Amry Irsyada Yusuf
RSU PKU Muhammadiyah Delanggu, Klaten, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Diagnosis dan Tatalaksana Kriptorkhismus Amry Irsyada Yusuf
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i3.1330

Abstract

Kriptorkhismus merupakan kelainan genital paling sering pada bayi laki-laki. Faktor risikonya adalah prematuritas, riwayat keluarga, berat bayi baru lahir rendah, riwayat merokok selama kehamilan, penggunaan obat analgesik, dan pemberian hormon estrogen selama kehamilan. Diagnosis dengan pemeriksaan fisik yang baik penting untuk deteksi dini. Kriptorkhismus umumnya, dapat turun spontan ke skrotum dalam enam bulan pertama kehidupan. Tatalaksana pembedahan masih menjadi pilihan dengan angka kesuksesan lebih tinggi dibandingkan terapi hormonal yang saat ini tidak lagi direkomendasikan. Tatalaksana awal kriptorkhismus dapat menurunkan risiko penurunan fertilitas dan risiko keganasan testis.Cryptorchidism is the most common genital malformation in boys. Risk factors are prematurity, family history, low birth weight, history of smoking during pregnancy, maternal use of analgesics, and exposure to high level estrogen during pregnancy. Proper physical examination contributes greatly to early detection. Most cryptorchidism can descend spontaneously into the scrotum without any medical interventions prior to six months. Surgical intervention remains the treatment of choice with a success rate significantly higher than hormonal therapy, which is no longer recommended. Early treatment can reduce risk of decreased fertility and testicular malignancy.
Diagnosis dan Tatalaksana Kriptorkhismus Amry Irsyada Yusuf
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i3.49

Abstract

Kriptorkhismus merupakan kelainan genital paling sering terjadi pada bayi laki-laki. Faktor risikonya adalah prematuritas, riwayat keluarga, berat bayi baru lahir rendah, riwayat merokok selama kehamilan, penggunaan obat analgesik, dan pemberian hormon estrogen selama kehamilan. Diagnosis dengan pemeriksaan fisik yang baik penting untuk deteksi dini. Kriptorkhismus umumnya dapat turun spontan ke skrotum dalam enam bulan pertama kehidupan. Tatalaksana pembedahan masih menjadi pilihan dengan angka kesuksesan lebih tinggi dibandingkan terapi hormonal yang saat ini tidak lagi direkomendasikan. Tatalaksana awal kriptorkhismus dapat menurunkan risiko penurunan fertilitas dan risiko keganasan testis. Cryptorchidism is the most common genital malformation in boys. Risk factors are prematurity, family history, low birth weight, history of smoking during pregnancy, maternal use of analgesics, and exposure to high level estrogen during pregnancy. Proper physical examination contributes greatly to early detection. Most cryptorchidism can descend spontaneously into the scrotum without any medical interventions prior to six months. Surgical intervention remains the treatment of choice with a success rate significantly higher than hormonal therapy, which is no longer recommended. Early treatment can reduce risk of decreased fertility and testicular malignancy.
Diagnosis dan Tatalaksana Kriptorkhismus Amry Irsyada Yusuf
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 3 (2021): Obstetri - Ginekologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i3.49

Abstract

Kriptorkhismus merupakan kelainan genital paling sering terjadi pada bayi laki-laki. Faktor risikonya adalah prematuritas, riwayat keluarga, berat bayi baru lahir rendah, riwayat merokok selama kehamilan, penggunaan obat analgesik, dan pemberian hormon estrogen selama kehamilan. Diagnosis dengan pemeriksaan fisik yang baik penting untuk deteksi dini. Kriptorkhismus umumnya dapat turun spontan ke skrotum dalam enam bulan pertama kehidupan. Tatalaksana pembedahan masih menjadi pilihan dengan angka kesuksesan lebih tinggi dibandingkan terapi hormonal yang saat ini tidak lagi direkomendasikan. Tatalaksana awal kriptorkhismus dapat menurunkan risiko penurunan fertilitas dan risiko keganasan testis. Cryptorchidism is the most common genital malformation in boys. Risk factors are prematurity, family history, low birth weight, history of smoking during pregnancy, maternal use of analgesics, and exposure to high level estrogen during pregnancy. Proper physical examination contributes greatly to early detection. Most cryptorchidism can descend spontaneously into the scrotum without any medical interventions prior to six months. Surgical intervention remains the treatment of choice with a success rate significantly higher than hormonal therapy, which is no longer recommended. Early treatment can reduce risk of decreased fertility and testicular malignancy.