCTION STAGE DAN ANALISIS KONVENSIONAL Raynaldi Raynaldi; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.10532

Abstract

ABSTRACT In basement construction with the top-down approach, excavation and slab installation work are carried out in stages. However, not all geotechnical applications can simulate construction stages, hence this effect has been ignored by many engineers in practice. Therefore, in this study, the effect of basement construction stages is analyzed using MIDAS GTS NX. In the program, two different analyses are performed. The first analysis is the construction stage analysis that simulates construction stages. As a comparison, a conventional analysis is performed which doesn't simulate construction stages. The two analysis results are compared. This analysis focuses mainly on the wall deformation. The modeling consists of 5 excavation stages (17 meters deep) and a diaphragm wall (36 meters deep). The walls are given 5 layers of slab reinforcements. In the first excavation stage, the maximum wall deformation results in both analyses show slightly different results (the construction stage analysis result is 8% greater than that of conventional analysis). However, in the final excavation stage, a significant difference is shown (the construction stage analysis result is 37% greater than that of conventional analysis). These results indicate that the effect of construction stages should not be neglected, especially in multi-story basements with top-down construction.ABSTRAK Pada konstruksi basement dengan metode top-down, pekerjaan penggalian dan pemasangan pelat dilakukan secara bertahap. Namun, tidak semua aplikasi geoteknik dapat mensimulasikan tahapan konstruksi sehingga pengaruhnya sering diabaikan oleh banyak insinyur dalam praktiknya. Maka, pada penelitian ini dilakukan analisis pengaruh tahapan konstruksi basement menggunakan aplikasi MIDAS GTS NX. Pada program, akan dilakukan dua analisis yang berbeda. Pertama, dilakukan analisis construction stage yang mensimulasikan tahapan konstruksi. Sebagai perbandingan, dilakukan analisis konvensional yang tidak mensimulasikan tahapan konstruksi. Kedua hasil analisis dibandingkan. Analisis ini lebih berfokus pada deformasi yang terjadi pada dinding diafragma. Pemodelan terdiri dari 5 tahap galian dengan kedalaman 17 meter dan dinding diafragma dengan kedalaman 36 meter. Dinding diberi perkuatan pelat sebanyak 5 lapis. Pada galian tahap pertama, hasil deformasi maksimum dinding pada kedua analisis menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda (hasil analisis construction stage lebih besar 8% dibandingkan hasil analisis konvensional). Tetapi pada galian tahap akhir, hasil deformasi maksimum dinding pada kedua analisis menunjukkan perbedaan signifikan (hasil analisis construction stage lebih besar 37% dibandingkan hasil analisis konvensional). Hasil ini menunjukkan bahwa pengaruh tahapan konstruksi sebaiknya tidak diabaikan khususnya pada basement bertingkat banyak dengan metode top-down.
EFEK GAYA VERTIKAL PADA TANAH DENGAN INDEKS PLASTISITAS TINGGI TERHADAP WILAYAH SEKITAR PROYEK DI JAKARTA UTARA Staventram Inri; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 2, Mei 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i2.7080

Abstract

Soil improvement is common in construction work to increase the bearing capacity of the soil so the soil can carry the burden of construction which will stand on that soil. The method often used is soil compaction to increase bearing capacity. Soil compaction results in a lateral movement of soil particles and causes an increase in soil pore water pressure. Soil compaction here uses drum roller and dynamic compaction. This gives an effect at a certain distance and has the potential to damage the surrounding buildings. Therefore, the engineer needs to predict a safe distance from the effects of the compaction process. This research conducted with theoretical predictions about the amount of lateral movement due to compaction with certain formulas. The same thing will happen when the driven pile is piling, it will cause around the pile lift up (pile heaving). The results of this theoretical prediction will be compared then compare with the results of measurements of lateral movements performed using general shear failure from Terzaghi method and stress distribution Boussinesq method. Both of the results will be compared as conclusions.AbstrakPerbaikan tanah sudah umum dilakukan dalam pekerjaan konstruksi dengan tujuan untuk meningkatkan daya dukung tanah agar dapat memikul beban konstruksi yang akan berdiri di atasnya. Metode yang sering digunakan yaitu pemadatan tanah untuk meningkatkan daya dukungnya. Pemadatan tanah mengakibatkan desakan butiran tanah ke arah lateral serta menimbulkan kenaikan tekanan air pori tanah. Pemadatan disini menggunakan tandem roller dan dynamic compaction. Hal ini memberikan pengaruh hingga jarak tertentu dan berpotensi merusak bangunan di sekitar. Oleh karena itu, perlu diprediksi jarak yang aman dari pengaruh proses pemadatan. Penelitian ini dilakukan dengan prediksi teoritis besarnya pergerakan tanah ke arah lateral akibat pemadatan dengan formula tertentu. Hal yang serupa juga sama ketika tiang pancang ditumbuk, akan menyebabkan tiang di sebelahnya terangkat (pile heaving). Hasil prediksi secara teori ini kemudian dibandingkan dengan hasil pengukuran kegagalan geser berdasarkan metode Terzaghi dan distribusi tegangan Boussinesq. Hasil keduanya akan dibandingkan sebagai kesimpulan.
Analisis Perbandingan Penurunan Tiang Fondasi pada Lapisan Lensa dan Lapisan Tanah Keras Michelle Lu; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 5, Nomor 1, Februari 2022
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v5i1.16645

Abstract

The subsidence phenomenon of foundation piles caused by unidentified soil lenses layer. Soil lens is a dense soil layer which the N-SPT value exceeds 50 with the thickness around 1 - 4 m located between soft soil layers which the N-SPT value below 15. The soil lens itself is the outcome of material deposition process due to water flow and erosion activity that accumulates and becomes saturated after long time until a relatively thin layer with similar characteristics as hard soil is formed. Thin soil lenses can break and lead to failure. This study aims to analyze the axial bearing capacity and settlement of driven piles foundations that occupy two end bearing elevation conditions, which takes place on soil lens and the hard soil layer. The bearing capacity is based on a project in Cengkareng, West Jakarta where the thickness of soil lens is around 2,5 m using one bore log report and laboratory report. The method that will be used for this research are Meyerhof and Hanna 1978 and Meyerhof 1956. This research conclude the end bearing capacity of soil lenses is smaller than hard soil layer and settlement of soil lenses layer is bigger than hard soil layerFenomena penurunan tiang fondasi dapat disebabkan oleh adanya tanah dengan lapisan lensa yang tidak teridentifikasi. Lapisan lensa adalah sebuah lapisan tanah padat dengan nilai N-SPT > 50 dengan ketebalan 1 - 4 m yang terletak di antara lapisan tanah lunak dengan nilai N-SPT < 15. Lapisan lensa merupakan hasil proses pengendapan material dan aktivitas erosi yang menimbun serta menjadi jenuh setelah beberapa lama sehingga terbentuk suatu lapisan yang relatif tipis dan mempunyai karakteristik seperti tanah keras. Lapisan lensa yang terlalu tipis dapat pecah dan menyebabkan kegagalan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya dukung aksial dan penurunan fondasi tiang pancang yang menduduki dua kondisi elevasi end bearing, yaitu menduduki lapisan lensa dan lapisan tanah keras. Analisis ditinjau pada suatu proyek di Jakarta Barat dengan ketebalan lapisan lensa 2,5 m dan data tanah yang digunakan berupa data boring log dan laboratorium. Metode yang digunakan dalam perhitungan daya dukung ujung adalah metode punching shear dari Meyerhof dan Hanna untuk tanah dengan lapisan lensa dan metode N-SPT dari Meyerhof untuk tanah keras dan daya dukung selimut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dukung ujung pada lapisan lensa lebih kecil daripada lapisan tanah keras, dan penurunan tiang pada lapisan lensa lebih besar daripada lapisan tanah keras
PENGARUH SUDUT KEMIRINGAN TIANG PANCANG BATTER PILE TERHADAP DAYA DUKUNG AKSIAL DAN LATERAL Clifford Harri; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 2, Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v2i1.3031

Abstract

Tiang pancang Batter Pile merupakan salah satu bentuk rekayasa pondasi yang bertujuan untuk meningkatkan daya dukung lateral pondasi. Tiang Batter Pile dipancang dengan sudut kemiringan tertentu. Kemiringan tiang mempengaruhi daya dukung aksial dan lateral. Penelitian ini dilakukan untuk memahami perubahan daya dukung aksial dan lateral pada tiang pancang Batter Pile. Perhitungan daya dukung aksial dan lateral dilakukan dengan parameter tiang pancang diameter 350mm dan perhitungan dilakukan pada kemiringan 0° hingga +25°. Hasil perhitungan menunjukkan peningkatan daya dukung aksial dan lateral. Peningkatan daya dukung lateral optimal pada rentang kemiringan +15° hingga +20°.
STABILITAS DINDING PENAHAN TANAH DENGAN GROUND ANCHOR DAN METODE PELAKSANAANNYA PADA KONDISI IN-SITU DAN JENUH Albert Aldo; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 2, Nomor 4, November 2019
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v2i4.6178

Abstract

Pencegahan kelongsoran pada tanah merupakan hal yang penting dalam dunia konstruksi, salah satu contoh pencegahannya adalah dengan menggunakan dinding penahan tanah. Dinding penahan tanah berfungsi untuk menahan beban lateral serta menyokong tekanan tanah dan air. Faktor terpenting dalam merencanakan dan membangun dinding penahan tanah adalah mengusahakan agar dinding penahan tanah tidak mengalami perpindahan yang melebihi batas ijin akibat gaya lateral, sehingga dinding penahan tanah harus diberikan perkuatan oleh ground anchor untuk menahan beban lateral dari timbunan tanah di belakang dinding penahan tanah. Kondisi tanah pada saat jenuh maupun tidak jenuh mempengaruhi keruntuhan yang dapat terjadi. Selain itu metode pelaksanaan konstruksi saat pemasangan ground anchor juga mempengaruhi yang dapat terjadi. Pada analisis ini metode yang digunakan yaitu metode analisis stabilitas pada dinding penahan tanah dengan pengecekan terhadap guling, geser, dan daya dukung tanah. Setelah itu dilakukan interpretasi hasil analisis pada kedua kondisi tanah dan berbagai metode pelaksanaan konstruksi pemasangan ground anchor untuk mengetahui faktor keamanan dari defleksi yang terjadi. Analisis ini mengkaji pada kondisi tanah apa serta pengaruh metode pelaksanaan konstruksi dari ground anchor yang akan mengalami keruntuhan paling besar.
ANALISIS EFEKTIVITAS KEDALAMAN GROUTING UNTUK MENINGKATKAN DAYA DUKUNG LATERAL FONDASI TIANG BETON PRACETAK Fanica Fanica; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 2, Nomor 2, Mei 2019
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v2i2.4307

Abstract

Fondasi tiang pada umumnya digunakan untuk pembangunan gedung bertingkat dan dalam perencanaannya, beban yang lebih mempengaruhi fondasi adalah beban lateral dibandingkan beban aksial. Tanah lunak tidak dapat memberikan daya dukung baik lateral maupun aksial yang besar, sehingga tanah lunak membutuhkan perlakuan khusus seperti perbaikan tanah. Salah satu cara memperbaiki tanah lunak adalah dengan cara grouting. Tujuan dilakukannya grouting untuk membuat tanah menjadi padat dengan mengisi bahan mortar sehingga daya dukung lateral dapat meningkat. Metode p-y yang diusulkan Reese et al., adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk menganalisis fondasi tiang yang dibebani secara lateral pada jenis tanah pasir. Analisis juga menggunakan bantuan program yang sering digunakan untuk menganalisis beban lateral pada tiang. Fondasi tiang dianalisis dalam 2 kondisi, yaitu sebelum dan setelah dilakukan grouting dan membandingkan daya dukung lateral 2 kondisi tersebut sehingga diperoleh efektivitas kedalaman grouting.
ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA FONDASI TIANG PANCANG BAJA H-PILES DAN FONDASI TIANG PANCANG BETON PERSEGI PRESTRESSED Windy Widyarti Astari; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 2, Nomor 2, Mei 2019
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v2i2.4303

Abstract

Sebagai struktur yang menopang beban struktur bangunan di atasnya, fondasi tiang pancang adalah salah satu jenis fondasi dalam yang sering digunakan dalam konstruksi bangunan. Berbeda dengan di negara lain seperti di Amerika Serikat, di Indonesia tiang pancang yang paling sering digunakan adalah tiang pancang beton dibandingkan tiang pancang baja maupun kayu. Untuk memperoleh hasil yang efisien, pemilihan jenis fondasi yang tepat merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Pada skripsi ini akan dilakukan analisis apakah fondasi tiang pancang beton persegi prestressed lebih banyak digunakan di Indonesia karena memang lebih optimal untuk diterapkan dibandingkan dengan fondasi tiang pancang baja H-Piles. Analisis akan dilakukan dengan cara melakukan perhitungan kapasitas tekan, kapasitas tarik dan penurunan fondasi tiang pancang baja H-Piles dan tiang pancang beton persegi prestressed apabila kedua tiang memiliki dimensi panjang dan lebar yang sama yang dikondisikan berada pada tanah yang sama. Analisis perhitungan terhadap kapasitas tekan, kapasitas tarik dan penurunan tiang akan dilakukan dengan perhitungan secara manual dan di cek dengan menggunakan software komputer. Hasil analisis pondasi tiang pancang baja H-Piles dan tiang pancang beton persegi prestressed tersebut kemudian akan dibandingkan dan dihitung selisih biaya material kedua tiang sebagai pertimbangan dalam pemilihan jenis fondasi tiang pancang hingga dapat disimpulkan jenis fondasi yang lebih optimal untuk digunakan pada tanah yang di analisis.
ANALISIS DISTRIBUSI GAYA AKSIAL PADA FONDASI TIANG RAKIT AKIBAT PERBEDAAN KEDALAMAN TIANG DAN PENURUNAN Jovito Charless; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 2, Nomor 4, November 2019
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v2i4.6174

Abstract

Akibat dari pertumbuhan penduduk dan lahan yang semakin terbatas adalah peningkatan harga lahan. Munculnya masalah ini para ahli memberikan solusi untuk membangun hunian vertikal. Meningkatnya kebutuhan tempat tinggal merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi ketinggian hunian vertikal. Hal ini mengakibatkan berat gedung yang semakin besar dan fondasi konvensional yang sulit untuk diterapkan. Salah satu solusi yaitu menggunakan fondasi tiang rakit. Fondasi tiang rakit yang telah dikemukakan oleh Burland dkk. (1977), digunakan untuk memikul beban yang berlebihan oleh superstructures seperti pencakar langit. Metode fondasi tiang rakit dikemukakan karena penurunan total dan perbedaan penurunan pada fondasi rakit melebihi batasan izin dan dapat merusak bangunan di atasnya, sehingga ditambahkan tiang untuk mengurangi penurunan total dan perbedaan penurunan tersebut. Akan tetapi pada kondisi di lapangan. Beban aksial yang dipikul pada fondasi rakit sebagian terdistribusi ke tiang. Sehingga menimbulkan desain yang tidak efisien. Pada penilitian ini akan menggunakan rumus empiris dengan analisis parameter tanah untuk memperoleh distribusi beban aksial pada fondasi tiang rakit, dan mengkaji pada bagian perbedaan kedalaman tiang.
EFEKTIVITAS SECANT PILE DENGAN MENGGUNAKAN BANTUAN BAMBU, CRUSHED STONE, KAYU, PASANGAN BATA, DAN MORTAR Jason Jason; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 4, November 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i4.8755

Abstract

Saat ini, proses perkembangan infrastruktur di Indonesia berkembang dengan pesat. Salah satu permasalahan yang ada adalah terbatasnya ketersediaan lahan sehingga basement menjadi solusi yang banyak dipilih. Masalah utama dalam pembangunan basement yang sering dihadapi adalah adanya pembangunan tinggi di sekitarnya sehingga dibutuhkan struktur dinding penahan tanah yang dapat menjaga kestabilan tanah akibat beban yang ada di permukaan. Dinding penahan tanah merupakan salah satu elemen penting dalam pekerjaan konstruksi yang paling dasar, yang dapat mempengaruhi pekerjaan konstruksi secara keseluruhan. Elemen ini berfungsi untuk menahan tekanan tanah lateral yang ditimbulkan tanah urug ataupun tanah asli yang labil. Pada dasarnya, dinding penahan tanah merupakan elemen konstruksi yang sudah digunakan sejak bertahun-tahun lalu. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka digunakan secant pile. Penelitian yang akan dilakukan adalah menggunakan batu kali, kayu, bambu pada secant pile yang akan menjadi alternatif lain cor-an bentonite pada tahap kedua pelaksanaan pekerjaan secant pile. Pada penelitian ini juga akan membandingkan efektifitas secant pile dengan menggunakan bantuan bambu, crushed stone, kayu, pasangan bata, dan mortar